Pengolahan aluminium dari bauksit berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemurnian bauksit sehingga diperoleh aluminium oksida murni (alumina). Tahap kedua adalah peleburan (reduksi) alumina. Pengolahan aluminium oksida dari bauksit didasarkan pada sifat amfoter dari oksida aluminium tersebut. Pengotor utama dalam bauksit biasanya terdiri atas
dan
. Apabila bauksit dilarutkan dalam larutan natrium hidroksida, maka aluminium oksida akan larut, sedangkan pengotornya tidak.
Pengotor dipisahkan dengan penyaringan. Selanjutnya, aluminium diendapkan dari filtrat dengan mengalirkan gas karbon dioksida dan pengenceran.
Endapan aluminium hidroksida disaring, dikeringkan, kemudian dipanaskan sehingga diperoleh aluminium oksida murni (alumina).
Selanjutnya pada tahap kedua, reduksi aluminium oksida dilakukan melalui elektrolisis menurut proses Hall-Heroult. Dalam proses Hall-Heroult, aluminium oksida dilarutkan dalam lelehan kriolit (
) dalam bejana dari baja berlapis grafit yang sekaligus berfungsi sebagai katode. Sebagai anode, digunakan batang grafit.
Elektrolisis menghasilkan aluminium di katode, sedangkan di anode terbentuk gas oksigen dan karbon dioksida. Sebenarnya, reaksi elektrolisis ini berlangsung rumit dan belum sepenuhnya dipahami, tetapi dengan mengacu pada hasil akhirnya, dapat dituliskan sebagai berikut.
Jadi, pengolahan aluminium dari bauksit berlangsung dalam dua tahap, yaitu pemurnian bauksit sehingga diperoleh aluminium oksida murni (alumina), tahap kedua adalah peleburan (reduksi) alumina.