Iklan

Pertanyaan

Banyak korban berjatuhan pada masa konfrontasi fisik pasca kemerdekaan Indonesia sebagai upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pembunuhan yang dilakukan oleh Belanda terhadap ribuan rakyat sipil yang berada di Sulawesi Selatan disebut peristiwa…

Banyak korban berjatuhan pada masa konfrontasi fisik pasca kemerdekaan Indonesia sebagai upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pembunuhan yang dilakukan oleh Belanda terhadap ribuan rakyat sipil yang berada di Sulawesi Selatan disebut peristiwa…

  1. Pertempuran Margarana

  2. Medan Area

  3. Peristiwa 10 November

  4. Peristiwa Westerling

  5. Palagan Ambarawa

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

13

:

16

:

28

Klaim

Iklan

E. Mardiana

Master Teacher

Mahasiswa/Alumni Universitas Pendidikan Indonesia

Jawaban terverifikasi

Pembahasan

Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi, membentuk pusat Pemuda Nasional Indonesia dengan ketua Manai Sophiaan. Organisasi ini merupakan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat. Salah satu fokus kampanye serta gerakan organisasi ini adalah menentang pembentukan negara Indonesia Timur oleh Belanda. Pada 5 Desember 1946 Belanda mengirimkan pasukan ke Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. Ia memimpin 120 orang pasukan khusus dari Depot Speciale Troepen - DST (Depot Pasukan Khusus). Misi utama Westerling adalah menumpas pemberontakan para pejuang dan rakyat Makassar yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Para pemuda, seperti A. Rivai, Paersi, dan Robert Wolter Monginsidi yang tergabung dalam PPNI, mengangkat senjata melakukan perlawanan. Mereka berhasil merebut tempat-tempat strategis yang dikuasai NICA. Selanjutnya, Wolter Monginsidi Ranggong Daeng Romo dan Makkaraeng Daeng Jarung membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dengan tujuan utama menggerakkan perlawanan rakyat terhadap Belanda. Salah satu pemuda pejuang adalah seorang perempuan bernama Emmy Saelan. Dalam pertempuran di Kassi-Kassi, ia berlari mendekati posisi musuh dengan granat di tangan dan meledakkan granat tersebut. Akibat ledakan granat, ia tewas bersama delapan orang tentara Belanda. Untuk menumpas perlawanan rakyat Makassar, Westerling menerapkan metode Gestapo (Geheime Staatspolize) dimana metode ini adalah metode menangkap dan membantai setiap orang yang mereka curigai sebagai musuh. Belanda melakukan tindakan mengerikan itu dari tanggal 7-25 Desember 1946. Sebagai akibatnya, sekitar 40.000 rakyat sipil yang tidak berdosa dibunuh oleh pasukan Westerling. Sementara itu, Monginsidi ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947. Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah D.

Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi, membentuk pusat Pemuda Nasional Indonesia dengan ketua Manai Sophiaan. Organisasi ini merupakan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat. Salah satu fokus kampanye serta gerakan organisasi ini adalah menentang pembentukan negara Indonesia Timur oleh Belanda. Pada 5 Desember 1946 Belanda mengirimkan pasukan ke Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. Ia memimpin 120 orang pasukan khusus dari Depot Speciale Troepen - DST (Depot Pasukan Khusus). Misi utama Westerling adalah menumpas pemberontakan para pejuang dan rakyat Makassar yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Para pemuda, seperti A. Rivai, Paersi, dan Robert Wolter Monginsidi yang tergabung dalam PPNI, mengangkat senjata melakukan perlawanan. Mereka berhasil merebut tempat-tempat strategis yang dikuasai NICA. Selanjutnya, Wolter Monginsidi Ranggong Daeng Romo dan Makkaraeng Daeng Jarung membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dengan tujuan utama menggerakkan perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Salah satu pemuda pejuang adalah seorang perempuan bernama Emmy Saelan. Dalam pertempuran di Kassi-Kassi, ia berlari mendekati posisi musuh dengan granat di tangan dan meledakkan granat tersebut. Akibat ledakan granat, ia tewas bersama delapan orang tentara Belanda. Untuk menumpas perlawanan rakyat Makassar, Westerling menerapkan metode Gestapo (Geheime Staatspolize) dimana metode ini adalah metode menangkap dan membantai setiap orang yang mereka curigai sebagai musuh. Belanda melakukan tindakan mengerikan itu dari tanggal 7-25 Desember 1946. Sebagai akibatnya, sekitar 40.000 rakyat sipil yang tidak berdosa dibunuh oleh pasukan Westerling. Sementara itu, Monginsidi ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947.

Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah D.

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

1

Iklan

Pertanyaan serupa

Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil diproklamasikan, persatuan bangsa Indonesia masih diuji dengan kedatangan tentara Sekutu. Reaksi rakyat Indonesia dalam menghadapi kedatangan pasukan Sekutu adal...

5

4.6

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

+62 815-7441-0000

Email info@ruangguru.com

[email protected]

Contact 02130930000

02130930000

Ikuti Kami

©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia