Fitri A

21 Mei 2024 05:23

Iklan

Iklan

Fitri A

21 Mei 2024 05:23

Pertanyaan

Polisi: Maaf Mas, itu Mas nggak pakai helm. Pengendara: maaf Pak, saya lupa, ini tadi buru-buru soalnya, mau ujian. Masnya punya SIM? Polisi:Surat kendaraan lengkap? Pengendara: Lengkap Pak. Polisi:Boleh saya periksa? Pengendara: Bisa sih Pak, tetapi saya buru-buru ini. Polisi: Maaf mas, tapi ini kewajiban saya. 10. Masalah yang terjadi pada penggalan teks negosiasi tersebut adalah .... A. Polisi menilang pengendara motor B . Polisi menangkap pengendara motor C. Pengendara motor lupa memakai helm D. Polisi sedang melaksanakan kewajibannya E. Pengendara terburu-buru untuk mengikuti ujian

Polisi: Maaf Mas, itu Mas nggak pakai helm.

Pengendara: maaf Pak, saya lupa, ini tadi buru-buru soalnya, mau ujian. Masnya punya SIM?

Polisi:Surat kendaraan lengkap?

Pengendara: Lengkap Pak.

Polisi:Boleh saya periksa?

Pengendara: Bisa sih Pak, tetapi saya buru-buru ini. 

Polisi: Maaf mas, tapi ini kewajiban saya.

10. Masalah yang terjadi pada penggalan teks negosiasi tersebut adalah ....

A. Polisi menilang pengendara motor

B . Polisi menangkap pengendara motor

C. Pengendara motor lupa memakai helm

D. Polisi sedang melaksanakan kewajibannya

E. Pengendara terburu-buru untuk mengikuti ujian


11

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Kevin L

Bronze

23 Mei 2024 01:25

Jawaban terverifikasi

【Jawaban】: C 【Penjelasan】: Dalam penggalan teks negosiasi tersebut, masalah yang terjadi adalah pengendara motor lupa memakai helm. Hal ini dapat dilihat dari percakapan antara polisi dan pengendara motor, di mana polisi menegur pengendara motor karena tidak memakai helm. Oleh karena itu, jawaban yang paling tepat adalah C. Pengendara motor lupa memakai helm.


Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

24 Mei 2024 06:21

<p><br>Masalah yang terjadi pada penggalan teks negosiasi tersebut adalah ....</p><p>A. Polisi menilang pengendara motor.</p><p>Pada penggalan teks tersebut, polisi sedang melakukan pemeriksaan terhadap pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Polisi kemudian meminta surat izin mengemudi (SIM) dan surat kendaraan lengkap dari pengendara. Meskipun pengendara mengatakan bahwa ia buru-buru karena akan mengikuti ujian, polisi tetap melakukan tugasnya dengan memeriksa dokumen-dokumen yang diminta. Ini menunjukkan bahwa polisi sedang menilang pengendara motor karena pelanggaran menggunakan kendaraan bermotor tanpa helm.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>


Masalah yang terjadi pada penggalan teks negosiasi tersebut adalah ....

A. Polisi menilang pengendara motor.

Pada penggalan teks tersebut, polisi sedang melakukan pemeriksaan terhadap pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Polisi kemudian meminta surat izin mengemudi (SIM) dan surat kendaraan lengkap dari pengendara. Meskipun pengendara mengatakan bahwa ia buru-buru karena akan mengikuti ujian, polisi tetap melakukan tugasnya dengan memeriksa dokumen-dokumen yang diminta. Ini menunjukkan bahwa polisi sedang menilang pengendara motor karena pelanggaran menggunakan kendaraan bermotor tanpa helm.

 

 


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Perhatikan teks negosiasi berikut ini. Teks Negosiasi Jual Beli Pembeli: Selamat siang, Pak. Penjual: Selamat siang bu. Ada yang bisa saya bantu? Pembeli: Saya ingin beli mobil bekas classic, apakah ada, Pak? Penjual: Ada, Bu, mari ikut saya. Pembeli: Mobil classic ini, berapa harganya, Pak? Penjual: Kalau mobil yang itu harganya 95 juta, Bu. Pembeli: Harganya bisa kurang lagi nggak, Pak? Penjual: Boleh, mau anwar berapa, Bu? Pembeli: 85 juta bisa pak? Gimana? Penjual: Wadah, kalau harga begitu rasanya tidak bisa, Bu. Pembeli: Kalau 90 juta pak?. Penjual: Naikkin dikit bu, 93 juta pasnya. Pembeli: Oke, Pak, saya setuju. Uangnya nanti saya transfer. Penjual: Baik, Bu, terima kasih. Tentukan pasangan tuturan pada teks negosiasi di atas!

67

5.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bun-uh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Konflik apa yang terjadi dalam teks drama tersebut? Jelaskan hal yang menjadi tanda terjadinya konflik tersebut.

37

1.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bu-nuh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Jelaskan latar waktu, latar suasana, dan latar tempat yang tampak pada teks drama tersebut?

175

5.0

Jawaban terverifikasi

Teks 1 Guru: Selamat pagi, anak-anak Para Siswa: Selamat pagi, Pak. Guru: Apakah kalian semua sudah mengerjakan PR? Steven: Saya belum mengerjakan PR? Guru: kenapa kamu belum mengerjakan PR? Steven: Saya lupa Pak kalau hari ini ada pengumpulan tugas. Guru: Terus kamu mau diberikan hukuman apa? Steven: Tidak tahu Pak Guru: Bagaimana kalau kamu dihukum di jamur di lapangan? Steven: Jangan Pak. Nanti saya kepanasan. Guru: Itu kan salah kamu karena tidak mengerjakan PR. Steven: Tua Pak, tapi apakah hukumannya bisa diganti saja? Guru: Yasudah, bagaimana kalau kamu berdiri di depan kelas selama mata pelajaran Bapak? Steven: Waktunya tidak bisa dikurangi, Pak? Guru: Tidak bisa! Steven: Benar-benar tidak bisa kurang waktunya Pak? Guru: Tidak bisa! Steven: Baik Pak Saya akan berdiri di depan kelas selama mata pelajaran Bapak. Guru: Lain kali kamu jangan lupa mengumpulkan tugas ya. Steven: Baik Pak, kedepannya saya akan mengumpulkan tugas. Teks 2 Seperti biasanya, setiap pagi pasti ibu akan pergi ke pasar untuk belanja harian kendaraan motor yang ada di rumah selalu digunakan untuk mengantarkannya ke pasar. Ibu sudah mempunyai toko langganan yang menurutnya lebih murah daripada toko-toko lainnya. Singkat cerita toko langganan ibu sedang tutup, sehingga ibu berpindah ke toko setelahnya. Ibu mulai mencari bahan-bahan yang akan dimasak hari ini dan besok. Ibu sempat merasa bingung karena catatan belanja lupa dibawa. Setelah diingat OL -ingat kembali. Ibu ingin membeli satu kilo ayam bahan sayur sop, bahan sambil dan bumbu-bumbu dapur. Ibu menyapa penjualnya dengan menanyakan beberapa harga sayuran supaya mengetahui apakah harganya sangat mahal atau tidak. Sebelum membeli bahan-bahan tersebut ibu bertanya kepada pedagang harga dari bahan-bahan tersebut Ibu baru tahu kalau harga ayam sedikit lebih mahal dibandingkan dengan toko langganannya Tanpa berpikir panjang ibu langsung mengajukan harga yang sesuai dengan toko langganannya. Penjual merespon dengan jawaban santai sehingga pengajuan ini dilanjutkan dengan tawar menawar khas ibu-ibu dan pedagang Ibu sangat dikenal ketika melakukan tawar menawar tidak pernah kalah. Ibu mulai menawar kembali harga ayam yang semula 35 ribu menjadi 32 ribu. Pedagang pun menolak tawaran yang ibu itu dan meminta untuk menaikkan harga Ibu pun menolak karena dianggap harga ayam tersebut terlalu mahal Serasa tidak mau merugi, pedagang kembali meminta untuk menaikkan harga ayam itu kemudian, ibu menaikkan harga ayam itu menjadi 33 ribu Pedagang merasa masih rugi, sehingga menawarkan harga 34 ribu tetapi harga begitu dianggap malah oleh ibu Hingga pada akhirnya, ibu tidak jadi membeli ayam di toko sebelah langganannya dan berpindah ke toko lain Proses negosiasi tidak mendapatkan titik temu sehingga kesepakatan tidak jadi tercapai. Pedagang kecewa karena harus kehilangan pelanggan. Sementara itu, ibu lelah karena harus berpindah toko lainnya. kemudian ibu melakukan strategi jitu dengan cara para-para pergi supaya pedagang itu memanggilnya kembali. Tapi adalah daya ternyata pedagang itu tidak memanggil ibu kembali, Tentukan masalah negosiasi yang telah Anda baca!

167

5.0

Jawaban terverifikasi