Kayla A
11 September 2022 14:24
Iklan
Kayla A
11 September 2022 14:24
Pertanyaan
2
2
Iklan
Woro W
12 September 2022 08:07
Kronologi Perang Pattimura
Pada Mei 1817, rakyat Maluku mulai membuat beberapa pertemuan untuk membahas strategi dan konsep perlawanan terhadap Belanda.
Dalam pertemuan 14 Mei 1817, rakyat Maluku mengangkat sosok Thomas Matulessy yang merupakan bekas tentara Korps Ambon sebagai pemimpin pergerakan dengan sebutan Kapiten Pattimura.
Setelah dilantik, Pattimura kemudian memilih beberapa orang untuk membantunya berjuang melawan Belanda yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Christina Martha Tiahahu, dan Paulus Tiahahu.
Pada 15 Mei 1817, operasi penyerangan pos-pos dan benteng Belanda di Saparua dimulai oleh Kapiten Pattimura bersama Philips Latumahina, Lucas Selano dan pasukannya.
Operasi yang dikenal dengan Perang Saparua tersebut berhasil merebut benteng Duurstede dan menewaskan kepala residen Saparua bernama Van den Berg beserta pasukannya.
Pada tanggal 20 Mei 1817 diadakan rapat raksasa di Haria untuk mengadakan pernyataan kebulatan tekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda yang dikenal dengan nama Proklamasi Portho Hari.
Di waktu yang sama, Belanda juga melancarkan serangan balik dengan mengerahkan 300 pasukan dari Ambon yang dipimpin oleh Mayor Beetjes untuk merebut kembali benteng Duurstede yang kemudian disebut dengan ekspedisi Beetjes.
Upaya Mayor Beetjes tersebut nyatanya dapat digagalkan oleh Kapiten Pattimura dan pasukannya.
Kemenangan dalam pertempuran lain juga didapatkan oleh Pattimura di sekitar pulau Seram, Hatawano, Hitu, Haruku, Waisisil dan Larike.
Pada tanggal 4 Juli 1817 sebuah armada kuat Belanda yang dipimpin Overste de Groot berangkat menuju Saparua dengan tugas menjalankan vandalisme.
Wilayah Hatawano dibumihanguskan dan Belanda memulai berbagai siasat termasuk berunding, serang mendadak, aksi vandalisme, dan adu domba yang dijalankan silih berganti.
Belanda juga melancarkan politik pengkhianatan terhadap Kapiten Pattimura dan para pembantunya.
Pada tanggal 11 November 1817 dengan didampingi beberapa orang pengkhianat, Letnan Pietersen berhasil menyergap Kapiten Pattimura dan Philips Latumahina saat berada di Siri Sori.
Dilansir dari buku Kapitan Pattimura (1985) karya I.O Nanulaitta, disebutkan bahwa Kapiten Pattimura dikhianati oleh raja Booi dari Saparua.
Ia membocorkan informasi tentang strategi Perang Pattimura dan rakyat Maluku sehingga Belanda dengan mudah mampu merebut kembali Saparua.
Pada tanggal 16 Desember 1817, para tokoh pejuang yang ditangkap oleh Belanda yaitu Kapitan Pattimura, Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah pun harus berakhir di tiang gantungan di depan Benteng Nieuw Victoria, Kota Ambon.
Hal inilah yang menjadi akhir dari Perang Pattimura, sekaligus sebagai pengorbanan terakhir Kapiten Pattimura bagi bangsa dan negaranya.
· 5.0 (1)
Iklan
Bian B
12 September 2022 09:46
· 0.0 (0)
Bian B
12 September 2022 09:48
Upaya Mayor Beetjes tersebut nyatanya dapat digagalkan oleh Kapiten Pattimura dan pasukannya. Kemenangan dalam pertempuran lain juga didapatkan oleh Pattimura di sekitar pulau Seram, Hatawano, Hitu, Haruku, Waisisil dan Larike. Pada tanggal 4 Juli 1817 sebuah armada kuat Belanda yang dipimpin Overste de Groot berangkat menuju Saparua dengan tugas menjalankan vandalisme. Wilayah Hatawano dibumihanguskan dan Belanda memulai berbagai siasat termasuk berunding, serang mendadak, aksi vandalisme, dan adu domba yang dijalankan silih berganti. Belanda juga melancarkan politik pengkhianatan terhadap Kapiten Pattimura dan para pembantunya. Pada tanggal 11 November 1817 dengan didampingi beberapa orang pengkhianat, Letnan Pietersen berhasil menyergap Kapiten Pattimura dan Philips Latumahina saat berada di Siri Sori. Dilansir dari buku Kapitan Pattimura (1985) karya I.O Nanulaitta, disebutkan bahwa Kapiten Pattimura dikhianati oleh raja Booi dari Saparua. Ia membocorkan informasi tentang strategi Perang Pattimura dan rakyat Maluku sehingga Belanda dengan mudah mampu merebut kembali Saparua. Pada tanggal 16 Desember 1817, para tokoh pejuang yang ditangkap oleh Belanda yaitu Kapitan Pattimura, Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah pun harus berakhir di tiang gantungan di depan Benteng Nieuw Victoria, Kota Ambon. Hal inilah yang menjadi akhir dari Perang Pattimura, sekaligus sebagai pengorbanan terakhir Kapiten Pattimura bagi bangsa dan negaranya.Salah satu dampak perjuangan yang dilakukan dalam Perang Pattimura adalah direbutnya Benteng Duurstede oleh rakyat Maluku. Selain itu, Perang Pattimura juga telah berhasil menyatukan dan mengobarkan semangat perjuangan rakyat Maluku terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Walau begitu pasca Perang Pattimura berakhir maka kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dan semakin bersikap sewenang-wenang, sehingga rakyat semakin sengsara.Sementara dari peristiwa bersejarah ini, untuk mengenang jasa Kapitan Pattimura kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia. Kapitan Pattimura telah bersikap gagah berani menuntut keadilan dan berusaha membawa kembali kemakmuran ke tangan rakyat Maluku hingga akhir hayatnya.
Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

LATIHAN SOAL GRATIS!
Drill Soal
Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian


Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!