Vanessa A

23 Juli 2024 09:44

Iklan

Vanessa A

23 Juli 2024 09:44

Pertanyaan

bagaimana perbedaan pemikiran pendiri bangsa tentang Pancasila

bagaimana perbedaan pemikiran pendiri bangsa tentang Pancasila

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

08

:

23

:

11

Klaim

2

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Nanda R

Community

27 Juli 2024 10:18

Jawaban terverifikasi

<p>Perbedaan pemikiran para pendiri bangsa Indonesia mengenai Pancasila mencerminkan perspektif yang beragam dalam merumuskan dasar negara. Meskipun ketiga tokoh utama — Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno — memiliki kesamaan tujuan untuk membentuk dasar negara yang kuat, mereka menawarkan pendekatan dan penekanan yang berbeda. Berikut adalah perbedaan pemikiran mereka tentang Pancasila:</p><p>1. <strong>Mohammad Yamin</strong></p><p><strong>Pemikiran</strong>: Mohammad Yamin mengusulkan lima asas dasar negara dalam pidatonya pada 29 Mei 1945, yang dikenal dengan "Pancasila versi Yamin". Usulan ini terdiri dari:</p><ol><li><strong>Kebangsaan</strong>: Menekankan pada semangat nasionalisme dan identitas bangsa.</li><li><strong>Kemanusiaan</strong>: Berfokus pada nilai-nilai humanisme.</li><li><strong>Kesejahteraan Sosial</strong>: Memprioritaskan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama negara.</li><li><strong>Persatuan</strong>: Mengedepankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.</li><li><strong>Ketuhanan</strong>: Menyertakan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan.</li></ol><p><strong>Penekanan</strong>:</p><ul><li><strong>Kebangsaan dan Kesejahteraan Sosial</strong>: Yamin memberikan perhatian besar pada kebangsaan dan kesejahteraan sosial, menganggap keduanya sebagai dasar penting dalam pembangunan negara yang adil dan makmur.</li></ul><p>2. <strong>Soepomo</strong></p><p><strong>Pemikiran</strong>: Soepomo, dalam pidatonya pada 31 Mei 1945, mengemukakan pandangan yang lebih konstitusional dan berfokus pada aspek hukum dan sosial. Konsep dasar negara menurut Soepomo mencakup:</p><ol><li><strong>Persatuan</strong>: Mengutamakan pentingnya persatuan dan integrasi nasional.</li><li><strong>Kekeluargaan</strong>: Menekankan pada nilai-nilai kekeluargaan dan kolektivitas dalam kehidupan berbangsa.</li><li><strong>Keadilan Sosial</strong>: Fokus pada keadilan sosial sebagai prinsip utama dalam mengatur kehidupan masyarakat.</li></ol><p><strong>Penekanan</strong>:</p><ul><li><strong>Kekeluargaan dan Kolektivitas</strong>: Soepomo menekankan konsep kekeluargaan dan kolektivitas, melihat negara sebagai satu kesatuan keluarga besar di mana kepentingan bersama harus diutamakan.</li></ul><p>3. <strong>Soekarno</strong></p><p><strong>Pemikiran</strong>: Soekarno menawarkan Pancasila dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, yang terdiri dari lima sila yang lebih dikenal dalam konteks Pancasila yang berlaku saat ini:</p><ol><li><strong>Ketuhanan Yang Maha Esa</strong>: Menyertakan nilai monoteisme dan pengakuan terhadap Tuhan.</li><li><strong>Kemanusiaan yang Adil dan Beradab</strong>: Menekankan pada nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.</li><li><strong>Persatuan Indonesia</strong>: Mengutamakan pentingnya persatuan dan integrasi nasional.</li><li><strong>Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan</strong>: Menekankan sistem demokrasi berdasarkan musyawarah dan perwakilan.</li><li><strong>Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia</strong>: Fokus pada keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat.</li></ol><p><strong>Penekanan</strong>:</p><ul><li><strong>Sintesis Nilai</strong>: Soekarno mengintegrasikan berbagai prinsip seperti spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam satu ideologi yang komprehensif dan harmonis. Ia mengembangkan Pancasila sebagai sintesis dari nilai-nilai yang dianggap penting untuk keberlangsungan negara.</li></ul><p><strong>Perbandingan dan Kesimpulan</strong></p><p><strong>Pendekatan</strong>:</p><ul><li><strong>Yamin</strong>: Lebih menekankan pada aspek kebangsaan dan kesejahteraan sosial sebagai landasan negara.</li><li><strong>Soepomo</strong>: Mengutamakan nilai kekeluargaan dan kolektivitas, dengan fokus pada keadilan sosial dan persatuan.</li><li><strong>Soekarno</strong>: Membuat sintesis dari berbagai nilai, termasuk spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.</li></ul><p><strong>Tujuan</strong>:</p><ul><li><strong>Yamin</strong>: Menciptakan dasar negara yang berorientasi pada kebangsaan dan kesejahteraan sosial.</li><li><strong>Soepomo</strong>: Membangun negara yang bersifat kolektif dan kekeluargaan, dengan perhatian pada keadilan sosial.</li><li><strong>Soekarno</strong>: Menyatukan berbagai prinsip dalam satu ideologi yang harmonis dan menyeluruh untuk menciptakan negara yang adil dan makmur.</li></ul>

