Roboguru

Bagaimanakah keadaan masyarakat Indonesia menjelang pengaruh budaya India?

Pertanyaan

Bagaimanakah keadaan masyarakat Indonesia menjelang pengaruh budaya India?

Pembahasan Video:

Pembahasan Soal:

Kehidupan masyarakat Indonesia menjelang pengaruh budaya India, masyarakat telah memiliki tata kehidupan yang teratur dan kebudayaan yang cukup tinggi. Masyarakat telah mengenal bercocok tanam; pelayaran dengan perahu bercadik; penguasaan pengetahuan perbintangan (astronomi) baik untuk keperluan berlayar maupun bertani, yakni dengan penentuan tanam yang tepat; Pola kehidupan dengan rumah panggung, telah dibuatnya bangunan-bangunan dari batu besar (megalith), memiliki kepercayaan animisme (kepercayaan bahwa semua benda memiliki roh) dan dinamisme (kepercayaan bahwa semua benda memiliki kekuatan gaib) sebagai suatu ciri masyarakat yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi. Nenek moyang kita telah mengenal pula kepandaian menenun, membuat pakaian dari serat atau kulit kayu dan dalam bidang kesenian telah mampu membuat barang-barang dari batu dan perunggu, dengan nilai seni yang tinggi. Di samping itu, masyarakat awal Indonesia telah memiliki masyarakat yang teratur dengan kelompok suku, mengenal pemujaan terhadap roh nenek moyang, mengenal teknik perundagian dan terkenal sebagai bangsa pelaut yang ulung.

Dengan demikian, kehidupan masyarakat Indonesia menjelang pengaruh budaya India, masyarakat telah memiliki tata kehidupan yang teratur dan kebudayaan yang cukup tinggi. Masyarakat telah mengenal bercocok tanam; pelayaran dengan perahu bercadik; penguasaan pengetahuan perbintangan (astronomi) baik untuk keperluan berlayar maupun bertani. Ketika budaya India masuk ke Indonesia pada awal tarikh masehi lewat hubungan perdagangan, dengan mudah masyarakat awal Indonesia dapat menerima budaya India tersebut. 

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Dijawab oleh:

N. Puspita

Terakhir diupdate 16 September 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan yang serupa

Terangkan bahwa sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, Indonesia telah memiliki kebudayaan sendiri !

Pembahasan Soal:

Sebelum masuknya kebudayaan Hindu Buddha, Nusantara memiliki kebudayaan sendiri. Konsep kebudayaan sendiri tersebut biasa disebut dengan local genius yaitu kebudayaan disatu daerah dengan kepandaian atau kepintaran didaerah itu sendiri. Seperti contoh kepandaian bersawah orang Nusantara. Awalnya sistem yang dikenal adalah sistem berladang kemudian berkembang ke sistem tegalan atau sistem bersawah kering (ngahuma). Kemudian kebudayaan masyarakat Nusantara yang lain adalah kemampuan atau pengetahuan untuk berlayar bahkan mengarungi samudra dan lautan lepas, bukti yang mendukung hal ini adalah adanya relief kapal pada Candi Borobudur, yang menunjukkan kegiatan berlayar dengan menggunakan perahu jenis cadik.

Dengan demikian, Nusantara telah memiliki kebudayaan sendiri sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha seperti: Kepandaian bersawah orang Nusantara dan kemampuan atau pengetahuan untuk berlayar bahkan mengarungi samudra dan lautan lepas.

0

Roboguru

Tabel Corak Kehidupan Masa Praaksara di Indonesia Lengkapilah tabel di bawah ini!

Pembahasan Soal:

Zaman batu tengah disebut juga mesolitikum atau masa berburu dan meramu tingkat lanjutan. Pada zaman ini, manusia hidup di gua-gua dan masih berpindah-pindah. Makanan didapat dengan cara berburu hewan-hewan liar dan buah-buahan dari pepohonan yang ada di hutan. Manusia masih menggunakan alat-alat terbatas yang terbuat dari batu dan tulang dengan bentuk yang lebih baik. Sumber daya alam masih mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Masa ini terjadi antara 10.000-2500 tahun yang lalu. Pada masa ini corak kehidupan mereka tetap sama seperti sebelumnya, yaitu berburu dan mengumpulkan makanan dari alam. Bedanya, selain alat-alat dari batu, pada masa ini mereka juga mampu membuat alat-alat dari tulang dan kulit kerang. Yang membedakan dengan masa sebelumnya adalah pada masa ini mereka telah mengenal pembagian kerja. Laki-laki berburu sedangkan perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kecil, memasak atau memelihara api, dan membimbing anak. Hal itu jugalah yang membuat mereka mengenal kebiasaan bertempat tinggal secara tidak tetap (semi-sedenter), terutama di gua-gua payung (abris sous roche). Mereka memilih gua-gua yang tidak jauh dari sumber air atau sungan yang terdapat sumber makanan, seperti ikan, kerang dan siput. Selain bertempat tinggal di gua-gua, ada juga kelompok manusia lain yang bertempat tinggal di tepi pantai, yang hidupnya lebih bergantung pada bahan-bahan makanan yang terdapat di laut. Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan kulit kerang dan siput dalam jumlah banyak selain tulang belulang manusia dan alat-alatnya di dalam timbunan kulit kerang dan siput yang membukit yang disebut  dengan Kjokkenmoddinger. Pada masa ini pula, untuk pertama kalinya manusia purba menemukan api. Penemuan api tidak terlepas dari perkembangan otak mereka sebagai akibat dari tuntutan menyesuaikan diri dengan perkembangan alam dan lingkungan. Secara khusus, api berperan penting dalam kehidupan gua, seperti menghangatkan tubuh, menghalau binatang buas di malam hari, serta memasak makanan.

Pada tahap akhir masa ini, mereka telah mengenal cara bercocok tanam yang sangat sederhana dan dilakukan secara berpindah-pindah menurut kondisi keseburan tanah Hutan yang dijadikan tanah pertanian dibakar terlebih dahulu dan dibersihkan. Disana, mereka menanam umbi-umbian seperti keladi. Ciri-ciri alat yang digunakan pada zaman batu tengah adalah atat tersebut sudah dihaluskan terutama pada bagian yang dipergunakan. Adapun hasil kebudayaannya adalah.

  1. Sumateralith, nama lain dari alat ini adalah kapak genggam Sumatera. Kapak ini fungsinya sama dengan kapak perimbas namun teknik pembuatannya lebih halus daripada kapak perimbas.
  2. Alat tulang (pebble), alat tulang banyak ditemukan di Jawa Timur. Arkeolog L.J.C van Es berjasa menemukan alat-alat ini. Adapun temuan alat-alat tulang yang terkenal di Jawa iala di Gua Lawa dekat Sampung (Jawa Timur). Di tempat itu, ditemukan juga serpih-bilah sederhana,  lesung batu, mata panah batu yang bersayap dan sudip tulang semacam belati.

Berdasarkan penjelasan di atas  maka jawabannya yaitu corak kehidupan mereka tetap sama seperti sebelumnya, yaitu berburu dan mengumpulkan makanan dari alam. Bedanya, selain alat-alat dari batu, pada masa ini mereka juga mampu membuat alat-alat dari tulang dan kulit kerang. Yang membedakan dengan masa sebelumnya adalah pada masa ini mereka telah mengenal pembagian kerja. Laki-laki berburu sedangkan perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kecil, memasak atau memelihara api, dan membimbing anak. Pada zaman ini telah dikenal juga kehidupan semi-sedenter. Di akhir Zaman Mesolithikum mulai di kenal pula bercocok tanam dengan cara yang sederhana,  dan dilakukan secara berpindah-pindah menurut kondisi keseburan tanah. Adapun peninggalan pada zaman ini adalah kapak genggam Sumatra dan Pebble.

0

Roboguru

Sebutkan masing-masing 3 corak kehidupan masyarakat indonesia pada masa Mesolitikum!

Pembahasan Soal:

Zaman Mesolitikum diperkirakan berlangsung pada masa Holosen awal setelah zaman es berakhir. Pendukung kebudayaannya ialah Homo Sapiens yang merupakan manusia cerdas. Untuk penemuannya berupa fosil manusia purba, banyak ditemukan di Sumatra Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores. Zaman Mesolithikum memiliki 3 corak kebudayaan yang terdiri dari kebudayaan pebble di Sumatera Timur., kebudayaan tulang/bone culture di Sampung Ponorogo, serta kebudayaan flakes/flakes culture di Toala, Timor dan Rote.

Dengan demikian, tiga corak kehidupan masyarakat indonesia pada masa Mesolitikum adalah kebudayaan pebble, kebudayaan tulang, dan kebudayaan flakes.

0

Roboguru

Tabel Corak Kehidupan Masa Praaksara di Indonesia Lengkapilah tabel di bawah ini!

Pembahasan Soal:

Zaman batu tua disebut juga Paleolitikum atau masa berburu dan meramu. Pada zaman ini, kehidupan manusia masih sangat tergantung pada alam dan berpindah-pindah (nomaden). Makanan didapat dari sumber makanan yang ada di sekitar tempat tinggal. Tempat tinggal manusia pada masa tersebut biasanya dekat dengan sumber air yang berpohon banyak dan berelief datar. Masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kehidupan kelompok. Jumlah anggota dalam setiap kelompok sekitar 10-15 orang. Mereka selalu hidup berpindah-pindah. Hubungan antar anggota kelompok sangatlah erat. Mereka bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan hidup mereka. Masing-masing kelompok memiliki pemimpin dan mereka menghormati pemimpin mereka masing-masing Adapun corak dan ciri-ciri kehidupan sosial masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah.

  1. Belum mengenal cocok tanam dan hidup berburu dan meramu Pada masa ini manusia belum bisa becocok tanam, manusia hanya mendapatkan makanan dengan berburu atau mengumpulkan makanan (meramu).
  2. Manusia masih hidup secara nomaden (berpindah pindah) dalam kelompok kecil. Kondisi ini disebabkan karena manusia harus mengikuti binatang buruan yang merupakan sumber makanan utama mereka dan hidup dalam kelompok kecil. Bila sumber makanan habis, manusia harus berpindah ke tempat baru.
  3. Belum ada pembagian kerja dan stratifikasi sosial (pelapisan sosial) Dalam kelompok ini belum ada sistem sosial yang kompleks. Pada masa ini, semua manusia masih hidup sebagai pemburu atau pengumpul makanan, dan belum ada pembatasan antara pemimpin serta pekerja yang khusus membuat produk tertentu. Ini berbeda dengan yang akan terlihat pada masa setelah tahap ini, dimana manusia hidup dalam desa-desa dan mulai terbentuk stratifikasi antara kalangan atas dan bawah, munculnya pemimpin dalam masyarakat, dan adanya kelompok pekerja yang khusus melakukan profesi tertentu seperti perajin dan pedagang.
  4. Alat yang digunakan berupa peralatan batu yang besar dan kasar Masyarakat menggunakan alat batu besar dan kasar seperti kapak batu. Alat batu ini digunakan untuk berburu, mengolah makanan, membuat pakaian dan membuat api. Alat batu ini dibuat dengan memotong batuan menjadi tajam.

Dengan peralatan yang masih sangat sederhana, mula-mula untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka membuat alat-alat dari batu, tulang, dan kayu. Adapun peninggalan berupa alat-alat kehidupan yang digunakan pada masa itu, seperti.

  • Kapak Perimbas. Kapak Perimbas adalah sejenis kapak yang di genggam dan berbentuk masif. Teknik pembuatannya pada umumnya masih kasar dan tidak mengalami perubahan dalam waktu perkembangan yang panjang
  • Alat Serpih (flakes). Temuan alat serpih pertama kali ditemukan oleh von Koeningswald pada tahun 1934. Alat-alat dikumpulkan dari permukaan tanah barat laut Desa Ngebung, Sragen, Jawa Tengah. Alat-alat serpih acapkali ditemukan bersama-sama dengan kapak perimbas atau alat batu masif lainnya. Di beberapa tempat, alat serpih merupakan unsur dominan dan kadang-kadang alat ini merupakan unsur pokoknya.
  • Alat tulang. Alat dari Tulang Binatang atau Tanduk Rusa, Kebanyakan alat yang terbuat dari tulang ini berupa penusuk (pisau) dan ujung tombak yang bergerigi. Alat ini berfungsi untuk mengorek ubi dari dalam tanah dan digunakan juga untuk menangkap ikan.

Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah corak kehidupan pada zaman batu tua masih sangatlah sederhana mereka belum mengenal bercocok tanam dan masih hidup dengan berburu dan meramu. Manusia pada zaman itu hidup secara nomaden (berpindah pindah) dalam kelompok kecil, manusia pada masa ini mendapat makanan dengan mengumpulkan buah liar dan memburu hewan. Alat yang digunakan masyarakat pada zaman ini pun berupa peralatan batu yang masih besar-besar dan kasar. Adapun contoh peninggalannya adalah kapak genggam, kapak perimbas, alat serpih dan alat-alat tulang.

0

Roboguru

Tabel Corak Kehidupan Masa Praaksara di Indonesia Lengkapilah tabel di bawah ini!

Pembahasan Soal:

Megalitikum berasal dari kata Mega yang beararti besar dan lithik artinya batu Oleh karena itu, banyak yang menyebut zaman megalitikum ini dengan zaman batu besar. Manusia purba yang hidup di era tersebut menggunakan peralatan yang masih terbuat dari batu. Artefak-artefak batu yang digunakan dan dibuat oleh manusia purba pada zaman ini tergolong berukuran besar dan ditata atau dibentuk sedemikian rupa. Pada zaman megalitikum manusia sudah mengenal kepercayaan, meskipun jenis kepercayaannya berada di tingkat awal yaitu terhadap nenek moyang dan juga benda-benda mati yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Munculnya kepercayaan kepada roh leluhur ini menjadi pertanda bahwa pengetahuan manusia di era tersebut sudah mengalami peningkatan.Manusia purba yang hidup pada periode megalitikum manusia tidak lagi bergantung pada hewan buruan dan juga tanaman-tanaman sekitar, karena, manusia pada zaman ini sudah mampu untuk memproduksi makannya sendiri dengan bertani dan berternak hewan.

Karena hidup mereka yang tidak lagi nomaden, pada masa ini sudah muncul struktur sosial yang berbentuk hierarkis. Terdapat seorang ketua yang memimpin komunitasnya dan dianggap sebagai Primus Interpares atau pertama dari yang setara. Hal ini pun akan berevolusi menjadi sistem kasta dan pembagian pekerjaan. Dengan adanya pembagian pekerjaan, maka lebih banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh manusia, serta memungkinkan adanya spesialisasi pekerjaan dan keterampilan. Pada zaman Megalitikum ini mereka Sudah mengenal barter dan perdagangan sederhana antar kelompok manusia.

Adapun hasil kebudayaan pada Zaman Megalitikum diantaranya adalah.

  1. Menhir adalah tugu batu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Lokasi penemuan menhir di Indonesia ada di Sumatera, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
  2. Dolmen adalah meja batu tempat menaruh sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Namun kebanyakan di sekitar dolmen ditemukan manik-manik atua gerabah.
  3. Waruga adalah kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat. Waruga dibuat dari batu utuh dan banyak ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Utara. Waruga juga merupakan wadah penguburan ini ditemukan di Sawangan, Sulawesi Utara. Waruga yang bertinggi 125 cm dan lebar 58 cm ini punya pola hias yang terdiri dari tiga buah muka manusia yang memkai hiasan kepala atau mahkota. Ada juga pola hias sulur yang kemudian distilir menjadi ular atau naga.
  4. Punden berundak merupakan bangunan suci tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibuat dalam bentuk bertingkat-tingkat. Bangunan ini banyak ditemukan di daerah Lebak Banten. Salah satu punden berundak fenomenal di Indonesia adalah situs Gunung Padang di Cianjur.

Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah corak kehidupan pada Zaman Megalitikum ini di tandai dengan manusia yang sudah mulai mengenal kepercayaan, meskipun jenis kepercayaannya berada di tingkat awal yaitu terhadap nenek moyang dan juga benda-benda mati yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Selain itu sudah muncul pula struktur sosial dan hierarki tertentu yang mengatur suatu komunitas. Manusia purba yang hidup pada periode megalitikum manusia tidak lagi bergantung pada hewan buruan dan juga tanaman-tanaman sekitar, karena, manusia pada zaman ini sudah mampu untuk memproduksi makannya sendiri dengan bertani dan berternak hewan. Adapun peninggalan pada zaman ini diantaranya adalah Dolmen, Menhir, Punden Berundak dan Waruga.

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved