Amelia A

03 Juli 2024 04:30

Iklan

Iklan

Amelia A

03 Juli 2024 04:30

Pertanyaan

Kepulauan Banda merupakan salah satu penghasil pala terbaik dunia. Pada tahun 1621, VOC di bawah J.P. Coen membantai penduduk Banda. Salah satu dampak dari peristiwa tersebut adalah a. Penduduk Banda trauma dan tidak lagi menanam pala b. Berkurangnya petani yang memahami tentang budidaya pala c. VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia d. Timbulnya berbagai perlawanan balas dendam rakyat Banda e. Meningkatnya produksi pala di kepulauan Banda tahun 1622


39

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Nazla F

03 Juli 2024 06:33

Jawaban terverifikasi

<p>Penjelasan:</p><p>Pembantaian penduduk Banda oleh VOC di bawah kepemimpinan J.P. Coen pada tahun 1621 merupakan peristiwa penting dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, khususnya dalam konteks perdagangan rempah-rempah.&nbsp;<br>Dampak dari peristiwa ini meliputi:</p><p>1). Penduduk Banda trauma dan tidak lagi menanam pala: Pembantaian dan pengusiran penduduk asli Banda oleh VOC menyebabkan trauma mendalam bagi mereka yang selamat. Namun, dampak ini lebih bersifat psikologis dan sosial daripada langsung berpengaruh pada produksi pala.</p><p>2). Berkurangnya petani yang memahami tentang budidaya pala: Kematian dan pengusiran penduduk asli Banda mengakibatkan hilangnya pengetahuan lokal tentang budidaya pala. Ini berdampak pada penurunan sementara dalam produksi pala di kepulauan Banda.</p><p>3). VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia: Ini adalah dampak utama dan langsung dari pembantaian tersebut. VOC berhasil mengendalikan perdagangan pala secara global dengan mengeliminasi pesaing dan mengontrol sumber produksi.</p><p>4). Timbulnya berbagai perlawanan balas dendam rakyat Banda: Meskipun ada beberapa bentuk perlawanan dari penduduk Banda, perlawanan ini tidak cukup signifikan untuk mengubah keadaan secara keseluruhan, terutama mengingat kekuatan militer dan politik VOC pada waktu itu.</p><p>5). Meningkatnya produksi pala di kepulauan Banda tahun 1622: Tidak ada bukti historis yang mendukung klaim bahwa produksi pala meningkat di tahun berikutnya setelah pembantaian. Sebaliknya, produksi kemungkinan menurun karena pengurangan jumlah penduduk dan ahli budidaya pala.</p><p>&nbsp;</p><p>Dari pilihan-pilihan yang diberikan, dampak yang paling langsung dan signifikan adalah monopoli VOC atas komoditas pala di dunia.</p><p>Jawaban:</p><p>C. VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia</p>

Penjelasan:

Pembantaian penduduk Banda oleh VOC di bawah kepemimpinan J.P. Coen pada tahun 1621 merupakan peristiwa penting dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, khususnya dalam konteks perdagangan rempah-rempah. 
Dampak dari peristiwa ini meliputi:

1). Penduduk Banda trauma dan tidak lagi menanam pala: Pembantaian dan pengusiran penduduk asli Banda oleh VOC menyebabkan trauma mendalam bagi mereka yang selamat. Namun, dampak ini lebih bersifat psikologis dan sosial daripada langsung berpengaruh pada produksi pala.

2). Berkurangnya petani yang memahami tentang budidaya pala: Kematian dan pengusiran penduduk asli Banda mengakibatkan hilangnya pengetahuan lokal tentang budidaya pala. Ini berdampak pada penurunan sementara dalam produksi pala di kepulauan Banda.

3). VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia: Ini adalah dampak utama dan langsung dari pembantaian tersebut. VOC berhasil mengendalikan perdagangan pala secara global dengan mengeliminasi pesaing dan mengontrol sumber produksi.

4). Timbulnya berbagai perlawanan balas dendam rakyat Banda: Meskipun ada beberapa bentuk perlawanan dari penduduk Banda, perlawanan ini tidak cukup signifikan untuk mengubah keadaan secara keseluruhan, terutama mengingat kekuatan militer dan politik VOC pada waktu itu.

5). Meningkatnya produksi pala di kepulauan Banda tahun 1622: Tidak ada bukti historis yang mendukung klaim bahwa produksi pala meningkat di tahun berikutnya setelah pembantaian. Sebaliknya, produksi kemungkinan menurun karena pengurangan jumlah penduduk dan ahli budidaya pala.

