Budi A

27 Juli 2019 05:40

Iklan

Budi A

27 Juli 2019 05:40

Pertanyaan

Kak mau tanya Saat ovum mengalami pembuahan, zigot yang dihasilkan akan berkembang dan menempel pada dinding endometrium yang sudah menebal. Oleh karena itu, ketebalan endometrium harus dipertahankan selama kehamilan. Tolong jelaskan mekanisme hormonal untuk mempertebal dan mempertahankan ketebalan dinding endometrium Ditunngu jawabannya y kak

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

09

:

46

:

46

Klaim

1

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bacalah teks cerpen berikut dengan saksama. Lelaki yang Menderita Bila Dipuji Mardanu seperti kebanyakan lelaki, senang jika dipuji. Tetapi akhir-akhir ini, dia merasa risi bahkan seperti terbebani. Pujian yang menurut Mardanu kurang beralasan sering diterimanya. Ketika bertemu teman-teman untuk mengambil uang pensiun, ada saja yang bilang, "lni Mardanu, satu-satunya teman kita yang uangnya diterima utuh karena tak punya utang." Pujian itu sering diiringi acungan jempol. Ketika berolahraga jalan kaki pagi hari mengelilingi alun-alun, orang pun memujinya, " Pak Mardanu memang hebat. Usianya tujuh puluh lima tahun, tetapi badan tampak masih segar, berjalan tegak, dan kedua kaki tetap kekar." Kedua anak Mardanu, yang satu jadi pemilik kios kelontong dan satunya lagi jadi sopir truk semen, juga jadi bahan pujian, "Pak Mardanu telah tuntas mengangkat anak-anak hingga semua jadi orang mandiri." Malah seekor burung kutilang yang dipelihara Mardanu tak luput jadi bahan pujian. "Kalau bukan Pak Mardanu yang memelihara, burung kutilang itu tak akan demikian lincah dan cerewet kicaunya." Mardanu tidak mengerti mengapa hanya karena uang pensiun yang utuh, badan yang sehat, anak yang mapan, bahkan burung piaraan membuat orang sering memujinya. Bukankah itu hal biasa yang semua orang bisa jika mau? Bagi Mardanu, pujian hanya pantas diberikan kepada orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dan berharga dalam kehidupan. Mardanu merasa belum pernah melakukan pekerjaan seperti itu. Dari sejak muda sampai menjadi kakek-kakek, dia belum berbuat jasa apa pun. lni yang membuatnya menderita karena pujian itu seperti menyindir-nyindirnya. Enam puluh tahun yang lalu ketika bersekolah, dinding ruang kelasnya digantungi gambar para pahlawan. Juga para tokoh bangsa. Tentu saja mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi bangsanya. Mardanu juga tahu dari cerita orang-orang, pamannya sendiri adalah seorang pejuang yang gugur di medan perang kemerdekaan. Orang-orang sering memuji mendiang paman. Cerita tentang sang paman kemudian dikembangkan sendiri oleh Mardanu menjadi bayangan kepahlawanan. Seorang pejuang muda dengan bedil bersangkur, ikat kepala pita merah-putih, maju dengan gagah menyerang musuh, lalu roboh ke tanah dan gugur sambil memeluk bumi pertiwi. Mardanu amat terkesan oleh kisah kepahlawanan itu. Mardanu kemudian mendaftarkan diri masuk tentara pada usia sembilan belas. ljazahnya hanya SMP dan dia diterima sebagai prajurit tamtama. Kegembiraannya meluap-luap ketika dia terpilih dan mendapat tugas sebagai penembak artileri pertahanan udara. Dia berdebar-debar dan melelehkan air mata ketika untuk kali pertama dilatih menembakkan senjatanya. Sepuluh peluru besar akan menghambur ke langit dalam waktu satu detik. "Pesawat musuh pasti akan meledak, kemudian rontok bila terkena tembakan senjata yang hebat ini," selalu demikian yang dibayangkan Mardanu. Bayangan itu