Kaitan antara nama-nama produk, seperti Coca Cola, iPhone/Apple, McDonald, Unilever, serta KFC, dan kehidupan di negara-negara berkembang adalah negara-negara berkembang menjadi objek subur imperialisme baru negara-negara Barat. Paham Merkantilisme yang lahir setelah abad pertengahan di Eropa diadopsi oleh negara-negara Barat hingga saat ini. Paham tersebut menyatakan bahwa untuk mencapai kesejahteraan, negara akan berfokus untuk mencapai perdagangan surplus. Oleh karena itu, memproduksi barang dagang sebanyak mungkin untuk diekspor ke pasar dunia adalah suatu keniscayaan untuk mendatangkan aset. Belum lagi dengan lahirnya Revolusi Industri yang saat ini sudah memasuki Revolusi Industri 4.0. Perluasan pasar atas produk-produk yang dibuat negara-negara Barat akan semakin mudah dilakukan. Dampaknya, negara-negara yang masih berstatus berkembang (developing), seperti Indonesia, Kamboja, Timor Leste, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia yang notabene tidak semaju negara-negara Barat menjadi pasar empuk pemasaran produk negara-negara kapitalis Barat. Kita bisa dengan mudah mendapati produk negara-negara Barat sebagaimana disebutkan di atas, di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.
Negara-negara berkembang, seperti Indonesia tidak berdaya untuk menolak produk-produk, seperti Coca Cola, iPhone/Apple, dan McDonald karena mereka terlanjur membutuhkan barang-barang tersebut. Penyebabnya adalah ketidakmampuan negara-negara berkembang memproduksi barang-barang komoditas dengan kualitas terbaik dan dengan biaya terjangkau. Sementara itu, negara-negara Barat bisa memproduksi suatu barang dengan kualitas terbaik dengan biaya efisien. Akibatnya, negara-negara berkembang menjadi bergantung dengan produk-produk Barat, sehingga Indonesia dan negara-negara berkembang lain secara tidak langsung menjadi objek subur praktik imprealisme gaya baru. Produk-produk negara-negara Barat dengan mudahnya membanjiri negara-negara Timur yang sedang berkembang. Dampak negatifnya, negara-negara berkembang yang mayoritas ada di Timur semakin konsumtif, sedangkan negara-negara Barat semakin produktif, makmur, dan sejahtera.