Franiva A

28 Juli 2024 05:05

Iklan

Franiva A

28 Juli 2024 05:05

Pertanyaan

Yang Lebih Penting dari Aku "Diam saja dari tadi. Baca terus, seperti yang paling pintar saja." "Iya. Kita ini dianggap patung?" "Bukan patung, tapi angin." Mataku ke arah buku yang kubaca, tetapi telingaku mendengar semuanya. Walau mereka berbicara dengan suara rendah, suasana sunyi mengantarkan setiap bunyi dengan setia. Aku benar-benar tidak ingin di sini. Terlihat orang dengan berbagai penampilan mondar-mandir lantas duduk, lalu berdiri dalam diam. Wajah-wajah gundah dan lelah membuatku tambah lemas. Kapan ini semua berakhir? Tengah malam begini, seharusnya aku bisa duduk santai di rumah, baca, atau main game. Sejak sore, aku ingin minta izin pulang. It's impossible. Mustahil. Mana mungkin aku bisa pulang saat seluruh keluarga berkumpul. Aku kembali membaca bukuku, tetapi tak satu pun kalimat kupahami. Suara-suara yang menyindirku itu masih terdengar, kadang diselingi tawa. Aku cukup yakin, jika aku mengangkat wajah, salah satu atau beberapa orang dari mereka sedang melirikku. Aku tidak suka, tetapi mau bagaimana lagi? Walau tak kukenal dengan baik, mereka semua terikat darah denganku. This is it. Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi. Aku harus bicara. Akan kutegur mereka. Seenaknya saja menggunjingkan orang yang ada di depannya. Kemarahan tiba-tiba memenuhi dadaku. Aku berdiri sambil mengentakkan kaki. Derit nyaring kursi besi tua membuat beberapa orang menoleh. Kudekati sumber suara gaduh itu. "Maaf. Apa aku mengganggu kalian?" Aku sendiri terkejut mendengar nada suaraku. Aku benar-benar sedang kesal. "Eh, ada apa?" tanya Edo. Dia anak Om Samsudin, kakak ayahku. Aku dan Edo seumur, tetapi kami tidak pernah cocok. Bahar berdiri, "lya. Ada apa? Mengganggu bagaimana?" Kukepalkan tangan, aku berbicara di antara gigi yang terkatup. "Aku tahu, tadi kalian membicarakan aku. Maaf kalau aku tidak bisa ikut mengobrol. Aku memilih membaca karena aku ingin tenang." "Siapa yang membicarakanmu? Kami bicara sendiri dari tadi," sahut Marlina yang disambut anggukan oleh yang lain. Mereka bersahutan cukup ramai sehingga beberapa pasang mata mengamati kami. "Jangan bertengkar di sini. Tidak pantas, Edo bicara lagi. "Justru kalian yang memulai. Aku kan tidak mengganggu bisikku kaku. "Kamu tidak mau bergabung, dan itu mengganggu Bahar mencondongkan bahunya ke arahku. Amarah mencengkeramku. Aku benar-benar siap meledak. Aku merasa deru jantungku kian kencang. Kepalanku kian kuat. Aku bisa merasakan ujung kuku menekan telapak tanganku. Kemarahan menguasaiku. Tepat pada saat itu, pintu geser kehijauan itu terbuka. "Keluarga Bapak Pattarani!" Seperti disemprot air dengan selang, kami berhamburan mendekat. "Operasi berhasil pasien ada di ruang pemulihan" Ayahku bangkit dan mengusap matanya berkali-kali. Para om dan tante tersenyum lega dan segera sibuk mengabarkan kebahagiaan itu. Sepupu-sepupu yang sudah tertidur jadi terbangun, sebagian menangis karena terkejut sekaligus gembira. Kakek kesayangan kami terlepas dari bahaya. Seruan syukur berdengung memenuhi ruangan. Marlina melompat kemudian menyalamiku dan Edo sekaligus. Kami semua bahagia, walau beberapa detik sebelumnya kami nyaris baku hantam. Tentukan letak ide pokok, dan sebutkan ide pokoknya dari paragraf 1-11 :)

Yang Lebih Penting dari Aku

"Diam saja dari tadi. Baca terus, seperti yang paling pintar saja."
"Iya. Kita ini dianggap patung?"
"Bukan patung, tapi angin."
Mataku ke arah buku yang kubaca, tetapi telingaku mendengar semuanya. Walau mereka berbicara dengan suara rendah, suasana sunyi mengantarkan setiap bunyi dengan setia.

Aku benar-benar tidak ingin di sini. Terlihat orang dengan berbagai penampilan mondar-mandir lantas duduk, lalu berdiri dalam diam. Wajah-wajah gundah dan lelah membuatku tambah lemas. Kapan ini semua berakhir? Tengah malam begini, seharusnya aku bisa duduk santai di rumah, baca, atau main game. Sejak sore, aku ingin minta izin pulang. It's impossible. Mustahil. Mana mungkin aku bisa pulang saat seluruh keluarga berkumpul.

Aku kembali membaca bukuku, tetapi tak satu pun kalimat kupahami. Suara-suara yang menyindirku itu masih terdengar, kadang diselingi tawa. Aku cukup yakin, jika aku mengangkat wajah, salah satu atau beberapa orang dari mereka sedang melirikku. Aku tidak suka, tetapi mau bagaimana lagi? Walau tak kukenal dengan baik, mereka semua terikat darah denganku.

This is it. Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi. Aku harus bicara. Akan kutegur mereka. Seenaknya saja menggunjingkan orang yang ada di depannya. Kemarahan tiba-tiba memenuhi dadaku. Aku berdiri sambil mengentakkan kaki. Derit nyaring kursi besi tua membuat beberapa orang menoleh.

Kudekati sumber suara gaduh itu. "Maaf. Apa aku mengganggu kalian?" Aku sendiri terkejut mendengar nada suaraku.
Aku benar-benar sedang kesal. "Eh, ada apa?" tanya Edo. Dia anak Om Samsudin, kakak ayahku. Aku dan Edo seumur, tetapi kami tidak pernah cocok. Bahar berdiri, "lya. Ada apa? Mengganggu bagaimana?"

Kukepalkan tangan, aku berbicara di antara gigi yang terkatup. "Aku tahu, tadi kalian membicarakan aku. Maaf kalau aku tidak bisa ikut mengobrol. Aku memilih membaca karena aku ingin tenang." "Siapa yang membicarakanmu? Kami bicara sendiri dari tadi," sahut Marlina yang disambut anggukan oleh yang lain. Mereka bersahutan cukup ramai sehingga beberapa pasang mata mengamati kami.

"Jangan bertengkar di sini. Tidak pantas, Edo bicara lagi. "Justru kalian yang memulai. Aku kan tidak mengganggu bisikku kaku. "Kamu tidak mau bergabung, dan itu mengganggu Bahar mencondongkan bahunya ke arahku.

Amarah mencengkeramku. Aku benar-benar siap meledak. Aku merasa deru jantungku kian kencang. Kepalanku kian kuat. Aku bisa merasakan ujung kuku menekan telapak tanganku. Kemarahan menguasaiku.

Tepat pada saat itu, pintu geser kehijauan itu terbuka. "Keluarga Bapak Pattarani!"
Seperti disemprot air dengan selang, kami berhamburan mendekat. "Operasi berhasil pasien ada di ruang pemulihan"

Ayahku bangkit dan mengusap matanya berkali-kali. Para om dan tante tersenyum lega dan segera sibuk mengabarkan kebahagiaan itu. Sepupu-sepupu yang sudah tertidur jadi terbangun, sebagian menangis karena terkejut sekaligus gembira. Kakek kesayangan kami terlepas dari bahaya. Seruan syukur berdengung memenuhi ruangan.

Marlina melompat kemudian menyalamiku dan Edo sekaligus. Kami semua bahagia, walau beberapa detik sebelumnya kami nyaris baku hantam.

 


Tentukan letak ide pokok, dan sebutkan ide pokoknya dari paragraf 1-11 :) 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

13

:

28

:

47

Klaim

4

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

La S

08 Agustus 2024 11:50

Jawaban terverifikasi

<p>1. Menjelaskan jenis-jenis paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya dan berikan masing- masing satu contoh:</p><p>- Paragraf Deduktif:</p><p>Paragraf deduktif memiliki kalimat utama di awal paragraf dan diikuti oleh kalimat penjelas.</p><p>Contoh:</p><p>"Aku benar-benar tidak ingin di sini. Terlihat orang dengan berbagai penampilan mondar- mandir lantas duduk, lalu berdiri dalam diam. Wajah-wajah gundah dan lelah membuatku tambah lemas. Kapan ini semua berakhir?"</p><p>- Paragraf Induktif:</p><p>Paragraf induktif memiliki kalimat utama di akhir paragraf, setelah kalimat penjelas. Contoh:</p><p>"Seperti disemprot air dengan selang, kami berhamburan mendekat. 'Operasi berhasil, pasien ada di ruang pemulihan."</p><p>- Paragraf Campuran:</p><p>Paragraf campuran memiliki kalimat utama di awal dan diulang di akhir paragraf. Contoh:</p><p>"Amarah mencengkeramku. Aku benar-benar siap meledak. Aku merasa deru jantungku kian kencang. Kepalanku kian kuat. Aku bisa merasakan ujung kuku menekan telapak tanganku. Kemarahan menguasaiku."<br>2. Menemukan informasi terdapat dari teks:</p><p>Tokoh utama merasa terganggu oleh ejekan dari saudara-saudaranya.</p><p>- Tokoh utama memilih membaca buku sebagai bentuk pelarian dari suasana yang tidak nyaman.</p><p>- Tokoh utama dan beberapa sepupunya sedang berada di rumah sakit menunggu hasil operasi kakeknya.</p><p>- Tokoh utama akhirnya berdiri dan menghadapi saudara-saudaranya yang mengganggu.</p><p>- Pada akhirnya, mereka menerima kabar baik bahwa operasi kakek berhasil.</p><p>Semua anggota keluarga merasa lega dan bahagia setelah mendengar kabar baik tersebut.</p>

1. Menjelaskan jenis-jenis paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya dan berikan masing- masing satu contoh:

- Paragraf Deduktif:

Paragraf deduktif memiliki kalimat utama di awal paragraf dan diikuti oleh kalimat penjelas.

Contoh:

"Aku benar-benar tidak ingin di sini. Terlihat orang dengan berbagai penampilan mondar- mandir lantas duduk, lalu berdiri dalam diam. Wajah-wajah gundah dan lelah membuatku tambah lemas. Kapan ini semua berakhir?"

- Paragraf Induktif:

Paragraf induktif memiliki kalimat utama di akhir paragraf, setelah kalimat penjelas. Contoh:

"Seperti disemprot air dengan selang, kami berhamburan mendekat. 'Operasi berhasil, pasien ada di ruang pemulihan."

- Paragraf Campuran:

Paragraf campuran memiliki kalimat utama di awal dan diulang di akhir paragraf. Contoh:

"Amarah mencengkeramku. Aku benar-benar siap meledak. Aku merasa deru jantungku kian kencang. Kepalanku kian kuat. Aku bisa merasakan ujung kuku menekan telapak tanganku. Kemarahan menguasaiku."
2. Menemukan informasi terdapat dari teks:

Tokoh utama merasa terganggu oleh ejekan dari saudara-saudaranya.

- Tokoh utama memilih membaca buku sebagai bentuk pelarian dari suasana yang tidak nyaman.

- Tokoh utama dan beberapa sepupunya sedang berada di rumah sakit menunggu hasil operasi kakeknya.

- Tokoh utama akhirnya berdiri dan menghadapi saudara-saudaranya yang mengganggu.

- Pada akhirnya, mereka menerima kabar baik bahwa operasi kakek berhasil.

Semua anggota keluarga merasa lega dan bahagia setelah mendengar kabar baik tersebut.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Cermatilah puisi " Aku " Karya CHAIRIL ANWAR benkut ini! Aku Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak pertu sedu sedan itu Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Tema puisi di atas adalah.... A. ketekunan dan kemauan seseorang dalam memperjuangan hak dirinya B. kemauan untuk hidup tenang tanpa beban C. kegigihan sesorang dalam mendapatkan cinta sejati D. seseorang yang tidak mau diganggu oleh siapapun E. kepasrahan kepada keadaan yang sedang terjadi

5

5.0

Jawaban terverifikasi

[1] Gaya hidup sedentari alias kurang gerak atau mager (malas gerak) adalah masalah yang sering dialami oleh penduduk perkotaan. [2] Bekerja di depan layar komputer sepanjang hari, kelamaan terjebak macet di jalan,atau hobi main gim tanpa diimbangi olahraga merupakan bentuk dari gaya hidup sedentari. [3] Jika Anda termasuk salah satu orang yang sering melakukan berbagai rutinitas tersebut, Anda harus waspada. [4] Pasalnya, gaya hidup sedentari sangat berbahaya karena membuat Anda berisiko terkena diabetes tipe 2. [5] Gaya hidup sedentari menyebabkan masyarakat, terutama penduduk kota, malas bergerak. [6] Coba ingat-ingat, dalam sehari ini, sudah berapa kali Anda dalam menggunakan aplikasi online untuk memenuhi kebutuh Anda? [7] Selain itu, tilik juga berapa banyak langkah yang sudah Anda dapatkan pada hari ini? [8] Seiring dengan pengembangan teknologi yang makin canggih, apa pun yang Anda butuhkan kini bisa langsung diantar ke ruangan kantor Anda atau depan rumah. [9] Selain hemat waktu, Anda pun jadi tak perlu mengeluarkan energi untuk mendapatkan apa yang Anda mau. [10] Namun, tahukah Anda bahwa segala kemudahan tersebut menyimpan bahaya bagi tubuh Anda? [11] Minimnya aktifitas fisik karena gaya hidup ini membuatmu berisiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes. [12] Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa gaya hidup ini juga termasuk 1 dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. [13] Selain itu, data terbaru dari Riskedas 2018 menguak bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan tingkat diabetes melitus tertinggi di Indonesia. [14] Ini menunjukkan bahwa gaya hidup mager amat erat kaitannya dengan tingkat diabetes di perkotaan. Bentuk bahasa yang sejenis dengan mager pada kalimat 1 adalah.... a. magang b. oncom c. rudal d. pugar

4

5.0

Jawaban terverifikasi