Perbedaan pemikiran para pendiri bangsa Indonesia mengenai Pancasila mencerminkan perspektif yang beragam dalam merumuskan dasar negara. Meskipun ketiga tokoh utama — Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno — memiliki kesamaan tujuan untuk membentuk dasar negara yang kuat, mereka menawarkan pendekatan dan penekanan yang berbeda. Berikut adalah perbedaan pemikiran mereka tentang Pancasila:

1. Mohammad Yamin

Pemikiran: Mohammad Yamin mengusulkan lima asas dasar negara dalam pidatonya pada 29 Mei 1945, yang dikenal dengan "Pancasila versi Yamin". Usulan ini terdiri dari:

  1. Kebangsaan: Menekankan pada semangat nasionalisme dan identitas bangsa.
  2. Kemanusiaan: Berfokus pada nilai-nilai humanisme.
  3. Kesejahteraan Sosial: Memprioritaskan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama negara.
  4. Persatuan: Mengedepankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.
  5. Ketuhanan: Menyertakan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan.

Penekanan:

  • Kebangsaan dan Kesejahteraan Sosial: Yamin memberikan perhatian besar pada kebangsaan dan kesejahteraan sosial, menganggap keduanya sebagai dasar penting dalam pembangunan negara yang adil dan makmur.

2. Soepomo

Pemikiran: Soepomo, dalam pidatonya pada 31 Mei 1945, mengemukakan pandangan yang lebih konstitusional dan berfokus pada aspek hukum dan sosial. Konsep dasar negara menurut Soepomo mencakup:

  1. Persatuan: Mengutamakan pentingnya persatuan dan integrasi nasional.
  2. Kekeluargaan: Menekankan pada nilai-nilai kekeluargaan dan kolektivitas dalam kehidupan berbangsa.
  3. Keadilan Sosial: Fokus pada keadilan sosial sebagai prinsip utama dalam mengatur kehidupan masyarakat.

Penekanan:

  • Kekeluargaan dan Kolektivitas: Soepomo menekankan konsep kekeluargaan dan kolektivitas, melihat negara sebagai satu kesatuan keluarga besar di mana kepentingan bersama harus diutamakan.

3. Soekarno

Pemikiran: Soekarno menawarkan Pancasila dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, yang terdiri dari lima sila yang lebih dikenal dalam konteks Pancasila yang berlaku saat ini:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Menyertakan nilai monoteisme dan pengakuan terhadap Tuhan.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Menekankan pada nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia: Mengutamakan pentingnya persatuan dan integrasi nasional.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Menekankan sistem demokrasi berdasarkan musyawarah dan perwakilan.
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Fokus pada keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat.

Penekanan:

  • Sintesis Nilai: Soekarno mengintegrasikan berbagai prinsip seperti spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam satu ideologi yang komprehensif dan harmonis. Ia mengembangkan Pancasila sebagai sintesis dari nilai-nilai yang dianggap penting untuk keberlangsungan negara.

Perbandingan dan Kesimpulan

Pendekatan:

  • Yamin: Lebih menekankan pada aspek kebangsaan dan kesejahteraan sosial sebagai landasan negara.
  • Soepomo: Mengutamakan nilai kekeluargaan dan kolektivitas, dengan fokus pada keadilan sosial dan persatuan.
  • Soekarno: Membuat sintesis dari berbagai nilai, termasuk spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Tujuan:

  • Yamin: Menciptakan dasar negara yang berorientasi pada kebangsaan dan kesejahteraan sosial.
  • Soepomo: Membangun negara yang bersifat kolektif dan kekeluargaan, dengan perhatian pada keadilan sosial.
  • Soekarno: Menyatukan berbagai prinsip dalam satu ideologi yang harmonis dan menyeluruh untuk menciptakan negara yang adil dan makmur.

Iklan

Rendi R

Community

29 September 2024 23:55

Jawaban terverifikasi

<p>Para pendiri bangsa Indonesia memiliki pandangan yang berbeda tentang dasar negara Indonesia, termasuk dalam proses perumusan <strong>Pancasila</strong>. Meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk dasar negara yang bisa menyatukan bangsa, pemikiran mereka mengenai <strong>ideologi</strong> dan <strong>nilai-nilai yang harus menjadi dasar negara</strong> menunjukkan perbedaan fokus dan pendekatan. Berikut adalah perbedaan pemikiran beberapa tokoh penting dalam merumuskan Pancasila:</p><p>1. <strong>Muhammad Yamin</strong></p><ul><li><strong>Pemikiran Yamin</strong>: Muhammad Yamin adalah salah satu tokoh awal yang mengusulkan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945, Yamin menyampaikan lima asas dasar yang menjadi cikal bakal Pancasila. Lima asas yang diusulkan Yamin adalah:</li></ul><p><strong>Peri Kebangsaan</strong></p><p><strong>Peri Kemanusiaan</strong></p><p><strong>Peri Ketuhanan</strong></p><p><strong>Peri Kerakyatan</strong></p><p><strong>Kesejahteraan Rakyat</strong></p><p><strong>Fokus Yamin</strong>: Pemikiran Yamin lebih menekankan pada <strong>persatuan nasional</strong> (Peri Kebangsaan) dan <strong>kemanusiaan</strong>. Yamin juga menekankan pentingnya <strong>kesejahteraan sosial</strong> serta <strong>ketuhanan</strong> sebagai landasan moral bagi bangsa yang beragam.</p><p><strong>Perbedaan dengan Tokoh Lain</strong>: Yamin lebih menekankan aspek <strong>nasionalisme</strong> dan <strong>kemanusiaan</strong> sebagai fondasi utama dasar negara. Gagasannya lebih ke arah penekanan pada <strong>persatuan Indonesia</strong> sebagai negara yang beragam suku, agama, dan budaya.</p><p>2. <strong>Soepomo</strong></p><ul><li><strong>Pemikiran Soepomo</strong>: Dalam pidatonya pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, <strong>Prof. Dr. Soepomo</strong> mengusulkan dasar negara yang berdasarkan <strong>paham integralistik</strong>, yaitu paham yang menekankan persatuan dan kesatuan antara rakyat dan negara sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.</li></ul><p>Menurut Soepomo, negara sebaiknya tidak didasarkan pada <strong>paham liberal</strong> yang menekankan kebebasan individu, maupun <strong>paham sosialis</strong> yang menekankan kolektivitas mutlak. Ia mengusulkan negara yang menekankan <strong>kebersamaan</strong>, <strong>gotong royong</strong>, dan <strong>integrasi antara pemerintah dan rakyat</strong>.</p><p><strong>Fokus Soepomo</strong>: Soepomo menekankan pentingnya <strong>integrasi nasional</strong> dengan negara sebagai pengayom rakyat. Menurutnya, negara bukan hanya sekedar organisasi politik, tetapi sebuah kesatuan organik yang menyatukan seluruh rakyat. Soepomo sangat dipengaruhi oleh tradisi kekeluargaan yang kuat di Indonesia dan konsep negara integral yang diilhami oleh pemikiran filosofis, seperti <strong>Hegel</strong> dan <strong>Spinoza</strong>.</p><p><strong>Perbedaan dengan Tokoh Lain</strong>: Soepomo memiliki pendekatan yang lebih <strong>integralis</strong> dibandingkan Yamin dan Soekarno, dengan fokus pada <strong>persatuan organik</strong> antara negara dan rakyat tanpa ada pemisahan yang jelas antara kepentingan individu dan kolektif. Hal ini berbeda dari pendekatan demokratis yang lebih diusulkan oleh Soekarno yang menekankan peran <strong>kerakyatan</strong> dan <strong>permusyawaratan</strong>.</p><p>3. <strong>Ir. Soekarno</strong></p><ul><li><strong>Pemikiran Soekarno</strong>: Pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidatonya yang berjudul <strong>Lahirnya Pancasila</strong>. Dalam pidatonya, Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara yang kemudian disebut <strong>Pancasila</strong>. Lima prinsip tersebut adalah:</li></ul><p><strong>Kebangsaan Indonesia</strong></p><p><strong>Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan</strong></p><p><strong>Mufakat atau Demokrasi</strong></p><p><strong>Kesejahteraan Sosial</strong></p><p><strong>Ketuhanan yang Berkebudayaan</strong></p><p><strong>Fokus Soekarno</strong>: Soekarno menekankan pentingnya <strong>nasionalisme</strong> (Kebangsaan Indonesia) dan <strong>internasionalisme</strong>. Menurut Soekarno, Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat dengan semangat nasionalisme, namun tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal. Soekarno juga menekankan pentingnya <strong>demokrasi</strong> dengan musyawarah sebagai ciri khas demokrasi Indonesia dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan negara.</p><p>Selain itu, Soekarno menekankan <strong>gotong royong</strong> sebagai nilai yang mendasari kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pidatonya, Soekarno menyebutkan bahwa kelima prinsip tersebut dapat diringkas menjadi <strong>Trisila</strong> (Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi, dan Ketuhanan), dan bahkan menjadi <strong>Ekasila</strong>, yaitu <strong>Gotong Royong</strong>.</p><p><strong>Perbedaan dengan Tokoh Lain</strong>: Soekarno lebih menekankan <strong>kombinasi antara nasionalisme dan internasionalisme</strong>, serta <strong>demokrasi</strong> yang disertai dengan <strong>musyawarah</strong>. Pendekatannya lebih bersifat <strong>demokratis</strong> dibandingkan pemikiran Soepomo yang integralis, dan lebih <strong>berimbang</strong> antara kebangsaan, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial.</p><p>4. <strong>Piagam Jakarta dan Perdebatan tentang Sila Pertama</strong></p><p><strong>Piagam Jakarta (22 Juni 1945)</strong>: Setelah sidang pertama BPUPKI, dibentuk <strong>Panitia Sembilan</strong> yang bertugas untuk merumuskan kembali dasar negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menghasilkan dokumen penting yang dikenal sebagai <strong>Piagam Jakarta</strong>. Piagam Jakarta memuat lima prinsip yang mirip dengan Pancasila, namun ada perbedaan pada sila pertama yang berbunyi:</p><p>"Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."</p><p>Perbedaan pandangan muncul terutama terkait frasa "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Perwakilan dari Indonesia Timur, yang mayoritas beragama non-Muslim, merasa keberatan dengan frasa ini karena khawatir akan memunculkan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain.</p><p><strong>Kesepakatan Akhir</strong>: Akhirnya, setelah perdebatan dan musyawarah, frasa tersebut diubah menjadi <strong>"Ketuhanan Yang Maha Esa"</strong> dalam sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 untuk menjaga persatuan nasional. Keputusan ini diambil untuk menjaga keutuhan bangsa yang sangat beragam dari segi agama dan kepercayaan.</p><p>5. <strong>Kesimpulan</strong></p><ul><li><strong>Muhammad Yamin</strong> lebih menekankan <strong>nasionalisme dan persatuan</strong>, dengan fokus pada pentingnya membangun identitas kebangsaan.</li><li><strong>Soepomo</strong> menekankan <strong>integralisme</strong> dan menyatukan rakyat dan negara dalam satu kesatuan organik, tanpa membedakan kepentingan individu dan kolektif.</li><li><strong>Soekarno</strong> menggabungkan <strong>nasionalisme</strong>, <strong>internasionalisme</strong>, dan <strong>demokrasi</strong>, dengan fokus pada <strong>gotong royong</strong> dan <strong>kesejahteraan sosial</strong> sebagai ciri khas kehidupan bernegara.</li><li><strong>Perdebatan terkait sila pertama</strong> mencerminkan pentingnya kompromi dan musyawarah untuk menjaga persatuan bangsa yang majemuk.</li></ul><p>Meskipun terdapat perbedaan pemikiran di antara para pendiri bangsa, pada akhirnya, <strong>Pancasila</strong> menjadi konsensus nasional yang mencerminkan keanekaragaman dan prinsip-prinsip dasar yang dapat diterima oleh semua pihak.</p>

