Putri A

11 September 2019 07:53

Iklan

Putri A

11 September 2019 07:53

Pertanyaan

kak bisa bantu saya tentang debat bahasa Inggris judulnya "the bad impacts of game for teenager "

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

01

:

03

:

53

Klaim

1

1


Iklan

Kelly K

16 September 2019 13:20

bad impacts of game for teenegers is: - make teenegers being lazy - not focus about lesson at school -not good to teenegers healthy - bad impacts to teenegers character - a lot of game is about fight . so,teenagers will practices that in real life . -forget about family,friends,etc - to much waste time . . saya rasa itu point penting nya ,maaf jika salah :))


Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

hadap peritaku anak bangsa untuk ke depannya dan akan membuat anak bangsa yang menjadi penerus Indonesia nantinya hancur dan setalu mernbuat masalah untuk negaranya sendiri. Tapi bagaimanakah cara mengatasinya? Walaupun sudah ada undang-undang yang menjelaskan tentang tayangan *kekerasan, tapi undang-undang itu masih sulit diterapkan di Indonesia. Lalu bagaimanakah cara mengatasinya? Mari kita pecahkan bersama dengan debat berikut ini. Andien : Banyak *kekerasan yang ditayangkan di televisi dan jika terus dibiarkan, itu akan sangat merusak karakter bangsa untuk ke depannya. Satya : Merusak karakter? Saya pikir tidak. Dion : Iya betul. Tayangan *kekerasan justru akan membawa seseorang yang menontonnya terbawa ke dalam kehidupan nyata. Itu malah lebih bagus. Bayu : Justru itu yang tidak boleh dibiarkan. Jika sudah terbawa dalam kehidupan nyata, cara menanggulanginya pun akan lebih sulit. Cika : Hal itu akan menimbulkan dampak besar bagi bangsa kita. Tri : Dampak besar seperti apa maksudnya? Andien : Sekarang banyak sekali tindakan *kriminal yang dilakukan di masyarakat, dan saya rasa itu karena mereka sering menonton- tayangan-tayangan seperti itu. Dion : Saya pikir itu bukan karena tayangan *kekerasan, karena walaupun orang tersebut tidak menonton tayangan tersebut kalau orang yang sudah memiliki jiwa keras pasti dia akan tetap melakukannya. Satya : Setiap orang pasti memiliki karakter yang buruk, tapi karakter itu tidak akan selalu datang ketika orang tersebut tidak memiliki tekanan. Bayu : Dan tayangan itulah yang menimbulkan *tekanan sehingga karakter buruk dari seseorang itu muncul. Tri : Saya rasa itu tidak menimbulkan *tekanan, justru tayangan yang dia tonton itu yang memang dia sukai. Jadi dia akan mersa lebih senang melihat itu, bukan tertekan. Cika : Tapi, sekarang sudah banyak pelaku-pelaku *kejahatan yang menggunakan media tayangan televisi untuk mengetahui suatu teknik dalam melaksanakan *kejahatan. Satya : Kalau itu namanya bukan merusak karakter, tapi dia memang karakternya sudah rusak dari dulu. Dion : Orang yang melakukan tindak *kriminal itu memang dari dulunya sudah memiliki dorongan untuk melakukan tindak *kriminalnya itu. Tri : Saya belum pernah mendengar ada seorang pelaku *kriminal melakukan kejahatan dengan alasan karena sering menonton tayangan *kekerasan. Andien : Ingat, karakter yang rusak itu bukanlah hanya orang melakukan tindakan *kriminal atau semacamnya. Tapi orang yang bolos sekolah, tidak mengedakan PR itu juga termasuk orang yang berkarakter buruk. Bayu : Itu lebih disebabkan karena orang tersebut sering menonton tayangan di TV dan mempraktikkannya dalam dunia nyata. Cika : Sehingga kali ini di buku-buku LKS juga disebutkan pendidikan karakter, dan itu bertujuan untuk mengurangi masalah yang disebabkan karena alasan tadi. Satya : Tapi sekarang TV sudah ada di mana-mana di setiap rumah. Dion : Dan setiap siswa pasti akan menontonnya. Bahkan, tayangan *kekerasan sudah biasa, karena jaman sekarang acara TV itu kebanyakan yang seperti itu. Tri : Tapi tidak semua siswa yang ada di kelas ini memilik karakter yang buruk, kan? Andien : Karena orang tidak akan berubah sifatnya dengan seketika, setelah orang itu nonton, sifatnya langsung berubah. Tidak mungkin seperti itu. Satya : Berarti perusakan watak sesorang bukanlah karena tayangan TV, kan? Bayu : Orang tidak akan merubah karakternya dengan seketika. Dion : Lalu, bagaimana dengan orang yang memilik watak yang buruk di sekolahnya? Cika : Itu karena orang tersebut memang dari dulunya seperti itu, dan tayangan TV semakin memperparahnya. Tri : Berarti intinya karakter buruk itu bukan karena tayangan *kekerasan di TV, tapi karena dorongan dari dirinya. Satya : Kalau memang tayangan *kekerasan itu merusak karakter bangsa, mengapa masih belum ada penegasan dari pemerintah, misalnya undang-undang atau semacamnya. Tri : Itu karena memang tayangan *kekerasan di TV itu masih belum sepenuhnya bisa merusak karakter bangsa. Satya : Walaupun memang sekarang banyak sekali karakter bangsa yang rusak tapi itu bukanlah sepenuhnya akibat tayangan di TV tapi waktulah yang merubah semua itu, karena tayangan di TV itu sepenuhnya hanyalah untuk hiburan semata. Tapi musibah yang datang kepada semua orang itu menyebabkan *tekanan yang *berat sehingga orang tersebut karakternya menjadi rusak. Andien : Waktu itu sementara, tapi pengalaman untuk selamanya. Memang orang yang melihat tayangan *kekerasan di TV itu tidak akan langsung rusak karakternya. Bayu : Tapi ingatan/imajinasi tayangan tersebut akan langsung melekat di dalam pikiran orang tersebut sampai kapanpun. Cika : Ketika orang itu mangalami *tekanan, maka imajinasi itu akan muncul dan langsung merubah pikirannya. Perlahan tapi pasti karakter *jelek akan muncul dari dalam dirinya. Dion : Jadi intinya bukan tayangan *kekerasan di televisi yang merusak karakter, tapi *tekanan *beratlah yang bisa menimbulkan orang tersebut melakukan apapun yang dia sukai. Tri : Sehingga watak b*uruk akan muncul dari dalam dirinya. Satya : Walaupun di sekolah sudah diadakan pendidikan karakter tapi itu tidak akan merubah semuanya, karena imajinasi *kekerasan yang ditonton ketika kecil akan selalu ada dalam pikiran setiap manusia, di manapun dan sampai kapanpun. Andien : Jadi semuanya setuju dengan pernyataan bahwa tayangan* kekerasan di televisi itulah yang merusak karakter bangsa, kan? Moderator : Jadi kesimpulannya adalah tayangan *kekerasan di televisi memang akan *merusak dan *meracuni otak kalian untuk ke depannya dan ketika kita mengalami *tekanan yang berat maka imajinasi *kekerasan akan muncul di dalam pikiran kita, karena tidak mungkin Ketika kita mengalami masalah yang ada di dalam pikiran kita itu adalah Spongebob, Marsha and The Bear, dan lainnya. Tapi yang akan muncul adalah imajinasi yang memang bisa menuntaskan masalah tersebut yang salah satunya adalah tayangan *kekerasan tadi. Waktu itu sementara, tapi pengalaman adalah untuk selamanya, tayangan itu tidak akan langsung merusak, tapi akan selalu ada dalam pikiran kita selamanya. Pendidikan karakter hanyalah sebagian kecil dari pembelajaran yang tidak akan bisa menuntaskan masalah tersebut, karena imajinasi itu lebih cerdas dari hanya sekadar pendidikan. Sumber: http:/jgamesojter-arena. blogspot. co. id/2014/ 05/contoh-teks-debat. html dengan pengubahan 2a. Permasalahan apakah yang mereka perdebatkan?"

