Rahmat S

29 Juni 2022 05:11

Iklan

Rahmat S

29 Juni 2022 05:11

Pertanyaan

Sikap politik sultan agung terhadap voc sangat tidak bersahabat, dibuktikan dengan dikerahkan pasukan menuju batavia, namun setelah sultan agung wafat, sikap pemimpin kesultanan mataram menjadi lebih lembek, hal ini dimanfaatkan voc dengan cara ....

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

08

:

05

:

41

Klaim

12

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

G. Fitri

Mahasiswa/Alumni Universitas Pendidikan Indonesia

29 Juni 2022 13:52

Jawaban terverifikasi

VOC memanfaatkan kelemahan dari penerus kerajaan setelah wafatnya Sultan Agung ialah dengan melakukan devide et impera. Untuk lebih jelasnya, yuk pahami penjelasan berikut. Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan salah satu raja dari Kesultanan Mataram, dimana ia memerintah pada tahun 1613-1645. Nama asli dari Sultan Agung ialah Raden Mas Jatmika atau dikenal juga Raden Mas Rangsang. Sultan Agung ialah raja yang membawa Kesultanan Mataram Islam mencapai puncaknya, dimana dalam kurun waktu kekuasaannya wilayah Mataram sudah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Sultan Agung memiliki berbagai keahlian termasuk dalam bidang militer. Usaha yang dilakukannya ialah dengan membentuk prajurit yang siap untuk bertempur dengan musuh. Hal tersebut tercermin dari upaya Sultan Agung menaklukan Batavia yang saat itu dikuasai oleh VOC. Upaya penaklukan tersebut bahkan dilakukannya sebanyak 2 kali yakni pada tahun 1628 dan 1629. Perlawanan ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa asing di Jawa dan dengan keberadaan VOC akan menghambat penyebaran Islam di Jawa. Namun serangan ini dapat digagalkan oleh VOC. Namun pada akhirnya Mataram Islam-pun mengalami keruntuhannya, Adapun penyebab dari keruntuhan kesultanan ini terlebih sepeninggal dari Sultan Agung ialah, intervensi kekuasaan asing di Mataram Islam yang terjadi pada masa Amangkurat I yang berkoalisi dengan VOC. Kemudian terjadi pertentangan antara keluarga pada 1645 hingga 1677. Hal ini merupakan cara Belanda untuk memecah kekuatan kerajaan dengan sistem devide et impera. Hingga perpecahan terjadi di Mataram Islam dengan adanya Perjanjian Giyanti yang membagi kesultanan menjadi dua yakni Kasuhunan Surakarta dan Yogyakarta. Kemudian disusul oleh Perjanjian Salatiga dengan pembagian wilayah juga di Mataram Islam, hingga pada akhirnya ketika terjadi pada tahun 1830 saat perang Diponegoro berakhir, dimana seluruh kekuasaan di Surakarta dan Yogyakarta dirampas oleh Belanda. Dengan demikian, VOC memanfaatkan kelemahan dari penerus kerajaan setelah wafatnya Sultan Agung ialah dengan melakukan devide et impera. Semoga membantu ya ๐Ÿ˜Š


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

28

5.0

Jawaban terverifikasi