Rahmat S

11 Desember 2021 09:33

Iklan

Rahmat S

11 Desember 2021 09:33

Pertanyaan

Pelaksanaan politik etis di Indonesia diwujudkan melalui tiga program, yaitu irigasi (pengairan), migrasi (perpindahan penduduk), dan edukasi (pendidikan). Pelaksanaan politik etis dalam bidang pendidikan ditandai dengan .... a. Penutupan Europeesche Lagere School (ELS) untuk anak-anak Eropa b. Pendirian sekolah tingkat rendah bernama sekolah desa (Volkschool) c. Pembukaan Eerste School (Sekolah Angka Satu) untuk anak-anak bangsawan d. Pembukaan Tweede School (Sekolah Angka ains Dua) untuk anak-anak rakyat biasa e. Pembangunan gedung sekolah pendidikan calon guru (Hollandsch Inlandsche Kweekschool)

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

02

:

32

:

10

Klaim

4

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

A. Armanda

Mahasiswa/Alumni Universitas Indraprasta PGRI

19 Desember 2021 23:49

Jawaban terverifikasi

Hai Rahmat S. Kakak bantu jawab ya. Jawaban yang tepat adalah E Untuk lebih jelasnya, simaklah penjelasan berikut ini. Kebijakan atau politik etis mencakup dua bidang: politik dan ekonomi. Dalam bidang politik, para penggagas politik etis menyerukan segera diterapkannya kebijakan desentralisasi. Sementara itu, politik etis dalam bidang ekonomi diterjemahkan dalam apa yang disebut trias van Deventer. Bagaimana persisnya kebijakan ini, mari kita ikuti penjelasan berikut. Penderitaan rakyat Hindia Belanda memicu kritik melalui tulisan dari kaum etis yang dipelopori wartawan koran De Locomotief, Pieter Broosshooft (1845-1921), dan seorang politikus Belanda Conrad Theodore van Deventer (1857-1915).Pada intinya, mereka menyatakan agar pemerintah kolonial Belanda harus lebih memperhatikan nasib pribumi di tanah jajahan dan memiliki tanggung jawab moral terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi. Pada masanya, Broosshooft dikenal sebagai wartawan yang kritis terhadap pemerintah dan masyarakat Belanda. Seperti disebutkan oleh sastrawan lndo-Belanda Rob Nieuwenhuys dalam buku Oost Indische Spiegel (Cermin Hindia Timur), antara 1883 dan 1884 Brooshooft menulis karangan sindiran yang menyoroti sikap tak acuh Eropa di Hindia Belanda ketika terjadi wabah kolera yang menimbulkan banyak korban jiwa di kalangan rakyat pribumi. Mereka baru peduli setelah ada warga kulit putih yang ikut menjadi korban dari penyakit tropis tersebut. Pada tahun 1887, Brooshooft juga melakukan perjalanan berkeliling Pulau Jawa. Terkejut melihat kondisi kehidupan kaum pribumi, ia kemudian menyampaikan imbauan kepada dua belas tokoh terkemuka di Belanda untuk memahami dan memperhatikan "keadaan yang sangat menyedihkan di Hindia Belanda, yang terjadi akibat kebijakan pemerintah Den Haag". Namun, di antara para tokoh penggagas politik etis, Theodore van Deventer-l<:~h yang paling dikenal dan berpengaruh. Van Deventer adalah seorang praktisi hukum di Hindia Belanda yang kemudian menjadi politisi di negeri asalnya. Saat masih menjadi penasihat hukum bagi berbagai perusahaan swasta di Hindia Belanda, van Deventer pernah menulis surat kepada orangtuanya. Ia mengatakan pemerintah Belanda harus melakukan sesuatu demi kesejahteraan kaum pribumi. Beberapa tahun kemudian, van Deventer membuat karangan terkenal dalam majalah De Gids (Panduan) pada tahun 1899. Dalam tulisan berjudul "Een Eereschuld" (Utang Budi) di majalah tersebut, ia menjelaskan Belanda menjadi negara makmur dan aman karena adanya dana yang mengalir dari tanah jajahan. Jadi, sudah sepantasnya Belanda mengembalikannya. Tokoh humanis yang kelak menjadi anggota parlemen dari Partai Liberal itu juga bahkan mendesak dikembalikannya semua dana hasil keuntungan yang diperoleh pemerintah Den Haag dari Hindia Timur (Indonesia) sejak tahun 1867. Kritik mereka, terutama kritik van Deventer, memengaruhi lahirnya politik etis. Dalam pidatonya pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina dengan tegas menyatakan pemerintah Belanda memiliki panggilan moral terhadap kaum pribumi Hindia Belanda. Orasi ratu Belanda dalam sidang pembukaan parlemen itu kemudian umum disepakati sebagai momentum kelahiran paham a tau aliran etis dalam kancah politik kolonial. Ratu Wilhelmina kemudian menuangkan panggilan moral tadi ke dalam apa yang kelak disebut trias van Deventer, yang meliputi sebagai berikut. 1) Irigasi (pengairan), yaitu membangun dan memperbaiki pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian. 2) Migrasi, yaitu mendorong transmigrasi sehingga terjadi keseimbangan jumlah penduduk. 3) Edukasi, yaitu menyelenggarakan pendidikan dengan memperluas bidang pengajaran dan pendidikan. Oleh sebab itu maka langkah pertama yang diambil adalah dengan membangun sekolah pendidikan calon guru (Hollandsch Inlandsche Kweekschool) Semoga bermanfaat.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

29

5.0

Jawaban terverifikasi