Nurazizah S

30 September 2024 04:26

Iklan

Nurazizah S

30 September 2024 04:26

Pertanyaan

No. 2 Tabel 1. Persentase penggunaan mobil pribadi menurut daerah tempat tinggal. Daerah tempat tinggal Perkotaan perdesaan tahun 2008 10.100 1.222 2009 12.500 1552 2010 15.100 2467 2011 15.700 2365 2012 16.600 3458 Jika pada tahun 2010 jumlah sebenarnya 10% lebih kecil dari data yang tertera karena terjadi kesalahan pendataan. Maka penggunaan mobil pribadi terbanyak ketiga baik perkotaan maupun perdesaan terjadi pada tahun .... A. 2008 Β. 2009 C. 2010 D. 2011 Ε. 2012

No. 2

Tabel 1. Persentase penggunaan mobil pribadi menurut daerah tempat tinggal.

Daerah tempat tinggal

Perkotaan

perdesaan

tahun

2008

10.100

1.222

2009

12.500

1552

2010

15.100

2467

2011

15.700

2365

2012

16.600

3458

Jika pada tahun 2010 jumlah sebenarnya 10% lebih kecil dari data yang tertera karena terjadi kesalahan pendataan. Maka penggunaan mobil pribadi terbanyak ketiga baik perkotaan maupun perdesaan terjadi pada tahun ....

A. 2008

Β. 2009

C. 2010

D. 2011

Ε. 2012

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

20

:

07

:

44

Klaim

0

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Strategi Ekonomi Indonesia Atasi Dampak Covid-19 [...] Selain sedang berusaha menghadapi penyebaran virus corona di dalam negeri, Indonesia tidak dapat lepas dari dinamika perekonomian global. Seperti diketahui semua negara saat ini juga masih fokus menangani wabah Covid-19 yang pada akhirnya mengganggu kepercayaan investor, sektor pariwisata/travel, supply chain dan pasar keuangan. Prospek pelemahan ekonomi global tersebut diperparah lagi dengan kecenderungan pelemahan harga minyak mentah global. Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Komite Stabiltas Sektor Keuangan (KSSK) yang terdi dari Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS, melakukan ossessment untuk memperkirakan skenario berat dan terberat yang mungkinakan kita hadapi akibat dar dampak Covid-19 pada ekonomi lndonesia. [Tabel data: Presentasi Sri Mulyani] Berdasarkan pemaparan Sri Mulyani, hasil dari assessment tersebut, maka untuk skenario berat, ekonomi Indonesi hanya akan tumbuh 2,3% atau turun 3% dibanding asumsi APBN 2020, dengan nilai tukar rupiahnya 12.500/dolar. Dan skenario sangat berat adalah ekonomi Indonesia dapat mengalami penurunan atau minus 0,4% dengan nilai tukar rupiah mencapai 20.000/dolar Sebagai perbandingan pada krisis keuangan 2008, kondsi aktual yang terjadi pada tahun 2009, ekonomi Indonesia masih mampu bertumbuh diangka 4,6% atau turun 1,4%. Mengapa skenario ini cenderung lebih pasrah dibanding 2008? Karena kala itu Indonesia masih mampu menahan dampaknya pada struktur ekonomi yang sebagian besar ditopang oleh sektor konsumsi domestik. Dan memang pada waktu itu, masyarakat di daerah masih tetap beraktitas normal, demikian juga UKM yang tidak berhubungan dengan ekspor impor masih tergolong beroperasi normal. Di berbagai daerah, penanda dan petugas kepolisian dibantu TNI memberikan imbauan agar masyarakat menghindari kumpul di warung atau tempat makan minum dengan tujuan agar penyebaran covid-19 dapat dikontrol. Sebagai gambaran di 2019 sendiri, konsumsi rumah tangga menopang Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 56,82% sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jika melihat lebih dalam lagi dari assessment yang dilakukan oleh KSSK disebutkan juga bahwa konsumsi rumah tangga yang semula berdasarkan asumsi APBN 2020 ci angka 5,0% turun menjadi 3,22% pada skenario berat dan menjadi hanya 1,6% dengan skenario sangat berat. Sebagai gambaran, saat ini ada 7 juta warga negara Indonesia yang masih belum mendapatkan pekerjaan (pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi 5% itu setara dengan penciptaan lapangan keja untuk 2 juta hingga 2,5 juta warga negara Indonesia. Antisipasi pada Skenario Walaupun hasil assessment yang dilakukan oleh KSSK ini terlihat begitu menakutkan Sri Mulyani menekankan bahwa justru asumsi ini akan menjadi patokan agar jangan sampai skenario terburuk atau sangat berat terjadi. Itulah mengapa pemerintah berusaha mengeIuarkan beberapa kebijakan dan stimulus untuk mengurangi dampak dari wabah pandemi Covid-19. Pada 1 April 2020, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Perppu tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabiitas Sistem Keuangan, dimana diputuskan pemerintah menambah belanja dan pembiayaan anggaran untuk menangani dampak Covid-19, yaitu sebesar Rp405,1 triliun. [Tabel Belanja dan Anggaran untuk mengatasi dampak Covid-19] Sesuai dengan penjelasan di halaman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, detail dari penggunaan Anggaran tersebut sebagai berikut: Prioritas ke-1 untuk kesehatan sebesar Rp75 triliun, terutama untuk insentif tenaga medis dan belanja penanganan kesehatan. Prioritas ke-2 untuk social safety net akan diperluas sebesar Rp110 trilun. Prioritas ke-3 adalah dukungan kepada industri senilai Rp70 triliun (pajak, bea masuk, KUR). Prioritas ke-4 adalah dukungan pembiayaan anggaran untuk program pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp150 tiliun. [...] (Yossy Girsang, Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal-Tim Ekonomi Tagor) Kesimpulan yang SALAH berdasarkan informasi di atas adalah .... A. Penurunan ekonomi untuk skenario berat akan lebih buruk 2,1 kali dibanding aktual yang terjadi di 2009 B. untuk skenario sangat berat dampaknya lebih buruk 4,1 kali dibanding krisis ekonomi 2008-2009. C. Kondisi ekonomi akibat COVID-19 lebih buruk bila dibandingkan krisis 2008 D. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan tidak sampai 1,5% sehingga memperparah dampak pelemahan ekonomi. E. Wabah Covid-19 menyebabkan menurunnya kepercayaan investor, sektor pariwisata/travel, supply chain, pasar keuangan, hingga pelemahan pelemahan harga minyak mentah global.

2

0.0

Jawaban terverifikasi

Perhatikan teks di bawah ini untuk menjawab soal nomor 1 sampai nomor 4. Dunia sepakbola Indonesia bagai dihantam badai yang tak berkesudahan. Setelah melanggar regulasi FIFA (Federation lnternationale de Football Association) karena pemerintah melakukan intervensi terhadap PSSI pada musim 2011 - 2012, kini hadir kembali isu pengaturan skor yang diduga melibatkan eksekutif PSSI dan perangkat pertandingan, termasuk wasit. Tingginya tingkat kasus bernada negatif yang melanda sepakbola negeri ini sejalan dengan minimnya prestasi Indonesia dalam kancah internasional, baik Timnas Indonesia maupun klub yang berlaga di AFC Cup ataupun AFC Champions Cup. Dilihat dari grafik timnas Indonesia di level dunia sejak 1993 (tahun dimulainya survei) hingga 2019, dunia persepakbolaan Indonesia menunjukkan tren negatif. Antusiasme yang ditunjukkan masyarakat pun turun melihat sepakbola Indonesia yang carut - marut dan nirgelar. Sikap skeptis kerap kali muncul saat membicarakan sepakbola Indonesia. Publik terkesan lebih menyukai pembicaraan mengenai liga - liga Eropa seperti EPL (English Premier League), La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1. Saat diskusi diarahkan ke liga Indonesia antusiasme diskusi meredup, persis yang terjadi di ltalia pada tahun 2006. Dahulu, ltalia mempunyai liga dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Diisi dengan pemain - pemain top dunia seperti Ronalda Nazario (lnternazionale), Paulo Maldini (AC Milan), dan David Trezeguet (Juventus), publik seakan terpukau dengan kualitas permainan tim - tim Serie A (liga kasta tertinggi ltalia). Namun, sejak skandal pengaturan skor (Calciopoli) terkuak di Serie A, kepercayaan publik meredup. Secara cepat, tingkat komersialisasi Serie A disalip oleh liga lnggris yang melakukan "ekspansi" bisnis besar- besaran, La Liga yang menghadirkan dua pemain terbaik dunia dengan bumbu rivalitas diatasnya, dan Bundesliga yang kerap memberikan kejutan di tiap laga kontinental, baik Europe League maupun Champions League. Gejolak perpolitikan sepakbola yang sulit ditarik akar masalahnya menjadi sebab musabab kacaunya dunia sepakbola di Indonesia terjadi. Jika mengamati isu belakangan, salah satu acara talkshow Mata Najwa mengangkat tema "Revolusi PSSI". Alasan dibalik timbulnya gerakan revolusi ini tak lain adalah PSSI yang kini memegang hak dan kewajiban sebagai regulator sepakbola Indonesia, dianggap tidak mampu memajukan prestasi liga dan Timnas Indonesia. Publik semakin gerah ketika mengetahui bahwa terdapat conflict of interest dari para executive coordinator atau exco yang menguasai aset tim di Liga 1 Indonesia. Dikarenakan governing body PSSI yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, penyelesaian konflik kerap lebih suiit. Lalu bagaimanakah strategi memajukan persepakbolaan Indonesia dengan cara yang sustainable seperti liga - liga Eropa ? mari kita ulas dalam pendekatan ekonomi dan manajemen. Untuk mengembangkan sepakbola dalam segi ekonomi, kita tidak dapat secara langsung menerapkan teori ekonomi klasik untuk mengatasi masalah - masalah yang ada, seperti supply- demand pemain sepakbola, market value suatu klub dan ticketing suatu pertandingan sepakbola. Perlu dilakukan pendekatan yang berbeda, dikarenakan ekonomi sepakbola memiliki struktur yang asimetris, inelastis, dan terkadang irasional (Terekli, 2018). Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas'~ Di sisi lain, pendapatan dari varia bel yang ada, seperti tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran live broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerjaan yang profesional. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis. Transparansi finansial juga perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia belum diterapkan karena masyarakat atau pihak- pihak terkait tidak dapat diakses secara publik. Setelah menganalisis elemen - elemen yang penting dalam pengembangan ekonomi sepakbola, tahap - tahap yang mantap atau distinguished juga perlu diterapkan. Hal ini dikarenakan kemajuan yang berkelanjutan tidak dapat hadir dalam semalam. Mengutip perkataan Prof.Dr.Simon Chadwick dalam tulisan Amal Ganesha (2014), fase perkembangan industri olahraga dimulai dari amatir, profesional, lalu komersialisasi. Di Indonesia, pengembangan pemain muda yang sudah cukup baik (dilihat dari prestasi Timnas Indonesia U-16 hingga U - 23) tidak dijembatani secara serius oleh klub - klub di Indonesia, sehingga saat fase profesional di klub, pemain muda Indonesia sulit berkembang dan kalah bersaing dengan pemain impor dari Brazil, Spanyol, Jepang, dan lainnya. Selain elemen pertama yaitu pemain, ada juga elemen kedua yang penting, yaitu infrastruktur. lnfrastruktur, seperti kualitas lapangan dan fasilitas pendukung ruang ganti dan bangku tim cadangan dan jajaran pelatih berpengaruh pula dalam menunjang kualitas permainan. Riset membuktikan (De Bosscher et all 2009). bahwa semua good performers dalam dunia olahraga memiliki standar infrastruktur olahraga yang sangat baik. Di Negara berkembang beriklim tropis seperti Brazil, lapangan sepakbola dibuat rata dan memiliki kualitas rumput yang baik. Ketiga, klub perlu melakukan langkah independensi dengan perlahan lepas dari bantuan finansial pemerintah daerah. Di Belanda, lnggris, Spanyol, Jerman, dan ltalia, klub - klub sudah lepas dari bantuan pemerintah daerah. Shifting dari public sector football club menjadi private sector football club memberikan pintu bagi klub untuk mandiri, seperti meraih sponsor dengan memperlihatkan kualitas permainan sehingga mampu bersaing di Liga. Terakhir dan paling utama adalah menciptakan engagement ke para supporter. Di Indonesia, supporter tidaklah menjadi suatu masalah karena Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam persentase penggemar sepakbola terbesar di dunia dengan 77 persen. Indonesia hanya kalah dari Nigeria yang mencapai 83 persen. Dengan estimasi penduduk berjumlah 264 juta pada 2017, pangsa pasar penggemar sepakbola Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Pegiat sepakbola dan pemerintah perlu meningkatkan kembali animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola Indonesia dengan menyuguhkan sepakbola indah yang mampu bersaing di ranah internasional. Demikian, realistis atau utopis, kini tergantung kepada governing body PSSI yang memiliki kuasa dalam regulasi sepakbola Indonesia. Publik memiliki andil yang besar dalam menekan PSSI untuk merevolusi dirinya sendiri, karena alasan lex specialis. Namun, jika s-udah tidak ada cara lain, lex sportive semestinya patut dilaksanakan demi menciptakan governing body yang mengerti akan pentingnya komersialisasi sepakbola Indonesia yang berdampak pada hajat orang banyak ini. 4. Pernyataan yang TIDAK MENDUKUNG berdasar- kan paragraf 4 adalah .... A. Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas" B. Transparansi finansial perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy C. Pendapatan dari tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran jive broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerja an yang profesional D. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis E. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia sudah diterapkan karena masyarakat atau pihak - pihak terkait dapat diakses secara publik

2

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

PINGGIRAN MENAHAN MIGRASI KE JAKARTA Setelah libur perayaan lebaran usai, dipastikan Jakarta akan dibanjiri pendatang dari luar. Namun dalam kurun waktu enam tahun terakhir, beban Jakarta untuk menampung arus urbanisasi cenderung berkurang. Arus migrasi masuk cenderung turun meski sempat terjadi lonjakan pendatang sebulan setelah idul fitri. Dari data survei Penduduk Antarsensus (Supas) 1995 diketahui sebanyak 33 persen penduduk masuk ke wilayah Jakarta Timur dan 24 persen ke wilayah Jakarta Barat. Sisanya, para migran masuk ke wilayah pusat, utara, dan selatan dengan persentase masing-masing di awah 20 persen. Selama 1971-2000, Bdan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren migrasi yang masuk ke Jakarta cenderung meningkat. Angka migrasi keluar pun meningkat. Kecenderungan penurunan pendatang baru terjadi pada tahun 2005. Tahun 1971, hasil sensus penduduk menunjukkan sekitar 1,8 juta penduduk masuk ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan, hanya 132.000 penduduk yang bermigrasi keluar. Tahun 2000, pendatang meningkat dua kali lipat (sekitar 3,5 juta), sebaliknya 1,83 juta penduduk keluar dari Jakarta. Baru pada tahun 2005, hasil Supas menunjukkan bahwa angka migrasi masuk turun menjadi 3,3 juta jiwa dan migrasi keluar meningkat menjadi 2,05 juta jiwa. Penurunan pendatang selanjutnya juga tercatat oleh Disdukcapil DKI Jakarta. Selama 2008-2010, terjadi penurunan 30 persen penduduk yang datang ke Jakarta. Tahun 2008 masih terdapat sekitar 39.000 pendatang. Dua tahun berikutnya menjadi 30.000 pendatang. Penurunan arus migrasi masuk bukan berarti GULA Jakarta sudah berkurang manisnya. Pengaruh urbanisasi yang cukup deras sejak tahun 1971 sampai 2000 pada akhirnya juga ikut memengaruhi perkembangan daerah sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kepadatan ruang di Jakarta mengakibatkan sebagian kaum urban tinggal di wilayah pinggiran Jakarta untuk mencari tempat tiggal yang lebih layak dan luas. Selain itu, industri yang menjamur di daerah pinggiran Jakarta juga banyak menarik tenaga kerja secara khusus dan penduduk secara umum untuk bermigrasi di wilayah tersebut. Akibatnya, laju pertumbahan penduduk di wilayah penyangga Jakarta cenderung tinggi. Periode 1971-1980, laju pertumbuhan penduduk Jakarta sekitar 5,4 persen per tahun. Namun, periode 2000-2010, laju itu menurun tajam menjadi 1,42 persen. Berbeda dengan Jakarta, pertumbuhan penduduk di wilayah pinggiran Jakarta cenderung tinggi. Selama 2005-2010, angka pertumbuhan penduduk di wilayah administrasi di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi berkisar antara 2 persen dan 5,5 persen. Disarikan dari internasional.kompas.com edisi 12 September 2011, diakses 6 Januari 2014, 05.30 WIB PERTANYAAN 1. Apa fenomena kependudukan yang kamu amati dari artikel di atas? 2. Dimana fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 3. Mengapa fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 4. Kapan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 5. Siapa yang terlibat dalam fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 6. Bagaimana penyelesaian permasalahan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi?

1

0.0

Jawaban terverifikasi

PINGGIRAN MENAHAN MIGRASI KE JAKARTA Setelah libur perayaan lebaran usai, dipastikan Jakarta akan dibanjiri pendatang dari luar. Namun dalam kurun waktu enam tahun terakhir, beban Jakarta untuk menampung arus urbanisasi cenderung berkurang. Arus migrasi masuk cenderung turun meski sempat terjadi lonjakan pendatang sebulan setelah idul fitri. Dari data survei Penduduk Antarsensus (Supas) 1995 diketahui sebanyak 33 persen penduduk masuk ke wilayah Jakarta Timur dan 24 persen ke wilayah Jakarta Barat. Sisanya, para migran masuk ke wilayah pusat, utara, dan selatan dengan persentase masing-masing di awah 20 persen. Selama 1971-2000, Bdan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren migrasi yang masuk ke Jakarta cenderung meningkat. Angka migrasi keluar pun meningkat. Kecenderungan penurunan pendatang baru terjadi pada tahun 2005. Tahun 1971, hasil sensus penduduk menunjukkan sekitar 1,8 juta penduduk masuk ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan, hanya 132.000 penduduk yang bermigrasi keluar. Tahun 2000, pendatang meningkat dua kali lipat (sekitar 3,5 juta), sebaliknya 1,83 juta penduduk keluar dari Jakarta. Baru pada tahun 2005, hasil Supas menunjukkan bahwa angka migrasi masuk turun menjadi 3,3 juta jiwa dan migrasi keluar meningkat menjadi 2,05 juta jiwa. Penurunan pendatang selanjutnya juga tercatat oleh Disdukcapil DKI Jakarta. Selama 2008-2010, terjadi penurunan 30 persen penduduk yang datang ke Jakarta. Tahun 2008 masih terdapat sekitar 39.000 pendatang. Dua tahun berikutnya menjadi 30.000 pendatang. Penurunan arus migrasi masuk bukan berarti GULA Jakarta sudah berkurang manisnya. Pengaruh urbanisasi yang cukup deras sejak tahun 1971 sampai 2000 pada akhirnya juga ikut memengaruhi perkembangan daerah sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kepadatan ruang di Jakarta mengakibatkan sebagian kaum urban tinggal di wilayah pinggiran Jakarta untuk mencari tempat tiggal yang lebih layak dan luas. Selain itu, industri yang menjamur di daerah pinggiran Jakarta juga banyak menarik tenaga kerja secara khusus dan penduduk secara umum untuk bermigrasi di wilayah tersebut. Akibatnya, laju pertumbahan penduduk di wilayah penyangga Jakarta cenderung tinggi. Periode 1971-1980, laju pertumbuhan penduduk Jakarta sekitar 5,4 persen per tahun. Namun, periode 2000-2010, laju itu menurun tajam menjadi 1,42 persen. Berbeda dengan Jakarta, pertumbuhan penduduk di wilayah pinggiran Jakarta cenderung tinggi. Selama 2005-2010, angka pertumbuhan penduduk di wilayah administrasi di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi berkisar antara 2 persen dan 5,5 persen. Disarikan dari internasional.kompas.com edisi 12 September 2011, diakses 6 Januari 2014, 05.30 WIB PERTANYAAN 1. Apa fenomena kependudukan yang kamu amati dari artikel di atas? 2. Dimana fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 3. Mengapa fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 4. Kapan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 5. Siapa yang terlibat dalam fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 6. Bagaimana penyelesaian permasalahan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi?

1

0.0

Jawaban terverifikasi