Sepdwita A

15 November 2024 06:47

Iklan

Sepdwita A

15 November 2024 06:47

Pertanyaan

untuk meredam ketegangan Dunia pada perang Dingin beberapa negara Dunia melakukan hubungan bilateral. deskripsikan contoh hubungan bilateral tersebut

untuk meredam ketegangan Dunia pada perang Dingin beberapa negara Dunia melakukan hubungan bilateral. deskripsikan contoh hubungan bilateral tersebut

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

20

:

51

:

00

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Zaskia A

15 November 2024 09:04

Jawaban terverifikasi

<p>Hubungan bilateral merupakan salah satu upaya untuk meredakan ketegangan dunia pada Perang Dingin. Contoh hubungan bilateral yang dilakukan beberapa negara untuk meredakan Perang Dingin adalah</p><p><strong>Konferensi Asia Afrika (KAA) </strong>: Indonesia menyelenggarakan KAA pertama di Bandung pada 18-24 April 1955. KAA merupakan pertemuan negara-negara Asia dan Afrika untuk membendung pengaruh Blok Barat dan Blok Timur.</p><p><strong>Gerakan Non-Blok (GNB) : </strong>Indonesia turut menjadi pemrakarsa pembentukan GNB.&nbsp;</p>

Hubungan bilateral merupakan salah satu upaya untuk meredakan ketegangan dunia pada Perang Dingin. Contoh hubungan bilateral yang dilakukan beberapa negara untuk meredakan Perang Dingin adalah

Konferensi Asia Afrika (KAA) : Indonesia menyelenggarakan KAA pertama di Bandung pada 18-24 April 1955. KAA merupakan pertemuan negara-negara Asia dan Afrika untuk membendung pengaruh Blok Barat dan Blok Timur.

Gerakan Non-Blok (GNB) : Indonesia turut menjadi pemrakarsa pembentukan GNB. 


Iklan

Rendi R

Community

19 November 2024 12:31

Jawaban terverifikasi

<p>&nbsp;</p><p>Selama Perang Dingin (1947–1991), hubungan bilateral sering kali digunakan oleh negara-negara di luar dua blok besar (Amerika Serikat dan Uni Soviet) untuk meredam ketegangan global atau menjaga keseimbangan kekuatan. Berikut adalah beberapa contoh hubungan bilateral yang signifikan dalam konteks tersebut:</p><p><strong>1. Hubungan Bilateral Indonesia–India</strong></p><ul><li><strong>Konteks:</strong><br>Sebagai negara-negara yang baru merdeka, Indonesia dan India memiliki kepentingan untuk menjaga perdamaian dunia dan menghindari keterlibatan dalam konflik blok Barat (AS) dan blok Timur (Uni Soviet).</li><li><strong>Inisiatif:</strong><br>Kedua negara berperan penting dalam pembentukan <strong>Gerakan Non-Blok (GNB)</strong>, yang menjadi forum bagi negara-negara berkembang untuk tidak memihak salah satu blok.</li><li><strong>Dampak:</strong><br>Meningkatkan kerja sama ekonomi dan diplomasi antara kedua negara serta memperkuat solidaritas di antara negara-negara dunia ketiga.</li></ul><p><strong>2. Hubungan Bilateral Amerika Serikat–China</strong></p><ul><li><strong>Konteks:</strong><br>Pada awal 1970-an, ketegangan antara China dan Uni Soviet memicu Amerika Serikat untuk mendekati China sebagai strategi membendung pengaruh Soviet.</li><li><strong>Inisiatif:</strong><br><strong>Diplomasi Ping Pong (1971)</strong> dan kunjungan Presiden AS Richard Nixon ke China (1972) menandai normalisasi hubungan antara kedua negara.</li><li><strong>Dampak:</strong><br>Menurunkan ketegangan global dengan memecah aliansi antara China dan Uni Soviet serta membuka jalur kerja sama ekonomi dan politik.</li></ul><p><strong>3. Hubungan Bilateral Uni Soviet–Kuba</strong></p><ul><li><strong>Konteks:</strong><br>Setelah revolusi Kuba 1959, Kuba menjadi sekutu strategis Uni Soviet di kawasan Amerika Latin untuk melawan dominasi AS.</li><li><strong>Inisiatif:</strong><br>Uni Soviet memberikan dukungan ekonomi, militer, dan politik kepada Kuba. Contohnya adalah pengiriman rudal nuklir ke Kuba pada Krisis Misil Kuba (1962).</li><li><strong>Dampak:</strong><br>Hubungan ini meningkatkan ketegangan Perang Dingin tetapi juga mendorong negosiasi antara AS dan Uni Soviet untuk menghindari perang nuklir.</li></ul><p><strong>4. Hubungan Bilateral Perancis–Jerman Barat</strong></p><ul><li><strong>Konteks:</strong><br>Setelah Perang Dunia II, kedua negara ingin mengakhiri permusuhan bersejarah dan menciptakan stabilitas di Eropa Barat, terutama menghadapi ancaman blok Timur.</li><li><strong>Inisiatif:</strong><br>Perjanjian Élysée (1963) menandai kerja sama diplomatik, ekonomi, dan budaya antara Perancis dan Jerman Barat.</li><li><strong>Dampak:</strong><br>Hubungan ini menjadi fondasi terbentuknya <strong>Uni Eropa</strong>, memperkuat integrasi ekonomi dan politik Eropa.</li></ul><p><strong>5. Hubungan Bilateral India–Uni Soviet</strong></p><ul><li><strong>Konteks:</strong><br>India membutuhkan dukungan ekonomi dan militer untuk pembangunan negaranya, sementara Uni Soviet ingin memperluas pengaruhnya di Asia Selatan.</li><li><strong>Inisiatif:</strong><br>Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama India–Uni Soviet (1971) memberikan dukungan Soviet kepada India selama Perang Indo-Pakistan.</li><li><strong>Dampak:</strong><br>Menguatkan posisi India di Asia Selatan dan menciptakan keseimbangan kekuatan di kawasan.</li></ul><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Hubungan bilateral selama Perang Dingin menjadi alat strategis untuk mengelola ketegangan global, menjaga keseimbangan kekuatan, atau mendorong perdamaian regional. Negara-negara sering kali memanfaatkan hubungan ini untuk memperkuat posisi mereka tanpa sepenuhnya memihak salah satu blok.</p>

 

Selama Perang Dingin (1947–1991), hubungan bilateral sering kali digunakan oleh negara-negara di luar dua blok besar (Amerika Serikat dan Uni Soviet) untuk meredam ketegangan global atau menjaga keseimbangan kekuatan. Berikut adalah beberapa contoh hubungan bilateral yang signifikan dalam konteks tersebut:

1. Hubungan Bilateral Indonesia–India

  • Konteks:
    Sebagai negara-negara yang baru merdeka, Indonesia dan India memiliki kepentingan untuk menjaga perdamaian dunia dan menghindari keterlibatan dalam konflik blok Barat (AS) dan blok Timur (Uni Soviet).
  • Inisiatif:
    Kedua negara berperan penting dalam pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB), yang menjadi forum bagi negara-negara berkembang untuk tidak memihak salah satu blok.
  • Dampak:
    Meningkatkan kerja sama ekonomi dan diplomasi antara kedua negara serta memperkuat solidaritas di antara negara-negara dunia ketiga.

2. Hubungan Bilateral Amerika Serikat–China

  • Konteks:
    Pada awal 1970-an, ketegangan antara China dan Uni Soviet memicu Amerika Serikat untuk mendekati China sebagai strategi membendung pengaruh Soviet.
  • Inisiatif:
    Diplomasi Ping Pong (1971) dan kunjungan Presiden AS Richard Nixon ke China (1972) menandai normalisasi hubungan antara kedua negara.
  • Dampak:
    Menurunkan ketegangan global dengan memecah aliansi antara China dan Uni Soviet serta membuka jalur kerja sama ekonomi dan politik.

3. Hubungan Bilateral Uni Soviet–Kuba

  • Konteks:
    Setelah revolusi Kuba 1959, Kuba menjadi sekutu strategis Uni Soviet di kawasan Amerika Latin untuk melawan dominasi AS.
  • Inisiatif:
    Uni Soviet memberikan dukungan ekonomi, militer, dan politik kepada Kuba. Contohnya adalah pengiriman rudal nuklir ke Kuba pada Krisis Misil Kuba (1962).
  • Dampak:
    Hubungan ini meningkatkan ketegangan Perang Dingin tetapi juga mendorong negosiasi antara AS dan Uni Soviet untuk menghindari perang nuklir.

4. Hubungan Bilateral Perancis–Jerman Barat

  • Konteks:
    Setelah Perang Dunia II, kedua negara ingin mengakhiri permusuhan bersejarah dan menciptakan stabilitas di Eropa Barat, terutama menghadapi ancaman blok Timur.
  • Inisiatif:
    Perjanjian Élysée (1963) menandai kerja sama diplomatik, ekonomi, dan budaya antara Perancis dan Jerman Barat.
  • Dampak:
    Hubungan ini menjadi fondasi terbentuknya Uni Eropa, memperkuat integrasi ekonomi dan politik Eropa.

5. Hubungan Bilateral India–Uni Soviet

  • Konteks:
    India membutuhkan dukungan ekonomi dan militer untuk pembangunan negaranya, sementara Uni Soviet ingin memperluas pengaruhnya di Asia Selatan.
  • Inisiatif:
    Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama India–Uni Soviet (1971) memberikan dukungan Soviet kepada India selama Perang Indo-Pakistan.
  • Dampak:
    Menguatkan posisi India di Asia Selatan dan menciptakan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Kesimpulan

Hubungan bilateral selama Perang Dingin menjadi alat strategis untuk mengelola ketegangan global, menjaga keseimbangan kekuatan, atau mendorong perdamaian regional. Negara-negara sering kali memanfaatkan hubungan ini untuk memperkuat posisi mereka tanpa sepenuhnya memihak salah satu blok.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Selegram merupakan salah satu profesi yang berkaitan erat dengan media sosial . Profesi ini sering kali menunjukkan gaya hidup di media sosial untuk membangun citra positif pada dirinya. Akan tetapi, profesi ini rentan sekali mendapat ujaran kebencian dari orang yang tidak dikenal di media sosial. Bentuk pelanggaran hak warga negara yang terjadi pada ilustrasi tersebut adalah ... Question 41Answer a. intoleransi beragama b. cyberbulling c. diskriminasi d. persekusi e. genosida

5

0.0

Jawaban terverifikasi

[1] Gaya hidup sedentari alias kurang gerak atau mager (malas gerak) adalah masalah yang sering dialami oleh penduduk perkotaan. [2] Bekerja di depan layar komputer sepanjang hari, kelamaan terjebak macet di jalan,atau hobi main gim tanpa diimbangi olahraga merupakan bentuk dari gaya hidup sedentari. [3] Jika Anda termasuk salah satu orang yang sering melakukan berbagai rutinitas tersebut, Anda harus waspada. [4] Pasalnya, gaya hidup sedentari sangat berbahaya karena membuat Anda berisiko terkena diabetes tipe 2. [5] Gaya hidup sedentari menyebabkan masyarakat, terutama penduduk kota, malas bergerak. [6] Coba ingat-ingat, dalam sehari ini, sudah berapa kali Anda dalam menggunakan aplikasi online untuk memenuhi kebutuh Anda? [7] Selain itu, tilik juga berapa banyak langkah yang sudah Anda dapatkan pada hari ini? [8] Seiring dengan pengembangan teknologi yang makin canggih, apa pun yang Anda butuhkan kini bisa langsung diantar ke ruangan kantor Anda atau depan rumah. [9] Selain hemat waktu, Anda pun jadi tak perlu mengeluarkan energi untuk mendapatkan apa yang Anda mau. [10] Namun, tahukah Anda bahwa segala kemudahan tersebut menyimpan bahaya bagi tubuh Anda? [11] Minimnya aktifitas fisik karena gaya hidup ini membuatmu berisiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes. [12] Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa gaya hidup ini juga termasuk 1 dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. [13] Selain itu, data terbaru dari Riskedas 2018 menguak bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan tingkat diabetes melitus tertinggi di Indonesia. [14] Ini menunjukkan bahwa gaya hidup mager amat erat kaitannya dengan tingkat diabetes di perkotaan. Bentuk bahasa yang sejenis dengan mager pada kalimat 1 adalah.... a. magang b. oncom c. rudal d. pugar

4

5.0

Jawaban terverifikasi