Bani N

27 September 2022 11:35

Iklan

Bani N

27 September 2022 11:35

Pertanyaan

Bacalah artikel berikut untuk menjawab soal-soal yang menyertainya. Lawan Hoaks dengan Pendidikan Kini masyarakat Indonesia selalu didera oleh maraknya kabar bohong a tau sering disebut hoaks. Berita bohong seperti mempermainkan berbagai sendi kehidupan, mulai politik, peristiwa/bencana, hingga persoalan suku, agama, dan ras (SARA). Hoaks merupakan perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi. Anehnya, berita itu sering dijadikan sebagai kebenaran umum melalui fabrikasi dan kebohongan yang disengaja. Melalui jejaring sosial dan internet, hoaks menyebar tanpa bisa dicegah. Tidak saja memicu kemarahan dan kebencian terhadap pihak lain, lebih jauh, hoaks mengancam persatuan dan ideologi bangsa ini. Informasi palsu atau hoaks saat ini memang marak dian tara 143,27 juta pengguna internet di Indonesia. Berbagai hoaks menyebar lewat media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Pesatnya perkembangan dunia telekomunikasi telepon pintar membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dengan sentuhan dan genggaman tangan. Namun, jika tidak hati-hati, imbasnya, informasi palsu ikut tersebar dengan mudah. Ironisnya, bagi sejumlah orang, informasi palsu malah diyakini sebagai kebenaran. Dari pemerintah hingga lapisan masyarakat bersama-sama menggalang kekuatan untuk melawan hoaks. Beragam cara dilakukan. Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoaks dideklarasikan di berbagai kota. Sosialisasi penangkalan hoaks juga telah dilakukan, bahkan, ancaman hukuman melalui lahirnya undangundang juga telah ada. Selain itu, pemerintah juga memblokir hampir 800 media yang sering memproduksi hoaks. Aplikasi telepon seluler bernama Turn Back Hoax pun dikembangkan. Aplikasi ini berisi aduan dan konfirmasi tentang informasi yang diduga hoaks. Namun, semua itu ternyata belum mampu membendung mengalirnya hoaks di tengah masyarakat. Untuk melawan hoaks, tidak cukup dengan kegiatan yang bersifat seremonial dan struktural. Namun, perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan riil yang bersifat kultural. Mengapa demikian? Kultur masyarakat kita telah terbiasa dengan pola penerimaan informasi secara mentahmentah. Nalar kritis, analitis, dan skeptis belum terbentuk secara menyeluruh. Padahal, lemahnya nalar kritis, analitis, dan skeptis itulah yang menjadi akar berkembang biaknya hoaks di masyarakat. Keterikatan identitasnya, baik identitas ras, suku, agama, hingga afiliasi politik sering menjadi penyebab lemahnya berpikir secara kritis, analitis, dan skeptis. Kuatnya keterikatan identitas itulah menyebabkan seseorang menjadi *buta* dan tuli pada kevalidan sebuah informasi. Segala informasi yang membela identitas dirinya dipercaya sebagai kebenaran tanpa menimbang apakah hal itu hoaks atau bukan. Konflik di berbagai daerah yang menyulut kemarahan massa, bahkan kerusuhan yang bernuansa SARA acap kali bermula dari hoaks, termasuk media yang ikut andil membumbui peristiwa itu. Penangkalan hoaks yang bersifat kultural dengan mengedepankan sikap kritis, analitis, dan skeptis yang paling tepat adalah melalui pendidikan. Lembaga pendidikan menjadi tempat untuk melakukan pembudayaan nalar kritis dan skeptisme dalam tradisi akademik-ilmiah-empiris. Sayangnya, pendidikan di Indonesia masih belum mampu membudayakan hal itu kepada setiap peserta didiknya. Pembelajaran di sekolah hingga kini dipandang masih berkutat pada hafalan dan ujian, tidak menyediakan ruang bagi pengembangan nalar kritis, analitis, dan skeptisme. Peserta didik lebih rajin menghafal namun miskin dalam membangun kerangka berpikir kritis terhadap suatu masalah. Peserta didik dikondisikan dalam kurikulum yang tidak memberikan ruang bagi alternatif jawaban dan kebenaran. Pendidikan kita sekadar menjadi alat transfer kebenaran dari guru ke siswa, bukan medium pembangunan nalar kritis dan ilmiah dalam bingkai kesetaraan. Hal ini berbeda jauh dengan negara-negara maju. Pendidikan Jerman, misalnya, sedari usia dini telah membuat program husus untuk mengembangkan nalar siswa. Sejak dekade 1960-an, Jerman membuat program bernama Kinder Philosophieren atau "anakanak berfilsafat". Program ini mengadopsi gaya berpikir filsafat, yakni dengan membiasakan siswa mengajukan beragam pertanyaan dari berbagai sudut pandang. Peserta didik didorong untuk mempertanyakan kebenaran dari suatu informasi secara mendalam. Program ini banyak membantu ana kanak berpikir secara fundamental. Mereka bisa mengajukan pertanyaan dan menemukan sudut pandang berbeda melalui diskusi-diskusi yang dilaksanakan. Program tersebut merangsang pikiran siswa melalui percakapan-percakapan bermutu dan menggoda siswa menyusuri pengetahuan baru. Anak-anak diajak melampaui identitas sempitnya dan mencoba melihat dunia dari sudut pandang orang-orang yang berbeda. Pemahaman antarbudaya, antaragama, dan antarkelas sosial bisa tercipta melalui program ini. Program ini digunakan sebagai upaya untuk melampaui fundamentalisme dan fanatisme yang menjadi pemicu mudahnya hoaks merebak. Penangkalan hoaks melalui dunia pendidikan memang membutuhkan waktu yang lama. Namun, hasilnya akan lebih kuat dan menebas akar masalah. Sesering apa pun dilakukan sosialisasi, secanggih apa pun aplikasi dan teknologi dikembangkan, segarang apa pun pemerintah memblokir situs hoaks, hasilnya akan tetap sama jika akarnya tidak pernah dicabut. Hoaks akan kembali berkembang biak seiring iklim politik dan kehidupan sosial yang setiap saat bisa memanas. (Diolah dari berbagai sumber) Catatlah sekurang-kurangnya lima istilah yang ada dalam artikel tersebut. Jelaskan pula maksud dari setiap istilah tersebut.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

10

:

19

:

23

Klaim

4

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

A. Listiawan

Mahasiswa/Alumni Universitas Sriwijaya

07 November 2022 10:22

Jawaban terverifikasi

Jawabannya yaitu Fanatisme, Sosialisasi, skeptis, afiliasi dan fundamental Fanatisme adalah perasaan seseorang yang menyukai sesuatu secara berlebih dan berbeda dengan orang lain, sehingga menimbulkan luapan amarah Sosialisasi adalah suatu kegiatan memberikan informasi terhadap masyarakat mengenai permasalahan dengan tujuan menanggulangi Skeptis adalah suatu sikap yang meragukan sesuatu secara lebih Afiliasi adalah salah satu sikap kerjasama untuk dalam suatu kegiatan guna mendapatkan keuntungan bersama Fundamental yaitu suatu pemikiran dasar yang dimiliki suatu keadaan di suatu masyarakat Kesimpulannya, yaitu Fanatisme, Sosialisasi, skeptis, afiliasi dan fundamental


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Assalamu’alaikum Wr. Wb Yang kami hormati bapak dan ibu serta para hadirirn sekalian yang berbahagia. Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan dan karunia-Nya kita bisa berkumpul di sini. Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw, karena beliau menyiarkan agama yang haq, yakni agama islam, agama yang diridai oleh Allah swt. Semoga kita sekalian termasuk ke dalam umat-Nya yang diberkahi. Amin ya rabbal alamin. Hadirin sekalian yang berbahagia! Dirasa amat penting sekali jiwa sosial untuk diterapkan di lingkungan keluarga, sanak saudara, bahkan juga di masyarakat luas. Karena dengan jiwa sosial, maka terjalinlah di antara kita saling tolong-menolong, dan kasih sayang. Sehngga orang-orang yang butuh akan pertolongan kita, akan mendapatkan haq-Nya. Perhatikan kalimat berikut! Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan karuniaNya kita bisa berkumpul di sini. Kalimat tersebut termasuk …. A. salam pembuka B. ucapan terima kasih C. pengenalan topik D. tema E. judul

60

0.0

Jawaban terverifikasi