Diah R

04 Agustus 2024 05:43

Iklan

Diah R

04 Agustus 2024 05:43

Pertanyaan

permasalahan apa yang terjadi saat sidang bpupki

permasalahan apa yang terjadi saat sidang bpupki

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

21

:

20

:

57

Klaim

2

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Kevin L

Gold

04 Agustus 2024 06:22

Jawaban terverifikasi

Sidang BPUPKI merupakan momen bersejarah di mana para tokoh bangsa Indonesia merumuskan dasar negara. Meski tujuannya mulia, namun dalam prosesnya muncul beberapa permasalahan utama: * Perbedaan Pendapat tentang Dasar Negara: * Pluralitas Budaya: Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat tinggi. Hal ini memunculkan perbedaan pandangan mengenai dasar negara yang cocok untuk semua. * Pengaruh Ideologi Luar: Masuknya berbagai ideologi dari luar negeri seperti liberalisme, sosialisme, dan komunisme juga turut mewarnai perdebatan. * Tokoh-Tokoh dengan Gagasan Berbeda: Masing-masing tokoh seperti Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno memiliki gagasan yang unik tentang dasar negara. * Rumusan yang Tepat: * Mencari Kesepakatan: Menemukan rumusan dasar negara yang dapat diterima oleh semua pihak menjadi tantangan tersendiri. * Bahasa yang Digunakan: Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat juga menjadi pertimbangan. * Tekanan Waktu: * Jepang: Situasi politik yang tidak stabil akibat pendudukan Jepang membuat proses perumusan dasar negara harus dilakukan dalam waktu yang singkat. Permasalahan-permasalahan ini kemudian diselesaikan melalui musyawarah mufakat yang panjang dan melelahkan. Akhirnya, Pancasila berhasil dirumuskan sebagai dasar negara Indonesia yang mampu mengakomodasi berbagai kepentingan dan perbedaan. Kesimpulan: Sidang BPUPKI merupakan contoh nyata bagaimana sebuah bangsa yang majemuk dapat mencapai kesepakatan bersama melalui dialog dan musyawarah. Proses perumusan Pancasila mengajarkan kita pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, dan berkomitmen untuk membangun negara yang bersatu.


Iklan

Rendi R

Community

27 September 2024 15:05

Jawaban terverifikasi

<p>Selama sidang <strong>Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)</strong> yang berlangsung pada tahun 1945, terdapat beberapa permasalahan utama yang dibahas dan dihadapi. Sidang BPUPKI bertujuan untuk merumuskan dasar negara Indonesia dan mempersiapkan kemerdekaan. Berikut adalah beberapa permasalahan yang terjadi saat sidang BPUPKI:</p><p>1. <strong>Perdebatan tentang Dasar Negara</strong></p><p>Salah satu permasalahan terbesar adalah <strong>perdebatan tentang dasar negara</strong> yang akan digunakan oleh Indonesia. BPUPKI terdiri dari berbagai golongan dan kelompok dengan latar belakang yang berbeda, termasuk kelompok <strong>nasionalis sekuler</strong> dan <strong>kelompok Islam</strong>. Permasalahan utama terkait dasar negara ini mencakup dua pandangan besar:</p><p><strong>Kelompok Nasionalis Sekuler</strong>: Kelompok ini, termasuk Soekarno dan Muhammad Yamin, menginginkan Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip kebangsaan yang sekuler dan tidak mendasarkan diri pada agama tertentu. Mereka mendorong <strong>Pancasila</strong> sebagai dasar negara yang inklusif dan bisa diterima oleh semua golongan.</p><p><strong>Kelompok Islam</strong>: Kelompok ini, termasuk Ki Bagus Hadikusumo dan beberapa tokoh lainnya, menginginkan agar <strong>syariat Islam</strong> dijadikan dasar negara, setidaknya untuk umat Islam di Indonesia. Mereka mengusulkan agar negara Indonesia menjadikan Islam sebagai landasan konstitusional bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang beragama Islam.</p><p><strong>Solusi</strong>: Permasalahan ini akhirnya diatasi melalui kompromi dengan <strong>Piagam Jakarta</strong>, di mana disepakati bahwa sila pertama Pancasila berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Namun, kalimat ini kemudian diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" pada 18 Agustus 1945 untuk menghormati keinginan kelompok-kelompok minoritas non-Islam.</p><p>2. <strong>Penentuan Bentuk Negara</strong></p><p>Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah <strong>penentuan bentuk negara</strong>. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus berbentuk <strong>negara kesatuan</strong> atau <strong>negara federal</strong>. Beberapa pihak mengusulkan negara federal untuk memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah-daerah, sementara pihak lain menginginkan negara kesatuan yang kuat.</p><ul><li><strong>Negara Kesatuan</strong>: Soekarno dan sebagian besar anggota BPUPKI mendukung bentuk negara kesatuan untuk menjaga persatuan dan keutuhan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam.</li><li><strong>Negara Federal</strong>: Beberapa kelompok, terutama yang berasal dari daerah-daerah luar Jawa, mengusulkan bentuk negara federal agar setiap daerah memiliki otonomi lebih besar dalam mengatur urusan mereka.</li></ul><p><strong>Solusi</strong>: Akhirnya, disepakati bahwa Indonesia akan berbentuk <strong>negara kesatuan</strong>, karena bentuk ini dianggap paling cocok untuk menjaga persatuan bangsa dan menghindari potensi perpecahan.</p><p>3. <strong>Masalah Pengakuan Hak Minoritas</strong></p><p>Dalam perdebatan mengenai dasar negara, juga muncul kekhawatiran tentang <strong>perlindungan hak-hak kelompok minoritas</strong>, baik dalam hal agama maupun etnis. Ada kekhawatiran bahwa jika negara terlalu condong ke salah satu agama atau kelompok mayoritas, maka kelompok minoritas bisa mengalami diskriminasi.</p><p><strong>Solusi</strong>: Dengan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara, yang bersifat inklusif dan netral terhadap agama tertentu, masalah ini sebagian besar teratasi. Pancasila menjamin persatuan dalam keragaman serta kebebasan beragama dan keyakinan bagi semua golongan.</p><p>4. <strong>Pembahasan Batas Wilayah Indonesia</strong></p><p>Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah mengenai <strong>batas wilayah Indonesia</strong>. Ada pertanyaan tentang wilayah mana saja yang akan menjadi bagian dari negara Indonesia yang merdeka. Apakah hanya mencakup wilayah Hindia Belanda, ataukah juga mencakup daerah-daerah di luar itu yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya.</p><p><strong>Solusi</strong>: Akhirnya disepakati bahwa wilayah Indonesia mencakup wilayah bekas Hindia Belanda, yang terdiri dari pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serta berbagai pulau kecil di sekitarnya.</p><p>5. <strong>Penetapan Sistem Pemerintahan</strong></p><p>Diskusi mengenai <strong>sistem pemerintahan</strong> juga menjadi permasalahan penting dalam sidang BPUPKI. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus menganut sistem pemerintahan <strong>presidensial</strong> atau <strong>parlementer</strong>. Hal ini penting karena menyangkut bagaimana kekuasaan eksekutif dan legislatif akan dibagi dan dijalankan di Indonesia yang baru merdeka.</p><ul><li><strong>Sistem Presidensial</strong>: Didukung oleh beberapa anggota BPUPKI yang menginginkan kekuasaan presiden yang kuat untuk menjaga stabilitas negara.</li><li><strong>Sistem Parlementer</strong>: Didukung oleh pihak yang ingin mengutamakan peran parlemen dalam pemerintahan.</li></ul><p><strong>Solusi</strong>: Pada akhirnya, Indonesia mengadopsi sistem presidensial sesuai dengan UUD 1945, meskipun dalam perkembangannya, sistem parlementer juga sempat diujicobakan pada awal kemerdekaan.</p><p>Kesimpulan</p><p>Permasalahan utama dalam sidang BPUPKI berkisar pada perdebatan terkait <strong>dasar negara</strong>, <strong>bentuk negara</strong>, <strong>hak minoritas</strong>, <strong>batas wilayah</strong>, dan <strong>sistem pemerintahan</strong>. Meskipun terjadi perbedaan pandangan yang tajam, pada akhirnya melalui proses kompromi dan musyawarah, Indonesia berhasil merumuskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi. Hasil ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong yang kuat di tengah perbedaan, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.</p>

Selama sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berlangsung pada tahun 1945, terdapat beberapa permasalahan utama yang dibahas dan dihadapi. Sidang BPUPKI bertujuan untuk merumuskan dasar negara Indonesia dan mempersiapkan kemerdekaan. Berikut adalah beberapa permasalahan yang terjadi saat sidang BPUPKI:

1. Perdebatan tentang Dasar Negara

Salah satu permasalahan terbesar adalah perdebatan tentang dasar negara yang akan digunakan oleh Indonesia. BPUPKI terdiri dari berbagai golongan dan kelompok dengan latar belakang yang berbeda, termasuk kelompok nasionalis sekuler dan kelompok Islam. Permasalahan utama terkait dasar negara ini mencakup dua pandangan besar:

Kelompok Nasionalis Sekuler: Kelompok ini, termasuk Soekarno dan Muhammad Yamin, menginginkan Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip kebangsaan yang sekuler dan tidak mendasarkan diri pada agama tertentu. Mereka mendorong Pancasila sebagai dasar negara yang inklusif dan bisa diterima oleh semua golongan.

Kelompok Islam: Kelompok ini, termasuk Ki Bagus Hadikusumo dan beberapa tokoh lainnya, menginginkan agar syariat Islam dijadikan dasar negara, setidaknya untuk umat Islam di Indonesia. Mereka mengusulkan agar negara Indonesia menjadikan Islam sebagai landasan konstitusional bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang beragama Islam.

Solusi: Permasalahan ini akhirnya diatasi melalui kompromi dengan Piagam Jakarta, di mana disepakati bahwa sila pertama Pancasila berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Namun, kalimat ini kemudian diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" pada 18 Agustus 1945 untuk menghormati keinginan kelompok-kelompok minoritas non-Islam.

2. Penentuan Bentuk Negara

Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah penentuan bentuk negara. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus berbentuk negara kesatuan atau negara federal. Beberapa pihak mengusulkan negara federal untuk memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah-daerah, sementara pihak lain menginginkan negara kesatuan yang kuat.

  • Negara Kesatuan: Soekarno dan sebagian besar anggota BPUPKI mendukung bentuk negara kesatuan untuk menjaga persatuan dan keutuhan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam.
  • Negara Federal: Beberapa kelompok, terutama yang berasal dari daerah-daerah luar Jawa, mengusulkan bentuk negara federal agar setiap daerah memiliki otonomi lebih besar dalam mengatur urusan mereka.

Solusi: Akhirnya, disepakati bahwa Indonesia akan berbentuk negara kesatuan, karena bentuk ini dianggap paling cocok untuk menjaga persatuan bangsa dan menghindari potensi perpecahan.

3. Masalah Pengakuan Hak Minoritas

Dalam perdebatan mengenai dasar negara, juga muncul kekhawatiran tentang perlindungan hak-hak kelompok minoritas, baik dalam hal agama maupun etnis. Ada kekhawatiran bahwa jika negara terlalu condong ke salah satu agama atau kelompok mayoritas, maka kelompok minoritas bisa mengalami diskriminasi.

Solusi: Dengan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara, yang bersifat inklusif dan netral terhadap agama tertentu, masalah ini sebagian besar teratasi. Pancasila menjamin persatuan dalam keragaman serta kebebasan beragama dan keyakinan bagi semua golongan.

4. Pembahasan Batas Wilayah Indonesia

Permasalahan lain yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah mengenai batas wilayah Indonesia. Ada pertanyaan tentang wilayah mana saja yang akan menjadi bagian dari negara Indonesia yang merdeka. Apakah hanya mencakup wilayah Hindia Belanda, ataukah juga mencakup daerah-daerah di luar itu yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya.

Solusi: Akhirnya disepakati bahwa wilayah Indonesia mencakup wilayah bekas Hindia Belanda, yang terdiri dari pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serta berbagai pulau kecil di sekitarnya.

5. Penetapan Sistem Pemerintahan

Diskusi mengenai sistem pemerintahan juga menjadi permasalahan penting dalam sidang BPUPKI. Ada perdebatan tentang apakah Indonesia harus menganut sistem pemerintahan presidensial atau parlementer. Hal ini penting karena menyangkut bagaimana kekuasaan eksekutif dan legislatif akan dibagi dan dijalankan di Indonesia yang baru merdeka.

  • Sistem Presidensial: Didukung oleh beberapa anggota BPUPKI yang menginginkan kekuasaan presiden yang kuat untuk menjaga stabilitas negara.
  • Sistem Parlementer: Didukung oleh pihak yang ingin mengutamakan peran parlemen dalam pemerintahan.

Solusi: Pada akhirnya, Indonesia mengadopsi sistem presidensial sesuai dengan UUD 1945, meskipun dalam perkembangannya, sistem parlementer juga sempat diujicobakan pada awal kemerdekaan.

Kesimpulan

Permasalahan utama dalam sidang BPUPKI berkisar pada perdebatan terkait dasar negara, bentuk negara, hak minoritas, batas wilayah, dan sistem pemerintahan. Meskipun terjadi perbedaan pandangan yang tajam, pada akhirnya melalui proses kompromi dan musyawarah, Indonesia berhasil merumuskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi. Hasil ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong yang kuat di tengah perbedaan, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

apa jawaban yang benar?

1

5.0

Jawaban terverifikasi