sering terbawa ke alam mimpi. Suatu malam dalam tidurnya, Mardanu mendapat perintah siaga tempur. Persiapan hanya setengah menit. Pesawat musuh akan datang dari utara. Mardanu melompat dan meraih senjata artilerinya. Tangannya berkeringat, jarinya lekat pada tuas pelatuk. Matanya menatap tajam ke langit utara. Terdengar derum pesawat yang segera muncul sambil menabur tentara payung. Mardanu menarik tuas pelatuk dan ratusan peluru menghambur ke angkasa dalam hitungan detik. Ya Tuhan pesawat musuh itu mendadak oleng dan mengeluarkan api. Terbakar. Menukik dan terus menukik. Tentara payung masih berloncatan dari perut pesawat dan Mardanu mengarahkan tembakannya ke sana. Ya Tuhan, tiga parasut yang sudah mengembang mendadak kuncup lagi kena terjangan peluru Mardanu. Tiga prajurit musuh meluncur bebas jatuh ke bumi. Tubuh mereka pasti akan luluh lantak begitu terbanting ke tanah. Mardanu hampir bersorak namun tertahan oleh kedatangan pesawat musuh yang kedua. Mardanu memberondongnya lagi. Kena. Namun, pesawat itu sempat menembakkan peluru kendali yang meledak hanya tiga meter di sampingnya. Tubuh Mardanu terlempar ke udara oleh kekuatan ledak peluru itu dan jatuh ke lantai kamar tidur sambil mencengkeram bantal. Ketika tersadar, Mardanu kecewa berat, mengapa pertempuran hebat itu hanya ada dalam mimpi. Andai kata itu peristiwa nyata, dia telah melakukan pekerjaan besar dan luar biasa. Bila demikian, Mardanu mau dipuji, mau juga menerima penghargaan. Meski demikian, Mardanu selalu mengenang dan mengawetkan mimpi i tu dalam ingatannya. Apalagi sampai Mardanu dipindahtugaskan ke bidang administrasi teritorial lima tahun kemudian, perang dan serangan udara musuh tidak pernah terjadi. Pekerjaan administrasi adalah hal biasa yang begitu datar dan tak ada nilai istimewanya. Untung Mardanu hanya empat tahun menjalankan tugas itu, lalu tanpa terasa masa persiapan pensiun datang. Mardanu mendapat tugas baru menjadi anggota Komando Rayon Militer di kecamatannya. Di desa tempat dia tinggal, Mardanu juga bertugas menjadi Bintara Pembina Desa. Selama menjalani tugas teritorial ini pun, Mardanu tidak pernah menemukan kesempatan melakukan sesuatu yang penting dan bermakna sampai dia pada umur lima puluh tahun. Pagi ini, Mardanu berada di becak langganannya yang sedang meluncur ke kantor pos. Dia mau ambil uang pensiun. Kosim si abang becak sudah ubanan, pipinya mulai lekuk ke dalam. Selama mengayuh becak, napasnya terdengar megap-megap. Namun, seperti biasa, dia mengajak Mardanu bercakap-cakap. "Pak Mardanu mah senang ya, tiap bulan tinggal ambil uang banyak di kantor pos," kata si Kosim di antara tarikan napasnya yang berat. Ini juga pujian yang terasa membawa beban. Dia jadi ingat selama hidup belum pernah melakukan apa-apa. Selama jadi tentara belum pernah terlibat perang, bahkan belum juga pernah bekerja sekeras tukang becak di belakangnya. Sementara Kosim pernah bilang, dirinya sudah beruntung bila sehari mendapat lima belas ribu rupiah. Beruntung, karena dia sering mengalami dalam sehari tidak mendapatkan serupiah pun. Masih bersama Kosim, pulang dari kantor pos, Mardanu singgah ke pasar untuk membeli pakan burung kutilangnya . Sampai di rumah, Kosim diberinya upah yang membuat tukang becak itu tertawa. Setelah itu, terdengar kicau kutilang di kurungan yang tergantung di kasau emper rumah. Burung itu selalu bertingkah bila didekati majikannya . Mardanu belum menaruh pakan ke wadahnya di sisi kurungan. Dia ingin lebih lama menikmati