Para pendiri bangsa Indonesia memiliki pandangan yang berbeda tentang dasar negara Indonesia, termasuk dalam proses perumusan Pancasila. Meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk dasar negara yang bisa menyatukan bangsa, pemikiran mereka mengenai ideologi dan nilai-nilai yang harus menjadi dasar negara menunjukkan perbedaan fokus dan pendekatan. Berikut adalah perbedaan pemikiran beberapa tokoh penting dalam merumuskan Pancasila:

1. Muhammad Yamin

  • Pemikiran Yamin: Muhammad Yamin adalah salah satu tokoh awal yang mengusulkan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945, Yamin menyampaikan lima asas dasar yang menjadi cikal bakal Pancasila. Lima asas yang diusulkan Yamin adalah:

Peri Kebangsaan

Peri Kemanusiaan

Peri Ketuhanan

Peri Kerakyatan

Kesejahteraan Rakyat

Fokus Yamin: Pemikiran Yamin lebih menekankan pada persatuan nasional (Peri Kebangsaan) dan kemanusiaan. Yamin juga menekankan pentingnya kesejahteraan sosial serta ketuhanan sebagai landasan moral bagi bangsa yang beragam.

Perbedaan dengan Tokoh Lain: Yamin lebih menekankan aspek nasionalisme dan kemanusiaan sebagai fondasi utama dasar negara. Gagasannya lebih ke arah penekanan pada persatuan Indonesia sebagai negara yang beragam suku, agama, dan budaya.

2. Soepomo

  • Pemikiran Soepomo: Dalam pidatonya pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Soepomo mengusulkan dasar negara yang berdasarkan paham integralistik, yaitu paham yang menekankan persatuan dan kesatuan antara rakyat dan negara sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Menurut Soepomo, negara sebaiknya tidak didasarkan pada paham liberal yang menekankan kebebasan individu, maupun paham sosialis yang menekankan kolektivitas mutlak. Ia mengusulkan negara yang menekankan kebersamaan, gotong royong, dan integrasi antara pemerintah dan rakyat.

Fokus Soepomo: Soepomo menekankan pentingnya integrasi nasional dengan negara sebagai pengayom rakyat. Menurutnya, negara bukan hanya sekedar organisasi politik, tetapi sebuah kesatuan organik yang menyatukan seluruh rakyat. Soepomo sangat dipengaruhi oleh tradisi kekeluargaan yang kuat di Indonesia dan konsep negara integral yang diilhami oleh pemikiran filosofis, seperti Hegel dan Spinoza.

Perbedaan dengan Tokoh Lain: Soepomo memiliki pendekatan yang lebih integralis dibandingkan Yamin dan Soekarno, dengan fokus pada persatuan organik antara negara dan rakyat tanpa ada pemisahan yang jelas antara kepentingan individu dan kolektif. Hal ini berbeda dari pendekatan demokratis yang lebih diusulkan oleh Soekarno yang menekankan peran kerakyatan dan permusyawaratan.

3. Ir. Soekarno

  • Pemikiran Soekarno: Pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidatonya yang berjudul Lahirnya Pancasila. Dalam pidatonya, Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara yang kemudian disebut Pancasila. Lima prinsip tersebut adalah:

Kebangsaan Indonesia

Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan

Mufakat atau Demokrasi

Kesejahteraan Sosial

Ketuhanan yang Berkebudayaan

Fokus Soekarno: Soekarno menekankan pentingnya nasionalisme (Kebangsaan Indonesia) dan internasionalisme. Menurut Soekarno, Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat dengan semangat nasionalisme, namun tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal. Soekarno juga menekankan pentingnya demokrasi dengan musyawarah sebagai ciri khas demokrasi Indonesia dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan negara.

Selain itu, Soekarno menekankan gotong royong sebagai nilai yang mendasari kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pidatonya, Soekarno menyebutkan bahwa kelima prinsip tersebut dapat diringkas menjadi Trisila (Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi, dan Ketuhanan), dan bahkan menjadi Ekasila, yaitu Gotong Royong.

Perbedaan dengan Tokoh Lain: Soekarno lebih menekankan kombinasi antara nasionalisme dan internasionalisme, serta demokrasi yang disertai dengan musyawarah. Pendekatannya lebih bersifat demokratis dibandingkan pemikiran Soepomo yang integralis, dan lebih berimbang antara kebangsaan, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial.

4. Piagam Jakarta dan Perdebatan tentang Sila Pertama

Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Setelah sidang pertama BPUPKI, dibentuk Panitia Sembilan yang bertugas untuk merumuskan kembali dasar negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menghasilkan dokumen penting yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. Piagam Jakarta memuat lima prinsip yang mirip dengan Pancasila, namun ada perbedaan pada sila pertama yang berbunyi:

"Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."

Perbedaan pandangan muncul terutama terkait frasa "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Perwakilan dari Indonesia Timur, yang mayoritas beragama non-Muslim, merasa keberatan dengan frasa ini karena khawatir akan memunculkan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain.

Kesepakatan Akhir: Akhirnya, setelah perdebatan dan musyawarah, frasa tersebut diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 untuk menjaga persatuan nasional. Keputusan ini diambil untuk menjaga keutuhan bangsa yang sangat beragam dari segi agama dan kepercayaan.

5. Kesimpulan

  • Muhammad Yamin lebih menekankan nasionalisme dan persatuan, dengan fokus pada pentingnya membangun identitas kebangsaan.
  • Soepomo menekankan integralisme dan menyatukan rakyat dan negara dalam satu kesatuan organik, tanpa membedakan kepentingan individu dan kolektif.
  • Soekarno menggabungkan nasionalisme, internasionalisme, dan demokrasi, dengan fokus pada gotong royong dan kesejahteraan sosial sebagai ciri khas kehidupan bernegara.
  • Perdebatan terkait sila pertama mencerminkan pentingnya kompromi dan musyawarah untuk menjaga persatuan bangsa yang majemuk.

Meskipun terdapat perbedaan pemikiran di antara para pendiri bangsa, pada akhirnya, Pancasila menjadi konsensus nasional yang mencerminkan keanekaragaman dan prinsip-prinsip dasar yang dapat diterima oleh semua pihak.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

1. Apakah kalian tahu mengapa tumbuhan tidak selamanya mempunyai klorofil, mengapa? 2. Apa yang kamu ketahui tentang kloroplas, dan bagaimana dengan tumbuhan yang tidak mempunyai kloroplas?

7

5.0

Jawaban terverifikasi