Ikke N

01 November 2022 13:51

Iklan

Ikke N

01 November 2022 13:51

Pertanyaan

bacalah kutipan novel berikut dengan seksama! Baduy dan Prem sedang mempersiapkan alat-alat menyelam. Mereka berdua berniat free dive hari ini. Prem menggosokkan kacamata selamnya dengan odol agar tidak ada embun tersisa. Baduy mengeluarkan sepatu katak yang berukuran cukup panjang dari ranselnya. Mereka mengajakku ke sebuah tempat yang sangat keren menurut penuturan anak-anak Bawomataluo. Tempat itu bernama Sungai Namo, sebuah sungai berundak tak jauh dari desa. Aku menolak ikut. Meski tawaran Prem dan Baduy menggiurkan, tapi aku ke sini untuk sebuah alasan dan takkan pergi sebelum mendapatkannya. "Jadinya balik ke Sibolga hari ini, kan?" tanyaku pada Baduy. "Iya. Harus hari ini. Karena kapal selanjut nya baru ada minggu depan." Prem berdiri setelah memasukkan alat-alat selamnya ke dalam tas kecil. "Bung, kamu benar enggak mau ikut?" "Enggak. Aku harus melihat ritual Lompat Batu. Siapa tahu hari ini ada turis yang datang dan membayar Ilwan untuk melompat." "Oh. Okelah kalau begitu. Kami berangkat dulu, ya." Baduy berlalu pergi. Prem berjalan di belakangnya. "Jangan sampai terlalu sore, nanti ke tinggalan mobil angkutan umum," aku berseru pada punggung mereka yang menjauh. Prem mengacungkan jempolnya tanpa menoleh. Ilwan duduk di sebelahku di bangku kayu panjang balai desa. Yang lain bermain voli beberapa meter di depan kami. Seporsi nasi goreng sedang kunikmati dengan lahap kala tiga orang berkulit legam dengan hidung mancung berjalan melewati balai desa. Mereka bercakap dengan bahasa yang tidak kumengerti. Tapi, dari gesturnya, kuyakin mereka orang India. "Eh, eh, Bang, sepertinya ada turis datang. Aku siap-siap dulu ya, mau melompat," seru Iwan bersemangat lalu permisi pergi. Benar saja, tiga turis asal India itu bernegosiasi dengan salah satu tetua. Aku yang belum beres dengan nasi gorengku langsung menaruh piring itu di kursi lalu berlari ke rumah Bang Paiman untuk mengambil kamera. Ilwan bergegas mengganti pakaiannya dengan busana adat: rompi hitam berbordir kuning ditemani topi bermahkota emas yang tengahnya membentuk api sepanjang dua jengkal. Dari kejauhan, mata llwan sempat melirik kepadaku. Ia memberi kode agar aku menyuguhkan gambar terbaik. Terlihat diri nya mengambil ancang-ancang. Tiga turis India mengeluarkan kamera saku untuk mengabadikan lompatan llwan. Aku mencari posisi paling pas untuk memotret. Sembari berjongkok di sisi kiri Fahombo, kuatur kameraku ke mode burst agar bisa memotret banyak dengan satu kali klik. Setelah berdoa, llwan mengambil napas panjang. Dari jarak sekitar lima belas meter dia mulai berlari, lalu berlari lebih cepat, jauh lebih cepat, dan melompat. Waktu terasa melambat ketika ia berada di udara. Jepret jepret jepret. Ilwan melewati batu, mendarat dengan selamat disertai dentuman kakinya yang meng angkat debu dari tanah. Tepuk tangan kagum dan gelengan kepala keluar dari para turis. "Dapat fotonya?" tanya Ilwan seraya meng hampiriku setelah berfoto bersama dengan para turis. Napasnya masih terengah-engah. Aku memperlihatkan hasil fotoku padanya. Ilwan menunjukkan raut wajah puas. Rezeki yang Ilwan dapat hari ini dibelikan nya batagor untukku dan kawan-kawan lain. Ilwan juga sempat bercerita bahwa ia ingin. kuliah di Pulau Jawa bila uang dari hasil melompat sudah banyak terkumpul. Hari hampir sore. Prem dan Baduy belum juga menampakkan batang hidung mereka. Padahal aku sudah beres berkemas, bersiap untuk menyeberang balik ke Sibolga. Ilwan, Chandra dan Kris menunjukkan raut wajah kecewa saat tahu bahwa kami bertiga akan berangkat hari ini. Kucoba menyemangati mereka. Lagi pula, kamu semua tahu bahwasanya, kapal feri ke Teluk Dalam hanya datang satu minggu sekali. Walau aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di desa yang ramah ini, namun tak mudah kami harus menunggu sampai minggu depan. Keterbatasan dana membuat kami harus berhitung dengan cepat. Sudah pukul setengah lima, tapi kedua sahabatku belum juga terlihat. Padahal mobil angkutan terakhir ke pelabuhan hanya ada sampai jam lima. Aku mulai panik. Tiba-tiba, seakan menjawab pertanyaan ku, dari kejauhan Prem dan Baduy tengah berlari ke dalam rumah Bang Paiman. Dalam keadaan basah karena belum berganti pakaian, mereka berkemas dengan tergesa gesa. "Dari mana aja, sih ?^ prime prime tanyaku kesal. "Maaf-maaf, tadi terlalu asyik berenang sampai lupa waktu," jawab Prem. "Bang, jangan lupa kabari kami!" seru Ilwan dari depan rumah Bang Paiman. Aku keluar rumah sambil membawa ransel. Warga desa merubungiku. "Pasti dikabari. Kalian juga jaga diri ya. Ingat kalau main ke Bandung, harus mampir ke rumahku," jawabku. Ilwan, Chandra, Kris, serta para pemuda yang lain mengangguk mantap. Setelah berpamitan dengan para warga, juga Bang Paiman beserta keluarga, kami bertiga berjalan cepat mengejar mobil angkut an. Kami dilepas dengan lambaian tangan warga Bawomataluo. "Ya'ahowu!" teriak Baduy dari mobil angkutan umum yang membawa kami bertiga. "Ya'ahowu!" balas mereka dari kejauhan. Kami duduk dengan angin menerpa rambut, dengan senyum di wajah, dengan perasaan hangat di dada. Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. Duduk bersama di pelataran senja untuk menyambut teater gemintang, mana mungkin kenangan ini lenyap dari ingatanku? Sumber: Fiersa Bersari, Arah Langkah, Jakarta, Mediakita, 2018 3. anda sudah mencari informasi mengenai pengarang novel tersebut.sekarang analisislah keterkaitan latar belakang pengarang dengan isi kutipan novel tersebut!

