Hubungan dagang antara Cina dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan (India), Timur Tengah, dan Eropa sudah dimulai sejak awal tahun Masehi. Jalur perdagangan di Asia pada awalnya melalui daratan yang disebut Jalan Sutra. Jalur Sutra adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia yang menghubungkan antara Timur dan Barat dengan dihubungkan oleh pedagang, pengelana, biarawan, prajurit, nomaden dengan menggunakan karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an, Republik Rakyat Tiongkok, dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya pada waktu yang bervariasi. Pengaruh jalur ini terbawa sampai ke Korea dan Jepang. Disebut jalur sutra karena barang utama yang diperdagangkan pada masa itu adalah sutra dari Cina yang terkenal sangat halus. Pada awalnya, Jalan Sutra ini melalui Asia bagian utara. Namun, jalur utara dirasakan kurang aman karena gangguan perampok dan kondisi alam sehingga dialihkan ke jalur tengah. Jadi, jalan perdagangannya meliputi Cina, India, Persia, Mesopotamia, sampai ke Mediterania. Karena biayanya dirasa mahal dan keamanan tetap tidak terjamin jalur perdagangan dialihkan lewat laut. Jalur perniagaan dan pelayaran yang melalui laut, dimulai dari China menuju Kalkuta, India. Di mana jalur tersebut melalui Laut China Selatan kemudian Selat Malaka. Setelah sampai India, kemudian berlanjut ke Teluk Persia melalui Suriah. Indonesia melalui Selat Malaka terlibat perdagangan dalam hal rempah-rempah. Posisi strategis itu memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Pada masa itu, rempah-rempah menjadi produk penting terutama di bagian Eropa untuk kepentingan masakan dan mengawetkan daging di musim dingin. Indonesia menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting pada Jalur Sutera. Sejak terbentuknya jalur perdagangan laut yang menghubungkan India dan Cina tersebut, kegiatan perdagangan di Kepulauan Indonesia berkembang dengan pesat. Daerah pada pantai Timur Sumatera menjadi jalur perdagangan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang asing.
Kapal - kapal dagang di India atau Cina banyak yang singgah di Indonesia, untuk menjual dan membeli barang, beristirahat, serta menambah persediaan makanan dan minuman. Karena itulah, dalam perkembangannya kemudian muncul pusat - pusat perdagangan yang berkembang menjadi pusat kerajaan, khususnya di daerah pesisir pantai Pulau Sumatera yang di bawa oleh para pedagang. Dan menyebabkan kebudayaan Hindu - Buddha turut berkembang di Indonesia. Hal ini di perkuat dengan munculnya teori Waisya yang dikemukakan oleh N.J. Krom, ia berpendapat bahwa agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari India. Agama tersebut bisa disebarkan dengan cara pernikahan, hubungan dagang, atau interaksi dengan penduduk setempat saat pedagang dari India bermukim untuk sementara waktu di nusantara. Teori ini diperkuat dengan keberadaan Kampung Keling, yaitu perkampungan para pedagang India di Indonesia. Selain itu, perdagangan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan penjelasan di atas, dengan demikian dampak dari adanya hubungan dagang yang intens antara India dan Indonesia adalah membuat perdagangan di Indonesia menjadi semakin ramai dan menyebarnya kepercayaan Hindu-Buddha ke Indonesia.