tingkah burungnya: mencecet, mengibaskan sayap, dan merentang ekor sambil melompat - lompat. Mata Mardanu tidak berkedip menatap piaraannya. Namun, mendadak dia harus menengok ke bawah karena ada sepasang tangan mungil memegangi kakinya. ltu tangan Manik, cucu perempuan. "ltu burung apa, Kek?" tanya Manik. Rasa ingin tahu terpancar di wajahnya yang sejati. "Namanya burung kutilang. Bagus, kan?" Manik diam. Dia tetap menengadah, matanya terus menatap ke dalam kurungan. "O, jadi itu burung kutilang , Kek? Aku sudah lama tahu burungnya, tapi baru sekarang tahu namanya. Kek, aku bisa nyanyi . Nyanyi burung kutilang." "Wah, itu bagus. Baiklah cucuku, cobalah menyanyi, Kakek ingin dengar." Manik berdiri diam. Barangkali anak TK itu sedang mengingat cara bagaimana guru mengajarinya menyanyi.yang masih duduk di taman kanak-kanak. Di pucuk pohon cempaka , burung kutilang bernyanyi ... Manik menyanyi sambil menari dan bertepuk-tepuk tangan. Gerakannya lucu dan menggemaskan. Citra dunia anak-anak yang amat menawan . Mardanu terpesona, dan terpesona. Nyanyian cucu terasa merasuk dan mengendap dalam hatinya. Tangannya gemetar. Manik terus menari dan menyanyi. Selesai menari dan menyanyi, Mardanu merengkuh Manik , dipeluk, dan direngkuh ke dadanya. Ditimang-timang, lalu diantar ke ibunya di kios seberang jalan. Kembali dari sana, Mardanu duduk di bangku agak di bawah kurungan kutilangnya. Dia lama terdiam. Berkali-kali ditatapnya kutilang dalam kurungan dengan mata redup. Mardanu gelisah. Bangun dan duduk lagi. Bangun, masuk ke rumah dan keluar lagi. Dalam telinga, terulang-ulang suara cucunya. Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang bernyanyi .... Wajah Mardanu menegang, kemudian mengendur lagi. Setelah itu, perlahan-lahan dia berdiri mendekati kurungan kutilang. Dengan tangan masih gemetar, dia membuka pintunya. Kutilang itu seperti biasa, bertingkah elok bila didekati oleh pemeliharanya. Tetapi setelah Mardanu pergi, kutilang itu menjulurkan kepala keluar pintu kurungan yang sudah menganga. Dia seperti bingung berhadapan dengan udara bebas, tetapi akhirnya burung itu terbang ke arah pepohonan. Ketika Manik datang lagi ke rumah Mardanu beberapa hari kemudian, dia menemukan kurungan itu sudah kosong. "Kek, di mana burung kutilang itu?" tanya Manik dengan mata membulat. "Sudah Kakek lepas. Mungkin sekarang kutilang itu sedang bersama temannya di pepohonan." "Kek, kenapa kutilang itu dilepas?" Mata Manik masih membulat. "Yah, supaya kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka, seperti nyanyianmu." Mata Manik makin membulat. Bibirnya bergerak-gerak namun belum ada satu kata pun yang keluar. "Biar kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka? Wah, itu luar biasa. Kakek hebat, hebat banget. Aku suka Kakek," Manik melompat-lompat gembira. Mardanu terkesima oleh pujian cucunya. ltu pujian pertama yang paling enak didengar dan tidak membuatnya menderita. Manik kembali berlenggang-lenggok dan bertepuk-tepuk tangan. Dari mulutnya yang mungil terulang nyanyian kegemarannya. Mardanu mengiringi tarian cucunya dengan tepuk tangan berirama. Entahlah, Mardanu merasa amat lega. Plong. (Cerpen "Lelaki yang Menderita Bila Dipuji" karya Ahmad Tohari dalam Doa yang Terapung: Cerpen Pilihan Kompas 2018) Pada cerpen "Lelaki yang Menderita Bila Dipuji", terdapat beberapa latar. Latar terdiri dari waktu, tempat, dan suasana. Rumah termasuk pada latar ... Sertakan kutipan dari cerita yang membuktikan latar tersebut.

3

0.0

Jawaban terverifikasi

CATATAN DALAM BOTOL Andi Mutiara Muthahharah Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis. Aku selalu menulis catatan harianku di kertas cantik dan memasukkan gulungan kertas itu ke dalam botol. Botol itu akan kulempar ke laut. Di belakang rumahku memang ada pantai yang indah. Selain menulis, aku juga sangat suka melihat pelangi. Aku melempar botol setiap kali muncul pelangi. Itu kulakukan agar kisahku dan kehidupanku di masa depan akan berwarna seperti pelangi. Suatu hari, ayah dan bunda pergi ke Paris karena urusan penting. Mereka memang selalu pergi, sampai-sampai tidak punya waktu untuk kami. Bunda menyuruhku menjaga Rindu, adikku, yang sudah kelas 3. Aku anak cukup berada. Rumahku besar. Tapi, jujur saja, aku sudah bosan hidup seperti ini. Kami hanya berdua setiap hari. Beruntung, aku mempunyai tetangga yang baik. Aku biasa memanggilnya Bibi Hani. Beliau mempunyai warung bakso. Beliau selalu memperhatikanku dan Rindu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Bibi Hani. Sudah seminggu, orang tuaku belum pulang. Apakah mereka sesibuk itu? Tapi, barusan, aku mendapat sms dari Bunda bahwa sore ini mereka akan pulang. “Eh, Kak, ada pelangi tuh,”tunjuk Rindu lewat jendela. “Benar! Saatnya menulis…!” seruku sambil mengambil kertas, pulpen, dan botol. Lalu, aku menuju pantai di belakang rumah. Aku mencari tempat yang teduh dan mulai menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Setiap hari, orang tuaku pergi. Aku terpaksa tinggal bersama adikku, Rindu. Beruntung aku mempunyai tetangga yang baik hati. Namanya Bibi Hani. Beliau selalu membantuku. Sekarang, ayah dan bunda pergi ke Paris. Tapi, kabarnya, sore ini mereka akan segera pulang. Aku sudah tidak sabar! Pelangi Itulah catatanku. Aku menggulung kertas catatan itu dan memasukkannya ke dalam botol plastik yang sudah kuhias semenarik mungkin. Sejenak, aku menatap pelangi sambil tersenyum. Lalu, aku melempar botol itu jauh-jauh. Setelah itu, aku kembali ke rumahku. Aku menemui Rindu yang sedang menonton TV. Namun, ia terlihat sangat sedih. “Rindu, ada apa?” tanyaku lembut sambil membelai rambutnya yang panjang. “Pesawat tujuan Paris-Indonesia jatuh, Kak. Pasti, ayah dan bunda juga ada di pesawat itu,” kata Rindu sambil terisak-isak. 2 Jantungku seperti berhenti berdetak mendengarnya. Kata-kata itu, terasa membuat darahku berhenti mengalir. “Ayah, Bunda, jangan tinggalin kami. Sudah cukup kami kesepian setiap kalian pergi. Tapi, kami enggak mau kesepian untuk selamanya, tanpa Ayah dan Bunda. Ya Allah, semoga ayah dan bunda segera ditemukan. Selamatkanlah mereka.” Airmataku mengalir deras sambil terus berdoa dalam hati. “Assalamu’alaikum, Pelangi, Rindu?” ucap Bibi Hani sambil membuka pintu rumahku. Lalu, beliau masuk. Beliau melihat kami menangis. “Iya. Bibi sudah tahu semuanya,” kata Bibi Hani sambil membelai rambutku dan Rindu. “Kalian sabar ya. Orangtua kalian pasti akan segera ditemukan. Bibi Hani akan selalu ada untuk kalian.” Esoknya, aku dan Rindu pergi ke sekolah seperti biasanya. Namun, hari ini, aku tidak begitu