Lalana L

17 Januari 2023 09:09

Iklan

Lalana L

17 Januari 2023 09:09

Pertanyaan

Tuliskan historiografi dia sang perintis jalan, haji agus salim !

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

02

:

29

:

31

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

P. Avivah

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Malang

28 Januari 2023 01:33

Jawaban terverifikasi

<p>Jawaban yang benar adalah dapat digambarkan dengan kalimat "<i>Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional".</i></p><p>&nbsp;</p><p>Historiografi merupakan karya hasil tulisan sejarah yang diungkapkan dari hasil penelitian. Historiografi disusun untuk menggambarkan kehidupan seseorang di masa lampau sebagai sebuah kisah sejarah. Berikut contoh historiografi yang berjudul "Dia Sang Perintis Jalan" yang mendeskripsikan tentang Haji Agus Salim.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>"Dia Sang Perintis Jalan - Haji Agus Salim"</strong></p><p>&nbsp;</p><p>Haji Agus Salim terlahir dengan nama <strong>Masyhudul Haq</strong> di Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Arti dari nama tersebut adalah ‘Pembela Kebenaran’. Nama ini menjadi doa yang mujarab untuk seorang Agus Salim, karena melalui tangan dinginnya, Indonesia berhasil meraih pengakuan secara ‘<i>de jure</i>’ dari negara-negara Arab yang ia datangi. Hal ini menjadi langkah awal pengakuan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.</p><p>&nbsp;</p><p>Ayahnya adalah seorang Jaksa, sehingga ia mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan sekolah dasar bersama dengan para bangsawan Hindia-Eropa di <i>Europeesche Lagere School </i>(ELS). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke <i>Hoogere Burgerschool</i> (HB) dan berhasil menjadi lulusan terbaik se-Hindia Belanda. Tidak hanya pendidikan formal, ia dengan kecerdikan diplomasi yang dimiliki, akhirnya dipercaya oleh pemerintah Belanda untuk menjadi duta bagi mereka di Jeddah, Arab Saudi.</p><p>&nbsp;</p><p>Disana ia mendalami agama Islam dengan berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib yang merupakan pamannya sendiri. Berbekal Pemikiran Barat dan Timur, Agus Salim dapat menjadi seorang diplomat ulung yang mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan sudut pandang berbeda. Melalui pemikiran diplomasinya, ia dapat diterima oleh semua golongan, dan menjadikannya sebagai tokoh kunci peraih kemerdekaan Indonesia.</p><p><br>Dengan kehebatannya dalam meramu kata, Agus Salim akhirnya mendapatkan mandat sebagai menteri luar negeri pertama bagi Indonesia. Ia berhasil menyelesaikan misi pertamanya untuk membersihkan nama Indonesia dimata dunia dan mencari pengakuan kemerdekaan dari bangsa lain. Pengakuan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia ini menjadikan Belanda mulai terpojok dan akhirnya PBB menerima perwakilan dari Negara Indonesia untuk melakukan pidato pembelaan terhadap argumen Belanda.</p><p><br>Pada 27 Agustus 1947, Haji Agus Salim dipanggil pulang oleh presiden Soekarno setelah berhasil menyelesaikan misi utamanya dengan sangat gemilang. Keberhasilannya ini memberikan jalan bagi Indonesia dalam meraih kemerdekaannya secara <i>absolute</i>. <i>“Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional”&nbsp; </i>(Haji Agus Salim – Solichin Salam).</p><p>&nbsp;</p><p>Maka, dapat disimpulkan bahwa historiografi Dia Sang Perintis Jalan dapat digambarkan dengan kalimat "<i>Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional".</i></p>

Jawaban yang benar adalah dapat digambarkan dengan kalimat "Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional".

 

Historiografi merupakan karya hasil tulisan sejarah yang diungkapkan dari hasil penelitian. Historiografi disusun untuk menggambarkan kehidupan seseorang di masa lampau sebagai sebuah kisah sejarah. Berikut contoh historiografi yang berjudul "Dia Sang Perintis Jalan" yang mendeskripsikan tentang Haji Agus Salim.

 

"Dia Sang Perintis Jalan - Haji Agus Salim"

 

Haji Agus Salim terlahir dengan nama Masyhudul Haq di Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Arti dari nama tersebut adalah ‘Pembela Kebenaran’. Nama ini menjadi doa yang mujarab untuk seorang Agus Salim, karena melalui tangan dinginnya, Indonesia berhasil meraih pengakuan secara ‘de jure’ dari negara-negara Arab yang ia datangi. Hal ini menjadi langkah awal pengakuan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

 

Ayahnya adalah seorang Jaksa, sehingga ia mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan sekolah dasar bersama dengan para bangsawan Hindia-Eropa di Europeesche Lagere School (ELS). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burgerschool (HB) dan berhasil menjadi lulusan terbaik se-Hindia Belanda. Tidak hanya pendidikan formal, ia dengan kecerdikan diplomasi yang dimiliki, akhirnya dipercaya oleh pemerintah Belanda untuk menjadi duta bagi mereka di Jeddah, Arab Saudi.

 

Disana ia mendalami agama Islam dengan berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib yang merupakan pamannya sendiri. Berbekal Pemikiran Barat dan Timur, Agus Salim dapat menjadi seorang diplomat ulung yang mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan sudut pandang berbeda. Melalui pemikiran diplomasinya, ia dapat diterima oleh semua golongan, dan menjadikannya sebagai tokoh kunci peraih kemerdekaan Indonesia.


Dengan kehebatannya dalam meramu kata, Agus Salim akhirnya mendapatkan mandat sebagai menteri luar negeri pertama bagi Indonesia. Ia berhasil menyelesaikan misi pertamanya untuk membersihkan nama Indonesia dimata dunia dan mencari pengakuan kemerdekaan dari bangsa lain. Pengakuan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia ini menjadikan Belanda mulai terpojok dan akhirnya PBB menerima perwakilan dari Negara Indonesia untuk melakukan pidato pembelaan terhadap argumen Belanda.


Pada 27 Agustus 1947, Haji Agus Salim dipanggil pulang oleh presiden Soekarno setelah berhasil menyelesaikan misi utamanya dengan sangat gemilang. Keberhasilannya ini memberikan jalan bagi Indonesia dalam meraih kemerdekaannya secara absolute. “Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional”  (Haji Agus Salim – Solichin Salam).

 

Maka, dapat disimpulkan bahwa historiografi Dia Sang Perintis Jalan dapat digambarkan dengan kalimat "Dia merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional".


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

43

5.0

Jawaban terverifikasi