Polusi air
Pengembangan batu bara, minyak, dan gas menimbulkan banyak sekali ancaman bagi saluran air dan air tanah lingkungan. Operasi penambangan batu bara mencuci limpasan asam ke aliran, sungai, dan danau hingga membuang sejumlah besar batu dan tanah yang tidak diinginkan ke sungai. Tumpahan dan kebocoran minyak selama ekstraksi atau transportasi dapat mencemari sumber air minum dan membahayakan seluruh ekosistem air tawar atau laut.
Fracking dan cairan beracunnya juga diketahui dapat mencemari air minum, sebuah fakta yang sayangnya lambat dikenali oleh Badan Perlindungan Lingkungan. Sementara itu, semua operasi pengeboran, fracking, dan penambangan menghasilkan volume besar air limbah, yang dapat diisi dengan logam berat, bahan radioaktif, dan polutan lainnya. Industri menyimpan limbah ini di lubang terbuka atau sumur bawah tanah yang dapat bocor atau meluap ke saluran air dan mencemari akuifer dengan polutan yang terkait dengan kanker, cacat lahir, kerusakan neurologis, dan banyak lagi.
Emisi
Bahan bakar fosil memancarkan polusi udara berbahaya jauh sebelum mereka terbakar. Sebagai informasi, sekitar 12,6 juta orang Amerika diketahui terpapar polusi udara beracun setiap harinya. Polusi udara tersebut berasal dari sumur minyak dan gas aktif dan dari fasilitas transportasi serta pembangkit listrik. Polusi tersebut termasuk benzena (terkait dengan leukemia masa kanak-kanak dan gangguan darah) dan formaldehida (bahan kimia penyebab kanker).
Selain itu, industri fracking yang saat ini masih banyak digunakan akan membawa polusi terus-menerus kepada masyarakat, meskipun semakin banyak bukti dampak kesehatan yang serius dari praktik tersebut. Operasi penambangan juga tidak lebih baik, terutama bagi para penambang itu sendiri, yang menghasilkan bahan partikular beracun di udara. Penambangan strip juga dapat melepaskan simpanan karbon raksasa yang disimpan secara alami di alam liar.
Pemanasan global
Pemanasan global terjadi ketika karbon dioksida menumpuk di atmosfer. Karbon dioksida muncul dari konversi karbon monoksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Akibatnya, suhu permukaan bumi meningkat secara drastis. Peningkatan ini cukup untuk menekan sistem ekologi. Implikasinya termasuk cuaca buruk, kekeringan, banjir, perubahan suhu yang drastis, gelombang panas, dan kebakaran hutan yang lebih parah.
Selain itu, dampak tersebut juga sampai pada persediaan makanan dan air yang terancam. Daerah tropis juga akan berdampak, memungkinkan serangga pembawa penyakit memperluas jangkauannya. Emisi karbon sendiri memerangkap panas di atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim. Di Amerika Serikat, pembakaran bahan bakar fosil, khususnya untuk sektor listrik dan transportasi, menyumbang sekitar tiga perempat dari emisi karbon yang ada.
Jadi, jawaban yang benar adalah A