Ghazi D

17 Oktober 2023 15:12

Iklan

Ghazi D

17 Oktober 2023 15:12

Pertanyaan

TULISKAN UNSUR INSTRINSIK DAN UNSUR EKSTRINSIK DALAM CERPEN TERSEBUT! Dilema nara Nara terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, Nara bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nara menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nara berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nara berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya. Nara mendongak. Wajahnya terasa familiar. “Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak. Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!” Nara tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan.Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang!hardik gadis itu. Nara terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya. Nara adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya. Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nara. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh. Istri pertama ayah Nara adalah sahabat dekat ibu Nara. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama. Nina, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya. “Na?” Lamunan Nara terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong. “Nara? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nara beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu. “Nara, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,” Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nara selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya. Nara bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nina. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nara musnah. Nara tahu apa artinya itu. * Nara memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat. Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nara tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang. Nara tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan. Nara menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian.

TULISKAN UNSUR INSTRINSIK DAN UNSUR EKSTRINSIK DALAM CERPEN TERSEBUT!

                            Dilema nara 

Nara  terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam.
Kemudian, Nara bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar.
Nara menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan.
Nara berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nara berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya.
“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya.
Nara mendongak. Wajahnya terasa familiar.
“Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara  hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak.
Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!”
 Nara  tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nara terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya.
Nara adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya.
Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nara. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh.
Istri pertama ayah Nara adalah sahabat dekat ibu Nara. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama.
Nina, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya.
“Na?” Lamunan Nara terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong.
“Nara? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nara beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu.
“Nara, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,”
Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nara selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya.
Nara bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nina. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nara musnah. Nara tahu apa artinya itu.
*
Nara memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat.
Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nara tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang.
Nara tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan.
Nara menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

08

:

48

:

15

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Rendi R

Community

12 November 2024 08:50

Jawaban terverifikasi

<p>Berikut adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik dari cerpen <strong>"Dilema Nara"</strong>:</p><p>Unsur Intrinsik</p><p><strong>Tema</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Konflik batin dan penderitaan akibat masalah keluarga yang mempengaruhi kehidupan seorang anak. Tema ini berfokus pada dampak psikologis dan tekanan sosial yang dihadapi oleh Nara akibat status keluarganya.</li></ul><p><strong>Tokoh dan Penokohan</strong></p><ul><li><strong>Nara:</strong> Tokoh utama yang mengalami konflik batin akibat status keluarganya yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Ia merasa tertekan dan kesepian, hingga akhirnya mencari jalan keluar dari penderitaannya.</li><li><strong>Nina:</strong> Anak dari istri pertama ayah Nara yang merasa dikhianati dan marah. Ia menyalahkan Nara atas kondisi keluarganya, hingga mengutuk keberadaan Nara.</li><li><strong>Ibu Nara:</strong> Ibu yang berusaha melindungi Nara, meskipun ia juga dihina dan dianggap sebagai orang yang tidak punya harga diri. Ibu Nara digambarkan sebagai sosok yang lemah tetapi tetap berusaha untuk bertahan demi anaknya.</li><li><strong>Ayah Nara:</strong> Suami dari dua istri, yang menyebabkan konflik di antara kedua keluarganya. Ia tidak terlalu ditonjolkan dalam cerita, tetapi terlihat menyesali kondisi yang dialami anaknya setelah tragedi tersebut terjadi.</li></ul><p><strong>Alur</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Alur campuran (maju-mundur). Cerita dimulai dengan kondisi Nara saat ini yang tengah berjuang dengan tekanan batin, lalu diselingi dengan kilas balik ke masa lalu tentang konflik keluarga yang memengaruhi hidupnya.</li></ul><p><strong>Latar</strong></p><ul><li><strong>Latar Waktu:</strong> Cerita berlangsung di waktu yang tidak dijelaskan secara spesifik, namun narasi menunjukkan peristiwa yang terjadi setelah terungkapnya rahasia keluarga Nara.</li><li><strong>Latar Tempat:</strong> Rumah Nara, jalanan sepi, dan berbagai tempat yang menjadi simbol kesedihan dan keterasingan Nara.</li><li><strong>Latar Suasana:</strong> Suasana cerita penuh dengan kesedihan, depresi, dan putus asa. Ada suasana kelam yang meliputi kehidupan Nara dan keluarga akibat pandangan negatif dari masyarakat.</li></ul><p><strong>Sudut Pandang</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Sudut pandang orang ketiga serba tahu. Pengarang menyampaikan perasaan dan konflik batin Nara serta perspektif orang-orang di sekitarnya.</li></ul><p><strong>Amanat</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Cerpen ini mengajarkan pentingnya empati dan memahami bahwa setiap tindakan yang kita lakukan berdampak pada orang lain, terutama anak-anak yang tidak bersalah. Cerita ini juga menyiratkan pesan bahwa tekanan sosial dapat menghancurkan mental seseorang jika tidak mendapatkan dukungan yang cukup.</li></ul><p>Unsur Ekstrinsik</p><p><strong>Nilai Sosial</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Cerpen ini menggambarkan betapa kuatnya stigma sosial terhadap keluarga yang dianggap melanggar norma. Masyarakat sering kali menghakimi tanpa memahami dampaknya pada anggota keluarga yang tidak bersalah.</li></ul><p><strong>Nilai Psikologis</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Tekanan psikologis yang dialami oleh Nara mencerminkan dampak besar yang bisa ditimbulkan oleh konflik keluarga. Cerpen ini menunjukkan bahwa anak-anak dapat menderita dan merasa putus asa ketika harus menanggung konflik orang dewasa yang terjadi di sekitarnya.</li></ul><p><strong>Nilai Moral</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Cerita ini memberikan pelajaran moral bahwa kesalahan orang tua tidak seharusnya ditimpakan kepada anak-anak. Selain itu, cerita ini mengingatkan kita untuk tidak membenci seseorang hanya karena situasi yang mereka alami, dan pentingnya menjaga mental dan kesehatan batin setiap individu.</li></ul><p><strong>Nilai Religius (Opsional, tergantung penafsiran)</strong></p><ul><li><strong>Jawaban:</strong> Di akhir cerita, ada elemen yang menunjukkan perjalanan Nara menuju “kedamaian” setelah kematiannya. Ini bisa diartikan sebagai pencarian jiwa untuk kebahagiaan sejati dan menemukan tempat yang bebas dari rasa sakit di kehidupan setelah mati.</li></ul><p>Cerpen "Dilema Nara" menggambarkan betapa besarnya dampak sosial dan psikologis dari konflik keluarga, terutama bagi anak yang tidak bersalah. Cerita ini menyentuh perasaan dan mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kondisi orang di sekitar kita, terutama dalam memahami tekanan batin yang tidak selalu terlihat.</p>

