Vanessa A
23 Juli 2024 09:44
Iklan
Vanessa A
23 Juli 2024 09:44
Pertanyaan
bagaimana perbedaan pemikiran pendiri bangsa tentang Pancasila
2
2
Iklan
Nanda R

Community
27 Juli 2024 10:18
Perbedaan pemikiran para pendiri bangsa Indonesia mengenai Pancasila mencerminkan perspektif yang beragam dalam merumuskan dasar negara. Meskipun ketiga tokoh utama — Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno — memiliki kesamaan tujuan untuk membentuk dasar negara yang kuat, mereka menawarkan pendekatan dan penekanan yang berbeda. Berikut adalah perbedaan pemikiran mereka tentang Pancasila:
1. Mohammad Yamin
Pemikiran: Mohammad Yamin mengusulkan lima asas dasar negara dalam pidatonya pada 29 Mei 1945, yang dikenal dengan "Pancasila versi Yamin". Usulan ini terdiri dari:
Penekanan:
2. Soepomo
Pemikiran: Soepomo, dalam pidatonya pada 31 Mei 1945, mengemukakan pandangan yang lebih konstitusional dan berfokus pada aspek hukum dan sosial. Konsep dasar negara menurut Soepomo mencakup:
Penekanan:
3. Soekarno
Pemikiran: Soekarno menawarkan Pancasila dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, yang terdiri dari lima sila yang lebih dikenal dalam konteks Pancasila yang berlaku saat ini:
Penekanan:
Perbandingan dan Kesimpulan
Pendekatan:
Tujuan:
· 0.0 (0)
Iklan
Rendi R

Community
29 September 2024 23:55
Para pendiri bangsa Indonesia memiliki pandangan yang berbeda tentang dasar negara Indonesia, termasuk dalam proses perumusan Pancasila. Meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk dasar negara yang bisa menyatukan bangsa, pemikiran mereka mengenai ideologi dan nilai-nilai yang harus menjadi dasar negara menunjukkan perbedaan fokus dan pendekatan. Berikut adalah perbedaan pemikiran beberapa tokoh penting dalam merumuskan Pancasila:
1. Muhammad Yamin
Peri Kebangsaan
Peri Kemanusiaan
Peri Ketuhanan
Peri Kerakyatan
Kesejahteraan Rakyat
Fokus Yamin: Pemikiran Yamin lebih menekankan pada persatuan nasional (Peri Kebangsaan) dan kemanusiaan. Yamin juga menekankan pentingnya kesejahteraan sosial serta ketuhanan sebagai landasan moral bagi bangsa yang beragam.
Perbedaan dengan Tokoh Lain: Yamin lebih menekankan aspek nasionalisme dan kemanusiaan sebagai fondasi utama dasar negara. Gagasannya lebih ke arah penekanan pada persatuan Indonesia sebagai negara yang beragam suku, agama, dan budaya.
2. Soepomo
Menurut Soepomo, negara sebaiknya tidak didasarkan pada paham liberal yang menekankan kebebasan individu, maupun paham sosialis yang menekankan kolektivitas mutlak. Ia mengusulkan negara yang menekankan kebersamaan, gotong royong, dan integrasi antara pemerintah dan rakyat.
Fokus Soepomo: Soepomo menekankan pentingnya integrasi nasional dengan negara sebagai pengayom rakyat. Menurutnya, negara bukan hanya sekedar organisasi politik, tetapi sebuah kesatuan organik yang menyatukan seluruh rakyat. Soepomo sangat dipengaruhi oleh tradisi kekeluargaan yang kuat di Indonesia dan konsep negara integral yang diilhami oleh pemikiran filosofis, seperti Hegel dan Spinoza.
Perbedaan dengan Tokoh Lain: Soepomo memiliki pendekatan yang lebih integralis dibandingkan Yamin dan Soekarno, dengan fokus pada persatuan organik antara negara dan rakyat tanpa ada pemisahan yang jelas antara kepentingan individu dan kolektif. Hal ini berbeda dari pendekatan demokratis yang lebih diusulkan oleh Soekarno yang menekankan peran kerakyatan dan permusyawaratan.
3. Ir. Soekarno
Kebangsaan Indonesia
Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
Mufakat atau Demokrasi
Kesejahteraan Sosial
Ketuhanan yang Berkebudayaan
Fokus Soekarno: Soekarno menekankan pentingnya nasionalisme (Kebangsaan Indonesia) dan internasionalisme. Menurut Soekarno, Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat dengan semangat nasionalisme, namun tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal. Soekarno juga menekankan pentingnya demokrasi dengan musyawarah sebagai ciri khas demokrasi Indonesia dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan negara.
Selain itu, Soekarno menekankan gotong royong sebagai nilai yang mendasari kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pidatonya, Soekarno menyebutkan bahwa kelima prinsip tersebut dapat diringkas menjadi Trisila (Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi, dan Ketuhanan), dan bahkan menjadi Ekasila, yaitu Gotong Royong.
Perbedaan dengan Tokoh Lain: Soekarno lebih menekankan kombinasi antara nasionalisme dan internasionalisme, serta demokrasi yang disertai dengan musyawarah. Pendekatannya lebih bersifat demokratis dibandingkan pemikiran Soepomo yang integralis, dan lebih berimbang antara kebangsaan, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial.
4. Piagam Jakarta dan Perdebatan tentang Sila Pertama
Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Setelah sidang pertama BPUPKI, dibentuk Panitia Sembilan yang bertugas untuk merumuskan kembali dasar negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menghasilkan dokumen penting yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. Piagam Jakarta memuat lima prinsip yang mirip dengan Pancasila, namun ada perbedaan pada sila pertama yang berbunyi:
"Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."
Perbedaan pandangan muncul terutama terkait frasa "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Perwakilan dari Indonesia Timur, yang mayoritas beragama non-Muslim, merasa keberatan dengan frasa ini karena khawatir akan memunculkan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain.
Kesepakatan Akhir: Akhirnya, setelah perdebatan dan musyawarah, frasa tersebut diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 untuk menjaga persatuan nasional. Keputusan ini diambil untuk menjaga keutuhan bangsa yang sangat beragam dari segi agama dan kepercayaan.
5. Kesimpulan
Meskipun terdapat perbedaan pemikiran di antara para pendiri bangsa, pada akhirnya, Pancasila menjadi konsensus nasional yang mencerminkan keanekaragaman dan prinsip-prinsip dasar yang dapat diterima oleh semua pihak.
· 0.0 (0)
Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

LATIHAN SOAL GRATIS!
Drill Soal
Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian


Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!