 

Dari pilihan-pilihan yang diberikan, dampak yang paling langsung dan signifikan adalah monopoli VOC atas komoditas pala di dunia.

Jawaban:

C. VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia


Iklan

Iklan

Kevin L

Bronze

03 Juli 2024 09:20

Jawaban terverifikasi

Jawaban yang benar untuk pertanyaan "Salah satu dampak dari peristiwa pembantaian penduduk Banda oleh VOC di tahun 1621 adalah ..." adalah C. VOC berhasil memonopoli komoditas pala di dunia. Berikut adalah penjelasannya: * Penduduk Banda trauma dan tidak lagi menanam pala: Hal ini mungkin terjadi, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan monopoli pala VOC. * Berkurangnya petani yang memahami tentang budidaya pala: Hal ini juga mungkin terjadi, tetapi tidak berarti VOC menjadi satu-satunya pihak yang mengetahui teknik budidaya pala. * Meningkatnya produksi pala di kepulauan Banda tahun 1622: Hal ini tidak mungkin terjadi, karena pembantaian penduduk Banda pastilah menyebabkan penurunan produksi pala. Monopoli pala VOC Salah satu alasan utama VOC melakukan pembantaian penduduk Banda adalah untuk mengendalikan perdagangan pala. Pala merupakan komoditas yang sangat berharga pada masa itu, dan VOC ingin memonopoli perdagangannya agar mendapatkan keuntungan yang besar. Setelah pembantaian penduduk Banda, VOC mengambil alih kontrol atas perkebunan pala di kepulauan Banda. VOC kemudian membatasi produksi pala dan melarang penduduk Banda untuk menjual palanya kepada pihak lain. Hal ini membuat VOC menjadi satu-satunya pemasok pala di dunia, dan mereka dapat menentukan harga pala sesuka hati. Monopoli pala VOC memiliki dampak yang besar bagi perdagangan internasional. Harga pala menjadi sangat mahal, dan hanya negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan VOC yang dapat membelinya. Hal ini menyebabkan negara-negara lain mengalami kesulitan untuk mendapatkan pala, dan perdagangan internasional pun terhambat. Kesimpulan Pembantaian penduduk Banda merupakan peristiwa yang tragis dengan dampak yang luas. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah monopoli pala VOC, yang berdampak besar pada perdagangan internasional. Catatan: * Jawaban D. Timbulnya berbagai perlawanan balas dendam rakyat Banda mungkin juga benar, tetapi perlawanan ini tidak cukup untuk menghentikan monopoli pala VOC. * Jawaban E. Meningkatnya produksi pala di kepulauan Banda tahun 1622 jelas salah, karena pembantaian penduduk Banda pastilah menyebabkan penurunan produksi pala. Semoga penjelasan ini membantu!


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

KAA (Konferensi Asia-Afrika) yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955 tidak terlepas dari peranan Ali Sastroamidjojo yang terus berupaya meyakinkan negara-negara yang hadir dalam Konferensi Kolombo untuk mendukung Indonesia dalam menyelenggarakan konferensi yang dihadiri oleh negara-negara dari dua benua Asia-Afrika. Salah satu faktor utama Ali Sastroamidjojo berhasil meyakinkan peserta Konferensi Kolombo untuk mendukung Indonesia menyelenggarakan KAA adalah …. A. KAA berupaya membangun aliansi militer negara-negara Asia Afrika B. KAA menentang segala bentuk bantuan Amerika Serikat dan Uni Soviet di Asia-Afrika C. KAA berupaya membangun solidaritas negara Asia-Afrika untuk terlibat dalam Perang Dingin D. KAA berupaya membangun kerja sama politik Asia-Afrika dalam menjaga perdamaian dunia E. KAA berupaya membangun blok baru dalam menghadapi Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur

13

0.0

Jawaban terverifikasi

Cermatilah teks debat berikut. MODERATOR MOSI : Belakangan ini, kasus kejahatan dengan korban anak-anak di Indonesia meningkat tajam. Berdasarkan data lembaga perlindungan anak pada empat tahun terakhir, tercatat 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak. Dari jumlah tersebut, 58 persen di kategorikan sebagai kejahatan *pedofilia. Komnas Perlindungan Anak menyatakan saat ini Indonesia dalam kondisi darurat kekerasan pada anak. Kasus terakhir yang menyita perhatian adalah nasib tragis yang dialami gadis usia 9 tahun di Kalideres, Jakarta Barat. Berbagai reaksi mengemuka atas situasi genting ini. Salah satunya yang belakangan ini keras disuarakan adalah wacana perlunya bentuk hukuman baru, yaitu hukuman kebiri. Kebiri (disebut juga pengebirian atau kastrasi) adalah tindakan bedah dan/atau penggunaan bahan kimia. Oleh beberapa pihak, hukuman ini dipandang akan sangat ampuh mencegah dan menurunkan kejahatan *pedofilia. Namun, sejumlah organisasi hak asasi manusia menentang keras wacana ini. Perlukah hukuman kebiri diberlakukan di Indonesia? TIM PRO (AFIRMATIF) PEMBICARA 1 : Anak merupakan generasi penerus yang akan menentukan warna bangsa di masa yang akan datang. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan ceria akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan berdaya kompetisi tinggi. Mereka diharapkan mampu membawa negara kita menjadi bangsa yang makmur, jaya, dan terhormat di panggung dunia. Tetapi, bagaimana angan itu akan terwujud, jika anak-anak yang masih kuncup, keceriaannya sudah dicabik-cabik dan dirusak jati dirinya. Bagaimana bisa tumbuh mekar secara maksimal, sementara dalam diri nya terpendam luka dan trauma. Maka, kita harus menjaga aset berharga itu dan tidak membiarkan para *predator berkeliaran. Mereka harus dihentikan, diganjar yang setimpal, dan dibuat takut untuk tidak melakukannya lagi. Maka dari itu, kami sangat setuju dengan wacana penerapan hukuman kebiri kepada para *pedofil atau siapa pun yang telah menghancurkan masa depan anak yang notabene adalah masa depan bangsa kita. Dengan hukuman kebiri, kita berharap para *predator itu akan berpikir seribu kali sebelum melancarkan aksinya. Hukum kebiri ini juga sudah dilakukan di negara maju, seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan Belgia. Efektivitas hukuman ini sudah terbukti. Hasil riset di negara Skandinavia menyatakan penerapan kebiri mengurangi tingkat pengulangan kejahatan *pedofilia oleh pelaku yang sama hingga 35%. PEMBICARA 2 : Beberapa pihak mempertanyakan Hak Asasi Manusia (HAM) pelaku. Hukum kebiri tidak akan melanggar HAM. Pasai 28J UUD 1 945 menyatakan bahwa hak asasi seseorang digunakan dengan harus menghargai dan menghormati hak asasi orang lain demi berlangsungnya ketertiban umum dan keadilan sosial. Artinya, hak asasi anak untuk mendapatkan rasa aman perlu dikedepankan, mengingat anak adalah aset bangsa yang perlu dijamin perlindungan dan keamanannya. Dengan demikian, menurut saya, jika memang pelaku tidak menghargai dan menghormati hak asasi orang lain demi terjadinya ketertiban umum, hukuman kebiri tidaklah melanggar HAM. Justru yang seharusnya dilindungi haknya adalah para anak-anak penerus bangsa. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. lni adalah salah satu bentuk konkret tanggung jawab pemerintah dalam memberantas kejahatan terhadap anak yang sangat marak sekarang ini. Jadi dalam kasus ini, kita tidak perlu menjadikan polemik tentang hak asasi manusia. Akan di bawa ke mana bangsa ini kalau generasi mudanya sudah dirusak dan membiarkannya terus terjadi atas nama HAM? PEMBICARA 3 : Menanggapi wacana penerapan hukuman kebiri ini, ada sejumlah pihak yang keberatan dengan pertimbangan dampak yang akan dialami oleh pelaku. Mereka menawarkan sistem rehabilitasi sebagai solusi yang lebih tepat. Menurut saya, pihak yang seharusnya perlu dibela adalah korban, bukan pelaku. Apalagi dalam konteks ini, korban adalah anak di bawah umur. Hal lain yang berkaitan adalah penerapan hukuman kebiri bersifat ultimum remedium, yang artinya 'kalau tidak mau dikebiri, ya jangan melakukannya'. Saya rasa hal ini sama halnya dengan hukuman mati yang di berlakukan pada pengguna nar*koba. Salah satu pertimbangan hukuman mati bisa diberlakukan adalah karena nar*koba telah mengambil alih masa depan penggunanya. Kejahatan *pedofilia pada hakikatnya berkaitan dengan kemampuan pengendalian dorongan biologis. Selama dorongan itu ada, kemungkinan untuk melakukannya tetap terjadi. Saya yakin, semua orang tua yang memiliki anak di bawah umur pasti akan mendukung hukuman kebiri karena mereka akan membayangkan jika hal tersebut menimpa anaknya. TIM KONTRA/OPOSISI PEMBICARA 1 : Hukuman kebiri tidak akan mempunyai dampak efektif untuk mengurangi kejahatan *pedofilia jika dijadikan sebagai hukuman utama tanpa ada pidana lain dan rehabi*litasi mental. Pengebirian hanya akan menyiksa kondisi mental si pelaku kejahatan, bukan malah mengobati mentalnya. Di samping itu, perlu kita ketahui bahwa ketiadaan testosteron setelah pengebirian akan menimbulkan gejala fisik, seperti kegemukan, impotensi, dan tentunya kemandulan. Dengan demikian, pengebirian dapat dikatakan melanggar hak konstitusional si pelaku. Oleh karena itu, hukuman kebiri ini perlu ditinjau ulang penerapannya. Alangkah lebih baiknya apabila pelaku kejahatan sek*sual diberi sistem pemidanaan rehabi*litasi. Hal tersebut membuat pelaku terbantu, tetapi hak atas tubuhnya tidak dilanggar. PEMBICARA 2 : Menurut hemat saya, hukuman kebiri tidaklah tepat untuk dijalankan. Pertama, hukuman kebiri mungkin akan mengurangi hormon si pelaku. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa pele-cehan tidak melulu terkait secara biologis. Apabila seseorang dikebiri, mungkin si pelaku akan menggunakan motif lain untuk melakukan pele-cehan. Jadi, hukuman kebiri tidak menjamin pelaku akan jera. Kedua, kebiri merupakan pelanggaran oleh pemerintah terhadap hak konstitusional si pelaku untuk bereproduksi sebagaimana diatur dalam Pasal 28b ayat (1). H ukuman kebiri juga melanggar Konvensi lnternasional tentang Anti Penyiksaan yang telah disahkan oleh DPR melalui UU No. 5 tahun 1998 yang pada intinya melarang hukuman kekerasan yang permanen. Lalu, adanya hukuman kebiri menandakan bahwa hukum pidana kita tidak bersemangatkan untuk merehabilitasi atau membuat si pelaku menjadi orang yang baik, tetapi berprinsipkan balas dendam yang tidak mutlak efektif. PEMBICARA 3 : Benar bahwa banyak negara telah menerapkan sanksi kastrasi atau kebiri untuk pelaku kejahatan *pedofilia. Namun, hal itu tak berarti bahwa kebiri merupakan hukuman yang paling efektif menekan kejahatan *pedofilia. Kecaman dari Amnesty International merupakan bentuk kritik terhadap hukuman kastrasi yang justru menciptakan masalah baru. Amnesty International menyebut bahwa setiap tindak kejahatan harus di hukum dengan cara yang sesuai dengan Deklarasi HAM Universal. Selain bertentangan dengan semangat DUHAM, pengebirian pun tidak lantas membawa dampak yang signifikan bagi korban. Mengebiri pelaku bukan jalan keluar yang adil bagi korban. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiri dan berkurangnya kejahatan *pedofilia anak. Oleh karena itu, pengebirian merupakan respons yang emosional dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang hakiki. Akan lebih baik jika pelaku diperlakukan seperti pelaku kejahatan yang mengalami gangguan jiwa. Maksudnya, pelaku diberikan pidana kurungan disertai terapi kejiwaan sehingga pelaku dapat sadar bahwa penyimpangan yang dilakukannya adalah hal yang salah dan pelaku tersebut dapat menjadi orang normal kembali. Dengan begitu, negara sukses dalam menjaga ketertiban umum dan memberikan pelajaran bagi warganya yang pernah melakukan kejahatan. MODERATOR Pemberian hukuman yang keras dan memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan sek*sual terhadap anak-anak perlu segera diterapkan. Hukuman kebiri bisa dipilih sebagai salah satu bentuk hukuman kepada para *predator anak-anak yang belakangan ini semakin merajalela. Namun, penerapan hukuman itu perlu mempertimbangkan aspek lain selain dari sisi korban yang dirugikan. Jangan sampai penerapan suatu hukuman bertentangan dengan hukum yang lebih hakiki. Apakah argumen yang disampaikan kelompok afirmatif untuk mendukung tesisnya?

14

0.0

Jawaban terverifikasi