Berikut adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik dari cerpen "Dilema Nara":

Unsur Intrinsik

Tema

  • Jawaban: Konflik batin dan penderitaan akibat masalah keluarga yang mempengaruhi kehidupan seorang anak. Tema ini berfokus pada dampak psikologis dan tekanan sosial yang dihadapi oleh Nara akibat status keluarganya.

Tokoh dan Penokohan

  • Nara: Tokoh utama yang mengalami konflik batin akibat status keluarganya yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Ia merasa tertekan dan kesepian, hingga akhirnya mencari jalan keluar dari penderitaannya.
  • Nina: Anak dari istri pertama ayah Nara yang merasa dikhianati dan marah. Ia menyalahkan Nara atas kondisi keluarganya, hingga mengutuk keberadaan Nara.
  • Ibu Nara: Ibu yang berusaha melindungi Nara, meskipun ia juga dihina dan dianggap sebagai orang yang tidak punya harga diri. Ibu Nara digambarkan sebagai sosok yang lemah tetapi tetap berusaha untuk bertahan demi anaknya.
  • Ayah Nara: Suami dari dua istri, yang menyebabkan konflik di antara kedua keluarganya. Ia tidak terlalu ditonjolkan dalam cerita, tetapi terlihat menyesali kondisi yang dialami anaknya setelah tragedi tersebut terjadi.

Alur

  • Jawaban: Alur campuran (maju-mundur). Cerita dimulai dengan kondisi Nara saat ini yang tengah berjuang dengan tekanan batin, lalu diselingi dengan kilas balik ke masa lalu tentang konflik keluarga yang memengaruhi hidupnya.

Latar

  • Latar Waktu: Cerita berlangsung di waktu yang tidak dijelaskan secara spesifik, namun narasi menunjukkan peristiwa yang terjadi setelah terungkapnya rahasia keluarga Nara.
  • Latar Tempat: Rumah Nara, jalanan sepi, dan berbagai tempat yang menjadi simbol kesedihan dan keterasingan Nara.
  • Latar Suasana: Suasana cerita penuh dengan kesedihan, depresi, dan putus asa. Ada suasana kelam yang meliputi kehidupan Nara dan keluarga akibat pandangan negatif dari masyarakat.

Sudut Pandang

  • Jawaban: Sudut pandang orang ketiga serba tahu. Pengarang menyampaikan perasaan dan konflik batin Nara serta perspektif orang-orang di sekitarnya.

Amanat

  • Jawaban: Cerpen ini mengajarkan pentingnya empati dan memahami bahwa setiap tindakan yang kita lakukan berdampak pada orang lain, terutama anak-anak yang tidak bersalah. Cerita ini juga menyiratkan pesan bahwa tekanan sosial dapat menghancurkan mental seseorang jika tidak mendapatkan dukungan yang cukup.

Unsur Ekstrinsik

Nilai Sosial

  • Jawaban: Cerpen ini menggambarkan betapa kuatnya stigma sosial terhadap keluarga yang dianggap melanggar norma. Masyarakat sering kali menghakimi tanpa memahami dampaknya pada anggota keluarga yang tidak bersalah.

Nilai Psikologis

  • Jawaban: Tekanan psikologis yang dialami oleh Nara mencerminkan dampak besar yang bisa ditimbulkan oleh konflik keluarga. Cerpen ini menunjukkan bahwa anak-anak dapat menderita dan merasa putus asa ketika harus menanggung konflik orang dewasa yang terjadi di sekitarnya.

Nilai Moral

  • Jawaban: Cerita ini memberikan pelajaran moral bahwa kesalahan orang tua tidak seharusnya ditimpakan kepada anak-anak. Selain itu, cerita ini mengingatkan kita untuk tidak membenci seseorang hanya karena situasi yang mereka alami, dan pentingnya menjaga mental dan kesehatan batin setiap individu.

Nilai Religius (Opsional, tergantung penafsiran)

  • Jawaban: Di akhir cerita, ada elemen yang menunjukkan perjalanan Nara menuju “kedamaian” setelah kematiannya. Ini bisa diartikan sebagai pencarian jiwa untuk kebahagiaan sejati dan menemukan tempat yang bebas dari rasa sakit di kehidupan setelah mati.

Cerpen "Dilema Nara" menggambarkan betapa besarnya dampak sosial dan psikologis dari konflik keluarga, terutama bagi anak yang tidak bersalah. Cerita ini menyentuh perasaan dan mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kondisi orang di sekitar kita, terutama dalam memahami tekanan batin yang tidak selalu terlihat.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

1. Sejak kecil kau telah akrab dengan lingkungan sekolah ini karena sering diajak ibumu kemari. Tak heran ketika sudah waktunya untuk masuk sekolah, kau begitu **supel** dan teman-temanmu pun sudah banyak. Mereka umumnya murid-murid yang pernah diajar ibumu waktu kelas satu. Sedangkan aku? Aku waktu itu baru saja pindah ke kota kecil ini. Makna kata bercetak tebal dalam kutipan cerpen tersebut adalah .... A. ramah C. santun B. sopan D. baik

43

5.0

Jawaban terverifikasi

Teks berikut untuk soai nomor 4. 1) Ilmuwan di berbagai belahan dunia berkejaran dengan waktu untuk menciptakan vaksin guna mengatasi virus Corona jenis baru. Vaksin perlu segera diciptakan karena kematian akibat virus Corona yang terus bertambah dan penyebaran virus yang kian meluas. 2) Pada Jum'at (7-2-2020), Komisi Kesehatan Nasional Cina mencatat jumlah kematian akibat virus Corona baru telah mencapai 636 kasus, sedangkan jumlah warga yang terinfeksi menjadi 31.161 kasus. Kasus terbanyak terjadi di Hubei, Cina, tempat vi kesehatan du niairus pertama muncul. Selain di Cina, virus itu kini telah menyebar ke lebih dari 25 negara. 3) Para ilmuwan bekerja dalam kecepatan penuh untuk menemukan vaksin bagi virus Corona baru atau penyakit pernapasan akut 2019-nCOV. Sebagai pusat epidemic, ilmuwan Cina berupaya menemukan vaksin bagi virus itu. Perkembangan terbaru adalah mereka menciptakan peta genetik virus. 4) Ilmuwan dari Australia, Kanada, hingga Prancis ikut menciptakan berbagai jenis inokulasi bersama sejumlah perusahaan biotek dan vaksin. Beberapa waktu lalu, Kepala Laboratorium Identifikasi Virus dari Institut Peter Doherty untuk Infeksi dan kekebalan, Melbourne, Julian Druce, menyatakan mereka mengembangkan virus Corona versi laboratorium dari tubuh pasien yang terinfeksi untuk uji coba. Tanggapan yang sesuai dengan berita tersebut adalah ... A. Pemerintah Australia telah tanggap menghadapi serangan virus Corona dengan menemukan vaksin virus tersebut. B. Para ilmuan perlu segera mempelajari virus corona yang menjadi masalah besar bagi kesehatan dunia karena persebarannya sangat cepat. C. Masyarakat perlu mawas diri dan menjaga kesehatan dalam menghadapi serangan virus corona yang mulai menyebar di Indonesia, D. Virus corona menjadi masalah besar bagi kesehatan manusia.

17

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan