Kirana A

21 April 2024 13:17

Iklan

Kirana A

21 April 2024 13:17

Pertanyaan

Perhatikan soal berikut berilah tanda (X) pada jawaban (B-S) yang disediakan. Seekor semut kecil yang, merasa kesepian, sendirian menerjang badai dan hujan, pahit kehidupan telah ia rasakan. Senyum berlapis tangis dan tawa menyembunyikan derita yang dialaminya. Jauh di lubuk hati, ia menyimpan tanya, “Mengapa aku yang harus merasakan kesepian ini?” Tetes air mata pun semakin deras menyelimuti kesendiriannya. Sebanyak apa pun air mata ia tumpahkna ia tetap merasa kesepian. Kalimat bercetak tebal dalam kutipan isi cerita diatas mengandung majas... (B – S) Metafora (B – S) Metonemia (B – S) Personifikasi (B – S) Hiperbola

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

06

:

29

:

22

Klaim

1

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bola-Bola Waktu Oleh Rakhma Subarna Ivan menendang kerikil di jalan dengan kasar hingga terpelanting berhamburan. Debu mengepul dari kerikil-kerikil itu. Lagi-lagi ia dijadikan bahan tertawaan! Ini semua gara-gara kue basah Ibu! Setiap hari Ivan harus bangun pukul setengah empat pagi dan membantu Ibu membuat aneka kue basah. Ivan juga harus pergi lebih pagi untuk mengantarkan kue-kue itu ke beberapa warung menuju sekolah. Hal yang paling memalukan, Ivan menitipkan kue itu juga di kantin sekolah! Ketika Fiam, anak paling usil di kelasnya tahu, ia segera mengejek Ivan. Dan begitu Fiam memulai, julukan “tukang kue” untuknya pun langsung diikuti teman-teman sekelas. Seolah belum cukup memalukan, bangun pagi dan rasa lelah bekerja sejak subuh membuat Ivan sering tertidur saat pelajaran. “Wah, tukang kue mau alih profesi jadi tukang tidur,” ejek Fiam yang memancing tawa sekelas. Ivan masih menendang kerikil-kerikil itu. “Aku tidak mau lagi!” teriak Ivan dalam hatinya. “Aku tidak mau lagi berjualan kue. Aku ingin menjadi anak SMP yang keren dan dikagumi oleh teman-temanku!” “Kau yakin?” Ivan menengok. Seorang pria berkerudung hitam memandangnya. Bibir pria itu tersenyum ramah. Di meja di hadapannya tergeletak aneka bola warnawarni. Ivan memandang pria itu sambil mengerutkan alisnya. Apakah dia peramal? tanya Ivan dalam hati. “Kau ingin melihat apa yang terjadi apabila kau berhenti berjualan kue?” Ragu-ragu, Ivan mengangguk. Ia lalu mengambil bola merah yang disodorkan pria itu. Seketika, tubuhnya terasa ringan, dunia di sekitarnya berputar. Ivan terkesiap. Ia terbangun di sebuah kamar yang terasa asing. Dengan heran, ia menatap Nina dan Danu, adiknya. Mengapa mereka tidur di sini? Ivan menatap sekeliling. Kamar itu sempit, pengap, dan terutama sangat berantakan! Barang-barang miliknya tergeletak di mana saja, sementara tumpukan buku koleksi Nina dan mainan Danu memenuhi sudut-sudut kamar. “Pukul 06.00? Aku terlambat untuk membuat kue!” Ivan segera berdiri dan keluar kamar. “Kamu sudah bangun, Van?” suara Ibu menyapanya. Mata Ivan membelalak lebar melihat kerut-kerut yang bertambah di wajah Ibu dan kelelahan yang tergambar jelas di sana. “Syukurlah. Ibu pergi dahulu, ya. Jangan lupa, antar adik-adikmu ke sekolah.” Ivan termangu. Ia menatap sosok Ibu yang membawa kotak-kotak berisi aneka kue basah. Jadi, tampaknya mereka masih berjualan kue basah. Hanya, kali ini, Ibu tidak meminta bantuannya. Akhirnya, Ivan terbebas dari tugasnya! Lalu, di mana Ayah? Biasanya Ayah yang mengantar Ibu untuk pergi berjualan. Ivan memandang ke sekeliling ruangan. Saat itulah Ivan menatap sebuah foto berbingkai hitam di dekat meja makan. Di dalamnya, wajah lelah ayahnya tersenyum ramah. “Van, nanti siang jangan lupa latihan basket, ya. Minggu depan kita lawan SMP Bina Bangsa.” Ivan hanya mengangguk lesu. Sekarang ia tahu, ia berada di tahun 2022. Tidak ada lagi teman-teman sekelas yang mengejeknya. Malah bisa dikatakan, ia memiliki cukup banyak teman. Nilai-nilainya bukan yang terbaik, tetapi bukan pula yang paling jelek. Ia berhasil masuk tim basket selama dua tahun berturut-turut. Semua tampak sempurna. Namun, mengapa Ivan menyesal berada di tahun ini? Tadi pagi ia mengetahui bahwa ayahnya tidak lagi bersama mereka. Ayah meninggal karena sakit. Kata Ibu, Ayah sering mengabaikan sakit yang dideritanya dan berkeras membantu Ibu. Ayah bahkan menolak tawaran Ibu untuk membayar seorang pekerja. Ayah ingin hasil penjualan kue ditabung untuk biaya kuliah Ivan nanti. “Hai, Van! Apakah Ibumu sudah sembuh? Mamaku ingin pesan kue basah untuk arisan, tetapi Ibumu bilang ia sedang tidak enak badan.” Perkataan Hario menyadarkan Ivan lagi dari lamunannya. Ivan menunduk. Ia teringat wajah menua dan lelah ibunya tadi pagi, bahkan Ibunya tidak mengatakan kepadanya bahwa ia sedang sakit. Ivan menelengkupkan kepala di atas meja. Andai saja penyesalan bisa memutar kembali waktu, ia lebih memilih membantu kedua orang tuanya berjualan kue. Matanya terasa panas. Kepalanya terasa berputar. Ivan mengerjap. Seseorang mengguncang tubuhnya lembut. “Ivan, bangun, Nak.” Ivan memicingkan mata. Ia mengenal suara tegas tetapi lembut itu. “Ayah! Syukurlah!” Ivan segera tersadar dan memeluk ayahnya erat. “Wah, wah, wah …! Tadi kamu mimpi buruk, ya?” Pagi masih gelap saat Ivan melihat ke luar jendela. Ivan tahu ia harus bangun lebih pagi karena mereka mendapat pesanan kue untuk acara pernikahan dan rapat di kantor RW. Memikirkan pesanan kue itu, Ivan melompat dari tempat tidur dengan penuh semangat. “Ayah, Ibu, tahu nggak? Kue-kue basah buatan Ibu ini banyak yang suka, loh!” cerita Ivan. Untuk sesaat, Ayah dan Ibu saling memandang dan menyimpan senyum geli. Mungkin mereka heran melihat Ivan yang tak lagi menggerutu dan malas-malasan saat membantu. “Eih, aku serius loh ini,” tambah Ivan lagi melihat reaksi kedua orang tuanya. “Van, kamu nggak apa-apa, Van?” suara Hario terdengar cemas dan makin jauh. Lalu segalanya gelap. Ayah tergelak. Ia mengusap kepala Ivan dengan lembut, “Tentu saja kami tahu, ini kan resep warisan turun-temurun!” Tepat pukul 05.00, kue-kue basah nan cantik telah siap. Harum manis kue memenuhi rumah. Meski lelah, Ivan merasa bangga melihat kue-kue yang baru ditatanya. Rasanya ia makin mahir menata kue-kue ini. “Van, tolong masukkan setiap jenis ke dalam kotak untuk pesanan kawinan dan Pak RW, ya. Biar Ayah yang menyiapkan untuk dibawa ke pasar. Ibu mau membuat sarapan dahulu sebelum adik-adikmu bangun,” kata Ibu. Ivan mengangguk. Saat memasukkan kue-kue ke dalam setiap kotak, sebuah ide melintas dalam benaknya. Masih ada 30 menit sebelum ia harus bersiap ke sekolah. Ivan mengambil selembar kertas, lalu segera menggambar sebuah kotak berisi aneka kue cantik. “Camilan Cantik Akhir Minggu,” begitu Ivan memberi judul gambar tersebut. Di bagian bawah gambar, Ivan menulis, “Untuk pemesanan, hubungi Ivan – kelas VII B.” 2. Apa yang diinginkannya di awal cerita?

397

5.0

Jawaban terverifikasi

Bola-Bola Waktu Oleh Rakhma Subarna Ivan menendang kerikil di jalan dengan kasar hingga terpelanting berhamburan. Debu mengepul dari kerikil-kerikil itu. Lagi-lagi ia dijadikan bahan tertawaan! Ini semua gara-gara kue basah Ibu! Setiap hari Ivan harus bangun pukul setengah empat pagi dan membantu Ibu membuat aneka kue basah. Ivan juga harus pergi lebih pagi untuk mengantarkan kue-kue itu ke beberapa warung menuju sekolah. Hal yang paling memalukan, Ivan menitipkan kue itu juga di kantin sekolah! Ketika Fiam, anak paling usil di kelasnya tahu, ia segera mengejek Ivan. Dan begitu Fiam memulai, julukan “tukang kue” untuknya pun langsung diikuti teman-teman sekelas. Seolah belum cukup memalukan, bangun pagi dan rasa lelah bekerja sejak subuh membuat Ivan sering tertidur saat pelajaran. “Wah, tukang kue mau alih profesi jadi tukang tidur,” ejek Fiam yang memancing tawa sekelas. Ivan masih menendang kerikil-kerikil itu. “Aku tidak mau lagi!” teriak Ivan dalam hatinya. “Aku tidak mau lagi berjualan kue. Aku ingin menjadi anak SMP yang keren dan dikagumi oleh teman-temanku!” “Kau yakin?” Ivan menengok. Seorang pria berkerudung hitam memandangnya. Bibir pria itu tersenyum ramah. Di meja di hadapannya tergeletak aneka bola warnawarni. Ivan memandang pria itu sambil mengerutkan alisnya. Apakah dia peramal? tanya Ivan dalam hati. “Kau ingin melihat apa yang terjadi apabila kau berhenti berjualan kue?” Ragu-ragu, Ivan mengangguk. Ia lalu mengambil bola merah yang disodorkan pria itu. Seketika, tubuhnya terasa ringan, dunia di sekitarnya berputar. Ivan terkesiap. Ia terbangun di sebuah kamar yang terasa asing. Dengan heran, ia menatap Nina dan Danu, adiknya. Mengapa mereka tidur di sini? Ivan menatap sekeliling. Kamar itu sempit, pengap, dan terutama sangat berantakan! Barang-barang miliknya tergeletak di mana saja, sementara tumpukan buku koleksi Nina dan mainan Danu memenuhi sudut-sudut kamar. “Pukul 06.00? Aku terlambat untuk membuat kue!” Ivan segera berdiri dan keluar kamar. “Kamu sudah bangun, Van?” suara Ibu menyapanya. Mata Ivan membelalak lebar melihat kerut-kerut yang bertambah di wajah Ibu dan kelelahan yang tergambar jelas di sana. “Syukurlah. Ibu pergi dahulu, ya. Jangan lupa, antar adik-adikmu ke sekolah.” Ivan termangu. Ia menatap sosok Ibu yang membawa kotak-kotak berisi aneka kue basah. Jadi, tampaknya mereka masih berjualan kue basah. Hanya, kali ini, Ibu tidak meminta bantuannya. Akhirnya, Ivan terbebas dari tugasnya! Lalu, di mana Ayah? Biasanya Ayah yang mengantar Ibu untuk pergi berjualan. Ivan memandang ke sekeliling ruangan. Saat itulah Ivan menatap sebuah foto berbingkai hitam di dekat meja makan. Di dalamnya, wajah lelah ayahnya tersenyum ramah. “Van, nanti siang jangan lupa latihan basket, ya. Minggu depan kita lawan SMP Bina Bangsa.” Ivan hanya mengangguk lesu. Sekarang ia tahu, ia berada di tahun 2022. Tidak ada lagi teman-teman sekelas yang mengejeknya. Malah bisa dikatakan, ia