Iklan

Iklan

Pertanyaan

Hal apakah yang membuat konflik dapat menjurus menjadi kekerasan?

Hal apakah yang membuat konflik dapat menjurus menjadi kekerasan? 

Iklan

R. Wahyu

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Jawaban

berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah konflik dapat menjurus menjadi kekerasan apabila terdapat tindakan seseorang atau kelompok yang memicu kekerasan yang umumnya terjadi karena adanyaperbedaan identitas, adanya deprivasi karena perubahan yang terjadi dalammasyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbangoleh sistem sosial dan masyarakatnya, frustasi yang memicu tindakan agresi, adanya persaingan sertapertentangan nilai dan keyakinan. Lebih lanjut, sebuah konflik dapat memicu kerusuhan massa apabila terdapat situasi sosial yang mendukung terjadinya kerusuhan, kejengkelan atau tekanan sosial, berkembangnya prasangka dan kebencian, adanya aksi massa dan lemahnya kontrol sosial .

berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah konflik dapat menjurus menjadi kekerasan apabila terdapat tindakan seseorang atau kelompok yang memicu kekerasan yang umumnya terjadi karena adanya perbedaan identitas, adanya deprivasi karena perubahan yang terjadi dalam masyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbang oleh sistem sosial dan masyarakatnya, frustasi yang memicu tindakan agresi, adanya persaingan serta pertentangan nilai dan keyakinan.  Lebih lanjut, sebuah konflik dapat memicu kerusuhan massa apabila terdapat situasi sosial yang mendukung terjadinya kerusuhan, kejengkelan atau tekanan sosial, berkembangnya prasangka dan kebencian, adanya aksi massa dan lemahnya kontrol sosial

Iklan

Pembahasan

Guna menjawab soal tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu perbedaan antara konflik dan kekerasan sertabeberapa teori mengenai kekerasan. Dalam arti yanglebih luas, konflik diartikan sebagai suatu"proses sosial" di mana dua orang atau duakelompok orang berusaha menyingkirkanpihak lain dengan cara menghancurkanatau membuatnya tidak berdaya . Akan tetapi, tidak semua konflik akan menimbulkan tindakankekerasan . Oleh sebab itu, kekerasan tidak sama dengankonflik. Kekerasan adalah gejala yang muncul sebagai salahsatu efek dari adanya proses sosial yang biasanya ditandai oleh adanya perusakan dan perkelahian. Konsep kekerasanakan mengacu pada dua hal, yaitu sebagai berikut: Kekerasan merupakan suatu tindakan untuk menyakitiorang lain sehingga menyebabkan luka-luka ataumengalami kesakitan. Kekerasan yang merujuk pada penggunaan kekuatanfisik yang tidak lazim dalam suatu kebudayaan. Adapun teori mengenai kekerasan ialah sebagai berikut: Teori Faktor Individual , mengatakan bahwa konflik dan kekerasan selalu berawal dari tindakan perorangan atau individual . Teori ini menegaskan bahwa kerusuhan dapat dipicu oleh oleh orang-orang tertentu saja. Teori Faktor Kelompok (Identitas Sosial) , mengatakan bahwa setiap kelompok sosial yang membawa identitasnya masing-masing akan memicu benturan antara identitas kelompok yang berbeda, seperti agama, suku, dan organisasi . Kondisi ini sering menjadi penyebab munculnya kekerasan. Teori Dinamika Kelompok (Deprivasi Relatif) ,menyatakan kekerasantimbul karena adanya deprivasi (perasaan telahdiperlakukan tidak adil) relatif yang terjadi dalamkelompok atau masyarakat. Kondisi itu terjadi karena perubahan yang terjadi dalammasyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbangoleh sistem sosial dan masyarakatnya . Hal inilah yang dapat memacu pergolakan sosial yang berujung pada kekerasan. Teori Frustasi-Agresi , digagas oleh Dollard, mengatakan bahwa frustrasi karena terhalangnyasuatu tujuan akan menyebabkan agresi,yakni timbulnya maksud untuk menyakiti orang lain. llustrasi yang dapat menggam barkan teori ini adalahsebuah tim sepak bola yang merasa dirugikan olehwasit (kondisi frustrasi) akan melakukan pemukulankepada wasit yang bersangkutan (perilaku agresi). Teori Konflik-Realistik , digagas oleh Sherif,mengatakan bahwa konflik kelompokdisebabkan perebutan berbagai sumber ( resources ) .Seperti yang kita ketahui, bahwa sumber ekonomi dankekuasaan memang terbatas atau langka. Oleh karenaketerbatasannya, maka setiap individu atau kelompokakan bersaing untuk mendapatkan atau menguasainya. Persaingan yang terjadi akan memunculkan salah satupihak sebagai pemenang dan pihak lain yang kalah. Akibat persaingan yang bersifat win-lose orientation ,tidak jarang berujung pada perilaku kekerasan. Selain itu, perilaku kekerasan dapat terjadi karenapertentangan nilai dan keyakinan di antara mereka. Teori Kerusuhan Massa, digagas oleh N. J. Smelser, terdapat lima tahapan yang menyertai munculnya kekerasan, yaitu sebagai berikut. Situasi sosial yang memungkinkan timbulnyakerusuhan atau kekerasan akibat struktur sosialtertentu, seperti tidak adanya saluran yang jelasdalam masyarakat, tidak adanya media untukmengungkapkan aspirasi-aspirasi, dan komunikasi antarmereka. Kejengkelan atau tekanan sosial , yaitu kondisi karenasejumlah besar anggota masyarakat merasa bahwabanyak nilai-nilai dan norma yang sudah dilanggar. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasarankebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus,yaitu peristiwa tertentu yang mengawali ataumemicu suatu kerusuhan. Mobilisasi massa untuk beraksi , yaitu adanya tindakan nyata dari massa dan mengorganisasikan diri mereka untuk bertindak. Tahapan ini merupakan tahapan akhir dari akumulasi yang memungkinkan pecahnya kekerasan massa.Sasaran aksiini bisa ditujukan kepada pihak yang memicukerusuhan atau di sisi lain dapat dilampiaskanpada objek lain yang tidak ada hubungannyadengan pihak lawan tersebut. Kontrol sosial , yaitu kemampuan aparat keamanandan petugas untuk mengendalikan situasi danmenghambat kerusuhan. Semakin kuat kontrolsosial, semakin kecil kemungkinan untuk terjadikerusuhan. Oleh sebab itu, berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah konflik dapat menjurus menjadi kekerasan apabila terdapat tindakan seseorang atau kelompok yang memicu kekerasan yang umumnya terjadi karena adanyaperbedaan identitas, adanya deprivasi karena perubahan yang terjadi dalammasyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbangoleh sistem sosial dan masyarakatnya, frustasi yang memicu tindakan agresi, adanya persaingan sertapertentangan nilai dan keyakinan. Lebih lanjut, sebuah konflik dapat memicu kerusuhan massa apabila terdapat situasi sosial yang mendukung terjadinya kerusuhan, kejengkelan atau tekanan sosial, berkembangnya prasangka dan kebencian, adanya aksi massa dan lemahnya kontrol sosial .

Guna menjawab soal tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu perbedaan antara konflik dan kekerasan serta beberapa teori mengenai kekerasan.

Dalam arti yang lebih luas, konflik diartikan sebagai suatu "proses sosial" di mana dua orang atau dua kelompok orang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Akan tetapi, tidak semua konflik akan menimbulkan tindakan kekerasan. Oleh sebab itu, kekerasan tidak sama dengan konflik. Kekerasan adalah gejala yang muncul sebagai salah satu efek dari adanya proses sosial yang biasanya ditandai oleh adanya perusakan dan perkelahian. Konsep kekerasan akan mengacu pada dua hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Kekerasan merupakan suatu tindakan untuk menyakiti orang lain sehingga menyebabkan luka-luka atau mengalami kesakitan. 
  2. Kekerasan yang merujuk pada penggunaan kekuatan fisik yang tidak lazim dalam suatu kebudayaan.

Adapun teori mengenai kekerasan ialah sebagai berikut:

  1. Teori Faktor Individual, mengatakan bahwa konflik dan kekerasan selalu berawal dari tindakan perorangan atau individual. Teori ini menegaskan bahwa kerusuhan dapat dipicu oleh oleh orang-orang tertentu saja.
     
  2. Teori Faktor Kelompok (Identitas Sosial), mengatakan bahwa setiap kelompok sosial yang membawa identitasnya masing-masing akan memicu benturan antara identitas kelompok yang berbeda, seperti agama, suku, dan organisasi. Kondisi ini sering menjadi penyebab munculnya kekerasan.
     
  3. Teori Dinamika Kelompok (Deprivasi Relatif), menyatakan kekerasan timbul karena adanya deprivasi (perasaan telah diperlakukan tidak adil) relatif yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Kondisi itu terjadi karena perubahan yang terjadi dalam masyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbang oleh sistem sosial dan masyarakatnya. Hal inilah yang dapat memacu pergolakan sosial yang berujung pada kekerasan.
     
  4. Teori Frustasi-Agresi, digagas oleh Dollard, mengatakan bahwa frustrasi karena terhalangnya suatu tujuan akan menyebabkan agresi, yakni timbulnya maksud untuk menyakiti orang lain. llustrasi yang dapat menggam barkan teori ini adalah sebuah tim sepak bola yang merasa dirugikan oleh wasit (kondisi frustrasi) akan melakukan pemukulan kepada wasit yang bersangkutan (perilaku agresi).
     
  5. Teori Konflik-Realistik, digagas oleh Sherif, mengatakan bahwa konflik kelompok disebabkan perebutan berbagai sumber (resources). Seperti yang kita ketahui, bahwa sumber ekonomi dan kekuasaan memang terbatas atau langka. Oleh karena keterbatasannya, maka setiap individu atau kelompok akan bersaing untuk mendapatkan atau menguasainya. Persaingan yang terjadi akan memunculkan salah satu pihak sebagai pemenang dan pihak lain yang kalah. Akibat persaingan yang bersifat win-lose orientation, tidak jarang berujung pada perilaku kekerasan. Selain itu, perilaku kekerasan dapat terjadi karena pertentangan nilai dan keyakinan di antara mereka.
     
  6. Teori Kerusuhan Massa, digagas oleh N. J. Smelser, terdapat lima tahapan yang menyertai munculnya kekerasan, yaitu sebagai berikut. 
  • Situasi sosial yang memungkinkan timbulnya kerusuhan atau kekerasan akibat struktur sosial tertentu, seperti tidak adanya saluran yang jelas dalam masyarakat, tidak adanya media untuk mengungkapkan aspirasi-aspirasi, dan komunikasi antarmereka.
  • Kejengkelan atau tekanan sosial, yaitu kondisi karena sejumlah besar anggota masyarakat merasa bahwa banyak nilai-nilai dan norma yang sudah dilanggar.
  • Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan.
  • Mobilisasi massa untuk beraksi, yaitu adanya tindakan nyata dari massa dan mengorganisasikan diri mereka untuk bertindak. Tahapan ini merupakan tahapan akhir dari akumulasi yang memungkinkan pecahnya kekerasan massa. Sasaran aksi ini bisa ditujukan kepada pihak yang memicu kerusuhan atau di sisi lain dapat dilampiaskan pada objek lain yang tidak ada hubungannya dengan pihak lawan tersebut.
  • Kontrol sosial, yaitu kemampuan aparat keamanan dan petugas untuk mengendalikan situasi dan menghambat kerusuhan. Semakin kuat kontrol sosial, semakin kecil kemungkinan untuk terjadi kerusuhan.

Oleh sebab itu, berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah konflik dapat menjurus menjadi kekerasan apabila terdapat tindakan seseorang atau kelompok yang memicu kekerasan yang umumnya terjadi karena adanya perbedaan identitas, adanya deprivasi karena perubahan yang terjadi dalam masyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbang oleh sistem sosial dan masyarakatnya, frustasi yang memicu tindakan agresi, adanya persaingan serta pertentangan nilai dan keyakinan.  Lebih lanjut, sebuah konflik dapat memicu kerusuhan massa apabila terdapat situasi sosial yang mendukung terjadinya kerusuhan, kejengkelan atau tekanan sosial, berkembangnya prasangka dan kebencian, adanya aksi massa dan lemahnya kontrol sosial

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

167

Iklan

Iklan

Pertanyaan serupa

Sedangkan berdasarkan pelakuknya kekerasan dapat dapat digolongkan menjadi dua bentuk yaitu ...

4

0.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

+62 815-7441-0000

Email info@ruangguru.com

info@ruangguru.com

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2024 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia