Soal menanyakan tahapan globalisasi menurut Immanuel Wallernstein. Teori sistem dunia menekankan bahwa sistem dunia (bukan bangsa negara) harus menjadi unit dasar analisis sosial. Situs-sistem mengacu pada pembagian kerja internasional, yang membagi dunia ke dalam negara-negara inti, negara-negara semi-pinggiran, dan negara-negara pinggiran. Negara-negara inti fokus pada keterampilan yang lebih tinggi, produksi padat modal, dan seluruh dunia berfokus pada rendah keterampilan, produksi padat karya, dan ekstraksi bahan baku. Ini terus memperkuat dominasi negara-negara inti. Meskipun demikian, sistem yang dinamis, dan masing-masing negara dapat memperoleh atau kehilangan status mereka inti (semi-pinggiran, pinggiran) dari waktu ke waktu.
Wallerstein membagi dua fase sistem dunia pasca-1945: fase-A berlangsung dari 1945 sampai 1967-1973, sedangkan fase-B berlangsung dari 1967-1973 sampai sekarang. Ini adalah siklus Kondratieff yang mengacu pada fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek tertentu. Fase-A yang dikenal sebagai ‘les trente glorieuses’ (’30 tahun kejayaan’) adalah fase kejayaan Amerika Serikat sebagai pusat hegemoni sistem dunia. Untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungannya, Amerika Serikat saat itu menyusun dua hal. Pertama, mengatur pembentukan lembaga-lembaga yang mengurus hubungan politik dan ekonomi antar-negara, yaitu United Nations (UN), International Monetery Fund (IMF) dan World Bank. Kedua, membuat kesepakatan dengan satu-satunya negara yang mempunyai kekuatan militer besar di luar AS, yaitu Uni Soviet. Kesepakatan itu menggunakan nama-kode ‘Yalta’. Selama beberapa dekade kesepakatan tersebut secara umum berjalan baik, artinya sistem dunia bekerja sebagaimana direncanakan. Meski demikian, di sana-sini terjadi apa yang dalam konstruksi pemikiran Wallerstein disebut ‘gerakan anti-sistem’. Salah satu yang paling merepotkan AS adalah Perang Vietnam.