Diah R

04 Agustus 2024 05:43

Iklan

Diah R

04 Agustus 2024 05:43

Pertanyaan

permasalahan apa yang terjadi saat sidang bpupki

permasalahan apa yang terjadi saat sidang bpupki

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

08

:

40

:

19

Klaim

7

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Kevin L

Gold

04 Agustus 2024 06:22

Jawaban terverifikasi

Sidang BPUPKI merupakan momen bersejarah di mana para tokoh bangsa Indonesia merumuskan dasar negara. Meski tujuannya mulia, namun dalam prosesnya muncul beberapa permasalahan utama: * Perbedaan Pendapat tentang Dasar Negara: * Pluralitas Budaya: Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat tinggi. Hal ini memunculkan perbedaan pandangan mengenai dasar negara yang cocok untuk semua. * Pengaruh Ideologi Luar: Masuknya berbagai ideologi dari luar negeri seperti liberalisme, sosialisme, dan komunisme juga turut mewarnai perdebatan. * Tokoh-Tokoh dengan Gagasan Berbeda: Masing-masing tokoh seperti Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno memiliki gagasan yang unik tentang dasar negara. * Rumusan yang Tepat: * Mencari Kesepakatan: Menemukan rumusan dasar negara yang dapat diterima oleh semua pihak menjadi tantangan tersendiri. * Bahasa yang Digunakan: Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat juga menjadi pertimbangan. * Tekanan Waktu: * Jepang: Situasi politik yang tidak stabil akibat pendudukan Jepang membuat proses perumusan dasar negara harus dilakukan dalam waktu yang singkat. Permasalahan-permasalahan ini kemudian diselesaikan melalui musyawarah mufakat yang panjang dan melelahkan. Akhirnya, Pancasila berhasil dirumuskan sebagai dasar negara Indonesia yang mampu mengakomodasi berbagai kepentingan dan perbedaan. Kesimpulan: Sidang BPUPKI merupakan contoh nyata bagaimana sebuah bangsa yang majemuk dapat mencapai kesepakatan bersama melalui dialog dan musyawarah. Proses perumusan Pancasila mengajarkan kita pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, dan berkomitmen untuk membangun negara yang bersatu.


Iklan

Rendi R

Community

27 September 2024 15:05

Jawaban terverifikasi

<p>Selama sidang <strong>Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)</strong> yang berlangsung pada tahun 1945, terdapat beberapa permasalahan utama yang dibahas dan dihadapi. Sidang BPUPKI bertujuan untuk merumuskan dasar negara Indonesia dan mempersiapkan kemerdekaan. Berikut adalah beberapa permasalahan yang terjadi saat sidang BPUPKI:</p><p>1. <strong>Perdebatan tentang Dasar Negara</strong></p><p>Salah satu permasalahan terbesar adalah <strong>perdebatan tentang dasar negara</strong> yang akan digunakan oleh Indonesia. BPUPKI terdiri dari berbagai golongan dan kelompok dengan latar belakang yang berbeda, termasuk kelompok <strong>nasionalis sekuler</strong> dan <strong>kelompok Islam</strong>. Permasalahan utama terkait dasar negara ini mencakup dua pandangan besar:</p><p><strong>Kelompok Nasionalis Sekuler</strong>: Kelompok ini, termasuk Soekarno dan Muhammad Yamin, menginginkan Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip kebangsaan yang sekuler dan tidak mendasarkan diri pada agama tertentu. Mereka mendorong <strong>Pancasila</strong> sebagai dasar negara yang inklusif dan bisa diterima oleh semua golongan.</p><p><strong>Kelompok Islam</strong>: Kelompok ini, termasuk Ki Bagus Hadikusumo dan beberapa tokoh lainnya, menginginkan agar <strong>syariat Islam</strong> dijadikan dasar negara, setidaknya untuk umat Islam di Indonesia. Mereka mengusulkan agar negara Indonesia menjadikan Islam sebagai landasan konstitusional bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang beragama Islam.</p><p><strong>Solusi</strong>: Permasalahan ini akhirnya diatasi melalui kompromi dengan <strong>Piagam Jakarta</strong>, di mana disepakati bahwa sila pertama Pancasila berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Namun, kalimat ini kemudian diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" pada 18 Agustus 1945 untuk menghormati keinginan kelompok-kelompok minoritas non-Islam.</p><p>2. <strong>Penentuan Bentuk Negara</strong></p><p>Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah <strong>penentuan bentuk negara</strong>. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus berbentuk <strong>negara kesatuan</strong> atau <strong>negara federal</strong>. Beberapa pihak mengusulkan negara federal untuk memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah-daerah, sementara pihak lain menginginkan negara kesatuan yang kuat.</p><ul><li><strong>Negara Kesatuan</strong>: Soekarno dan sebagian besar anggota BPUPKI mendukung bentuk negara kesatuan untuk menjaga persatuan dan keutuhan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam.</li><li><strong>Negara Federal</strong>: Beberapa kelompok, terutama yang berasal dari daerah-daerah luar Jawa, mengusulkan bentuk negara federal agar setiap daerah memiliki otonomi lebih besar dalam mengatur urusan mereka.</li></ul><p><strong>Solusi</strong>: Akhirnya, disepakati bahwa Indonesia akan berbentuk <strong>negara kesatuan</strong>, karena bentuk ini dianggap paling cocok untuk menjaga persatuan bangsa dan menghindari potensi perpecahan.</p><p>3. <strong>Masalah Pengakuan Hak Minoritas</strong></p><p>Dalam perdebatan mengenai dasar negara, juga muncul kekhawatiran tentang <strong>perlindungan hak-hak kelompok minoritas</strong>, baik dalam hal agama maupun etnis. Ada kekhawatiran bahwa jika negara terlalu condong ke salah satu agama atau kelompok mayoritas, maka kelompok minoritas bisa mengalami diskriminasi.</p><p><strong>Solusi</strong>: Dengan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara, yang bersifat inklusif dan netral terhadap agama tertentu, masalah ini sebagian besar teratasi. Pancasila menjamin persatuan dalam keragaman serta kebebasan beragama dan keyakinan bagi semua golongan.</p><p>4. <strong>Pembahasan Batas Wilayah Indonesia</strong></p><p>Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah mengenai <strong>batas wilayah Indonesia</strong>. Ada pertanyaan tentang wilayah mana saja yang akan menjadi bagian dari negara Indonesia yang merdeka. Apakah hanya mencakup wilayah Hindia Belanda, ataukah juga mencakup daerah-daerah di luar itu yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya.</p><p><strong>Solusi</strong>: Akhirnya disepakati bahwa wilayah Indonesia mencakup wilayah bekas Hindia Belanda, yang terdiri dari pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serta berbagai pulau kecil di sekitarnya.</p><p>5. <strong>Penetapan Sistem Pemerintahan</strong></p><p>Diskusi mengenai <strong>sistem pemerintahan</strong> juga menjadi permasalahan penting dalam sidang BPUPKI. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus menganut sistem pemerintahan <strong>presidensial</strong> atau <strong>parlementer</strong>. Hal ini penting karena menyangkut bagaimana kekuasaan eksekutif dan legislatif akan dibagi dan dijalankan di Indonesia yang baru merdeka.</p><ul><li><strong>Sistem Presidensial</strong>: Didukung oleh beberapa anggota BPUPKI yang menginginkan kekuasaan presiden yang kuat untuk menjaga stabilitas negara.</li><li><strong>Sistem Parlementer</strong>: Didukung oleh pihak yang ingin mengutamakan peran parlemen dalam pemerintahan.</li></ul><p><strong>Solusi</strong>: Pada akhirnya, Indonesia mengadopsi sistem presidensial sesuai dengan UUD 1945, meskipun dalam perkembangannya, sistem parlementer juga sempat diujicobakan pada awal kemerdekaan.</p><p>Kesimpulan</p><p>Permasalahan utama dalam sidang BPUPKI berkisar pada perdebatan terkait <strong>dasar negara</strong>, <strong>bentuk negara</strong>, <strong>hak minoritas</strong>, <strong>batas wilayah</strong>, dan <strong>sistem pemerintahan</strong>. Meskipun terjadi perbedaan pandangan yang tajam, pada akhirnya melalui proses kompromi dan musyawarah, Indonesia berhasil merumuskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi. Hasil ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong yang kuat di tengah perbedaan, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.</p>

Selama sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berlangsung pada tahun 1945, terdapat beberapa permasalahan utama yang dibahas dan dihadapi. Sidang BPUPKI bertujuan untuk merumuskan dasar negara Indonesia dan mempersiapkan kemerdekaan. Berikut adalah beberapa permasalahan yang terjadi saat sidang BPUPKI:

1. Perdebatan tentang Dasar Negara

Salah satu permasalahan terbesar adalah perdebatan tentang dasar negara yang akan digunakan oleh Indonesia. BPUPKI terdiri dari berbagai golongan dan kelompok dengan latar belakang yang berbeda, termasuk kelompok nasionalis sekuler dan kelompok Islam. Permasalahan utama terkait dasar negara ini mencakup dua pandangan besar:

Kelompok Nasionalis Sekuler: Kelompok ini, termasuk Soekarno dan Muhammad Yamin, menginginkan Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip kebangsaan yang sekuler dan tidak mendasarkan diri pada agama tertentu. Mereka mendorong Pancasila sebagai dasar negara yang inklusif dan bisa diterima oleh semua golongan.

Kelompok Islam: Kelompok ini, termasuk Ki Bagus Hadikusumo dan beberapa tokoh lainnya, menginginkan agar syariat Islam dijadikan dasar negara, setidaknya untuk umat Islam di Indonesia. Mereka mengusulkan agar negara Indonesia menjadikan Islam sebagai landasan konstitusional bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang beragama Islam.

Solusi: Permasalahan ini akhirnya diatasi melalui kompromi dengan Piagam Jakarta, di mana disepakati bahwa sila pertama Pancasila berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Namun, kalimat ini kemudian diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" pada 18 Agustus 1945 untuk menghormati keinginan kelompok-kelompok minoritas non-Islam.

2. Penentuan Bentuk Negara

Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah penentuan bentuk negara. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus berbentuk negara kesatuan atau negara federal. Beberapa pihak mengusulkan negara federal untuk memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah-daerah, sementara pihak lain menginginkan negara kesatuan yang kuat.

  • Negara Kesatuan: Soekarno dan sebagian besar anggota BPUPKI mendukung bentuk negara kesatuan untuk menjaga persatuan dan keutuhan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam.
  • Negara Federal: Beberapa kelompok, terutama yang berasal dari daerah-daerah luar Jawa, mengusulkan bentuk negara federal agar setiap daerah memiliki otonomi lebih besar dalam mengatur urusan mereka.

Solusi: Akhirnya, disepakati bahwa Indonesia akan berbentuk negara kesatuan, karena bentuk ini dianggap paling cocok untuk menjaga persatuan bangsa dan menghindari potensi perpecahan.

3. Masalah Pengakuan Hak Minoritas

Dalam perdebatan mengenai dasar negara, juga muncul kekhawatiran tentang perlindungan hak-hak kelompok minoritas, baik dalam hal agama maupun etnis. Ada kekhawatiran bahwa jika negara terlalu condong ke salah satu agama atau kelompok mayoritas, maka kelompok minoritas bisa mengalami diskriminasi.

Solusi: Dengan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara, yang bersifat inklusif dan netral terhadap agama tertentu, masalah ini sebagian besar teratasi. Pancasila menjamin persatuan dalam keragaman serta kebebasan beragama dan keyakinan bagi semua golongan.

4. Pembahasan Batas Wilayah Indonesia

Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah mengenai batas wilayah Indonesia. Ada pertanyaan tentang wilayah mana saja yang akan menjadi bagian dari negara Indonesia yang merdeka. Apakah hanya mencakup wilayah Hindia Belanda, ataukah juga mencakup daerah-daerah di luar itu yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya.

Solusi: Akhirnya disepakati bahwa wilayah Indonesia mencakup wilayah bekas Hindia Belanda, yang terdiri dari pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serta berbagai pulau kecil di sekitarnya.

5. Penetapan Sistem Pemerintahan

Diskusi mengenai sistem pemerintahan juga menjadi permasalahan penting dalam sidang BPUPKI. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus menganut sistem pemerintahan presidensial atau parlementer. Hal ini penting karena menyangkut bagaimana kekuasaan eksekutif dan legislatif akan dibagi dan dijalankan di Indonesia yang baru merdeka.

  • Sistem Presidensial: Didukung oleh beberapa anggota BPUPKI yang menginginkan kekuasaan presiden yang kuat untuk menjaga stabilitas negara.
  • Sistem Parlementer: Didukung oleh pihak yang ingin mengutamakan peran parlemen dalam pemerintahan.

Solusi: Pada akhirnya, Indonesia mengadopsi sistem presidensial sesuai dengan UUD 1945, meskipun dalam perkembangannya, sistem parlementer juga sempat diujicobakan pada awal kemerdekaan.

Kesimpulan

Permasalahan utama dalam sidang BPUPKI berkisar pada perdebatan terkait dasar negara, bentuk negara, hak minoritas, batas wilayah, dan sistem pemerintahan. Meskipun terjadi perbedaan pandangan yang tajam, pada akhirnya melalui proses kompromi dan musyawarah, Indonesia berhasil merumuskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi. Hasil ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong yang kuat di tengah perbedaan, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

ada tiga cara penyelesaian konflik secara sederhana (pendekatan kultur atau budaya, diaspora, fan hubungan bilateral), menurut kalian mana yang paling efektif, berilah alasannya dari 5 penyelesaian konflik secara internasional (negosiasi, mediasi dan jasa-jasa baik, konsiliasi, penyelidikan, dan penyelesaian di bawah naungan organisasi PBB), menurut kalian mana yang paling efektif, berilah alasannya

17

0.0

Jawaban terverifikasi

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan moneter .... a. Ekspansif dengan menaikkan reserve requirement ratio b. Ekspansif dengan menurunkan reserve requirement ratio c. Kontraktif dengan menaikkan reserve requirement ratio d. Kontraktif dengan menurunkan reserve requirement ratio e. Ekspansif dengan menaikkan tingkat diskonto Bila Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif, ceteris paribus maka .... a. Menimbulkan inflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas b. Menimbulkan deflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas c. Tingkat bunga meningkat di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas d. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas e. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) vertikal Kebijakan fiskal kontraktif dilakukan dengan cara .... a. Menurunkan pengeluaran pemerintah (G), menambah pembayaran transfer (Tr) dan meningkatkan pemungutan pajak (Tx) b. Menurunkan G, mengurangi Tr, dan meningkatkan Tx c. Menurunkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx d. Meningkatkan G, mengurangi Tr, dan menurunkan Tx e. Meningkatkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx Cara yang dilakukan kebijakan tingkat diskonto oleh Bank Sentral dalam melakukan kebijakan moneter adalah .... a. Mengatur jumlah pemberian kredit b. Menetapkan harga surat-surat berharga di pasar uang c. Menetapkan giro wajib minimum (reserved requirement ratio) d. Mengatur tingkat bunga tabungan e. Mengatur tingkat bunga pinjaman bank sentral kepada bank umum Perhatikan beberapa pernyataan berikut. 1). Menaikkan tarif pajak. 2). Diversifikasi pajak. 3). Menaikkan suku bunga. 4). Politik pasar terbuka. 5). Mengadakan diskriminasi harga. Yang termasuk kebijakan fiskal adalah .... a. 1) dan 2) b. 2) dan 3) c. 3) dan 4) d. 3) dan 5) e. 4) dan 5) Investasi bank lesu, daya beli melemah akan berdampak kepada apresiasi rupiah terhadap mata uang asing memburuk. Kebijakan moneter yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah .... a. Menaikkan suku bunga bank b. Membeli surat berharga c. Memberikan subsidi kepada masyarakat d. Membatasi pengeluaran negara e. Menaikkan pajak penghasilan Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan fiskal ekspansif bila tidak diikuti dengan kebijakan moneter yang ekspansif adalah .... a. Output bertambah, suku bunga tetap b. Output bertambah, suku bunga turun c. Output bertambah, suku bunga naik d. Output turun, suku bunga naik e. Output turun, suku bunga turun Di bawah ini yang tidak termasuk jenis kebijakan moneter berhubungan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar di masyarakat, adalah .... a. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary Expansive Policy) b. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation) c. Kebijakan moneter kontraktif (Monetary Contractive Policy)/ Tight Money Policy d. Fasilitas diskonto (Discount Rate) e. Meningkatkan jumlah barang di pasar output Pada saat nilai rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan dari Rp10.500,00 menjadi Rp11.760,00 harga barang impor mengalami kenaikan. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah .... a. Memborong dolar Amerika di pasar uang untuk membayar utang b. Meningkatkan produksi barang dan jasa bagi masyarakat c. Membeli surat berharga jangka panjang di pasar modal d. Menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan e. Menurunkan suku bunga tabungan dan pinjaman Ketika kebutuhan kedelai meningkat dan petani gagal panen karena terserang hama maka pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri yang harganya lebih mahal. Kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah .... a. Menentukan tarif pajak kedelai lebih rendah dari sebelumnya b. Menentukan standar harga kedelai dari yang rendah sampai mahal c. Memberikan subsidi kepada petani yang menghasilkan kedelai d. Meningkatkan produktivitas kedelai dengan mengganti tanaman padi e. Membatasi impor kedelai dan meningkatkan ekspor ke luar negeri Operasi pasar terbuka dalam pengendalian uang yang beredar dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara .... a. Membeli surat berharga pemerintah dan Menjual surat-surat berharga pemerintah b. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menjual surat-surat berharga pemerintah c. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah d. Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah e. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum Perhatikan pernyataan berikut. 1). Politik diskonto 2). Menaikkan pajak 3). Politik pasar terbuka 4). Menaikkan cash ratio 5). Meningkatkan impor 6). Meningkatkan pinjaman Dari cara yang diterapkan pemerintah tersebut, yang merupakan kebijakan moneter adalah .... a. 1), 2), dan 3) b. 1), 3), dan 4) c. 2), 4), dan 5) d. 3), 4), dan 5) e. 4), 5), dan 6) Kondisi saat pemerintah sebaiknya tidak memberlakukan kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter adalah .... a. Ekonomi mengalami deflasi b. Perekonomian berada dibawah output potensialnya c. Tidak terjadi inflasi dan tingkat pengangguran berada dibawah target tingkat pengangguran d. Tingkat pengangguran berada diatas target tingkat pengangguran e. Ekonomi mengalami inflasi Bank sentral memasok dana ke dalam cadangan perbankan sebesar Rp10 triliun, pada saat yang sama bank sentral menetapkan rasio kebutuhan cadangan sebesar 2%. Dari proses penciptaan uang, jumlah uang yang beredar dapat bertambah sebesar .... a. Rp10,2 triliun b. Rp12 triliun c. Rp50 triliun d. Rp102 triliun e. Rp500 triliun Bank X menerima tambahan deposit Rp500 juta dan menyalurkannya sebagai kredit pada nasabah A setelah dikurangi cadangan wajib perbankan 10%. Bila A menyimpan pinjamannya pada Bank Y dan bank ini menyisihkan cadangan dengan rasio yang sama, dan menyalurkan sebagai kredit, begitu seterusnya. Jumlah uang yang beredar adalah .... a. 50 juta b. 500 juta c. 1.000 juta d. 5.000 juta e. 50.000 juta Apabila GWM atau reserve requirement bank-bank umum sebesar 5%, maka multiplier deposit adalah sebesar .... a. 5 b. 10 c. 15 d. 20 e. 25 Jika GWM dinaikkan dari 5% menjadi 10 %, maka .... a. Multiplier naik menjadi 10 kali b. Multiplier turun menjadi 10 kali c. Multiplier tetap d. Multiplier naik menjadi 50 kali e. Multiplier turun menjadi 5 kali Jika defisit riil senilai Rp100 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 7.5% dan defisit nominal senilai Rp400 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp1 Triliun b. Rp2 Triliun c. Rp3 Triliun d. Rp4 Triliun e. Rp5 Triliun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,- Untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai macam kebijakan moneter. Ketika terjadi inflasi salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan/persediaan kas (cash ratio policy). Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah .... a. Jumlah uang yang beredar akan bertambah sehingga harga barang akan mengalami penurunan b. Harga barang akan mengalami penurunan sebagai akibat jumlah uang yang beredar berkurang c. Penambah cadangan pada bank umum menimbulkan jumlah uang semakin banyak beredar d. Jumlah barang akan semakin banyak beredar sebagai akibat dari kelangkaan jumlah uang e. Penambahan jumlah barang tidak dapat dihindari karena modal perusahaan semakin bertambah Apabila diketahui bahwa Indonesia mengalami defisit anggaran nominal (nominal deficit) sebesar Rp400 Triliun, defisit anggaran riil (real deficit) sebesar Rp360 Triliun, dan total utang Indonesia mencapai Rp2.000 Triliun, maka tingkat inflasi Indonesia mencapai .... a. 0,5% b. 1,0% c. 1,5% d. 2,0% e. 2,5% Jika defisit riil senilai Rp200 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 10% dan defisit nominal senilai Rp800 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp3 Triliun b. Rp4 Triliun c. Rp5 Triliun d. Rp6 Triliun e. Rp8 Triliun Berikut ini adalah berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral, kecuali .... a. Operasi pasar terbuka b. Menetapkan giro wajib minimum c. Menjual saham d. Kebijakan tingkat diskonto e. Pengawasan kredit secara selektif Apabila tingkat inflasi pada 2020 adalah 10 % dan kemudian pada 2021 menjadi 7 %, manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat? a. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga turun b. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga naik c. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga tetap d. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga naik e. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga turun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,-

13

0.0

Jawaban terverifikasi