Jasmine N

29 September 2022 03:12

Iklan

Jasmine N

29 September 2022 03:12

Pertanyaan

alur cerita hikayat abu nawas-ibu sejati

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

18

:

48

:

30

Klaim

3

2


Iklan

Diah H

29 September 2022 16:13

Hikayat Abu Nawas – Ibu Sejati Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda. Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu. Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa. Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada di tempat. Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja. “Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?” kata kedua perempuan itu saling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog. “Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?” “Tidak, bayi itu adalah anakku.” kata kedua perempuan itu serentak. “Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata.” kata Abu Nawas mengancam. Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris. “Jangan, tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu.” kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua. Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Dan .sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadi rakyat biasa. (SELESAI)


Iklan

Mercon M

Community

28 April 2024 15:25

<p>Jawaban:</p><p>Hikayat Abu Nawas - "Ibu Sejati"</p><p>Alur Cerita:</p><p><strong>1. Pengenalan Abu Nawas dan Kehidupannya</strong>: Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh utama, Abu Nawas, seorang tokoh legendaris dalam kebudayaan Timur Tengah yang terkenal dengan kecerdasan dan kejenakaannya. Abu Nawas tinggal di sebuah kota kecil di zaman kekhalifahan.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>2. Masalah Abu Nawas dengan Ibunya</strong>: Abu Nawas memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ibunya. Ibu Nawas sering kali marah karena ulah Nakula, dan terkadang keputusannya membuat Abu Nawas merasa terganggu.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>3. Kesalahpahaman</strong>: Suatu hari, Abu Nawas melakukan keusilan yang membuatnya dihukum oleh ibunya. Meskipun sebenarnya Abu Nawas hanya bercanda, ibunya sangat marah dan menuduhnya tidak bertanggung jawab.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>4. Perjalanan Abu Nawas</strong>: Abu Nawas merasa terluka dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya untuk beberapa waktu. Selama perjalanannya, dia bertemu dengan berbagai macam orang dan mengalami berbagai petualangan yang menarik.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>5. Mengenal Ibu Sejati</strong>: Selama perjalanannya, Abu Nawas bertemu dengan seorang wanita tua yang baik hati dan penyabar. Wanita tua itu memberinya makanan dan tempat tinggal tanpa menanyakan apa pun. Abu Nawas merasa nyaman dan senang bersama wanita itu.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>6. Pelajaran Berharga</strong>: Selama tinggal bersama wanita tua itu, Abu Nawas belajar banyak tentang arti sejati dari ibu dan kasih sayang. Dia menyadari bahwa ibunya telah melakukan segala sesuatu untuk kebaikannya, meskipun terkadang sikapnya kasar.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>7. Kembali ke Rumah</strong>: Setelah belajar banyak dari wanita tua itu, Abu Nawas memutuskan untuk kembali ke rumah dan memperbaiki hubungannya dengan ibunya. Dia ingin menunjukkan kepada ibunya bahwa dia telah mengubah sikapnya dan ingin menjadi anak yang lebih baik.</p><p><strong>8. Perubahan Abu Nawas</strong>: Abu Nawas kembali ke rumah dengan hati yang penuh kebaikan dan tekad untuk menjadi anak yang lebih baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih menghargai ibunya dan bersikap lebih bertanggung jawab.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>9. Pemahaman dan Kesadaran</strong>: Saat Abu Nawas tiba di rumah, ibunya sangat senang melihatnya. Mereka berpelukan dan berbicara dengan baik satu sama lain. Abu Nawas menyampaikan permintaan maafnya kepada ibunya dan berjanji untuk menjadi anak yang lebih baik di masa depan.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>10. Kesimpulan</strong>: Cerita berakhir dengan kesepakatan antara Abu Nawas dan ibunya untuk memperbaiki hubungan mereka. Abu Nawas menyadari pentingnya kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu, dan dia berjanji untuk selalu menghargai dan menghormati ibunya sepanjang hidupnya.</p>

Jawaban:

Hikayat Abu Nawas - "Ibu Sejati"

Alur Cerita:

1. Pengenalan Abu Nawas dan Kehidupannya: Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh utama, Abu Nawas, seorang tokoh legendaris dalam kebudayaan Timur Tengah yang terkenal dengan kecerdasan dan kejenakaannya. Abu Nawas tinggal di sebuah kota kecil di zaman kekhalifahan.

 

2. Masalah Abu Nawas dengan Ibunya: Abu Nawas memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ibunya. Ibu Nawas sering kali marah karena ulah Nakula, dan terkadang keputusannya membuat Abu Nawas merasa terganggu.

 

3. Kesalahpahaman: Suatu hari, Abu Nawas melakukan keusilan yang membuatnya dihukum oleh ibunya. Meskipun sebenarnya Abu Nawas hanya bercanda, ibunya sangat marah dan menuduhnya tidak bertanggung jawab.

 

4. Perjalanan Abu Nawas: Abu Nawas merasa terluka dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya untuk beberapa waktu. Selama perjalanannya, dia bertemu dengan berbagai macam orang dan mengalami berbagai petualangan yang menarik.

 

5. Mengenal Ibu Sejati: Selama perjalanannya, Abu Nawas bertemu dengan seorang wanita tua yang baik hati dan penyabar. Wanita tua itu memberinya makanan dan tempat tinggal tanpa menanyakan apa pun. Abu Nawas merasa nyaman dan senang bersama wanita itu.

 

6. Pelajaran Berharga: Selama tinggal bersama wanita tua itu, Abu Nawas belajar banyak tentang arti sejati dari ibu dan kasih sayang. Dia menyadari bahwa ibunya telah melakukan segala sesuatu untuk kebaikannya, meskipun terkadang sikapnya kasar.

 

7. Kembali ke Rumah: Setelah belajar banyak dari wanita tua itu, Abu Nawas memutuskan untuk kembali ke rumah dan memperbaiki hubungannya dengan ibunya. Dia ingin menunjukkan kepada ibunya bahwa dia telah mengubah sikapnya dan ingin menjadi anak yang lebih baik.

8. Perubahan Abu Nawas: Abu Nawas kembali ke rumah dengan hati yang penuh kebaikan dan tekad untuk menjadi anak yang lebih baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih menghargai ibunya dan bersikap lebih bertanggung jawab.

 

9. Pemahaman dan Kesadaran: Saat Abu Nawas tiba di rumah, ibunya sangat senang melihatnya. Mereka berpelukan dan berbicara dengan baik satu sama lain. Abu Nawas menyampaikan permintaan maafnya kepada ibunya dan berjanji untuk menjadi anak yang lebih baik di masa depan.

 

10. Kesimpulan: Cerita berakhir dengan kesepakatan antara Abu Nawas dan ibunya untuk memperbaiki hubungan mereka. Abu Nawas menyadari pentingnya kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu, dan dia berjanji untuk selalu menghargai dan menghormati ibunya sepanjang hidupnya.


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Assalamu’alaikum Wr. Wb Yang kami hormati bapak dan ibu serta para hadirirn sekalian yang berbahagia. Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan dan karunia-Nya kita bisa berkumpul di sini. Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw, karena beliau menyiarkan agama yang haq, yakni agama islam, agama yang diridai oleh Allah swt. Semoga kita sekalian termasuk ke dalam umat-Nya yang diberkahi. Amin ya rabbal alamin. Hadirin sekalian yang berbahagia! Dirasa amat penting sekali jiwa sosial untuk diterapkan di lingkungan keluarga, sanak saudara, bahkan juga di masyarakat luas. Karena dengan jiwa sosial, maka terjalinlah di antara kita saling tolong-menolong, dan kasih sayang. Sehngga orang-orang yang butuh akan pertolongan kita, akan mendapatkan haq-Nya. Perhatikan kalimat berikut! Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan karuniaNya kita bisa berkumpul di sini. Kalimat tersebut termasuk …. A. salam pembuka B. ucapan terima kasih C. pengenalan topik D. tema E. judul

63

0.0

Jawaban terverifikasi