Roboguru

Pengumpulan data dalam evaluasi pemberdayaan dilakukan dengan 3 cara. Cara apa sajakah?Jelaskan kelebihan dan kekurangannya dan cara melaksanakannya!

Pertanyaan

Pengumpulan data dalam evaluasi pemberdayaan dilakukan dengan 3 cara. Cara apa sajakah?Jelaskan kelebihan dan kekurangannya dan cara melaksanakannya! space

  1. ... space

  2. ... space

Pembahasan Soal:

Tahap pengumpulan data dalam evaluasi pemberdayaan dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.

A. Kelompok Diskusi Terarah. Menurut (Edi, 2014) Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terarah merupakan bentuk kegiatan pengumpulan data melalui wawancara kelompok dan pembahasan dalam kelompok sebagai alat/media paling umum digunakan dalam metode PRA maupun ZOPP. FGD biasa juga disebut sebagai metode dan teknik pengumpulan data kualitatif dengan cara melakukan wawancara kelompok.

Langkah pelaksanaan FGD
Pembukaan

  1. Memperkenalkan diri serta nama pencatat dan peranan masing-masing
  2. Memberi penjelasan tujuan diadakan FGD.
  3. Meminta peserta memperkenalkan diri dan dengan cepat mengingat nama peserta dan menggunakannya pada waktu berbicara dengan peserta.
  4. Menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak bertujuan untuk memberikan ceramah tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari peserta. Tekankan bahwa fasilitator ingin belajar dari para peserta.
  5. Menekankan bahwa fasilitator membutuhkan pendapat dari semua peserta dan sangat penting, sehingga diharapkan semua peserta bebas mengeluarkan pendapat.
  6. Menjelaskan bahwa pada waktu fasilitator mengajukan pertanyaan, jangan berebutan menjawab pada waktu yang bersamaan.
  7. Memulai pertemuan dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum, yang tidak berkaitan dengan topik diskusi.

Pelaksanaan FGD

  1. Klarifikasi. Sesudah peserta menjawab pertanyaan, fasilitator dapat mengulangi jawaban peserta dalam bentuk pertanyaan untuk meminta penjelasan yang lebih lanjut.
  2. Reorientasi. Agar diskusi hidup dan menarik, teknik reorientasi harus efektif. Fasilitator dapat menggunakan jawaban seorang peserta untuk ditanyakan kepada peserta lainnya.
  3. Peserta yang dominan. Apabila ada peserta yang dominan, maka fasilitator harus lebih banyak memperhatikan peserta lain agar supaya mereka lebih berpartisipasi. Dapat juga dilakukan dengan tidak memperhatikan orang yang dominan tersebut sehingga tidak mendorongnya untuk mengeluarkan pendapat atau jawaban. Apabila tidak berhasil maka secara sopan fasilitator dapat menyatakan kepadanya untuk memberi kesempatan pada peserta yang lain untuk berbicara.
  4. Peserta yang diam. Agar peserta yang diam mau berpartisipasi, maka sebaiknya memberikan perhatian yang banyak kepadanya dengan selalu menyebutkan namanya dan mengajukan pertanyaan.
  5. Penggunaan gambar atau foto. Dalam melakukan FGD, fasilitator dapat menggunakan foto atau gambar.

Kekuatan dan kelemahan Focus Group Discussion (FGD) menurut (Edi, 2014)

– Kekuatan FGD

  1. Sinergisme. Suatu kelompok mampu menghasilkan informasi, ide dan pandangan yang lebih luas.
  2. Manfaat bola salju. Komentar yang didapat secara acak dari peserta dapat memacu reaksi berantai respons yang beragam dan sangat mungkin menghasilkan ide-ide baru.
  3. Stimulan. Pengalaman diskusi kelompok sebagai sesuatu yang menyenangkan dan lebih mendorong orang berpartisipasi mengeluarkan pendapat.
  4. Keamanan. Individu biasanya merasa lebih aman, bebas dan leluasa mengekspresikan perasaan dan pikirannya dibandingkan kalau secara perseorangan yang mungkin ia akan merasa khawatir.
  5. Spontan. Individu dalam kelompok lebih dapat diharapkan menyampaikan pendapat atau sikap secara spontan dalam merenspons pertanyaan, hal yang belum tentu mudah terjadi dalam wawancara perseorangan.

– Kelemahan FGD

  1. Karena dapat dilakukan secara cepat dan murah, FGD sering digunakan oleh pembuat keputusan untuk mendukung dugaan/pendapat pembuat keputusannya. Persoalannya adalah, seberapa jauh FGD dilakukan sesuai prinsip dan prosedur yang benar.
  2. FGD terbatas untuk dapat memperoleh informasi yang lebih mendalam dari seorang individu yang mungkin dibutuhkan. Hal ini disebabkan FGD terbatas waktu dan memberi kesempatan secara adil bagi semua peserta untuk menyampaikan pendapatnya. Untuk ini FGD tidak boleh dipertentangkan dengan metode lainnya, tetapi justru harus dilihat sebagai saling melengkapi.
  3. Teknik FGD mudah dilaksanakan, tetapi sulit melakukan interpretasi datanya.
  4. FGD memerlukan fasilitator- moderator (pemandu diskusi) yang memiliki ketrampilan tinggi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil.

B. Survey. Menurut  (Fred N.Kerlinger, 2004) Penelitian suvey mengkaji populasi (universe) yang besar maupun kecil dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari populasi itu, untuk menemukan insidensi, distribusi, dan interelasi relative dari variabel-variabel.

Langkah-langkah pelaksanaan penelitian survey menurut (Fred N.Kerlinger, 2004), yaitu:

  1. Merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survey.
  2. Menentukan konsep dan hipotesa serta menggali kepustakaan.
  3. Pengambilan sampel.
  4. Pembuatan kuisioner dan instrument-instrumen.
  5. Perkerjaan lapangan, termasuk memilih dan melatih pewawancara.
  6. Pengolahan data.
  7. Analisis dan pelaporan.

C. OBSERVASI DAN WAWANCARA

OBSERVASI
Menurut (Burhan, 2005) Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indera mata sebagai alat bantu utamanya selain panca indera lainnya seperti telinga, mulut dan kulit. Metode observasi (pengamatan) merupakan sebuah tehnik pengumpula data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan. Metode observasi merupakan cara yang sangat baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian seperti perilaku dalam lingkungan atau ruang, waktu dan keadaan tertentu.

Keuntungan observasi menurut (Sri Wuryan, 2007), antara lain sebagai berikut.

  1. Memungkinkan perekaman gejala-gejala pada waktu terjadinya/apa adanya.
  2. Observasi tidak tergantung pada kemauan objek yang diobservasi untuk melaporkan atau menceritakan pengalamannya.
  3. Ada studi sosial/psikologis yang tidak mungkin menggunakan metode lain, Jadi metode observasi merupakan satu-satunya metode yang dapat dilakukan.
  4. Mampu memahami tingkah laku yang kompleks dan situasi yang rumit.Dengan pengamatan langsung dapat mengetes kebenaran dan keyakinan peneliti, kebenaran data, dan menghapus keraguan adanya bias.
  5. Memperoleh gambaran berbagai tingkah laku dalam waktu yang bersamaan

Kelemahan observasi menurut (Sri Wuryan, 2007), antara lain sebagai berikut.

  1. Observasi sangat tergantung pada individu yang melakukan observasi.
  2. Observasi dipengaruhi oleh responden yang diamati.
  3. Observasi bersifat terbatas (harus menunggu munculnya gejala yang akan diobservasi).
  4. Sebagai metode, observasi terbatas oleh kurun waktu.
  5. Observasi tidak mampu menjelaskan dinamika tingkah laku.
  6. Observasi tidak mampu menggali ide, perasaan, sikap, dan tanggapan seseorang.
  7. Tidak banyak bidang yang dapat diteliti dengan menggunakan observasi sebagai metode utama.

WAWANCARA
Menurut (Imami, 2007) wawancara merupakan bentuk pengumpulan data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Wawancara pada penelitian kualitatif memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan wawancara lainnya seperti wawancara pada penerimaan pegawai baru, penerimaan mahasiswa baru, atau bahkan pada penelitian kuantitatif. Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaraan yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informal. Wawancara penelitian lebih dari sekedar percakapan dan berkisar dari informal ke formal. Walaupun semua percakapan mempunyai aturan peralihan tertentu atau kendali oleh satu atau partisipan lainnya, aturan pada wawancara penelitian lebih ketat.

Langkah-langkah melakukan wawancara menurut (Creswell, 1998) (dalam Imami, 2007), antara lain sebagai berikut.

  1. Identifikasi para partisipan berdasarkan prosedur sampling yang dipilih.
  2. Tentukan jenis waancara yang akan dilakukan dan informasi apa yang relevan dalam menjawab pertanyaan penelitian.
  3. Siapkan alat perekam yang sesuai, misalnya mic untuk pewawancara maupun partisipan. Mic harus cukup sensitif merekam pembicaraan terutama bila ruangan tidak memiliki struktur akustik yang baik dan ada banyak pihak yang harus direkam.
  4. Cek kondisi alat perekam, misalnya baterainya. Kaset harus kosong dan tepat pada pita hitam bila mulai merekam. Jika perekaman dimulai, tombol perekam sudah ditekan dengan benar.
  5. Susun protokol wawancara, panjangnya kurang lebih empat sampai lima halaman dengan kira-kira lima pertanyaan terbuka dan sediakan ruang yang cukup di antara pertanyaan untuk mencatat respom terhadap komentar partisipan.
  6. Tentukan tempat untuk melakukan wawancara. Jika mungkikn ruangan cukup tenang, tidak ada distraksi dan nyaman bagi partisipan.
  7. Berikan inform consent pada calon partisipan.
  8. Selama wawancara, sesuaikan dengan pertanyaan, lengkapi pada waktu tersebut, hargai partisipan dan selalu bersikap sopan santun. space

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Terakhir diupdate 12 Maret 2021

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved