Baga A

08 Maret 2024 00:39

Iklan

Iklan

Baga A

08 Maret 2024 00:39

Pertanyaan

Aku tertegun mendengarnya. Namun aku tidak berdaya. Hanya aku berpikir kalau aku sudah tua dan serenta Bu Inah ini, apakah akan mengalami hal yang sama? Aku juga tidak memiliki mata pencarian yang bisa diandalkan. Dengan mengelus punggungnya yang telah mulai membungkuk, aku mencoba membuatnya tersenyum dan menghiburnya. “Ia Bu Inah, Tuhan tentu tidak akan membiarkan umatnya yang selalu berdoa meminta perlindungan kepada-Nya. Sudahlah Bu, selama Ibu kurang sehat, aku akan mengurus bebek Ibu, memberi makan, menghalaunya ke sawah, dan membukakan kadangnya bila bebek-bebek pulang. Nanti telurnya kujual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli obat Bu Inah, Iya, “Aku pun memeluknya dengan penuh rasa iba. (Menanti Usia Senja, Mita Ali) Masalah inti yang diceritakan pada teks cerita tersebut adalah ....


1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Salsabila M

Community

09 Maret 2024 05:46

Jawaban terverifikasi

<p>Masalah inti yang diceritakan dalam teks tersebut adalah kesehatan dan keterbatasan fisik yang dihadapi oleh tokoh yang menceritakan, yaitu Bu Inah. Bu Inah mengalami masalah kesehatan dan kelemahan fisik karena usia tua, dan tokoh lainnya, yang menceritakan, merasa prihatin dan berusaha untuk membantu serta memberikan dukungan moral kepada Bu Inah.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p><br>&nbsp;</p>

Masalah inti yang diceritakan dalam teks tersebut adalah kesehatan dan keterbatasan fisik yang dihadapi oleh tokoh yang menceritakan, yaitu Bu Inah. Bu Inah mengalami masalah kesehatan dan kelemahan fisik karena usia tua, dan tokoh lainnya, yang menceritakan, merasa prihatin dan berusaha untuk membantu serta memberikan dukungan moral kepada Bu Inah.

 

 

 


 


Iklan

Iklan

Mercon M

Community

29 April 2024 09:14

<p>Jawaban:</p><p>Masalah inti yang diceritakan dalam teks cerita tersebut adalah perjuangan dan keprihatinan seorang tokoh terhadap keadaan yang sulit, terutama terkait dengan kesejahteraan dan kesehatan seorang ibu yang telah tua.&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Pembahasan:</p><p>Tokoh dalam cerita tersebut merasa tertegun dan tidak berdaya ketika menyaksikan kondisi ibunya yang renta dan sakit. Namun, meskipun merasa tidak berdaya, tokoh tersebut tetap berusaha untuk menghibur dan menyediakan dukungan serta perawatan untuk ibunya.</p><p>&nbsp;</p><p>Dalam cerita tersebut, tergambar betapa tokoh utama merasa prihatin dengan kondisi ibunya yang renta dan tidak memiliki mata pencarian yang dapat diandalkan. Tokoh tersebut merasa bertanggung jawab untuk merawat ibunya, bahkan dengan mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurus bebek dan menjual telur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membeli obat untuk ibunya.</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan demikian, masalah inti yang diceritakan dalam teks cerita tersebut adalah tentang tanggung jawab, perjuangan, dan kepedulian tokoh terhadap kondisi ibunya yang renta dan sakit, serta upaya tokoh untuk memberikan perawatan dan dukungan yang dibutuhkan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p><br>&nbsp;</p>

Jawaban:

Masalah inti yang diceritakan dalam teks cerita tersebut adalah perjuangan dan keprihatinan seorang tokoh terhadap keadaan yang sulit, terutama terkait dengan kesejahteraan dan kesehatan seorang ibu yang telah tua. 

 

Pembahasan:

Tokoh dalam cerita tersebut merasa tertegun dan tidak berdaya ketika menyaksikan kondisi ibunya yang renta dan sakit. Namun, meskipun merasa tidak berdaya, tokoh tersebut tetap berusaha untuk menghibur dan menyediakan dukungan serta perawatan untuk ibunya.

 

Dalam cerita tersebut, tergambar betapa tokoh utama merasa prihatin dengan kondisi ibunya yang renta dan tidak memiliki mata pencarian yang dapat diandalkan. Tokoh tersebut merasa bertanggung jawab untuk merawat ibunya, bahkan dengan mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurus bebek dan menjual telur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membeli obat untuk ibunya.

 

Dengan demikian, masalah inti yang diceritakan dalam teks cerita tersebut adalah tentang tanggung jawab, perjuangan, dan kepedulian tokoh terhadap kondisi ibunya yang renta dan sakit, serta upaya tokoh untuk memberikan perawatan dan dukungan yang dibutuhkan.

 

 

 


 


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bacalah cuplikan novel berikut. Tersesat di Pulau Raksasa Aku tinggal bersama keluargaku selama dua bulan di darat. Setelah itu, kami pergi berlayar bersama kapal bernama Adventure Kami berada di laut selama beberapa bulan ketika kemudian datang hujan angin yang dahsyat dan kami pun akhirnya tersesat. Setelah beberapa minggu, kami melihat sebuah pulau. Kemudian, aku naik ke sebuah perahu kecil dengan dua belas awakku. Kami pun mendayung menuju ke pulau itu. Kami pergi mencari air untuk diminum. Aku pergi seorang diri dan semua awakku kutinggalkan dalam perahu. Ketika aku kembali, para awakku sudah siap berangkat. Namun, tiba-tiba saja meninggalkanku dengan cepat sekali menuju kapal Adventure. Sesudah itu, aku melihat seorang raksasa berlari menuju kapal itu. Ia berusaha menangkap salah satu dari mereka yang ada dalam kapal. Akan tetapi, mereka sudah jauh. Melihat itu, aku berlari ke pantai, tetapi kemudian satu dari raksasa menangkapku. Raksasa itu membawaku ke rumahnya yang amat besar dan memperlihatkanku kepada tuannya. Tuannya adalah petani di pulau raksasa yang bernama Pulau Brobdignas. Raksasa petani itu mempunyai seorang putri bernama Glumdalclitch berumur sembilan tahun. Petani itu kemudian membuat kotak besar dan memasukkanku ke kotak itu. Ia lalu berkata kepada Glumdalclitch agar menjagaku. Pada suatu hari, mereka membawaku ke kota. Kami pun tiba di sebuah penginapan. Petani itu membawaku masuk dan meletakkan kotaknya di atas meja. Seluruh raksasa menertawakanku karena aku sangat kecil. Petani itu sangat rakus. "Kau harus kerja keras untukku," katanya padaku. "Aku akan membawamu ke Lordbrulgrud, ibu kota Brobdignas. Para raksasa lain akan datang melihatmu dan mereka akan membayarku dengan uang yang banyak," lata petani. Glumdalclitch menjinjingku ke dalam kotak. Kami tiba di kota dan petani itu memperlihatkanku kepada beberapa raksasa lainnya. Petani menyuruhku untuk berbicara, berjalan, dan bermain pedang. Makin lama, makin banyak raksasa yang datang melihatku dan mereka memberi uang pada petani itu. Dalam waktu sekejap saja, petani itu menjadi kaya raya. Setelah beberapa minggu, petani itu menjualku kepada Ratu. Glumdalclitch tinggal bersamaku dan ia menjadi pelayanku. Oleh tukang kayu yang bekerja di istana, aku dibikinkan kotak baru yang di dalamnya terdapat dua kursi, dua meja, dan sebuah tempat tidur. Suatu saat, jendela kotakku terbuka dan beberapa ekor tawon masuk ke sana. Tawon-tawon itu sangat besar, sebesar burun g. "Tawon ini pasti akan menyengatku," pikirku dengan ketakutan. Maka kubunuh empat di antaranya dengan pedangku, sedangkan lainnya terbang pergi. Di lain waktu, saat aku duduk di halaman depan istana, turunlah hujan es. Gumpalan-gumpalan es beku itu besar- besar, sebesar bola tenis. Beberapa di antaranya menimpaku dan aku pun jatuh ke tanah. Tubuhku terasa memar dan sakit sekali. Setelah itu, aku jatuh sakit selama sepuluh hari. Suatu hari, Glumdalclitch pergi berjalan-jalan bersama teman-temannya. Aku sedang sendirian di kebun. Tiba-tiba, datang seekor *anjing yang kemudian membawaku dan meletakkanku di tanah dekat seorang tukang kebun. Mulanya aku sangat takut. Akan tetapi, ternyata *anjing itu tidak melukaiku. Aku sering memimpikan tentang laut dan kapal laut dan jadi ingin memperoleh sebuah perahu. Lalu, aku berkata kepada tukan g kayu. "Tolong buatkan perahu untukku . "Maka jawabnya, "Baiklah, akan kubuatkan." Tukang perahu itu menyelesaikan pekerjaannya dalam 10 hari. Perahu itu lengkap dengan layar dan dayungnya. Namun sayang, sang Ratu melihat perahu itu dan mengambilnya. Ratu memperlihatkan perahu itu kepada Raja. Kemudian, Ratu berkata pada tukang kayu, "Tolong buatkan bak yang besar untuk perahu ini. "Dan tukang kayu pun menjawab, "Baik Yang Mulia." Diletakkannya bak itu di sebuah ruangan istana oleh tukang kayu setelah jadi. Dua pria raksasa mengisi kolam itu dengan air dan meletakkan perahu itu di dalamnya. Glumdalclitch meletakkanku ke dalam perahu itu. Aku sering mendayung perahu itu di dalamnya dan Ratu menontonku. Terkadang, aku naikkan layar dan Glumdalclitch meniupkan angin untuk perahuku. Jika aku selesai berlayar dalam bak itu, Glumdalclitch mengambilku dan menjagaku kembali. Tidak lupa, ia juga mengambil perahuku dan menggantungnya pada sebuah paku agar jadi kering. Begitulah kehidupan seterusnya, aku tidak dapat lari dari Pulau Brobdignas. (Terjemahan dari The Voyage to Brobdinas) Nilai kehidupan apa saja yang tergambar di dalamnya?

