Potensi:
- Endowmen SDA besar: mineral kritis (nikel, bauksit, tembaga, timah), energi (panas bumi, hidro, surya, angin, bioenergi), pertanian–perikanan, kehutanan, dan keanekaragaman hayati
- Bonus demografi, pasar domestik besar, dan posisi geostrategis di jalur perdagangan Indo-Pasifik
- Basis manufaktur awal (logam dasar, petrokimia, otomotif), ekosistem digital tumbuh, serta kapasitas BUMN strategis (maritim, dirgantara, pertahanan)
Tantangan:
- Ketergantungan komoditas mentah, risiko “kutukan sumber daya”, dan pendalaman manufaktur yang masih dangkal
- Produktivitas SDM, riset-inovasi, dan adopsi teknologi yang tertinggal; kekurangan talenta vokasi–STEM
- Regulasi dan kepastian hukum berubah-ubah, tata kelola lahan-lingkungan lemah, biaya logistik–energi tinggi
- Akses pembiayaan jangka panjang terbatas, kedalaman pasar modal rendah, serta standard ESG global dan hambatan dagang (mis. EUDR)
- Ketimpangan wilayah dan integrasi rantai pasok hulu–hilir yang belum kuat
Industri strategis prioritas berbasis SDA:
- Mineral kritis: rantai baterai EV (HPAL, prekursor–katoda, sel, daur ulang), tembaga–aluminium untuk elektrifikasi, material magnet permanen
- Energi bersih: panas bumi, hidro run-of-river, surya skala utilitas–atap, biofuel canggih (HVO/SAF), green ammonia/hydrogen pilot
- Petrokimia–biorefinery: substitusi impor resin, intermediate chemicals, bioplastik dari sawit/rumput laut
- Pangan–maritim: agroindustri bernilai tambah, budidaya perikanan modern, rumput laut untuk pangan–farmasi–biomaterial, cold chain
- Kesehatan–biotek: bahan baku obat, vaksin, diagnostic kits, fitofarmaka berbasis biodiversitas
- Pertahanan–maritim–transport: galangan kapal, pesawat turboprop, sistem radar–avionik, kereta/perkotaan listrik
Prasyarat kunci untuk lepas dari negara menengah:
- Kebijakan industrial berbasis klaster dekat sumber daya dengan energi hijau kompetitif dan standar lingkungan ketat
- Lompatan SDM: reformasi vokasi dual system, sertifikasi, talenta R&D; target belanja R&D ≥1% PDB dan insentif inovasi
- Deregulasi yang prediktabel, kepastian lahan, percepatan izin berbasis risiko, serta penegakan lingkungan–ESG
- Infrastruktur logistik terpadu (pelabuhan, rel, dry port, cold chain), digitalisasi manufaktur (Industri 4.0)
- Pembiayaan: perluasan SWF/INA, pembiayaan hijau–blended finance, insentif investasi bernilai tambah dan daur ulang
- Diplomasi ekonomi: perjanjian dagang/standar untuk akses pasar dan integrasi rantai nilai global
Penentu keberhasilan:
- Peningkatan produktivitas total faktor, ekspor manufaktur teknologi menengah–tinggi, densitas supplier lokal, jejak karbon industri menurun, dan kenaikan GNI per kapita hingga status berpenghasilan tinggi sebelum 2045
Penjelasan
Indonesia berpeluang menjadi negara maju bila mengubah kekayaan alam dari komoditas mentah menjadi basis manufaktur bernilai tambah melalui klaster industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir, ditopang energi bersih agar biaya kompetitif dan memenuhi standar global; langkah ini harus disinergikan dengan peningkatan kualitas SDM lewat vokasi dan R&D, perbaikan tata kelola regulasi–lahan–lingkungan, serta percepatan infrastruktur logistik dan digital untuk menurunkan biaya transaksi; pembiayaan jangka panjang berbasis green/blended finance dan diplomasi perdagangan dibutuhkan untuk membuka pasar dan teknologi; fokus pada rantai baterai EV, petrokimia–biorefinery, maritim–pangan, dan kesehatan–biotek memungkinkan diversifikasi ekspor dan mitigasi kutukan sumber daya; keberhasilan diukur dari lonjakan produktivitas, naiknya porsi ekspor manufaktur berteknologi, penguatan ekosistem pemasok dalam negeri, dan penurunan intensitas karbon hingga ambang pendapatan tinggi tercapai sebelum 2045.
· 5.0 (1)
Yuk, beri rating untuk berterima kasih pada penjawab soal!
Iklan
Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?
Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!