Latar belakang dari Peristiwa Pertempuran 10 November di Surabaya berawal dari beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang ke Indonesia usai memenangkan Perang Dunia II melawan Jepang dan pihak poros lainnya.
Awalnya kedatangan mereka hanya untuk membebaskan tentara sekutu dari tahanan Jepang. Namun ternyata Belanda dalam hal ini diwakili oleh NICA membonceng pasukan Sekutu dan ingin menguasai Indonesia lagi. Bergolaklah perlawanan dari prajurit dan rakyat Indonesia atas kehadiran Belanda. Perlawanan dari rakyat ini banyak terjadi di beberapa daerah misalnya ada Peristiwa Pertempuran 10 November di Surabaya, pertempuran Ambarawa, pertempuran medan area, dan peristiwa Bandung Lautan Api.
Bagaimana proses kedatangan sekutu di Surabaya ? Pada tanggal 25 Oktober 1945, Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya. Mereka mendapat tugas dari panglima Allied forces for Netherlands East Indies (AFNEI) untuk melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan para interniran Sekutu. Kedatangan mereka diterima oleh pemimpin pemerintah Jawa Timur, Gubernur Suryo. Setelah diadakan pertemuan antara wakil-wakil pemerintah RI dengan Mallaby, maka dihasilkan kesepakatan sebagai berikut:
1) Inggris berjanji bahwa di antara tentara mereka tidak terdapat Angkatan Perang Belanda.
2) Disetujui kerja sama antara kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketentraman.
3) Akan segera dibentuk “Kontak Biro” agar kerja sama dapat terlaksana sebaik-baiknya.
4) Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang saja.
Adanya kesepakatan ini nyatanya tidak menjamin keamanan Surabaya dari serangan Inggris. pada perkembangan selanjutnya, ternyata pihak Inggris mengingkari janjinya. Pada malam hari tanggal 26 Oktober 1945, pihak sekutu, melakukan penyergapan ke penjara Kalisosok. Mereka akan membebaskan Kolonel Huiyer—seorang Kolonel Angkatan Laut Belanda—beserta kawan-kawannya. Tindakan Inggris dilanjutkan pada keesokan harinya dengan menduduki Pangkalan Udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Internatio, dan objek-objek vital lainnya. Melihat hal ini rakyat mulai marah dan menyusun perlawanan. Puncaknya Pada Tanggal 30 Oktober 1945 pemimpin pasukan Inggris di Jawa Timur, Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, tewas dalam suatu insiden pengeboman di mobilnya.
Adanya kejadian ini membuat pihak Inggris marah dan mengeluarkan ultimatum agar pihak Indonesia di Surabaya meletakkan senjata dan menyerah tanpa syarat selambat-lambatnya jam 06.00 tanggal 10 November 1945. Ultimatum ini dikeluarkan Pada tanggal 9 November 1945, Mayjen E.C. Mansergh, sebagai pengganti Mallaby. Ultimatum tersebut pun ditolak dan terjadilah pertempuran 10 November di Surabaya,. Pertempuran terjadi selama 2 minggu yang berakhir dengan menewaskan setidaknya 6.000 -16.000 orang dari pihak Indonesia. Sedangkan korban tewas dari pasukan Sekutu kira-kira sejumlah 600-2.000 orang.
Dengan demikian, Narasi yang dijelaskan di soal menggambarkan sebuah Peristiwa yang dikenal dengan nama Peristiwa Pertempuran Surabaya atau Peristiwa 10 November.