5

4.3

Jawaban terverifikasi

Buatlah menjadi sebuah dialog Kamis pagi usai pelajaran olah raga, Bu Mia, guru Kimia masuk kelas X MIPA tepat waktu. Tak seperti biasanya, hari itu anak-anak belum selesai berganti pakaian. Penyebabnya, mereka baru saja mengikuti ujian lari mengelilingi stadion. Sebenarnya hari itu Bu Mia akan memberikan ulangan. Beberapa siswa yang napasnya masih memburu dan keringatnya bercucuran, mengajukan usul pada Dani. “Dan … minta Bu Mia menunda ulangan dong. Capek nih,” kata Ali. “Waduuuh aku gak berani,” jawab Dani. “Lia saja suruh bilang. Dia kan ketua kelas, ” sambung Dani. “Baiklah, aku akan mencoba merayu Bu Mia. Doakan berhasil,” kata Lia. “Beres. Kamu kan ketua kelas.” Dengan santun, Lia menghadap Bu Lia yang wajahnya tampak kaku melihat murid-muridnya belum juga siap mengikuti pelajaran. “Maaf, Bu. Boleh Lia berbicara sebentar?” tanya Lia sambil duduk. “Iya. Ada apa?” “Begini, Bu, saya mewakili teman-teman, Lia minta maaf karena temanteman belum selesai ganti baju.“ “Biasanya kan tidak terlambat seperti ini?” tanya Bu Mia. “Iya, Bu. Sekali lagi maakan, kami. Kami kelelahan, Bu. Tadi baru saja ujian lari mengelilingi stadion 2 kali.” “Oh … kenapa tidak bilang tadi? Kalian sudah minum?” suara Bu Mia berubah ramah setelah tahu penyebab Lia dan kawan-kawannya terlambat ganti baju. “Belum sempat, Bu. Kami takut ketinggalan ulangan,” jawab Lia tetap dengan sopan. “Kalau boleh, kami minta waktu sepuluh menit untuk minum dan ganti baju, Bu. Biar badan kami segar.” “Ya sudah, kalian istirahat 15 menit. Ulangannya minggu depan saja. Nanti kita latihan soal saja,” jawab Bu Lia mengagetkan Mia dan teman-teman. “Makasih, Bu,” kata Lia. “Eit … tapi ingat. Kalian harus tertib. Tidak boleh gaduh dan mengganggu kelas lain. Dan masuk kelas lagi tepat pukul 09.00 WIB.” “Iya, Bu. Makasih.” Teman-teman Lia yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan Lia dan Bu Mia bertepuk tangan gembira mendengar keputusan Bu Mia.