memiliki cukup banyak teman. Nilai-nilainya bukan yang terbaik, tetapi bukan pula yang paling jelek. Ia berhasil masuk tim basket selama dua tahun berturut-turut. Semua tampak sempurna. Namun, mengapa Ivan menyesal berada di tahun ini? Tadi pagi ia mengetahui bahwa ayahnya tidak lagi bersama mereka. Ayah meninggal karena sakit. Kata Ibu, Ayah sering mengabaikan sakit yang dideritanya dan berkeras membantu Ibu. Ayah bahkan menolak tawaran Ibu untuk membayar seorang pekerja. Ayah ingin hasil penjualan kue ditabung untuk biaya kuliah Ivan nanti. “Hai, Van! Apakah Ibumu sudah sembuh? Mamaku ingin pesan kue basah untuk arisan, tetapi Ibumu bilang ia sedang tidak enak badan.” Perkataan Hario menyadarkan Ivan lagi dari lamunannya. Ivan menunduk. Ia teringat wajah menua dan lelah ibunya tadi pagi, bahkan Ibunya tidak mengatakan kepadanya bahwa ia sedang sakit. Ivan menelengkupkan kepala di atas meja. Andai saja penyesalan bisa memutar kembali waktu, ia lebih memilih membantu kedua orang tuanya berjualan kue. Matanya terasa panas. Kepalanya terasa berputar. Ivan mengerjap. Seseorang mengguncang tubuhnya lembut. “Ivan, bangun, Nak.” Ivan memicingkan mata. Ia mengenal suara tegas tetapi lembut itu. “Ayah! Syukurlah!” Ivan segera tersadar dan memeluk ayahnya erat. “Wah, wah, wah …! Tadi kamu mimpi buruk, ya?” Pagi masih gelap saat Ivan melihat ke luar jendela. Ivan tahu ia harus bangun lebih pagi karena mereka mendapat pesanan kue untuk acara pernikahan dan rapat di kantor RW. Memikirkan pesanan kue itu, Ivan melompat dari tempat tidur dengan penuh semangat. “Ayah, Ibu, tahu nggak? Kue-kue basah buatan Ibu ini banyak yang suka, loh!” cerita Ivan. Untuk sesaat, Ayah dan Ibu saling memandang dan menyimpan senyum geli. Mungkin mereka heran melihat Ivan yang tak lagi menggerutu dan malas-malasan saat membantu. “Eih, aku serius loh ini,” tambah Ivan lagi melihat reaksi kedua orang tuanya. “Van, kamu nggak apa-apa, Van?” suara Hario terdengar cemas dan makin jauh. Lalu segalanya gelap. Ayah tergelak. Ia mengusap kepala Ivan dengan lembut, “Tentu saja kami tahu, ini kan resep warisan turun-temurun!” Tepat pukul 05.00, kue-kue basah nan cantik telah siap. Harum manis kue memenuhi rumah. Meski lelah, Ivan merasa bangga melihat kue-kue yang baru ditatanya. Rasanya ia makin mahir menata kue-kue ini. “Van, tolong masukkan setiap jenis ke dalam kotak untuk pesanan kawinan dan Pak RW, ya. Biar Ayah yang menyiapkan untuk dibawa ke pasar. Ibu mau membuat sarapan dahulu sebelum adik-adikmu bangun,” kata Ibu. Ivan mengangguk. Saat memasukkan kue-kue ke dalam setiap kotak, sebuah ide melintas dalam benaknya. Masih ada 30 menit sebelum ia harus bersiap ke sekolah. Ivan mengambil selembar kertas, lalu segera menggambar sebuah kotak berisi aneka kue cantik. “Camilan Cantik Akhir Minggu,” begitu Ivan memberi judul gambar tersebut. Di bagian bawah gambar, Ivan menulis, “Untuk pemesanan, hubungi Ivan – kelas VII B.” 1. Siapakah nama tokoh cerita Bola-Bola Waktu?

16

3.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Persahabatan Kancil dan Paus Di sebuah hutan yang sangat asri, hiduplah seekor Kancil yang bersahabat dengan seekor lkan Paus. Persahabatan tersebut bermula ketika Kancil sedang berjalan di tepi laut dan ada seekor lkan Paus yang terdampar. Karena merasa iba, Kancil pun menolongnya. Akhirnya, lkan Paus itu selamat. Sejak kejadian itu, mereka bersahabat dekat. Paus sering mengajak Kancil menikmati pemandangan laut yang indah. Kancil sangat bahagia bisa naik lkan Paus. Berputar-putar mengelilingi laut yang luas adalah hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Kancil. Pada suatu sore, keduanya sudah berjanji akan bertemu di pinggir pantai. Kancil datang menepati janjinya. Ia pun duduk sambil menunggu Paus datang. Namun, hingga gelap, Paus tidak juga datang. "Mengapa sahabatku, Paus, tidak datang, ya? Tidak biasanya ia mengingkari janji seperti ini," gumam Kancil. "Mungkin Paus sedang ada urusan keluarga. Sebaiknya, aku pulang saja. Hari sudah semakin gelap," kata Kancil sambil meninggalkan tepi pantai. Sesekali ia menoleh ke belakang berharap melihat sahabatnya itu. Sayang, hingga pinggir pantai tak terlihat, Paus tidak juga datang. Kancil pun pulang dengan hati kecewa. Sementara itu, di tengah laut luas ternyata istana para paus tengah dilanda musibah. Raja Paus menderita penyakit yang sangat aneh. Para rakyat paus sibuk mencarikan obat dan tabib untuk menyembuhkan penyakit sang raja. Begitu pula dengan Paus, sahabat Kancil. Ia sibuk berenang ke sana-kemari mencari obat dan tabib yang hebat. "Hmmm ... aku sudah mengarungi laut yang luas ini namun tidak ada satu tabib hebat pun yang kutemui. Jangan-jangan, tabib hebat itu berada di hutan. Ah, mungkin sahabatku Kancil bisa membantuku," kata Paus dalam hati. Menjelang sore, Paus pun pergi ke pinggir pantai, berharap sahabatnya muncul di sana. "Paus! Paus!" terdengar suara Kancil memanggil. Paus senang sekali mendengar suara itu. "Paus, mengapa kemarin kamu tidak datang?" tanya Kancil. "Maaf, Kancil. Saat ini, istana paus sedang dilanda musibah. Raja kami mengalami sakit yang sangat aneh. Semua rakyat paus diperintahkan untuk mencari obat atau tabib untuk mengobati penyakit raja. Kemarin, seharian aku mengelilingi laut mencari obat. Oleh karena itulah, kemarin aku tidak datang. Kancil, apakah kamu punya kenalan tabib yang bisa menyembuhkan Raja Paus?" tanya Paus. "Di hutan, konon ada tabib hebat, tetapi aku tidak tahu rumahnya. Bagaimana kalau besok aku cari tahu dulu. Kalau sudah bertemu, akan kuajak dia ke sini," jawab Kancil. Paus mengangguk senang. Setidaknya ada secercah harapan untuk Raja Paus. Kancil pun pulang. Keesokan harinya, ia mencari tabib hebat itu. Ia mulai memasuki hutan belantara. Hatinya takut namun ia tetap tegar demi membantu sahabatnya. Di tengah jalan, ia bertemu seekor Rusa yang sedang menyirami bunga. "Maaf, Rusa, apa kamu tahu rumah tabib hebat? Aku dengar, rumahnya di dalam hutan ini," kata Kancil membuka pembicaraan. Rusa itu mengangguk. "Kamu tahu? Tolong beri tahu aku, Rusa. Sahabatku, Paus, membutuhkan bantuan tabib itu untuk menyembuhkan Raja Paus yang sedang sakit," pinta Kancil. "Tapi, ada syaratnya! Kamu harus memberikanku semua persediaan makanan musim dinginmu kepadaku. Bagaimana?" Kancil terhenyak. Bila memenuhi syarat itu, ia bisa mati kelaparan saat musim dingin nanti. "Baiklah, tidak apa-apa. Kamu bisa mengambil semua persediaan makanan musim dinginku," jawab Kancil menepiskan kekhawatirannya. Akhirnya, Kancil menyerahkan semua persediaan makanannya kepada Rusa demi menolong Paus, sahabatnya. "Apakah kamu tidak takut kelaparan saat musim dingin nanti, Kancil?" tanya Rusa. "Nanti aku bisa mengumpulkan lagi. Mungkin masih ada sisa sedikit makanan di hutan sebelah. Lagi pula, Paus, sahabatku, sangat membutuhkan tabib itu. Demi me no long sahabatku, aku ikhlas," jawab Kancil. Tiba-tiba sebuah kejadian aneh terjadi di depan mata Kancil. Tubuh Rusa dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang dan ia berubah menjadi seeker Kancil tua. "Hah! Siapa kau?" tanya Kancil ketakutan. "Tenang Kancil, aku adalah tabib yang kamu cari. Aku berubah wujud untuk menguji hatimu. Kamu adalah sahabat yang sangat baik, hatimu sangat lembut dan tulus. Sekarang, mari kita temui temanmu, Paus. Aku akan menyembuhkan penyakit Raja Paus," jawab Tabib. Akhirnya, Kancil dan Tabib itu menemui Paus di pinggir pantai. Dengan menaiki tubuh Paus, Kancil dan Tabib itu berangkat ke istana paus. Setibanya di sana, sang Tabib langsung memeriksa penyakit Raja Paus. Ia lalu memberikan ramuan obat dari bunga hutan untuk diminum. Tidak lama kemudian, Raja Paus sembuh. Seluruh rakyat istana paus bergembira. Sebagai ucapan terima kasih kepada Tabib dan Kancil, Raja Paus memberikan mereka hadiah berupa mutiara laut yang sangat indah. Demikian pula persahabatan Kancil dan Paus pun semakin indah. "Kelinci, apakah kamu punya kenalan tabib yang bisa menyembuhkan Raja Paus?" tanya Paus. "Di hutan, konon ada tabib hebat, tetapi aku tidak tahu rumahnya. Bagaimana kalau besok aku cari tahu dulu. Kalau sudah bertemu, akan kuajak dia ke sini," jawab Kancil. 3. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa .... a. Kancil bersedia membantu Paus. b. Paus suka mengeluh. c. Kancil dan Paus akan mencari rumah tabib. d. Kancil memanjakan Paus.

1

5.0

Jawaban terverifikasi