2

0.0

Jawaban terverifikasi

Chairil Anwar, Penyair Legendaris Indonesia Chairil Anwar lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Ia kemudian pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, tempat di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah memublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, *kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young *Dead Soldiers", karya Archibald Macleish (1948). Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan sajaknya yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku *binatang *jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka. Chairil Anwar yang dikenal sebagai "Si *Binatang *Jalang"(dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan '45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. Puisi-puisinya digemari hingga saat ini. Salah satu puisinya yang paling terkenal sering dideklamasikan berjudul Aku ("Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat "Gelanggang" dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan "Gelanggang Seniman Merdeka" (1946). Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil *Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin); Aku Ini *Binatang *Jalang (1986); Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-Derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku Ini *Binatang *Jalang (1986). Karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Sementara karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol adalah: "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); "Cuatro Poemas Idonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969); The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970); The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H.B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974); Feuer und Asche: samtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978); The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993) Chairil Anwar *meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Walau telah tiada, puisi-puisi "Si *Binatang *Jalang" ini telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Ia seorang penyair legendaris Indonesia yang karya- karyanya hidup dalam batin (digemari) sepanjang zaman. Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar. (Dicuplik dengan penggubahan dari www.id.wikipedia.org) 2j. Apa bukti keabadian karya Chairil Anwar?

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

hadap peritaku anak bangsa untuk ke depannya dan akan membuat anak bangsa yang menjadi penerus Indonesia nantinya hancur dan setalu mernbuat masalah untuk negaranya sendiri. Tapi bagaimanakah cara mengatasinya? Walaupun sudah ada undang-undang yang menjelaskan tentang tayangan *kekerasan, tapi undang-undang itu masih sulit diterapkan di Indonesia. Lalu bagaimanakah cara mengatasinya? Mari kita pecahkan bersama dengan debat berikut ini. Andien : Banyak *kekerasan yang ditayangkan di televisi dan jika terus dibiarkan, itu akan sangat merusak karakter bangsa untuk ke depannya. Satya : Merusak karakter? Saya pikir tidak. Dion : Iya betul. Tayangan *kekerasan justru akan membawa seseorang yang menontonnya terbawa ke dalam kehidupan nyata. Itu malah lebih bagus. Bayu : Justru itu yang tidak boleh dibiarkan. Jika sudah terbawa dalam kehidupan nyata, cara menanggulanginya pun akan lebih sulit. Cika : Hal itu akan menimbulkan dampak besar bagi bangsa kita. Tri : Dampak besar seperti apa maksudnya? Andien : Sekarang banyak sekali tindakan *kriminal yang dilakukan di masyarakat, dan saya rasa itu karena mereka sering menonton- tayangan-tayangan seperti itu. Dion : Saya pikir itu bukan karena tayangan *kekerasan, karena walaupun orang tersebut tidak menonton tayangan tersebut kalau orang yang sudah memiliki jiwa keras pasti dia akan tetap melakukannya. Satya : Setiap orang pasti memiliki karakter yang buruk, tapi karakter itu tidak akan selalu datang ketika orang tersebut tidak memiliki tekanan. Bayu : Dan tayangan itulah yang menimbulkan *tekanan sehingga karakter buruk dari seseorang itu muncul. Tri : Saya rasa itu tidak menimbulkan *tekanan, justru tayangan yang dia tonton itu yang memang dia sukai. Jadi dia akan mersa lebih senang melihat itu, bukan tertekan. Cika : Tapi, sekarang sudah banyak pelaku-pelaku *kejahatan yang menggunakan media tayangan televisi untuk mengetahui suatu teknik dalam melaksanakan *kejahatan. Satya : Kalau itu namanya bukan merusak karakter, tapi dia memang karakternya sudah rusak dari dulu. Dion : Orang yang melakukan tindak *kriminal itu memang dari dulunya sudah memiliki dorongan untuk melakukan tindak *kriminalnya itu. Tri : Saya belum pernah mendengar ada seorang pelaku *kriminal melakukan kejahatan dengan alasan karena sering menonton tayangan *kekerasan. Andien : Ingat, karakter yang rusak itu bukanlah hanya orang melakukan tindakan *kriminal atau semacamnya. Tapi orang yang bolos sekolah, tidak mengedakan PR itu juga termasuk orang yang berkarakter buruk. Bayu : Itu lebih disebabkan karena orang tersebut sering menonton tayangan di TV dan mempraktikkannya dalam dunia nyata. Cika : Sehingga kali ini di buku-buku LKS juga disebutkan pendidikan karakter, dan itu bertujuan untuk mengurangi masalah yang disebabkan karena alasan tadi. Satya : Tapi sekarang TV sudah ada di mana-mana di setiap rumah. Dion : Dan setiap siswa pasti akan menontonnya. Bahkan, tayangan *kekerasan sudah biasa, karena jaman sekarang acara TV itu kebanyakan yang seperti itu. Tri : Tapi tidak semua siswa yang ada di kelas ini memilik karakter yang buruk, kan? Andien : Karena orang tidak akan berubah sifatnya dengan seketika, setelah orang itu nonton, sifatnya langsung berubah. Tidak mungkin seperti itu. Satya : Berarti perusakan watak sesorang bukanlah karena tayangan TV, kan? Bayu : Orang tidak akan merubah karakternya dengan seketika. Dion : Lalu, bagaimana dengan orang yang memilik watak yang buruk di sekolahnya? Cika : Itu karena orang tersebut memang dari dulunya seperti itu, dan tayangan TV semakin memperparahnya. Tri : Berarti intinya karakter buruk itu bukan karena tayangan *kekerasan di TV, tapi karena dorongan dari dirinya. Satya : Kalau memang tayangan *kekerasan itu merusak karakter bangsa, mengapa masih belum ada penegasan dari pemerintah, misalnya undang-undang atau semacamnya. Tri : Itu karena memang tayangan *kekerasan di TV itu masih belum sepenuhnya bisa merusak karakter bangsa. Satya : Walaupun memang sekarang banyak sekali karakter bangsa yang rusak tapi itu bukanlah sepenuhnya akibat tayangan di TV tapi waktulah yang merubah semua itu, karena tayangan di TV itu sepenuhnya hanyalah untuk hiburan semata. Tapi musibah yang datang kepada semua orang itu menyebabkan *tekanan yang *berat sehingga orang tersebut karakternya menjadi rusak. Andien : Waktu itu sementara, tapi pengalaman untuk selamanya. Memang orang yang melihat tayangan *kekerasan di TV itu tidak akan langsung rusak karakternya. Bayu : Tapi ingatan/imajinasi tayangan tersebut akan langsung melekat di dalam pikiran orang tersebut sampai kapanpun. Cika : Ketika orang itu mangalami *tekanan, maka imajinasi itu akan muncul dan langsung merubah pikirannya. Perlahan tapi pasti karakter *jelek akan muncul dari dalam dirinya. Dion : Jadi intinya bukan tayangan *kekerasan di televisi yang merusak karakter, tapi *tekanan *beratlah yang bisa menimbulkan orang tersebut melakukan apapun yang dia sukai. Tri : Sehingga watak b*uruk akan muncul dari dalam dirinya. Satya : Walaupun di sekolah sudah diadakan pendidikan karakter tapi itu tidak akan merubah semuanya, karena imajinasi *kekerasan yang ditonton ketika kecil akan selalu ada dalam pikiran setiap manusia, di manapun dan sampai kapanpun. Andien : Jadi semuanya setuju dengan pernyataan bahwa tayangan* kekerasan di televisi itulah yang merusak karakter bangsa, kan? Moderator : Jadi kesimpulannya adalah tayangan *kekerasan di televisi memang akan *merusak dan *meracuni otak kalian untuk ke depannya dan ketika kita mengalami *tekanan yang berat maka imajinasi *kekerasan akan muncul di dalam pikiran kita, karena tidak mungkin Ketika kita mengalami masalah yang ada di dalam pikiran kita itu adalah Spongebob, Marsha and The Bear, dan lainnya. Tapi yang akan muncul adalah imajinasi yang memang bisa menuntaskan masalah tersebut yang salah satunya adalah tayangan *kekerasan tadi. Waktu itu sementara, tapi pengalaman adalah untuk selamanya, tayangan itu tidak akan langsung merusak, tapi akan selalu ada dalam pikiran kita selamanya. Pendidikan karakter hanyalah sebagian kecil dari pembelajaran yang tidak akan bisa menuntaskan masalah tersebut, karena imajinasi itu lebih cerdas dari hanya sekadar pendidikan. Sumber: http:/jgamesojter-arena. blogspot. co. id/2014/ 05/contoh-teks-debat. html dengan pengubahan 2d. Siapakah yang menjadi tim penengah? Buktikanlah!

2

0.0

Jawaban terverifikasi

Judul : Negeri 5 Menara Pengarang : A. Fuadi Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : Tahun 2009 Jumlah halaman : Xii + 423 halaman Kota tempat terbit : Jakarta Kategori : Novel/Fiksi Harga : Rp 50.000,00 Ukuran Novel : 19,7 x 13,7 cm Ahmad Fuadi lahir di Bayur, kampung kecil di pinggir danau Maninjau. tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi perintah ibunya untuk masuk ke sekolah agama. Di pondok modern Gontor, dia bertemu kiai dan ustad yang diberi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan akhirat. Gontor pula yang mengajarkan kepadanya ”mantra” sederhana yang sangat kuat , mad jadda wajjada, siapa yang bersungguh sunguh akan sukses. Lulus kuliah Hubungan Iternasional, UNPAD, dia menjadi Wartawan majalah TEMPO. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportase di bawah bimbingan para wartawan senior. Tahun 1999, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2 di school of Media and Publicc Affairis, George Washington University,USA. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya-yang juga wartawanTempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden Tempodan wartawan Voice of Amerika (VOA). Berita bersejarah sejarah seperti tragedi 11 september dolaporkan mereka berdua langsung dari Pantagon, white House dab Capitol Hill. Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening Award untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Seorang Scholarship Hunter, Fuadi selalu bersemangat melanjutkan sekolah dengan mencari beasiswa. Sampai sekarang, Fuadi telah mendapat 8 beasiswa untuk belajar di luar negeri. Dia telah mendapatkan kesempatan tinggal dan belajar di Kanada, Singapura, Amerika Serikat dan Inggris. Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi The Nature Conservancy, sebuah NGO konservasi internasional. Kini, Fuadi sibuk menulis, jadi pembicaraan dan motivator. Ia mulai menggarap film layar lebar Negeri 5 Menara serta membangun yayasan sosial untuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu-Komunitas Menara. Negeri 5 Menara telah mendapat beberapa penghargaan, antara lain Nominasi Khatulistiwa Award 2010 dan Penulis dan Buku Fiksi Terfavorit 2010 versi Anugerah Pembaca indonesia Twitter : @fuadi1 (pakai angka 1) Facebook fanpage : Negeri 5 Menara Email : [email protected] Email untuk mengundang : [email protected] SINOPSIS Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Alif dari kecil sudah bercita-cita ingin menjadi B.J Habibie, maka dari itu selepas tamat SMP Alif sudah berencana melanjutkan sekolah Ke SMU negeri di Padang yang akan memuluskan langkahnya untuk kuliah dijurusan yang sesuai. Namun, Amak menginginkan Alif jadi penerus Buya Hamka, membuat mimpi Alif kandas. Alif diberi pilihan sekolah di sekolah agama atau mondok di pesantren. Sempat marah tapi akhirnya Alif ikhlas karena alif tidak ingin mengecewakan harapan orang tua khususnya ibu, alif pun menjalankan keinginan ibunya dan masuk pondok. Atas saran dari pamannya dikairo alif kecil pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah di pondok yang ada di Jawa Timur : PONDOK MADANI. Walaupun awalnya amak berat dengan keputusan Alif yang memilih pondok di Jawa bukan yang ada di dekat rumah mereka dengan pertimbangan Alif belum pernah menginjak tanah diluar ranah minang, namun akhirnya ibunya merestui keinginan Alif itu. Awalnya Alif setengah hati menjalani pendidikan dipondok karena dia harus merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB dan menjadi seperti Habibie. Namun kaliamat bahasa Arab yang didengar Alif dihari pertama di PM (pondok madani )mampu mengubah pandangan alif tentang melanjutkan pendidikan di Pesantren sama baiknya dengan sekolah umum. ” mantera” sakti yang diberikan kiai Rais (pimpinan pondok ) man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan Alif pun mulai menjalani hari-hari dipondok dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Di PM Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan si jenius Baso dari Gowa, Sulawesi. Ternyata kehidupan di PM tidak semudah dan sesantai menjalani sekolah biasa. Hari-hari Alif dipenuhi kegiatan hapalan Al-Qur’an, belajar siang-malam, harus belajar berbicara bahasa Arab dan Inggris di 6 Bulan pertama. Karena PM melarang keras murid-muridnya berbahasa Indonesia, PM mewajibkan semua