Iklan

Pertanyaan

Pohon randu jatuh di empang
Air mendidih dibuang ke jamban
Salam rindu salam sayang
Hati sedih tak dapat jawabanundefined 

Telaahlah pola penyajian dan kebahasaan dalam pantun tersebut?

Telaahlah pola penyajian dan kebahasaan dalam pantun tersebut? 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

17

:

48

:

11

Klaim

Iklan

N. Puspita

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Jawaban

pola penyajian pantun di atas adalah terdiri dari empat baris, berima a-b-a-b, baris 1 dan 2 merupakan sampiran, baris 3 dan 4 merupakan isi. Kaidah kebahasaan pantun tersebut susunan kalimatnya menggunakan kalimat tunggal.

pola penyajian pantun di atas adalah terdiri dari empat baris, berima a-b-a-b, baris 1 dan 2 merupakan sampiran, baris 3 dan 4 merupakan isi. Kaidah kebahasaan pantun tersebut susunan kalimatnya menggunakan kalimat tunggal.undefined 

Pembahasan

Pembahasan
lock

Syarat-syarat pantun: Tiap bait terdiri dari empat baris Bersajak a-b-a-b Tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata Dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris terakhir (3 dan 4) merupakan isi. Pola penyajian pantun di atas sudah sesuai dengan syarat-syarat pantun: Berima a-b-a-b, contohnya p ohon randu jatuh di empang, air mendidih dibuang ke jamban, bunyi akhirnya ang dan an. T erdiri dari empat baris Baris 1 dan 2 merupakan sampiran, yaitu p ohon randu jatuh di empang, air mendidih dibuang ke jamban. Baris 3 dan 4 merupakan isi, yaitu salam rindu salam sayang, hati sedih tak dapat jawaban. Kaidah kebahasaan puisi rakyat: Kalimat perintah: kalimat yang mengandung makna meminta/memerintah seseorang untuk melakukan sesuatu. Kalimat saran:kalimat yang berisi tentang saran kepada orang lain untuk kebaikan orang lain (sebaiknya, seyogyanya). Kalimat ajakan: kalimatyang berisi mengajak agar orang lain berbuat sesuatu. Kalimat ini ditandai dengan kata-kata: ayo, mari, ayolah, marilah. Kalimat seru:kalimat yang mengungkapkan rasa hati, seperti kagum, heran, senang, dan sedih (alangkah, betapa, dan bukan main). Kalimat larangan: kalimat yang berisilarangan agar orang lain tidak melakukan hal tertentu. Biasanya ditandai dengan kata: dilarang, jangan, dan janganlah. Kata penghubung: kata penghubung yang sering digunakan pada puisi rakyat antara lain:(supaya, untuk, agar, dan guna,sebab, sebab itu, karena, dan oleh karena itu,sehingga, sampai, dan akibatnya,jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana. Kalimat tunggal:kalimat yang memiliki satu subjek dan satu predikat. Kalimat majemuk: kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek atau predikat. Kaidah kebahasaan pantun di atas menggunakan kalimat tunggal, seperti p ohon randu jatuh di empang . Kalimat ini terdiri dari S P K. Dengan demikian, pola penyajian pantun di atas adalah terdiri dari empat baris, berima a-b-a-b, baris 1 dan 2 merupakan sampiran, baris 3 dan 4 merupakan isi. Kaidah kebahasaan pantun tersebut susunan kalimatnya menggunakan kalimat tunggal.

Syarat-syarat pantun:

  1. Tiap bait terdiri dari empat baris
  2. Bersajak a-b-a-b
  3. Tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
  4. Dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris terakhir (3 dan 4) merupakan isi.

Pola penyajian pantun di atas sudah sesuai dengan syarat-syarat pantun:

  1. Berima a-b-a-b, contohnya pohon randu jatuh di empang, air mendidih dibuang ke jamban, bunyi akhirnya ang dan an.
  2. Terdiri dari empat baris
  3. Baris 1 dan 2 merupakan sampiran, yaitu pohon randu jatuh di empang, air mendidih dibuang ke jamban.
  4. Baris 3 dan 4 merupakan isi, yaitu salam rindu salam sayang, hati sedih tak dapat jawaban.

Kaidah kebahasaan puisi rakyat:

  1. Kalimat perintah: kalimat yang mengandung makna meminta/memerintah seseorang untuk melakukan sesuatu. 
  2. Kalimat saran: kalimat yang berisi tentang saran kepada orang lain untuk kebaikan orang lain (sebaiknya, seyogyanya).
  3. Kalimat ajakan: kalimat yang berisi mengajak agar orang lain berbuat sesuatu. Kalimat ini ditandai dengan kata-kata: ayo, mari, ayolah, marilah.
  4. Kalimat seru: kalimat yang mengungkapkan rasa hati, seperti kagum, heran, senang, dan sedih (alangkah, betapa, dan bukan main).
  5. Kalimat larangan: kalimat yang berisi larangan agar orang lain tidak melakukan hal tertentu. Biasanya ditandai dengan kata: dilarang, jangan, dan janganlah.
  6. Kata penghubung: kata penghubung yang sering digunakan pada puisi rakyat antara lain:(supaya, untuk, agar, dan guna,sebab, sebab itu, karena, dan oleh karena itu, sehingga, sampai, dan akibatnya, jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
  7. Kalimat tunggal: kalimat yang memiliki satu subjek dan satu predikat.
  8. Kalimat majemuk: kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek atau predikat.

Kaidah kebahasaan pantun di atas menggunakan kalimat tunggal, seperti pohon randu jatuh di empang. Kalimat ini terdiri dari S P K.

Dengan demikian, pola penyajian pantun di atas adalah terdiri dari empat baris, berima a-b-a-b, baris 1 dan 2 merupakan sampiran, baris 3 dan 4 merupakan isi. Kaidah kebahasaan pantun tersebut susunan kalimatnya menggunakan kalimat tunggal.undefined 

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

1

Iklan

Pertanyaan serupa

Ciri-ciri pantun terdapat pada nomor ....

1

3.6

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

+62 815-7441-0000

Email info@ruangguru.com

[email protected]

Contact 02130930000

02130930000

Ikuti Kami

©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia