Gambar di atas adalah sosok Mao Zedong. Ia merupakan Ketua Partai Komunis Tiongkok dari berdirinya negara tersebut pada tahun 1949 sampai kematiannya pada tahun 1976. Kaitan gambar di atas dengan pendirian Repubik Rakyat Tiongkok adalah sosok Mao Zedong harus melakukan perlawanan sengit dan berdarah-darah terhadap Pemimpin Kuo Mintang bernama Chiang Kai Shek yang dianggapnya konservatif dan tidak berpihak pada kaum komunis yang ia perjuangkan. Terbukti, pada April 1927, Chiang Kai Shek yang saat itu memimpin Tiongkok menggantikan Dr. Sun Yat Sen memutus hubungan, dan memulai pembersihan terhadap anggota komunis. Alhasil, September 1927, Mao memimpin pasukan petani melawan Kuomintang, namun dengan mudah dikalahkan sehingga mereka melarikan diri ke Provinsi Jiangxi. Di sana, Mao membantu pendirian Republik Soviet Tiongkok. Dia membentuk gerilyawan yang kuat. Dia memerintahkan penyiksaan dan eksekusi bagi siapapun yang melawan. 14 Oktober 1934, Pasukan Merah berkekuatan 85.000 orang di mana 15.000 kader partai melakukan Long March untuk menghindari kejaran pasukan Kuomintang. Selama 12 bulan, mereka bergerilya menuju Yanan yang berada di kawasan utara Tiongkok. Saat itu, diperkirakan hanya tersisa 30.000 orang. Di sana, Mao berorasi lantang, dan meyakinkan bahwa komunis berhasil menghindari pemusnahan yang dilakukan Kuomintang. Orasinya membuat banyak orang mulai bermigrasi ke Yanan, dan mengajukan diri sebagai relawan karena reputasi Mao sebagai salah satu pemimpin komunis top.
Juli 1937, militer Kekaisaran Jepang menginvasi Tiongkok yang memaksa Chiang Kai Shek mengungsi ke Nanking. Pasukan Kuomintang yang kehilangan sejumlah kawasan utama membuat mereka membentuk persekutuan dengan Partai Komunis. Mao diangkat sebagai pemimpin militer. Sikap Jepang yang dianggap brutal membuat banyak orang bergabung dengan Pasukan Merah. Di Agustus 1940, Mao memerintahkan Serangan Ratusan Resimen di mana 400.000 pasukan menyerang Jepang di lima provinsi secara simultan. Serangan itu terbukti sukses dengan 20.000 tentara Jepang terbunuh, gangguan pada jalur kereta, dan kehilangan tambang batu bara. Dengan berakhirnya Perang Dunia II melalui kekalahan Jepang di 1945, Mao berhasil menanamkan kendali di seluruh Tiongkok. Perang sipil kembali berlanjut dengan Kuomintang mendapat bantuan dari AS, sementara Soviet menyokong pasukan Mao. 21 Januari 1949, tentara Kuomintang menderita kekalahan besar menghadapi pasukan Mao. Pada 1 Oktober 1949, Mao mengumumkan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok dengan Komunisme sebagai idelogi negara.