murid berbahasa Arab dan Inggris. Belum lagi peraturan ketat yang diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Tahun-tahun pertama Alif dan ke 5 temannya begitu berat karena harus menyesuaikan diri dengan peraturan di PM. Hal yang paling berat dijalani di PM adalah pada saat ujian, semua murid belajar 24 jam nonstop dan hanya beberapa menit tidur. Mereka benar-benar harus mempersiapkan mental dan fisik yang prima demi menjalani ujian lisan dan tulisan yang biasanya berjalan selama 15 hari. Namun disela rutinitas di PM yang super padat dan ketat. Alif dan ke 5 selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dibawah menara mesjid, sambil menatap awan dan memikirkan cita-cita mereka kedepan. Ditahun kedua dan seterusnya kehidupan Alif dan rekan-rekannya lebih berwarna dan penuh pengalaman menarik. Di PM semua teman, guru, satpam, bahkan kakak kelas adalah keluarga yang harus saling tolong menolong dan membantu. Semua terasa begitu kompak dan bersahabat, sampai pada suatu hari yang tak terduga, Baso , teman alif yang paling pintar dan paling rajin memutuskan keluar dari PM karena permasalahan ekonomi dan keluarga. Kepergian Baso, membangkitkan semangat Alif, Atang, Dulmajid, Raja dan Said untuk menamatkan PM dan menjadi orang sukses yang mampu mewujudkan cita-cita mereka menginjakkan kaki di benua Eropa dan Amerika. Kini semua mimpi kami berenamtelah menjadi nyata. Kami berenam telah berada lima Negara yang berbeda, sesuai dengan lukisan dan imajinasi kita di awan. Aku (Alif) berada di Amerika, Raja di Eropa, sementara Atang di Afrika, Baso berada di Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis mereka di Negara kesatuan Indonesia tercinta. Di lima menara impian kami. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Pendengar. Man jadda wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Gaya bahasa yang digunakan menggabungkan kejelian observasi seorang reporter dan kekalisan jelajah imajinasi literer dalam Negeri 5 Menara yang inspiratif. Dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A.Fuandi berhasil memetakan seluk-beluk pesantren modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Dinamika kehidupan internal pesantren berpadu mulus dengan riuhnya suasana global di jantung peradaban modern yang serba bergegas. Sebuah Novel yang membuktikan bahwa tak ada hal yang tak bisa dicapai manusia di dalam hidupnya. A.Fuandi berhasil membuat banyak orang ingin tahu lebih dalam tentang dunia pesantren sebagai pusat keunggulan, termasuk kalangan non-muslim. Penelusuran jejak-jejak pesahabatan dan pencapaian cita-cita diramu dalam kisah yang sekaligus melibatkan petualangan, religi, dan wawasan yang mengesankan. Gontor menanamkan berbagai nilai-nilai pendidikan, nilai kejuangan, nilai kebersamaan, sehingga murid-murid terdidik secara total untuk berkarya penuh totalitas di masyarakat. Kata “man jadda wa jadda” akan senantiasa memotivasi setiap anak dan akan melahirkan kesuksesan dimasa depan mana kala diikuti dengan kreatifitas, ketabahan dan keikhlasan. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua atas izin Allah dan usaha manusia. Buku ini telah menjadi bukti yang inspiratif. Ditulis dalam bahasa yang ringan. Terkadang serius namun lebih sering kocak. Kesimpulanya "man jadda wa jadda" artinya "yang penting usaha," maka Allah akan membukakan jalan ke jendela dunia. Kelemahan dari Novel Negeri 5 Menara adalah klimaks cerita kurang menonjol sehingga para pembaca merasa dinamika cerita sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya. Hal ini mungkin disebabkan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya. Novel ini berkisah tentang generasi muda bangsa yang penuh motivasi, bakat, semangat, dan optimisme untuk maju dan tidak kenal menyerah, merupakan pelajaran yang amat berharga bukan saja sebagai karya seni, tetapi juga tentang proses pendidikan dan pembudayaan untuk terciptanya sumberdaya insani yang handal. Fuandi mengelola nostalgia menjadi novel yang menyentuh sekaligus menjadi diskusi kritis yang bersimpatik tentang pendidikan kehidupan. Novel ini harga buku yang cukup mahal bagi kantong pelajar, tidak ada illustrasi atau gambar nama-nama pelaku pada novel ini kurang jelas, dan alur yang digunakan campuran, sehingga cerita menjadi sedikit rumit. Sebutkan komentar negatif dalam tanggapan novel "Negeri 5 Menara" di atas !