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

07

:

24

:

12

Klaim

1

1


Iklan

Mercon M

Community

28 April 2024 15:08

<p>Jawaban:</p><p>Fiersa Bersari, pengarang novel "Arah Langkah", memiliki latar belakang sebagai penulis yang gemar mengeksplorasi cerita-cerita yang berkaitan dengan perjalanan, petualangan, dan pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan budaya sekitarnya. Dalam kutipan novel yang diberikan, terdapat tema perjalanan dan interaksi budaya yang kuat, yang sesuai dengan minat dan pengalaman penulis.</p><p>&nbsp;</p><p>Dalam kutipan tersebut, cerita berpusat pada pengalaman tokoh-tokoh yang sedang melakukan perjalanan ke sebuah desa yang mungkin terletak di wilayah yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari mereka. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal, menyaksikan dan mengikuti ritual adat, serta merasakan kehangatan dan keramahan masyarakat setempat. Semua ini sesuai dengan minat penulis dalam mengeksplorasi berbagai budaya dan pengalaman manusia dalam perjalanan.</p><p>&nbsp;</p><p>Selain itu, kutipan tersebut juga menunjukkan adanya nilai-nilai persahabatan, kehangatan, dan kebersamaan, yang mungkin tercermin dari pengalaman pribadi penulis atau nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui karyanya.</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latar belakang pengarang sebagai seorang penulis yang tertarik pada tema perjalanan, petualangan, dan budaya mempengaruhi isi kutipan novel tersebut, yang menampilkan cerita tentang perjalanan fisik dan spiritual tokoh-tokoh yang dihadapkan pada berbagai pengalaman dan interaksi budaya.</p>

Jawaban:

Fiersa Bersari, pengarang novel "Arah Langkah", memiliki latar belakang sebagai penulis yang gemar mengeksplorasi cerita-cerita yang berkaitan dengan perjalanan, petualangan, dan pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan budaya sekitarnya. Dalam kutipan novel yang diberikan, terdapat tema perjalanan dan interaksi budaya yang kuat, yang sesuai dengan minat dan pengalaman penulis.

 

Dalam kutipan tersebut, cerita berpusat pada pengalaman tokoh-tokoh yang sedang melakukan perjalanan ke sebuah desa yang mungkin terletak di wilayah yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari mereka. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal, menyaksikan dan mengikuti ritual adat, serta merasakan kehangatan dan keramahan masyarakat setempat. Semua ini sesuai dengan minat penulis dalam mengeksplorasi berbagai budaya dan pengalaman manusia dalam perjalanan.

 

Selain itu, kutipan tersebut juga menunjukkan adanya nilai-nilai persahabatan, kehangatan, dan kebersamaan, yang mungkin tercermin dari pengalaman pribadi penulis atau nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui karyanya.

 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latar belakang pengarang sebagai seorang penulis yang tertarik pada tema perjalanan, petualangan, dan budaya mempengaruhi isi kutipan novel tersebut, yang menampilkan cerita tentang perjalanan fisik dan spiritual tokoh-tokoh yang dihadapkan pada berbagai pengalaman dan interaksi budaya.


Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Assalamu’alaikum Wr. Wb Yang kami hormati bapak dan ibu serta para hadirirn sekalian yang berbahagia. Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan dan karunia-Nya kita bisa berkumpul di sini. Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw, karena beliau menyiarkan agama yang haq, yakni agama islam, agama yang diridai oleh Allah swt. Semoga kita sekalian termasuk ke dalam umat-Nya yang diberkahi. Amin ya rabbal alamin. Hadirin sekalian yang berbahagia! Dirasa amat penting sekali jiwa sosial untuk diterapkan di lingkungan keluarga, sanak saudara, bahkan juga di masyarakat luas. Karena dengan jiwa sosial, maka terjalinlah di antara kita saling tolong-menolong, dan kasih sayang. Sehngga orang-orang yang butuh akan pertolongan kita, akan mendapatkan haq-Nya. Perhatikan kalimat berikut! Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan karuniaNya kita bisa berkumpul di sini. Kalimat tersebut termasuk …. A. salam pembuka B. ucapan terima kasih C. pengenalan topik D. tema E. judul

72

0.0

Jawaban terverifikasi