bersemangat untuk ke sekolah. Apalagi, Rindu. Dari tadi malam, ia terus membisu meski sudah dibujuk oleh Bibi Hani. Tadi pagi, ia juga tidak sarapan. Aku khawatir, kesehatannya akan terganggu. Malamnya, aku mendengar Rindu memanggilku. Aku langsung bangun dan membangunkan Bibi Hani yang memang menginap di rumahku. Aku dan Bibi Hani segera ke kamar Rindu. Badan Rindu sangat panas. Akhirnya, aku terus menunggui Rindu hingga pagi datang. Paginya, aku dan Bibi Hani membawa Rindu ke rumah sakit. Aku terpaksa memberi surat izin kepada guruku untuk tidak sekolah dulu sampai kondisi adikku kembali normal. Setelah itu, Bibi Hani pulang karena masih harus menjaga warungnya. Tidak berapa lama, suster datang memeriksa Rindu. “Adikmu belum bangun ya?” “Belum, Sus. Oya, Rindu sakit apa, Sus?” “Adikmu terkena penyakit thypus. Nanti, kalau adikmu bangun, suapin ya.” Esoknya, aku dan Rindu makan bersama. Tapi, Rindu terlihat tidak nafsu makan. Malamnya, Rindu terlihat pucat. Demamnya sangat tinggi. “Kak, aku mau keluar sebentar,” pinta Rindu. “Tidak bisa, Rindu. Kamu harus banyak istirahat. Jangan banyak bergerak dulu.” “Tolong, Kak. Sebentar saja kok.” Aku pun mengantarnya keluar sebentar. Namun, tiba-tiba Rindu pingsan. Aku melihat Rindu terbaring lemas di tempat tidur. Ia tidak sadar-sadar. “Kak,” panggil Rindu pelan. Ia membuka matanya. “Rindu, jangan banyak gerak dulu ya,” cemasku. “Kak, jangan berhenti menulis ya. Terus menulis bersama pelangi,” ucap Rindu. “Tentu. Kakak akan selalu menulis.” 3 “Kakak memang bagaikan pelangi. Semoga hidup Kakak menyenangkan!” “Rindu, kamu kenapa?” “Aku ingin pergi bersama ayah dan bunda. Selamat tinggal, Kak.” Akhirnya, Rindu mengembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman manis. “Rindu, jangan tinggalin Kakak. Kakak harus bagaimana?” tangisku kencang. Bibi Hani mencoba menenangkan. Sebelum meninggalkan pemakaman, aku mencium nisan Rindu. Rindu, sampaikan salamku untuk ayah dan bunda…. Seminggu setelah kematian Rindu telah berlalu. Aku menjalani hari seperti biasanya. Namun, aku masih tidak ke sekolah. Kematian Rindu membuatku lebih tertutup. Gerimis turun lagi sore ini. Seperti biasa, pelangi kembali muncul dan aku kembali menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Seminggu yang lalu, Rindu mengakhiri perjalanannya. Ia berpesan agar aku terus menulis bersama pelangi. Rindu sekarang sudah bahagia bersama Ayah dan Bunda. Dan aku di sini sendiri dan kesepian…. Pelangi Aku melempar botol itu jauh-jauh. Aku masuk ke rumah dengan perasaan kesal. Aku membanting pintu dan mengacak-acak kamarku sambil menangis. “Huh, percuma namaku Pelangi. Kehidupanku juga tidak berwarna seperti pelangi. Kenapa sih mereka memberiku nama Pelangi? Benar-benar tidak cocok! Orangtuaku mengalami kecelakaan dan aku dan Rindu ditinggalin. Sekarang, Rindu juga ninggalin aku. Ayah, bunda, dan Rindu sudah bahagia bersama di sana. Sedangkan aku sendirian! Aku harus bagaimana? Huuuuhhh,” isakku kencang. Lalu, Bibi Hani masuk dan menemuiku. “Pelangi, tenang, Nak,” hibur Bibi Hani. “Allah memang tidak pernah berhenti memberikan ujian untuk hamba-Nya. Allah melakukan itu agar hamba-Nya selalu tegar dan sabar meghadapi ujian apapun. Percayalah, cobaan itu yang terbaik untuk hamba-Nya.” “Yang terbaik apanya? Ayah dan bunda pergi ninggalin aku. Rindujuga. Apa itu yang terbaik?” bantahku. “Tenang, Nak. Bibi akan selalu bersama Pelangi kok.”Aku menatap Bibi Hani, lalu memeluknya erat. Beberapa hari kemudian, aku mulai mengikhlaskan semuanya. Tapi, kemarin, Bibi Hani bilang akan membawaku ke Panti Asuhan. “Apa Bibi tidak sayang lagi sama aku?” tanyaku setelah mengetahuinya. “Bukan begitu, Pelangi. Bibi harus menjual dan mengurus keluarga Bibi. Tenang saja, Bibi akan selalu melihat kamu kok. Lagipula, pemilik Panti itu adalah saudara Bibi.” “Tapi, tolong Bibi jaga rumahku ya. Rumah itu menyimpan banyak kenangan,” kataku. Bibi Hani mengangguk sambil tersenyum. Jadi, untuk terakhir kalinya, aku pergi ke pantai belakang rumahku. Saat itu, pelanginya tampak jelas dan indah di atas pantai. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Setelah kehilangan keluargaku, aku sangat kesal dan putus asa. Aku hampir saja menyalahkan takdir Allah. Namun, Bibi Hani tidak berhenti menghiburku. Hari ini juga, aku akan ke panti asuhan milik 4 saudara Bibi Hani. Jadi, mungkin ini adalah hari terakhirku tinggal di rumahku yang penuh kenangan…. Pelangi Aku dan Bibi Hani berangkat ke panti asuhan. Kata Bibi, di dekat panti itu ada sungai. Tentu saja aku sangat senang. Setelah sebulan, aku mulai terbiasa dengan lingkungan panti. Teman-temanku juga semua baik dan ramah. Di sini, kami seperti satu keluarga yang saling menyayangi. Seperi biasa, aku ingin menulis. Pelangi telah tampak. Aku duduk di batu dan menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Sudah sebulan, aku tinggal di panti. Aku juga mulai akrab dengan teman temanku. Di sini, aku sangat bahagia. Aku dapat merasakan hangatnya rasa kekeluargaan. Kuharap, selanjutnya akan ada kejadian luar biasa dari sekarang.... Pelangi Seminggu kemudian, Bibi Hani datang bersama pria yang tidak kukenal. Tapi, sepertinya, aku pernah melihatnya sebelumnya. Ternyata, pria itu adalah Paman Rusdi. Beliau ingin mengajakku tinggal di rumahnya di Solo. Tentu saja, aku sangat senang mendengarnya. “Bibi, selamat tinggal. Aku tidak akan bisa seperti ini tanpa Bibi. Bibi benar-benar malaikatku. Maaf kalau selama ini Pelangi ngerepotin Bibi,” kataku sambil menangis. “Pelangi, kamu anak yang baik. Kamu bisa tegar dan bersabar meskipun telah kehilangan orang tua dan adikmu. Justru, Bibi belajar banyak hal dari kamu. Kamu adalah seorang pelangi yang sesungguhnya. Bibi yakin, kehidupanmu selanjutnya akan penuh warna seperti pelangi. Ibumu tidak salah memberimu nama pelangi. Keluargamu di sana juga pasti bahagia melihatmu,” kata Bibi Hani sambil menyeka airmataku. “Selamat tinggal, Bi. Aku akan selalu ingat Bibi,” ucapku sambil melambaikan tangan. “Selamat jalan, Pelangi. Ikuti terus cahayamu, dan kau akan bahagia. ” Aku menyeka air mataku dan berusaha tersenyum. Jelaskan watak tokoh pelangi pada cerpen catatan dalam botol!berikan bukti

2

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Impian Anak Desa Bermimpilah selagi langit masih sanggup menampung mimpimu. Kata-kata itulah yang selalu membuatku semangat untuk bermimpi. Orang sering mengatakan bahwa "Bermimpilah setinggi langit". Aku sempat mempertanyakan hal tersebut pada guruku. Kenapa harus bermimpi setinggi langit? Apakah tidak boleh kalau mau bermimpi setinggi kecambah? Ya, kini baru kusadari bahwa langit itu sangat tinggi. Jadi, wajar saja kalau orang mengatakan untuk bermimpi setinggi langit bukan setinggi kecambah. Maklum saja, pertanyaan itu terlontar dari mulutku saat usiaku menginjak 5 tahun. Angan-anganku dahulu mengatakan bahwa kecambah jauh lebih tinggi daripada langit. Dahulu, aku tidak tahu yang manakah yang disebut kecambah. Setelah bertanya kepada ibuku, ternyata kecambah itu nama lain dari taoge. Berikut ini, saya akan membahas tentang mimpi, langit, dan kecambah atau nama lainnya taoge. Namaku Dino. Usiaku saat ini adalah 10 tahun. Sekarang aku telah duduk di bangku kelas V SD. Aku adalah seorang anak desa yang tidak pernah berhenti untuk bermimpi. Bagiku mimpi itu hak setiap orang. Mau dia bermimpi jadi astronaut. Mau jadi ilmuwan. Mau jadi psikolog. Mau jadi guru. Bahkan, mimpi sama seperti aku yang ingin menjadi seorang arkeolog. Tetanggaku sering mengatakan kepadaku untuk apa bermimpi ja di arkeolog. Di desa kan tidak ada yang namanya universitas. Tetapi itu bukan halangan bagi ku. Menurutku, ada atau tidak adanya sebuah universitas itu bukan halangan. Sekarang, aku harus giat membaca buku untuk menambah ilmu. Karena pada dasarnya, buku merupakan jendela ilmu. Pagi ini, aku mulai melakukan penel usuran untuk menambah ilmuku. Aku melewati jalan kecil yang di kiri dan kanannya merupakan sawah. Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan jauh, akhirnya aku sampai di perpustakaan desa ku. Aku mengambil sebuah buku. Saat sedang asyik membaca, aku dikejutkan dengan sebuah suara yang muncul tiba-tiba. "Mau jadi arkeolog, ya?" tanya orang tersebut kepadaku sambil melemparkan seulas senyuman yang indah. Aku pun menganggukkan kepala yang menandakan bahwa aku memang ingin menjadi seorang a rkeolog. la tampak memperhati kan diriku. Aku hanya memandangnya dengan heran. Akan tetapi, aku tidak terlalu mempersa lahkannya karena aku ya ki n dia orang ba ik. "Kenapa mau jadi arkeolog?" dia bertanya lagi. "Arkeolog itu keren, Kak. Kita bisa tahu keadaan masa lampau itu bagaimana. Kita juga bisa tahu bahasa apa saja yang dipakai mereka. Kita juga tahu tentang zaman dahulu. Kita bisa menemukan fosil dan benda-benda berharga masa lampau lainnya” aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang cukup panjang. Namun, dia masih tetap setia mendenga rkan semua jawaban ya ng kel uar dari mul utku. Dan setelah selesa i aku menjawab pertanyaannya, ia tersenyum sambil memperli hatkan gigi puti hnya. "Tahukah kamu, siapa aku?"tanya dia. Aku memperhati kan orang ini dengan sa ngat detail. Aku meli hat dia dari atas sampai bawah dan mengulanginya lagi. Setelah Ieiah memperhati kan orang ini, aku pun menutup buku yang ada digenggamanku. "Aku tidak tahu, Kak” jawabku yang akhirnya menyerah. Toh, aku memang tidak mengenalnya. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan satu kertas kecil. Lalu, memberikan kertas itu kepadaku. Aku membaca kertas yang diberikannya kepadaku itu. Seketika senyumku langsung mengembang bagaikan bunga yang layu disiram air langsung mekar kembali. "Wah kakak arkeolog, ya?" ucapku denga n nada yang sangat semangat serta antusias. Dia pun tersenyum lalu menganggu kkan kepala seolah berkata, "Ya” "Kalau besar nanti, aku pasti bisa jadi seperti Kakak” jawabku sambil melihat ke atas seolah ada bayanganku ketika aku besar nanti. "Ha ha teruslah bermimpi dan belajar ka rena kakak keti kakecil dahulu sama sepertimu. Kakak selalu bermimpi bisa jadi arkeolog, tetapi kakak sadar mimpi saja tidak cukup. Kakak juga harus berusaha, ya salah satu caranya adalah kakak harus rela menghabiskan waktu hanya untuk membaca. Di sekolah, kakak juga selalu bertanya kepada guru tentang sejarah. Berkat usaha kakak dan doa dari kedua orangtua, kakak bisa seperti sekarang” jawab dia dengan ucapan yang sangat panjang. Aku hanya tersenyum bahagia mendengar semua ucapannya. Ucapannya seperti penyemangat baru bagiku. "Baiklah Kak, aku yakin suatu saat nanti kita bertemu lagi dalam sebuah profesi yang sama, yaitu sebagai arkeolog” tuturku sambil berdiri dan tersenyum kepadanya. Akhirnya, ia pun pamit pulang kepadaku karena ingin kem bali ke kotanya untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Aku melangkahkan kaki sambil tersenyum pada hamparan sawah serta burung-burung yang berterbangan. Aku yakin bahkan sangat yakin bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi seorang seperti yang aku impikan selama ini. Waktu begitu cepat berlalu. Aku yang dahulu masih kecil sekarang telah dewasa. Desaku yang dahulu belum ada perubahan, sekarang telah menjadi sebuah kota. Perpustakaan yang dahulu sebagai tempatku mencari ilmu sekarang menjadi tambah besar dan bagus. Tidak kupungkiri, semua ini terjadi sebagai akibat adanya globalisasi yang terjadi dalam kehidupan. Sekarang, aku duduk di dalam perpustakaan ini, membaca buku sejarah yang pernah kubaca beberapa tahun yang lalu. Terlintas sebuah kenangan saat aku bertemu dengan Kak Zaki seorang arkeolog yang pernah aku temui di perpustakaan ini. Aku merindukan dia sebagai seorang kakak. Aku telah mencoba mencari tahu keadaanya, tetapi aku tidak pernah menemukan dirinya. "Dino” Merasa namaku dipanggil, aku menoleh ke belakang. Saat aku melihat ke belakang, betapa terkejutnya aku. ltu dia Kakak arkeolog itu datang meng hampiriku. "Kak Zaki?" ucapku sambil mengajaknya untuk duduk. "lya, bagaimana kabarmu?" ucap Kak Zaki sambil memperhati kan diriku. "Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja. Kakak ke mana saja. Aku telah mencari Kakak, tetapi aku tidak menemukan Kakak. Sekarang, Kakak datang sendiri padaku” ucapku kepada Kak Zaki. Kak Zaki pun langsung tertawa. Entahlah apa yang ada dalam benaknya hingga membuat ia tertawa mendengar ucapanku tadi. "Tingkahmu masih sama seperti beberapa tahun tahun yang lalu. Maafkan aku. Aku sibuk bekerja di luar negeri. Bagaimana dirimu sudah jadi arkeolog?" ucap Kak Zaki sembari mempertanya kan hal tersebut kepadaku. Aku pun mengeluarkan sebuah kertas sama seperti yang Kak Zaki laku kan kepadaku dahulu. la pun memberikan seluas senyuman dan selamat kepadaku. Aku telah menepati janjiku dahulu. Saat bertemu dengan Kak Zaky kembali, aku telah menjadi seorang arkeolog. Terima kasih untuk semuanya Kak Zaki karena berkat kakak jugalah aku bersemangat untuk bisa meraih impianku menjadi seora ngarkeolog. Teruslah bermimpi karena mimpi adalah kunci untuk meraih impian kita. Mimpi itu sebagai pupuk yang akan membuat bunga makin tumbuh dengan subur sehingga bunga yang dihasilkan akan lebih indah daripada bunga yang tidak diberi pupuk. Sumber: http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/impian-anak-desa.html, dengan pengubahan seperlunya soal Siapa saja yang menjadi tokoh pendamping?

1

0.0

Jawaban terverifikasi