5

5.0

Jawaban terverifikasi

When you think of festivals, do you think street parades, traditional events and colourful costumes? Well, think again! Nowadays, it's fashionable to stay indoors with your screens! Why? It's to celebrate video-gaming, which is one of the most popular hobbies around. There are lots of big gaming festivals in the world and the UK is one of the main centres because most gamers communicate in English. Insomnia, which is the biggest festival in the UK, is held every year near Birmingham and attracts thousands of young people. It's an amazing get-together where you can meet the world's most renowned players. Some of these celebrities are only eleven or twelve years old! There are tournaments of popular games like Mortal Kombat. Minecraft is also everywhere, which shows that it is a real cultural phenomenon. Although the festival happens inside and everyone is glued to screens, these events have a lot in common with traditional festivals. There are many fans who form long queues to watch celebrity gamers on big stages. There are incredible light displays and giant screens everywhere. At first sight, it looks more like a rock concert! We interviewed a teenager at the Insomnia festival in Coventry to see what she thought: Marcela: 'This is the best party I've ever been to! I've travelled across the world to be here. There's a real sense of community. I've met a lot of people who I only knew from the internet. We share our love for video games and discuss how best to play them. It's great for my English because that's what everyone speaks online and here too!' Choose the correct option according to the reading text! 1. The article says that staying in is now more / less trendy than going out. 2.Gaming events are popular in the UK because of the great facilities / English is the common language . 3. Some of the most famous players are pre-teens / young adults . 4. Video game events are more similar to / different from traditional events than you think. 5. The celebrity video gamers are in the audience / on stage like superstars.

2

0.0

Jawaban terverifikasi