Rahmat S

25 Februari 2022 13:15

Iklan

Rahmat S

25 Februari 2022 13:15

Pertanyaan

Meretas Jejak Maritim Sriwijaya Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim pada masanya. Aktivitasnya hingga ke Tiongkok, Asia Tenggara, dan Madagaskar di Afrika. Selain perdagangan, kerajaan ini pun memiliki tentara maritim yang kuat. Sesungguhnya, tradisi melaut sudah ada jauh sebelum Kerajaan Sriwijaya berdiri. Sebuah papan perahu sepanjang 1 0,7 meter ditemukan dari areal penggalian di lahan pertanian Desa Margomulyo, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komiring Ulu, Provinsi Sumatra Selatan. Lahan yang berada di dalam kawasan situs Air Sugihan di sebelah timur laut Kota Palembang ini dulunya adalah lahan gambut bekas rawa-rawa. Tidak jauh dari situ, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Arkenas) menemukan kayu bekas palang kemudi perahu. Temuan-temuan berikutnya berupa gading atau bagian penguat rangka perahu, papan perahu bagian haluan dan buritan, dayung, pasak, serta ij uk. Serangkaian temuan yang diangkat pada April 20 1 1 lalu ini semakin memperjelas rangkaian cerita temang peradaban yang sudah berkembang di pantai timur Sumatra Selatan. Peradaban ini sudah berkembang pada abad III-V Masehi, sebelum Kerajaan Sriwijaya berkuasa pada abad VII-XII Masehi. Menurut Agustijanto Indradjaya, ketua tim peneliti Puslitbang Arkenas, bukti peradaban pada masa itu bisa ditemukan dari beberapa situs seperti Situs Karangagung (di sebelah utara Sungai Musi) , Air Sugihan, dan situs Kota Kapur (Bangka) . Dari hasil temuan berupa manikmanik perhiasan dan artefak benda emas yang sama dengan temuan di Situs Oc-eo (Vietnam) , diperkirakan sudah ada hubungan dagang pada abad III-V Masehi. Peradaban di pantai timur Sumatra ini j uga disebutkan dalam berita Tiongkok yang beredar pada abad III Masehi. Berita ini menyebutkan adanya kerajaarr bernama Ko-Ying di pantai timur Sumatera. Kerajaan ini dikabarkan sangat kuat, penduduknya banyak, dan memiliki komoditas berharga, seperti mutiara, emas, batu giok, kristal, dan pinang. Ko-Ying yang lokasinya disebut dekat jalan masuk Selat Malaka. Berita Tiongkok yang lebih muda usianya, yaitu dari abad V-VI Masehi menyeburkan nama Kantoli sebagai kerajaan di sebelah timur pantai Sumatra. Kantoli ini diperkirakan sebagai penerus Ko-Ying. Pada masanya, Ko-Ying dan Kamoli ini sudah terlibat dalam jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Jalur perdagangan Dari berbaga catatan arkeologis yang ada, masyarakat lokal di sepanjang Air Sugihan telah diakui sebagai organisasi sosial di tingkat kerajaan dan terlibat dalam j alur perdagangan. Temuan kapal di Air Sugihan sedikit menggambarkan bahwa mereka sudah mengenal perdagangan antarpulau. Keberadaan permukiman di masa itu bisa dilihat dari temuan tiang-tiang pancang kayu nibung di situs Karangagung dan situs Air Sugihan. Berdasarkan uj i karbon C- 1 4 menunj ukkan tiang nibung di Karangagung berasal dari a bad III-IV Masehi. Semen tara di Air Sugihan berasal dari abad XIII Masehi. Masyarak:at lokal di sepanjang Air Sugihan ini bermukim di anak:-anak: sungai yang alirannya tidak begitu deras. Diperkirak:an, daerah ini aman untuk bermukim. sementara, dilihat dari pendekatan arkeologi permukiman, keberadaan situs di Air Sugihan, seperti disebut dalam buku Ekspedisi Sriwijaya yang dikeluarkan Balai Arkeologi Palembang, permukiman itu dibangun untuk mendekatkan diri dengan sumber daya lingkungan yang bernilai ekonomis di masa itu. Hutan rawa tropis di Air Sugihan mengandung sumber hayati, baik hewan maupun tumbuhan yang dapat diperdagangkan di pasar internasional. Meski masih belum ditemukan bukti keterhubungan antara Ko-ying dan Kantoli dengan Sriwajaya, para ahli arkeologi memperkirak:an Kerajaan Sriwijaya memiliki benang merah dengan kedua kerajaan tersebut. Bambang Budi Utomo, arkeolog ahli kebudayaan Hindu-Buddha yang banyak: meneliti peninggalan Sriwijaya, menyebutkan, pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Kota Palembang. Sepertiga dari kota ini, kata Bambang, merupak:an bekas bangunan Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya awalnya sebuah permukiman yang lalu berkembang pesat menjadi sebuah kota. Permukiman itu awalnya didirikan Dapunta Hyang sekitar abad VII. Ada yang menyebut, Dapunta Hyang ini adalah penduduk lokal, tetapi ada j uga yang memperkirak:an seorang pendatang yang berdagang. Penghuni di Pulau Sumatra ini adalah para penutur Austronesia yang bermigrasi dari Taiwan. Mereka berpindah ke Sulawesi, Kalimantan, lalu ke Sumatra dan Jawa. Para penutur Austronesia ini menguasai pertanian dan maritim. Temuan sisa perahu di Air Sugihan menunj ukkan bahwa masyarakat kuno di situ sejak: lama menjadi pelaut. Beberapa ahli menduga, pada masa itu mereka telah mampu mengorganisasikan diri sehingga wilayahnya berJ..cembang menjadi sebuah / pelabuhan penghubung dan gudang bagi berbagai komoditas dagang bagi kepentingan Tiongkok, India, dan N usantara. Dengan teknologi kapal yang dimiliki, mereka berperan dalam perdagangan lndiaTiongkok melalui Selat Malak:a. Meskipun Tiongkok sudah memiliki teknologi kapal, pada masa itu jangkauannya hanya di sekitar Laut Tiongkok Selatan. Sumber: http :I! regional. kompas. com/read/20 I I /0811 3/03I4I2I 0/Meretas.]ejak.Maritim. Sriwijaya diunduh pada 1 0 Februari 20 1 7. Analisis dan diskusikan artikel tersebut dengan ternan sebelah Anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Jelaskan keterkaitan antara budaya maritim masyarakat Nusantara dengan berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia!

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

07

:

39

:

24

Klaim

6

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

W. Setyaningsih

05 Maret 2022 01:45

Jawaban terverifikasi

Halo Rahmat S, kakak bantu jawab ya. keterkaitan antara budaya maritim dengan berdirinya kerajaan-kerajaan di Nusantara adalah aktivitas budaya maritim sangat berpengaruh terhadap berdirnya kerajaan. Untuk lebih jelasnya, yuk pahami pejelasan berikut. Perdagangan antar pulau merupakan salah satu budaya masyarakat maritim. Perdagangan ini dilakukan oleh pedagang Nusantara dan pedagang India maupun China. Aktivitas perdagangan ini menjadikan suatu tempat menjadi ramai, salah satunya Selat Malaka. Selat Malaka menjadi jatungnya perdagangan Internasional di Asia Tenggara karena ramainya aktivitas perdagangan yang terjadi. Dengan ramainya selat Malaka, banyak yang singgah di sekitar wilayah tersebut dan membentuk suatu kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat itu terus berkembang hingga membentuk suatu kerajaan seperti Sriwijaya yang bertumpu pada sektor maritim. Semoga membantu ya.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

29

5.0

Jawaban terverifikasi