Iklan
Pertanyaan
Bacalah kutipan cerpen berikut!
“Anak-anakmu sudah minta kuantar ke sekolah," kata Daruan.
"Ya. Tapi aku ingin bicara padamu lebih dulu. Soal honor novelmu, aku belum bisa bicara."
Daruan mengangkat muka. Malu rasanya karena isi hatinya tertebak oleh Muji.
"Pemilik-perriilik kios yang saya titipi novelmu belum satu pun setor. Juga para pengecer asongan.
"Daruan menelan ludah.
"Pernah kudengar tentang uang muka atau semacam itu," kata Daruan hati-hati sambil menunduk.
"Ya. Penerbit beneran biasa memberi uang muka kepada penulis. Sedangkan aku, kamu tahu, sebenarnya tak bisa disebut penerbit. Maka aku hanya bisa berjanji membagi dua sama banyak hasjil penjualan buku itu menjadi hakmu sepenuhnya. Itu janjiku.
"Daruan kian menunduk.
Dikutip dari: Ahmad Tohari, "Daruan" dalam Mata yang Enak Dipandang, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2013
Akibat konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
Pembagian hasil penjualan novel karya Daruan tidak sama rata.
Muji tidak memiliki cukup uang untuk membayar novel Daruan.
Dauran belum juga mendapatkan honor dari penjualan novelnya.
Pemilik kios yang dititipi novel karya Daruan mengalami kerugian.
Daruan merasa malu karena isi hatinya tertebak oleh keluarga Muji.
Iklan
K. Khoirunnisa
Master Teacher
Mahasiswa/Alumni Universitas Sriwijaya
1
0.0 (0 rating)
Iklan
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia