Hassry N

12 Januari 2026 16:30

Iklan

Hassry N

12 Januari 2026 16:30

Pertanyaan

Tolong ditranslate kak, terimakasii

Tolong ditranslate kak, terimakasii 

 

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

20

:

52

:

38

Klaim

13

1


Iklan

Safina N

01 Februari 2026 17:09

<p>Istri Serunting merasa kasihan pada saudara laki-lakinya yang terus mengemis. Akhirnya, dia memberi tahu saudaranya bahwa sihir Serunting ada di rerumputan yang bergetar meskipun tidak ada angin bertiup.</p><p>Keesokan harinya, sebelum duel, Aria Tebing menancapkan tombaknya ke rerumputan yang bergetar meskipun tidak tertiup angin. Serunting terluka parah dan kalah.</p><p>Serunting mengetahui bahwa istrinyalah yang telah memberi tahu Aria Tebing tentang kelemahannya. Merasa dikhianati, Serunting akhirnya mengembara. Ia bermeditasi di Gunung Siguntang.</p><p>Saat bermeditasi, ia mendengar suara Hyang Mahameru. "Wahai Serunting! Aku akan mewariskan pengetahuan tentang kekuatan gaib kepadamu, apakah kau menginginkannya?" tanya Hyang Mahameru.</p><p>"Aku menginginkan kekuatan magis itu, O Hyang Mahameru. Aku menginginkan kekuatan itu," jawab Serunting.</p><p>"Namun ada satu syarat. Kamu harus bermeditasi di bawah pohon bambu. Setelah tubuhmu tertutup oleh dedaunan pohon bambu, barulah kamu akan mampu mendapatkan kekuatan itu," kata Hyang Mahameru.</p><p>Dua tahun berlalu. Serunting masih bermeditasi, dan akhirnya dedaunan dari pohon bambu menyelimutinya. Kini ia memiliki kekuatan sihir yang membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya menjadi kenyataan sekaligus kutukan.</p><p>Suatu hari, ia bermaksud kembali ke kampung halamannya di Sumidang. Dalam perjalanan, ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu. "Wahai tebu, jadilah batu," teriaknya lantang. Dan, dalam sekejap, pohon-pohon tebu berubah menjadi batu. Kemudian di sepanjang tepi Sungai Jambi, ia mengutuk setiap orang yang ditemuinya untuk berubah menjadi batu.</p><p>Seiring waktu, Serunting menjadi orang yang sombong dan angkuh. Akhirnya, orang-orang menjulukinya Si Pahit Lidah. Tetapi ketika Serunting tiba di bukit Serut yang gersang, ia mulai menyadari kesalahannya. Kemudian ia mengubah Bukit Serut menjadi hutan kayu. Dalam sekejap bukit itu berubah menjadi hutan kayu dan penduduk setempat berterima kasih kepadanya karena bukit itu telah menjadi hutan kayu yang akan menghasilkan kayu yang melimpah dan dijual di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.</p><p>Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan tiba di Desa Karang Agung. Serunting melihat sebuah gubuk tua yang dihuni oleh sepasang suami istri tua. Serunting menghampiri pasangan suami istri tua itu. Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum. Pasangan itu sangat ramah dan baik hati. Ternyata mereka sudah lama menginginkan seorang anak untuk membantu pekerjaan mereka. Serunting setuju. Ketika ia melihat ada sehelai rambut yang jatuh dari pakaian wanita tua itu, Serunting mengambilnya dan mengubahnya menjadi bayi. Pasangan tua itu senang dan berterima kasih kepada Serunting.</p><p>Serunting senang bisa membantu orang lain. Sepanjang perjalanannya, Serunting belajar membantu dan berusaha membantu orang-orang yang membutuhkan. Meskipun kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata baik yang dimaksudkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, orang-orang tetap memanggilnya dengan julukan Si Pahit Lidah.</p>

Istri Serunting merasa kasihan pada saudara laki-lakinya yang terus mengemis. Akhirnya, dia memberi tahu saudaranya bahwa sihir Serunting ada di rerumputan yang bergetar meskipun tidak ada angin bertiup.

Keesokan harinya, sebelum duel, Aria Tebing menancapkan tombaknya ke rerumputan yang bergetar meskipun tidak tertiup angin. Serunting terluka parah dan kalah.

Serunting mengetahui bahwa istrinyalah yang telah memberi tahu Aria Tebing tentang kelemahannya. Merasa dikhianati, Serunting akhirnya mengembara. Ia bermeditasi di Gunung Siguntang.

Saat bermeditasi, ia mendengar suara Hyang Mahameru. "Wahai Serunting! Aku akan mewariskan pengetahuan tentang kekuatan gaib kepadamu, apakah kau menginginkannya?" tanya Hyang Mahameru.

"Aku menginginkan kekuatan magis itu, O Hyang Mahameru. Aku menginginkan kekuatan itu," jawab Serunting.

"Namun ada satu syarat. Kamu harus bermeditasi di bawah pohon bambu. Setelah tubuhmu tertutup oleh dedaunan pohon bambu, barulah kamu akan mampu mendapatkan kekuatan itu," kata Hyang Mahameru.

Dua tahun berlalu. Serunting masih bermeditasi, dan akhirnya dedaunan dari pohon bambu menyelimutinya. Kini ia memiliki kekuatan sihir yang membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya menjadi kenyataan sekaligus kutukan.

Suatu hari, ia bermaksud kembali ke kampung halamannya di Sumidang. Dalam perjalanan, ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu. "Wahai tebu, jadilah batu," teriaknya lantang. Dan, dalam sekejap, pohon-pohon tebu berubah menjadi batu. Kemudian di sepanjang tepi Sungai Jambi, ia mengutuk setiap orang yang ditemuinya untuk berubah menjadi batu.

Seiring waktu, Serunting menjadi orang yang sombong dan angkuh. Akhirnya, orang-orang menjulukinya Si Pahit Lidah. Tetapi ketika Serunting tiba di bukit Serut yang gersang, ia mulai menyadari kesalahannya. Kemudian ia mengubah Bukit Serut menjadi hutan kayu. Dalam sekejap bukit itu berubah menjadi hutan kayu dan penduduk setempat berterima kasih kepadanya karena bukit itu telah menjadi hutan kayu yang akan menghasilkan kayu yang melimpah dan dijual di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan tiba di Desa Karang Agung. Serunting melihat sebuah gubuk tua yang dihuni oleh sepasang suami istri tua. Serunting menghampiri pasangan suami istri tua itu. Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum. Pasangan itu sangat ramah dan baik hati. Ternyata mereka sudah lama menginginkan seorang anak untuk membantu pekerjaan mereka. Serunting setuju. Ketika ia melihat ada sehelai rambut yang jatuh dari pakaian wanita tua itu, Serunting mengambilnya dan mengubahnya menjadi bayi. Pasangan tua itu senang dan berterima kasih kepada Serunting.

Serunting senang bisa membantu orang lain. Sepanjang perjalanannya, Serunting belajar membantu dan berusaha membantu orang-orang yang membutuhkan. Meskipun kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata baik yang dimaksudkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, orang-orang tetap memanggilnya dengan julukan Si Pahit Lidah.


Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bu Vina mengirimkan beras kepada pedagang dalam kemasan 25 kg dan 50 kg menggunakan truk. Banyak karung beras keseluruhan adalah 200 karung dengan total berat beras adalah 8 ton, 8. Berdasarkan teks tersebut, pilihlah semua jawaban yang benar. Jawaban benar lebih dari satu. Banyak karung beras kemasan 25 kg adalah 50 buah. Banyak karung beras kemasan 50 kg adalah 150 buah. Total berat beras dalam kemasan 25 kg adalah 2 ton. Perbandingan berat beras kemasan 25 kg dan 50 kg dalam truk adalah 1: 3. 9. Berdasarkan teks tersebut, jika biaya setiap beras karung kecil adalah Rp7.500 dan karung besar Rp14.000, berapakah biaya angkut semua beras yang harus dibayar oleh Bu Vina? A. Rp2.540.000 C. Rp2.312.000 B. Rp2.475.000 D. Rp2.280.000

52

4.0

Jawaban terverifikasi