Sentot Alibasah Prawirodirdjo adalah keponakan dari Sultan Hamengkubuwono IV yang memiliki dendam kepada Belanda. Hal ini membuatnya bergabung dengan Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda. Disana, ia menjabat sebagai panglima perang dan berhasil memenangkan berbagai peperangan. Namun, berbagai bentuk kemenangan tersebut tidak membuat pasukan Diponegoro menang telak melawan Belanda.
Akhirnya, Belanda mengeluarkan sebuah janji pemberian wilayah kepada pasukan Diponegoro jika mereka menyerah. Belanda juga menjamin bahwa pasukan yang menyerah kepada Belanda akan diperlakukan secara hormat. Melihat kesempatan ini, akhirnya Sentot berunding dengan pasukannya karena melihat tanda-tanda kemenangan dari Belanda. Hasil dari perundingan itu adalah pasukannya menyerah kepada Belanda dengan syarat wilayah yang akan dikuasai Sentot akan dijadikan sebagai wilayah meluaskan agama Islam. Penyerahan diri ini terjadi pada tanggal 24 Oktober 1829.
Sayangnya, Belanda tidak menepati janjinya. Pada saat yang sama, Belanda juga terlibat dalam perang hebat di Sumatra, yaitu Perang Paderi. Belanda pun memfitnah pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dengan kaum yang menganut agama Islam dengan ajaran sesat. Belanda juga meminta Sentot untuk memerangi kaum Paderi dan menjanjikan daerah yang luas untuk menjadi wilayah kekuasaannya, yaitu XIII Koto di Minangkabau serta pemberian pangkat. Sentot menyanggupi tawaran tersebut.
Sentot dengan pasukannya berangkat ke Minangkabau pada tahun 1832. Setelah berperang dengan beberapa pasukan Paderi, terdengar suara adzan di medan perang. Hal ini membuat kedua pasukan, yaitu pasukan Paderi dan pasukan Sentot terkejut. Mereka akhirnya tersadar bahwa mereka merupakan saudara seiman. Akhirnya, kedua pasukan tersebut menjalin hubungan yang baik. Sentot pun berkhianat kepada Belanda dan memasok senjata bagi pasukan Paderi. Hal ini pun diketahui oleh Belanda sehingga ia diasingkan ke Bengkulu.
Jadi, jawaban yang tepat adalah E.