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Dilema Nara Karya: Alya Khalisah - Nana terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, Nana bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nana menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nana berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nana berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya. Nana mendongak. Wajahnya terasa familiar. “Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak. Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!” Nana tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nana terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya. Nana adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya. Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nana. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh. Istri pertama ayah Nana adalah sahabat dekat ibu Nana. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama. Nira, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya. “Na?” Lamunan Nana terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong. “Nana? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nana beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu. “Nana, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,” Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nana selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya. Nana bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nira. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nana musnah. Nara tahu apa artinya itu. * Nana memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat. Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nana tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang. Nana tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan. Nana menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian. JELASKAN APA AMANAT PADA TEKS DIATAS!

22

0.0

Jawaban terverifikasi

temukan konjungsi dalam teks hikayat ibnu hasan kemudian jeniskan! Ibnu Hasan Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan. Banyak harta, banyak uang, terkenal ke setiap negeri, merupakan orang terkaya. Bertempat tinggal di negeri Bagdad yang terkenal ke mana-mana sebagai kota yang paling ramai saat itu. Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasihati yang berpikiran sempit, mengajarkan ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya berupa pakaian atau uang. Oleh karena itu, banyak pengikutnya. Syekh Hasan memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun. Ibnu Hasan namanya. Ibnu Hasan sedang lucu-lucunya. Semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya. Namun demikian, anak itu tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan. Ayahnya berpikir, "Alangkah salannya aku, menyayangi di luar batas, tanpa pertimbangan. Bagaimana kalau akhirnya dimurkai Allah Yang Agung? Aku pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat." Dipanggilnya putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil dinasihati, bahwa ia harus mengaji, katanya, "Sekarang saatnya, Anakku. Sebenarnya aku khawatir, tapi pergilah ke Mesir. Carilah jalan menuju keutamaan." Ibnu Hasan menjawab, "Ayah jangan ragu-ragu, semua kehendak orang tua akan hamba turuti, tidak akan kutolak, siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan." Kemudian, Ibnu Hasan berangkat ke pesantren, berpisah dengan kedua orang tuanya, hatinya sangat sedih. Ibunya tidak tahan menangis terisak-isak harus berpisah dengan putranya yang masih sangat kecil, belum cukup usia. "Kelak, apabila Ananda sudah sampai ke tempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri karena jauh dari orang tua. Harus tahu ilmunya hidup, jangan keras kepala, angkuh, dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senang karena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong. Kalau celaka tidak akan diperhatikan. Berada di rantau orang kalau judes akan mendapatkan kesusahan. Hati-hatilah menjaga diri. Jangan menganggap enteng segala hal." Ibnu Hasan menjawab dengan takzim, "Apa yang Ibu katakan akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati. Doakanlah aku agar selamat. Semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah. Pesan Ibu akan kuperhatikan, siang dan malam." Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun. Mereka berangkat berjalan kaki. Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang, sesekali menggantikan tugas Mairun. Perasaan sedih, prihatin, kehujanan, kepanasan selama perjalanan yang memakan waktu berhari-hari namun akhirnya sampai juga di pusat kota negara Mesir, dengan selamat berkat doa ayah dan ibunda. Selanjutnya, segeralah menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya. Pada suatu hari, saat bakda zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh yang baru pulang dari sekolah. Ibnu Hasan menyapa, "Anda pulang dari mana?" Saleh menjawab dengan sopan, "Saya pulang sekolah." Ibnu Hasan bertanya lagi, "Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!" Yang ditanya menjawab, "Apakah Anda belum tahu?Sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar, berhitung, menulis, mengeja, belajar tata krama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan." Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya. Dia segera pulang menghadap kyai dan meminta izinnya untuk belajar di sekolah guna mencari ilmu. "Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan," Kyai berkata demikian. Tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu, "Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba bersusah payah tanpa mengenal lelah mencari ilmu. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknya pun banyak. Hamba tidak usah bekerja karena tidak akan kekurangan. Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah meninggal dunia, semua hartanya jatuh ke tangan hamba. Tapi, ternyata tidak terurus karena hamba tidak teliti akhimya harta itu habis, bukan bertambah. Di situlah terlihat temyata kalau hamba ini bodoh. Bukan bertambah masyhur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat hamba karena modal sudah ada, hamba hanya tinggal melanjutkan. Pangkat anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihi orang tua, paling tidak harus sama dengan orang tua, dan tidak akan memalukan, apalagi kalau lebih miskin, ibaratnya anak seorang palih" Maka, yakinlah kyai itu akan baik muridnya.

3

0.0

Jawaban terverifikasi

cermatilah teks negosiasi berikut! PT Sarana Mulia menawarkan perlengkapan kantor kepada pt wahana karya. PT Wahana Karya tertarik untuk mengajukan permintaan dan mengirimkan wakilnya untuk menegosiasikan hal tersebut. berikut ini adalah kutipan negosiasi antara wakil dari PT Sarana Mulia (disebut A) dan wakil dari PT Wahana (disebut B). A: selamat pagi. terima kasih atas kedatangan ibu di perusahaan kami. B: selamat pagi. perusahaan kami pun sangat berharap banyak dengan niat kerja sama dengan perusahaan bapak. A: kami pun mengharapkan hal yang demikian. silakan, bu. B: perusahaan kami tertarik untuk membeli 20 komputer berikut perlengkapannya. sebelumnya, kami ingin mengetahui harga yang diajukan oleh perusahaan bapak. A: perusahaan kami sangat senang dengan apresiasi dari perusahaan ibu atas penawaran yang diberikan oleh perusahaan kami. mengingat bahwa perusahaan kami dan perusahaan ibu telah lama menjalin kerja sama, tentu kami akan menawarkan harga yang menarik. kualitas barang yang kami tawarkan pun bukan kelas bawah. kami selalu menerapkan filosofi pembeli adalah rata dan rata harus diberikan yang terbaik. perusahaan kami menawarkan harga untuk 20 komputer tersebut beserta perlengkapannya dengan harga 85 juta rupiah, kami pun memberikan bonus berupa 2 pasang meja kursi komputer jika perusahaan ibu berkenan dengan harga yang kami tawarkan. B: perusahaan kami sangat tertarik dengan harga yang bapak tawarkan, mengingat bahwa perusahaan kami dan perusahaan bapak telah lama bekerja sama, kami bermaksud untuk mengajukan permintaan harga 65 juta rupiah. harga yang kami minta adalah harga yang gas untuk diajukan kepada perusahaan sebesar perusahaan bapak. A seperti yang ibu ketahui, perusahaan kami tidak pernah menjual barang berkualitas rendah. harga telah kami sesuaikan dengan kualitas barang. B: perusahaan kami sangat memahami hal tersebut. potongan harga yang kami inginkan anggaplah sebagai sarana untuk mempererat kerja sama dan saling menguntungkan. A: perusahaan kami bisa memberikan penunjang lain untuk perlengkapan komputer di perusahaan ibu. misalnya adaptor. B: kami tertarik dengan penawaran bapak. kami akan memberikan harga 75 juta rupiah untuk 20 komputer, 2 pasang meja kursi, dan 20 adaptor untuk komputer yang ingin kami beli. A harga tersebut masih kurang sesuai dengan kualitas barang dan apa yang kami berikan. kualitas barang kami selalu kami kedepankan. B: kami rasa harga tersebut sudah sangat sesuai dengan apa yang perusahaan bapak berikan. A: ibu bisa membandingkan harga dari perusahaan penyedia perlengkapan kantor lain. perusahaan kami selalu yang terbaik. perusahaan kami dan perusahaan ibu telah bekerja sama dalam waktu yang lama. melihat hal tersebut, harga 80 juta rupiah akan bisa mempererat kerja sama tersebut. B: baiklah, kami setuju dengan harga tersebut. kami berterima kasih atas kerja samanya. semoga ini bisa mempererat kerja sama perusahaan kami dan perusahaan bapak. A terima kasih atas kerja samanya. terima kasih telah memercayai perusahaan kami barang akan segera kami sediakan dan kirimkan. 1. Sebutkan Pokok-pokok isi negosiasi tersebut

1

0.0

Jawaban terverifikasi