Perbedaan nilai-nilai budaya pada kehidupan masyarakat praaksara dan masyarakat pada masa kini terlihat dalam beberapa nilai. Perbedaan nilai tersebut antara lain:
1. Gotong royong
Pada masa lalu masyarakat Praaksara telah mengenal nilai gotong royong ketika bersama-sama membangun rumah. Hal ini terlihat dengan adanya bangunan besar yang dibangun secara bersama-sama. Nilai gotong royong hingga saat ini masih ada, namun berbeda dalam pelaksanaannya. pada saat ini manusia melakukan kegiatan gotonng royong hanya pada saat-saat tertentu seperti kerja bakti di kampung, selanjutnya untuk meneruskan pembangunan itu biasanya menggunakan jasa kontraktor. demikian juga halnya dengan seseorang yang hendak membangun rumah. Gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat untuk membantu seseorang yang membangun rumah biasanya pada saat memasang atap rumah, sementara bagian yang lain dikerjakan oleh tukang yang telah membuat kesepakatan dengan pemiilik bangunan.
2. Nilai Religius
Kehidupan Religius pada masa praaksara didominasi oleh tiga kepercayaan yaitu animisme, dinamisme, dan totemisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Sementara Totemisme adalah kepercayaan terhada hewan atau tumbuhan yang memiliki kekuatan gaib. Pada saat ini sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat berdasarkan pada agama tertentu yang masing-masing memiliki kitab sucinya. contohnya agama Islam yang berpedoman pada Al-Qur'an, Kristen yang berpedoman pada Injil, Budda berpedoman pada Tripitaka, Hindhu berpedoman pada Weda, Konghucu berpedoman pada Sishu Wujing, dan sebagainya. Selain berpedoman pada kitab sucinya, dalam melaksanakan sistem kepercayaan masyarakat pada saat ini melakukan ibadah pada tempat-tempat tertentu yang dianggap suci. Contohnya: Islam di Masjid, Kristen di Gereja, Hindhu di Pura, Budda di Vihara, dan Konghucu di Klenteng.
3. Nilai Musyawarah
Nilai Musyawarah telah diterapkan oleh masyarakat praaksara. Pada saat itu, nilai musyawarah dilakukan ketika memilih pemimpin. pemimpin yang dipilih adalah seseorang yang usianya dianggap paling tua dan mampu menyelesaikan masalah secara komunal. Pada saat ini nilai musyawarah juga masih dilakukan ketika memilih pemimpin, tetapi usia seseorang tidak lagi menjadi penentu dalam pelaksanaan musyawarah. Musyawarah dalam memilihan pemimpin kini dilakukan dengan cara seseorang mengajukan diri maupun dicalonkan oleh seseorang atau kelompok orang tertentu dan hasilnya berdasarkan suara terbanyak. Hasil yang didapatkan itulah yang kemudian disepakati bersama.
4. Nilai Keadilan
Nilai keadilan juga terlihat pada kehidupan masyarakat praaksara. Pada saat itu, mereka telah mengenal pembagian tugas yakni laki-laki berburu di hutan, sementara wanita bertugas bmengumpulkan makanan. Selain itu, wanita juga bertugas mengasuh anak. Pada saat ini nilai keadilan dapat terlihat dengan adanya kesetaraan gender yang mana laki-laki dan perempuan memilki hak yang sama dalam segala bidang baik pendidikan, pekerjaan, maupun pemerintahan. Pada saat ini mengasuh anak tidak lagi menjadi tanggung jawab sepenuhnya pada wanita, laki-laki pada saat ini juga banyak yang mengasuh anak karena tuntutan pekerjaan yang dimiliki isterinya.
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa perbedaan nilai budaya pada masyarakat praaksara dan masyarakat pada saat ini antara lain:
1. Nilai Gotong Royong: dahulu manusia praaksara membangun rumah secara bersama-sama, sekarang masyarakat menggunakan jasa kontraktor.
2. Nilai Religius: dahulu masyarakat praaksara berbedoman pada kepercayaan Animisme, Dinamisme, dan Totemisme, sekarang masyarakat berpedoman pada agama tertentu yang masing-masing memiliki kitab suci.
3. Nilai Kedilan: dahulu wanita bertugas mengasuh anak sementara laki-laki bekerja di luar, sekarang banyak wanita yang menjadi wanita karir sedangkan suaminya mengasuh anak.
4. Nilai Musyawarah: dahulu pemimpin yang dipilih berdasarkan usia yang paling tua, sekarang pemimpin yang dipilih berdasarkan jumlah suara terbanyak.