Rahmat S

17 April 2022 00:59

Iklan

Rahmat S

17 April 2022 00:59

Pertanyaan

Menganalisis Perbedaan Sistem Pendidikan di Indonesia pada Masa Kolonial Belanda dan Pendudukan Jepang Pendidikan pada masa kolonial Belanda berbeda dengan masa pendudukan Jepang. Dalam kegiatan ini Anda diminta menganalisis perbedaan sistem pendidikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Untuk mengerjakan tugas ini, ikuti petunjuk berikut. 1. Carilah informasi dari berbagai literatur seperti buku dan laman internet. 2. Analisislah perbedaan sistem pendidikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang berdasarkan informasi-informasi yang Anda temukan. Tulislah hasil analisismu ke dalam buku !

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

18

:

58

:

28

Klaim

3

3

Jawaban terverifikasi

Iklan

P. Rafika

17 April 2022 23:18

Jawaban terverifikasi

Halo Rahmat, kakak bantu jawab ya. Pada masa pendudukan Jepang, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan secara signifikan dibanding masa penjajahan Belanda. Selain itu, pelajar saat itu diharuskan untuk menghormati adat istiadat Jepang, serta beberapa adanya program yang diarahkan untuk kepentingan perang. Untuk lebih detailnya, yuk simak penjelasan berikut. Pendidikan pada masa pemerintah Kolonial Belanda mulai diberikan kepada bumiputera pada awal abad XX, tepatnya pada 1901. Hal ini berkaitan dengan diberlakukannya politik etis, yaitu edukasi. Edukasi ini memberikan kesempatan pendidikan kepada bumiputera untuk duduk di sekolah-sekolah Eropa. Kaum konservatif Belanda bermaksud untuk mendapatkan tenaga administrasi berupah murah dari hasil kebijakan edukasi ini. Meski pada faktanya hanya sedikit bumiputera yang mendapatkan kesempatan pendidikan namun dari kebijakan inilah muncul kesadaran akan pentingnya pendidikan. Biasanya yang mendapat kesempatan pendidikan tersebut adalah putera-putera priyayi serta pegawai Belanda. Selain itu, muncul pula kalangan terdidik dan terpelajar yang berperan penting pada masa pergerakan nasional. Kebijakan politik etis berdampak pada tumbuhnya sekolah-sekolah. Pada tahun 1900, tercatat sebanyak 169 Eurepese Lagere School(ELS) di seluruh Hindia Belanda. Dari sekolah ini murid-murid dapat melanjutkan pelajaran ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) ke Batavia atau Hoogeree Burgelijk School (HBS). Di samping itu juga dikenal sekolah OSVIA (sekolah calon pegawai) yang berjumlah enam buah. Untuk memperluas program pendidikan maka keberadaan sekolah guru sangat diperlukan. Dikembangkan sekolah guru. Sebenarnya Sekolah Guru atau Kweekkschool sudah dibuka pada tahun 1852 di Solo. Berkembanglah pendidikan di Indonesia sejak jenjang pendidikan dasar seperti Hollands Inlandse School (HIS) kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Untuk kelanjutan pendidikannya kemudian dibuka sekolah menengah yang disebut Algemene Middelbare School (AMS), juga ada sekolah Hogere Burger School (HBS). Kemudian khusus untuk kaum pribumi disediakan “Sekolah Kelas Satu” yang murid-muridnya berasal dari anak-anak golongan atas yang nanti akan menjadi pegawai, dan kemudian rakyat pada umumnya disediakan “Sekolah Kelas Dua” yang di Jawa dikenal dengan “Sekolah Ongko Loro”. Bagi para pemuda aktifis banyak yang bersekolah di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang berpusat di Batavia. Pemerintah pendudukan Jepang membatasi kegiatan pendidikan. Jumlah sekolah dikurangi secara drastis. Jumlah sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 institusi. Sekolah lanjutan menurun dari 850 menjadi 20 institusi. Kegiatan perguruan tinggi boleh dikatakan macet. Jumlah murid sekolah dasar menurun 30% dan jumlah siswa sekolah lanjutan merosot sampai 90%. Begitu juga tenaga pengajarnya mengalami penurunan secara signifikan. Muatan kurikulum yang diajarkan juga dibatasi. Mata pelajaran bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran utama, sekaligus sebagai bahasa pengantar. Kemudian, bahasa Jepang menjadi mata pelajaran wajib di sekolah. Selain itu, para pelajar harus menghormati budaya dan adat istiadat Jepang. Mereka juga harus melakukan kegiatan kerja bakti (kinrohosyi). Kegiatan kerja bakti itu meliputi, pengumpulan bahan-bahan untuk perang, penanaman bahan makanan, penanaman pohon jarak, perbaikan jalan, dan pembersihan asrama. Para pelajar juga harus mengikuti kegiatan latihan jasmani dan kemiliteran. Mereka harus benar-benar menjalankan semangat Jepang (Nippon Seishin). Disamping itu, para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo, menghormati bendera Hinomaru dan melakukan gerak badan (taiso) serta seikerei. Akibat keputusan pemerintah Jepang tersebut, membuat angka buta huruf menjadi meningkat. Oleh karena itu, pemuda Indonesia mengadakan program pemberantasan buta huruf yang dipelopori oleh Putera. Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang mengalami kemunduran. Kemunduran pendidikan itu juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah Jepang yang lebih berorientasi pada kemiliteran untuk kepentingan pertahanan Indonesia dibandingkan pendidikan. Semoga membantu ya...


Iklan

Muh R

12 Februari 2024 23:21

tulislah hasil analisis dalam bentuk esai 3-4 halaman tentang perbedaan sistem pendidikan di indonesia pada masa kolonial belanda dan pendudukan jepang


Leflian W

03 Februari 2025 09:28

Menganalisis perbedaan sistem pendidikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda dan penduduk Jepang


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

28

5.0

Jawaban terverifikasi