Iklan

Pertanyaan

Perhatikan teks berikut! Secara historis, di masa lalu Prancis ada di bawah Katolisisme. Negara Prancis berimpitan dengan otoritas gereja. Persoalan ini selesai dengan pengesahan hukum yang memisahkan agama dan negara secara tegas pada 9 Desember 1905. Termasuk penekanan bahwa negara Prancis tidak mengakui, membiayai, dan mensubsidi lembaga keagamaan apapun. Dalam satu artikel di situs web University of Brookings, brookings.edu , berjudul “French Views of Religious Freedom,” disebut bahwa laïcité bermakna sekularisme, diciptakan untuk menggambarkan oposisi yang berkembang terhadap otoritas moral dari para imam Katolik. Seiring waktu, gerakan laïcité terus mengutuk pemaksaan agama sebagai bentuk pengaruh agama yang tidak semestinya.Secara historis, “trauma” terhadap agama bisa dipahami.Eropa pernah babak belur karena perang agama. Setelah perang itu selesai, ada dua pilihan,bersama gereja Katolik atau bersama kemerdekaan berpikir/menjadi pemikir bebas. Hingga kini, kebebasan berpikir masih dimaknai sebagai kebebasan dari otoritas moral. Selama ini, sekularisme hampir tak jadi soal karena mayoritas rakyat Prancis tidak religius. Mereka tak bermasalah dengan larangan menampakkan simbol agama. Pada 2005-2009, dari 41,6 persen orang dewasa yang terafiliasi sebagai Katolik, hanya 12 persen yang menghadiri misa. Namun, ceritanya menjadi lain kala gelombang imigran Muslim datang. Para imigran masih lekat dengan praktik-praktik religius. Gegar budaya ini juga ditambah oleh maraknya masalah ekstremisme dan terorisme. Berbagai penyerangan oleh kaum ekstremis Islam menambah runyam ketegangan tersebut. Alhasil, Prancis melarang dengan tegas pemakaian simbol-simbol agama,seperti niqab, hijab, dan burqa. Niqab adalah penutup kepala yang menutupi bagian wajah, namun masih membiarkan bagian mataterbuka.Hijab merupakan istilah bagi perempuanMuslim yang berbusana modis dan kekinian. Selendang jenis ini dipakai untuk menutupi kepala dan leher, namun membiarkan bagian wajah terbuka. Burqa adalah pakaian islami yang paling banyak menutupi bagian tubuh, mulai dari seluruh wajah hingga tubuh. Wajah wanita dengan memakai burka akan benar-benar ditutupi, mereka hanya melihat melalui jaring-jaring yang menutupi wajahnya.Selain itu, pakaian renang yang menutupi seluruh badan—biasa disebut sebagai burkini—dilarang juga oleh otoritas Prancis di pantai-pantai Mediterania negara itu. Pelaksanaan larangan itu sungguh ekstrem. Sebagai contoh, pada sebuah foto, tampak dua orang polisi bersenjata memberi peringatan pada seorang perempuan yang bersantai dengan burkini untuk melepaskan sebagian pakaiannya saat itu juga. Satu polisi berkacak pinggang mengawasi Siam, si perempuan berburkini yang sedang melepas pakaiannya. Diadaptasi dari tirto.id Berdasarkan teks di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan Eropa mulai dari Renaissance hingga Revolusi Industri berdampak signifikan terhadap merebaknya paham sekularisme di Eropa. Prancis tergolong sebagai negara yang secara eksplisit menyatakan diri sebagai negara sekuler. Namun sekularisme yang diterapkan Prancis dapat diidentifikasi sebagai sekularisme ekstrem. Alasan Prancis mempraktikkan sekularisme ekstrem adalah ....

Perhatikan teks berikut!
 

    Secara historis, di masa lalu Prancis ada di bawah Katolisisme. Negara Prancis berimpitan dengan otoritas gereja. Persoalan ini selesai dengan pengesahan hukum yang memisahkan agama dan negara secara tegas pada 9 Desember 1905. Termasuk penekanan bahwa negara Prancis tidak mengakui, membiayai, dan mensubsidi lembaga keagamaan apapun. Dalam satu artikel di situs web University of Brookings, brookings.edu, berjudul “French Views of Religious Freedom,” disebut bahwa laïcité bermakna sekularisme, diciptakan untuk menggambarkan oposisi yang berkembang terhadap otoritas moral dari para imam Katolik. Seiring waktu, gerakan laïcité terus mengutuk pemaksaan agama sebagai bentuk pengaruh agama yang tidak semestinya. Secara historis, “trauma” terhadap agama bisa dipahami. Eropa pernah babak belur karena perang agama. Setelah perang itu selesai, ada dua pilihan, bersama gereja Katolik atau bersama kemerdekaan berpikir/menjadi pemikir bebas. Hingga kini, kebebasan berpikir masih dimaknai sebagai kebebasan dari otoritas moral. Selama ini, sekularisme hampir tak jadi soal karena mayoritas rakyat Prancis tidak religius. Mereka tak bermasalah dengan larangan menampakkan simbol agama.

    Pada 2005-2009, dari 41,6 persen orang dewasa yang terafiliasi sebagai Katolik, hanya 12 persen yang menghadiri misa. Namun, ceritanya menjadi lain kala gelombang imigran Muslim datang. Para imigran masih lekat dengan praktik-praktik religius. Gegar budaya ini juga ditambah oleh maraknya masalah ekstremisme dan terorisme. Berbagai penyerangan oleh kaum ekstremis Islam menambah runyam ketegangan tersebut. Alhasil, Prancis melarang dengan tegas pemakaian simbol-simbol agama, seperti niqab, hijab, dan burqa. Niqab adalah penutup kepala yang menutupi bagian wajah, namun masih membiarkan bagian mata terbuka. Hijab merupakan istilah bagi perempuan Muslim yang berbusana modis dan kekinian. Selendang jenis ini dipakai untuk menutupi kepala dan leher, namun membiarkan bagian wajah terbuka. Burqa adalah pakaian islami yang paling banyak menutupi bagian tubuh, mulai dari seluruh wajah hingga tubuh. Wajah wanita dengan memakai burka akan benar-benar ditutupi, mereka hanya melihat melalui jaring-jaring yang menutupi wajahnya. Selain itu, pakaian renang yang menutupi seluruh badan—biasa disebut sebagai burkini—dilarang juga oleh otoritas Prancis di pantai-pantai Mediterania negara itu. Pelaksanaan larangan itu sungguh ekstrem. Sebagai contoh, pada sebuah foto, tampak dua orang polisi bersenjata memberi peringatan pada seorang perempuan yang bersantai dengan burkini untuk melepaskan sebagian pakaiannya saat itu juga. Satu polisi berkacak pinggang mengawasi Siam, si perempuan berburkini yang sedang melepas pakaiannya.

 Diadaptasi dari tirto.id 


Berdasarkan teks di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan Eropa mulai dari Renaissance hingga Revolusi Industri berdampak signifikan terhadap merebaknya paham sekularisme di Eropa. Prancis tergolong sebagai negara yang secara eksplisit menyatakan diri sebagai negara sekuler. Namun sekularisme yang diterapkan Prancis dapat diidentifikasi sebagai sekularisme ekstrem. Alasan Prancis mempraktikkan sekularisme ekstrem adalah .... 

  1. maraknya aksi xenophobiaundefined 

  2. maraknya aksi islamophobiaundefined 

  3. maraknya aksi kejahatan jalananundefined 

  4. maraknya aksi heroik para kriminalundefined 

  5. maraknya aksi ekstremisme dan terorismeundefined 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

23

:

34

:

35

Klaim

Iklan

C. Sianturi

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Jawaban

jawaban yang tepat adalah E.

jawaban yang tepat adalah E.undefined 

Pembahasan

Berdasarkan teks di atas, penyebab Prancis mempraktikkan sekularisme ekstrem karena maraknya aksi ekstremisme dan terorisme yang menyerang Prancis. Kebetulan para pelaku aksi ekstremisme dan terorisme beberapa di antaranya teridentifikasi para imigran muslim yang berpahamradikal.Akibatnya,pemakaian simbol-simbol agama, seperti hijab, niqab, burqa, dan burkini dilarang keras pemerintah Prancis sebagai upaya antisipasi mencegah berulangnya aksi terorisme yang mencoba berlindung di balik simbol-simbol agama. Sebagai contoh, jika melihat ke belakang, serangan teror marak melanda Prancis sejak tahun 2015. ISIS sebagai organisasi teror berlabel Negara Islam di Irak dan Suriah mengklaim beberapa serangan yang tak jarang memakan banyak korban jiwa itu.Berikut cuplikan serangan teror di Prancis seperti dilansirAFP, Jumat (21/4/2017)7-9 Januari 2015:Dua pria bersenjatakan senapan Kalashnikov menyerang kantor tabloid satir Charlie Hebdo di ibu kota Paris, pada 7 Januari 2015. Keduanya melepas tembakan secara brutal hingga menewaskan sedikitnya 12 orang. Pelaku berhasil melarikan diri dengan mobil usai beraksi. Seorang polisi wanita tewas ditembak di pinggiran Parisesokharinya. Sementara itu, seorang pria bersenjata lainnya melakukan penyanderaan di sebuah supermarket Yahudi, yang akhirnya menewaskan empat sandera di antaranya.Para pelaku serangan itu, baik di kantor Charlie Hebdo maupun pelaku penyanderaan akhirnya tewas dalam baku tembak dengan polisi secara terpisah. Para pelaku sempat menyatakan sumpah setia pada Al-Qaeda dan ISIS sebelum tewas. Ini hanya satu contoh dari begitu banyaknya aksi terorisme yang menimpa Prancis. Sebagai akibatnya, otoritas Prancis benar-benar total menerapkan sekularisme yang sudah lama dianutnya, siapapun yang mencoba berlindung di balik kedok simbol-simbol agama, Prancis melawannya tanpamemedulikan agama apapun itu, termasuk imigran muslim yang ada di Prancis. Jadi, jawaban yang tepat adalah E.

Berdasarkan teks di atas, penyebab Prancis mempraktikkan sekularisme ekstrem karena maraknya aksi ekstremisme dan terorisme yang menyerang Prancis. Kebetulan para pelaku aksi ekstremisme dan terorisme beberapa di antaranya teridentifikasi para imigran muslim yang berpaham radikal. Akibatnya, pemakaian simbol-simbol agama, seperti hijab, niqab, burqa, dan burkini dilarang keras pemerintah Prancis sebagai upaya antisipasi mencegah berulangnya aksi terorisme yang mencoba berlindung di balik simbol-simbol agama. Sebagai contoh, jika melihat ke belakang, serangan teror marak melanda Prancis sejak tahun 2015.

ISIS sebagai organisasi teror berlabel Negara Islam di Irak dan Suriah mengklaim beberapa serangan yang tak jarang memakan banyak korban jiwa itu. Berikut cuplikan serangan teror di Prancis seperti dilansir AFP, Jumat (21/4/2017) 7-9 Januari 2015: Dua pria bersenjatakan senapan Kalashnikov menyerang kantor tabloid satir Charlie Hebdo di ibu kota Paris, pada 7 Januari 2015. Keduanya melepas tembakan secara brutal hingga menewaskan sedikitnya 12 orang. Pelaku berhasil melarikan diri dengan mobil usai beraksi. Seorang polisi wanita tewas ditembak di pinggiran Paris esok harinya. Sementara itu, seorang pria bersenjata lainnya melakukan penyanderaan di sebuah supermarket Yahudi, yang akhirnya menewaskan empat sandera di antaranya. Para pelaku serangan itu, baik di kantor Charlie Hebdo maupun pelaku penyanderaan akhirnya tewas dalam baku tembak dengan polisi secara terpisah. Para pelaku sempat menyatakan sumpah setia pada Al-Qaeda dan ISIS sebelum tewas.

Ini hanya satu contoh dari begitu banyaknya aksi terorisme yang menimpa Prancis. Sebagai akibatnya, otoritas Prancis benar-benar total menerapkan sekularisme yang sudah lama dianutnya, siapapun yang mencoba berlindung di balik kedok simbol-simbol agama, Prancis melawannya tanpa memedulikan agama apapun itu, termasuk imigran muslim yang ada di Prancis.undefined 

Jadi, jawaban yang tepat adalah E.undefined 

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

1

Iklan

Pertanyaan serupa

Secara de facto , Perang 30 Tahun antara penganut Kristen Katolik dan Kristen Protestan di Eropaberakhir dengan lahirnya Perjanjian Westphalia. Namun di balik fakta itu, lahirnya Perjanjian Westphalia...

19

0.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

+62 815-7441-0000

Email info@ruangguru.com

[email protected]

Contact 02130930000

02130930000

Ikuti Kami

©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia