Iklan
Pertanyaan
Setelah seharian mengikuti kenato, malam itu Dirga menginap di rumah keluarga Pak Theo.
"Saya masih terkesima dengan keberanian Bapak dan warga Lamalera dalam berburu paus. O, ya, tadi saya perhatikan bapak sempat terdiam lama dan memejamkan mata sebelum menghunjamkan tombak ke paus itu."
"Ya, Dirga. Tadi saya terdiam karena terkenang wajah-wajah leluhur saya. Bayang-bayang wajah mereka mendadak melintas di benak saya. Seolah merekalah yang mengirim koteklema (paus) itu untuk kami penerus mereka yang masih bertahan di Lamalera. Terkadang ada perlawanan dari koteklema saat kita tangkap. Itu berarti ia tidak ingin kami tangkap. Lalu kami lepas mereka untuk pergi. Tapi tadi pagi tidak ada perlawanan sedikit pun darinya. Saya bisa melihat sorot matanya yang teduh. la datang bagai remaja dari samudra jauh. la datang ke Lamalera untuk mempersembahkan nyawanya demi keutuhan hidup warga di sini. Tadi saya juga teringat anak saya satu-satunya, Alfonsus. la telah lama merantau di Surabaya dan tidak pernah pulang. la sudah tidak mau mewarisi tradisi leluhurnya untuk menjadi seorang lamafa (juru tombak dan pemimpin perburuan paus). Saya menjadi lamafa yang bertahan di desa ini. Akankah saya menjadi lamafa terakhir pada keluarga saya?" Air mata segera berlinang dari kedua pelupuk matanya.
Dikutip dari: Puguh Harsanto, "Lamalera". Kelas Cerpen KOMPAS 2016, Cerita Para Perambah, Jakarta, KOMPAS, 2017
Berilah tanggapan mengenai isi kutipan buku fiksi tersebut!
Iklan
M. Rozalina
Master Teacher
Mahasiswa/Alumni Universitas Jambi
1
3.0 (2 rating)
Evi
Ini yang aku cari! Bantu banget Mudah dimengerti Makasih ❤️
Ratria Inaya
Jawaban tidak sesuai
Iklan
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia