Kutipan teks di atas termasuk salah satu teks cerita pendek. Teks cerita pendek atau cerpen itu sendiri adalah salah satu bentuk karya sastra prosa yang bersifat fiksi dan memiliki satu konflik dalam ceritanya. Umumnya sebuah cerpen terdiri dari 1.600 hingga 10.000 kata di dalamnya, namun karena keterbatasan tersebut, cerpen akan lebih fokus pada satu alur atau plot, karakter utama dan beberapa karakter tambahan jika diperlukan, serta penyelesaian masalah yang ringkas dan efektif.
Untuk membuat sebuh cerpen, ada beberapa kaidah kebahasaan dalam penulisan teks cerpen, yang harus diperhatikan, yaitu:
- Pertama, teks cerpen memerlukan penulisan deskripsi yang jelas dan efektif. Misalnya, dalam menggambarkan fisik seorang karakter, penulis dapat menuliskannya dengan kata sifat maupun perbandingan. Begitu pula dengan latar cerita, penulis dapat menggambarkan dengan perwujudan benda atau situasi yang ada.
- Kemudian, untuk membuat cerpen semakin efektif biasanya menggunakan kata keterangan atau frasa adverbial untuk menunjukan latar tempat atau waktu. Misalnya saat waktu pulang kantor, di sebuah desa adat, dan lain sebagainya.
- Penggunaan kata-kata kiasan atau konotatif juga perlu untuk dipelajari agar isi cerpen semakin menarik dan imajinatif untuk dibaca.
- Terakhir, cerpen juga tetap memerlukan penggunaan bahasa informal maupun semiformal yang sesuai dengan aturan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Berdasarkan kaidah kebahasaan di atas, dengan demikian bagian akhir dari cerita cerpen di atas adalah sebagai berikut:
Melihat gelagat dari anaknya, ibunya menjadi kesal dan geram lalu menyeret anaknya ke sebuah tempat. Kemudian ibunya mengajak Dicky ke panti asuhan yang disana dipenuhi oleh anak-anak dengan latar belakang yang berbeda.
"Nah, lihat mereka. Sudah tidak punya orang tua yang membiayai sekolah padahal mereka juga mau sekolah." Jelas ibunya memberi tahu anaknya.
Kemudian ibunya mengajak anaknya lagi ke suatu tempat yang disana banyak anak-anak yang mengamen di jalanan. "Lihat mereka, mereka mengemis mencari uang. Untuk makan saja mereka harus bersusah payah apa lagi untuk biaya sekolah." Jelas ibunya lagi.
Kemudian Dicky sadar dan akhirnya Ia mau berangkat sekolah meskipun agak terlambat. Dia diantar ibunya sampai ke sekolah. Di dalam perjalanan menuju sekolah dia melihat anak sekolah yang berjalan pincang.
"Alangkah beruntungnya aku, masih memiliki fisik yang sempurna tapi bermalasan-malasan untuk sekolah. Sedangkan mereka yang cacat saja bisa semangat seperti itu." Gumamnya dalam hati.