Jusnnt J

26 Juli 2019 15:00

Iklan

Jusnnt J

26 Juli 2019 15:00

Pertanyaan

bahasa inggrisnya dua : two mobil :car adalah : is tiga : three digabung menjadi : tukar istri πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

01

:

44

:

07

Klaim

1

2


Iklan

Jusnnt J

26 Juli 2019 15:00

dijawab yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Iklan

Jusnnt J

04 Agustus 2019 13:52

dijawab dobg plisssssssssssπŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡yg jawab aku doakan masuk syurga terus yg gak jawab masuk neraka aminnnnnnnn


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Hikayat si Miskin Asalnya raja kayangan dan jadi demikian karena disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya sangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggallah dua suami-istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah-buahan. Hatta beberapa lamanya maka istri si Miskin itu pun hamillah tiga bulan lamanya. Maka istrinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Maka suaminya itu pun terketukkan hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja tiada ia mau beranak. Maka sekarang telah mudhorot. Maka baharulah hendak beranak seraya berkata kepada istrinya, β€œAyo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.” Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, β€œDiamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu kakanda berikan pada tuan.” Maka istrinya itu pun diamlah. Maka suaminya itu pun pergilah ke pasar mencahari buah mempelam itu. Setelah sampai di orang berjualan buah mempelam maka si Miskin itu pun berhentilah di sana. Hendak pun dimintanya takut ia akan dipalu orang. Maka kata orang yang berjualan buah mempelam, β€œHai miskin. Apa kehendakmu?” Maka sahut si Miskin, β€œJikalau ada belas dan kasihan serta rahim tuan akan hamba orang miskin hamba ini minta diberikan yang sudah terbuang itu. Hamba hendak memohonkan buah mempelam tuan yang sudah busuk itu barang *sebiji sahaja tuan.” Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu yang mendengar kata si Miskin. Seperti hancurlah rasa hatinya. Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buah-buahan. Maka si Miskin itu pun heranlah akan dirinya oleh sebab diberi orang pasar itu berbagai-bagai jenis pemberian. Adapun akan dahulunya jangankan diberinya barang suatu hampir pun tiada boleh. Habislah dilemparnya dengan kayu dan batu. Setelah sudah ia berpikir dalam hatinya demikian itu maka ia pun kembalilah ke dalam hutan mendapatkan istrinya. Maka katanya, β€œInilah Tuan, buah mempelam dan segala buah-buahan dan makan-makanan dan kain baju. Itupun di-injakkannyalah istrinya seraya menceriterakan hal ihwalnya tatkala ia di pasar itu. Maka istrinya pun menangis tiada mau makan jikalau bukan buah mempelam yang di dalam taman raja itu. β€œBiarlah aku mati sekali.” Maka terlalulah sebal hati suaminya itu melihatkan akan ke-lakuan istrinya itu seperti orang yang hendak mati. Rupanya tiadalah berdaya lagi. Maka suaminya itu pun pergilah menghadap Maharaja Indera Dewa itu. Maka baginda itu pun sedang ramai dihadap oleh segala raja-raja. Maka si Miskin datanglah. Lalu masuk ke dalam sekali. Maka titah baginda, β€œHai Miskin, apa kehendakmu?” Maka sahut si Miskin, β€œAda juga tuanku.” Lalu sujud kepalanya lalu diletakkannya ke tanah, β€œAmpun Tuanku, beribu-ribu ampun tuanku. Jikalau ada karenanya Syah Alam akan patuhlah hamba orang yang hina ini hendaklah memohonkan buah mempelam Syah Alam yang sudah gugur ke bumi itu barangkali Tuanku.” Maka titah baginda, β€œHendak engkau buatkan apa buah mempelam itu?” Maka sembah si Miskin, β€œHendak dimakan, Tuanku.” Maka titah baginda, β€œAmbilkanlah barang setangkai berikan kepada si Miskin ini”. Maka diambilkan oranglah diberikan kepada si Miskin itu. Maka diambillah oleh si Miskin itu seraya menyembah kepada baginda itu. Lalu keluar ia berjalan kembali. Setelah itu maka baginda pun berangkatlah masuk ke dalam istananya. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang rakyat sekalian itu pun masing-masing pulang ke rumahnya. Maka si Miskin pun sampailah kepada tempatnya. Setelah dilihat oleh istrinya akan suaminya datang itu membawa buah mempelam setangkai. Maka ia tertawa-tawa. Seraya disambutnya lalu dimakannya. Maka adalah antaranya tiga bulan lamanya. Maka ia pun menangis pula hendak makan nangka yang di dalam taman raja itu juga. Demikian juga si Miskin mendapat nangka di kebun raja itu untuk istrinya yang mengidam itu Adapun selama istrinya si Miskin hamil maka banyaklah makan-makanan dan kain baju dan beras padi dan segala perkakas-perkakas itu diberi orang kepadanya. Dan pada ketika yang baik dan saat yang sempurna, pada malam empat belas hari bulan maka bulan itu pun sedang terang-tumerang maka pada ketika itu istri si Miskin itu pun beranaklah seorang anak lelaki terlalu amat baik parasnya dan elok rupanya. Anak itu dinamakan Marakarmah, artinya anak di dalam kesukaran. Hatta maka dengan takdir Allah Swt. menganugerahi kepada hambanya. Maka si Miskin pun menggalilah tanah hendak berbuat tempatnya tiga beranak itu. Maka digalinyalah tanah itu hendak mendirikan tiang teratak itu. Maka tergalilah kepada sebuah telaju yang besar berisi emas terlalu banyak. Maka istrinya pun datanglah melihat akan emas itu. Seraya berkata kepada suaminya, β€œAdapun akan emas ini sampai kepada anak cucu kita sekalipun tiada habis dibuat belanja.” Ia menjadi kaya dan menempah barang-barang keperluannya- kendi, lampit, utar-utar, pelana kuda, keris, dan sebagainya. Sekembalinya dari menempah barang-barang itu dia mandi berlimau, menimang anaknya dan berseru, β€œJikalau sungguh-sungguh anak dewa-dewa hendak menerangkan muka ayahanda ini, jadiIah negeri di dalam hutan ini sebuah negeri yang lengkap dengan kota, parit dan istananya serta dengan menteri, hulubalang, rakyat sekalian dan segala raja-raja di bawah baginda, betapa adat segala raja-raja yang besar!” Kabul permintaan itu dan si Miskin menjadi raja bertukar nama Maharaja Indera Angkasa dan istrinya bertukar nama Ratna Dewi dan negeri itu dinamakan Puspa Sari. (Sumber: Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952, dengan penyesuaian) 8. Tentukan masalah yang dihadapi tokoh Maharaja Indera Dewa pada teks Hikayat si Miskin.

14

5.0

Jawaban terverifikasi

H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia H.B Jassin merupakan tokoh sastra Indonesia kelahiran Gorontalo, pada tanggal 31 juli 1917. Bernama lengkap Hans Bague Jassin, ia adalah tokoh yang banyak mempunyai andil dalam kemajuan sastra di tanah air kita ini. Pemerhati yang amat berjasa dalam mengembangkan sastra dan tata bahasa Indonesia. Masih segar dalam catatan sejarah sastra dan kebudayaan di Indonesia, tentang kurang lebih 30 ribuan koleksi H.B. Jassin baik berupa buku, majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi dari pengarang yang ada di Indonesia. Kini koleksi itu tersimpan di pusat dokumentasi sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Hal itu membuktikan bahwa H.B. Jassin sangat peduli dengan sastra dan menjalaninya dengan ketekunan, sebab butuh ketelitian yang lebih dalam menata koleksi-koleksi sastra yang berhasil dihimpun. Tidak dapat dipungkiri, fakta tentang besarnya pengaruh H.B. Jassin di kalangan sesama sastrawan, bahkan H.B. Jassin sampai dijuluki "Paus Sastra Indonesia" oleh Gajus Siagian. Hal ini terjadi karena pada waktu itu, setiap sastrawan akan benar-benar diterima di kalangan sastrawan Indonesia pada waktu itu apabila telah mendapat pengakuan dari H.B. Jassin. Agak berlebihan memang, tetapi itulah fakta yang terjadi pada waktu itu. Contoh yang paling dikenal adalah Chairil Anwar yang dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor angkatan 45. Sampai-sampai Prof. A.A. Teeuw yang juga seorang ahli sastra Indonesia pun menyempatkan diri untuk memberi sebuah julukan lain bagi H.B. Jassin, yaitu "Wali Penjaga Sastra Indonesia." Semasa hidupnya, H.B. Jassin adalah sosok yang sangat peduli dengan sastra dan perkembangannya di Indonesia. Ia memberikan perhatiannya dari waktu ke waktu dalam mendorong kemajuan sastra dan kebudayaan di Indonesia. H.B. Jassin juga dikenal oleh banyak kalangan sebagai kritisi sastra terkemuka Indonesia, dan kesemuanya itu bukanlah asal kritikan yang tanpa memiliki dasar. Hal itu disebabkan H.B. Jassin yang memiliki dokumntasi sastra pribadi yang paling lengkap, yang sudah pasti menjadi acuannya, sebagai bahan perbandingan yang yang relevan. H.B. Jassin merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani (pegawai) Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan ibunya bernama Habiba Jau. Kegemarannya dalam membaca telah terlihat ketika memulai pendidikannya di Hollansislanse School (HIS). Dari sini pulalah ia mulai mengenal hal-hal tentang sastra, terutama mengarang dan puisi. Bakatnya itu semakin jelas terlihat setelah tamat MULO, yaitu ketika dia di HBS yang dijalaninya di Medan, karena mengikuti ayahnya yang pada waktu itu harus pindah ke BPM di Pangkalan Brandan. Beberapa karyanya telah dimuat di majalah pada waktu itu. Setelah tamat dari HBS, H.B. Jassin bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo. Walaupun hal itu dilakoni dengan tanpa menerima gaji, namun memberinya banyak kesempatan untuk dapat mempelajari cara membuat dokumentasi secara baik. Kemudian H.B. Jassin menerima tawaran pekerjaan dari Sutan Takdir Alisjahbana, yang pada waktu itu adalah redaktur majalah Balai Poestaka tahun 1940. Selama bekerja di Balai Pustaka, H.B. Jassin menulis juga beberapa cerpen dan sajak. Kemudian H.B. Jassin pindah ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Semasa di Balai Pustaka ini jugalah, H.B. Jassin mulai mengenal banyak sastrawan yang telah lebih dahulu dikenal. Ketika pindah di bidang kritik serta dokumentasi sastra, H.B. Jassin banyak belajar tentang bagaimana cara membuat sebuah timbangan buku yang baik, dan hal ini dia perolehnya dari Armin Pane. H.B. Jassin juga pernah menjadi redaktur di beberapa majalah sastra dan budaya seperti Horison, Mimbar Indonesia, Pandji Poestaka, Pantja Raja, Zenith, Kisah, Sastra, Buku Kita dan Medan Ilmu Pengetahuan. Gelar kesarjananya dari jurusan sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia diperolehnya pada tahun 1957. Kemudian doktor sastra modern ini memperoleh doktor honoris causa-nya juga di Universitas Indonesia. H.B. Jassin juga sempat mendalami ilmu tentang perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat. H.B. Jassin adalah tipe sastrawan yang lebih banyak menulis dan sangat berhati-hati ketika berbicara. Kehati-hatiannya ini, membuat dia kadang menolak ketika didaulat untuk berbicara di depan publik pada kegiatan-kegiatan resmi, seperti seminar atau simposium. Tawaran untuk dia agar tampil sebagai pembicara, pasti akan ditampiknya, jika sadar bahwa ujung-ujungnya akan menghasilkan sebuah perdebatan. Dia pernah dikecam setelah menandatangani Manifestasi Kebudayaan (Manikebu). Oleh kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), H.B. Jassin dianggap sosok yang anti-Soekarno. Oleh karena itu, dia dipecat sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia dan dari lembaga bahasa. Cerpen karangan H.B. Jassin yang berjudul "Panji Kusmin, Langit Makin Mendung", yang dimuat pada majalah sastra, 1971 bahkan sempat dianggap menghina Tuhan, yang berujung sampai ke persidangan. Di pengadilan, H.B. Jassin diminta untuk mengungkapkan siapa tokoh yang bernama Ki Panji Kusmin dalam cerpen itu. Satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun adalah imbalan, karena H.B. Jassin menolak untuk mengungkapkan tentang siapa Ki Panji Kusmin. Perceraian H.B. Jassin dengan Tientje van Buren adalah riwayat dari 3 kali menikah yang dialaminya. Istri kedua dari tokoh yang memiliki 4 orang anak ini adalah Arsiti, yang kemudian meninggal pada tahun 1962 setelah memberinya 2 orang anak. Satu lagi wanita bernama Yuliko Willem adalah istri terakhir H.B. Jassin yang juga memberinya 2 orang anak. H.B. Jassin meninggal di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada tanggal 11 maret 2000, dalam usia 83 tahun. Sebagai penghormatan pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasa beliau, H.B. Jassin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta. Sastrawan besar itu telah pergi untuk selamanya, namun jasa dan pengabdiannya dalam membesarkan sastra dan kebudayaan di tanah air, akan selalu ada dalam kenangan sejarah bangsa ini. Sastrawan sekaligus pengkritik sastra indonesia ini meninggalkan banyak bukti otentik tentang lingkaran sejarah sastra dan kesusastraan di tanah air ini. Tak kurang, sebuah pernyataan almarhum mantan presiden Kyai Haji Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang menerangkan, "saya dibesarkan dalam tulisan beliau dalam mimbar Indonesia dan pada beberapa buku, saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tern pat kita berutang kepadanya". Gus Dur adalah pengagum salah satu tulisan H.B. Jassin yang berjudul "Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai," yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1954. (Dicuplik dengan penggubahan dari www.pendjarasoetji.blogspot.co.idjtakoh-sastra-indonesia. html) 8a. Apa yang membuat H.B. Jassin istimewa atau menarik?

6

4.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Chairil Anwar, Penyair Legendaris Indonesia Chairil Anwar lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Ia kemudian pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, tempat di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah memublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, *kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young *Dead Soldiers", karya Archibald Macleish (1948). Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan sajaknya yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku *binatang *jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka. Chairil Anwar yang dikenal sebagai "Si *Binatang *Jalang"(dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan '45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. Puisi-puisinya digemari hingga saat ini. Salah satu puisinya yang paling terkenal sering dideklamasikan berjudul Aku ("Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat "Gelanggang" dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan "Gelanggang Seniman Merdeka" (1946). Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil *Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin); Aku Ini *Binatang *Jalang (1986); Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-Derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku Ini *Binatang *Jalang (1986). Karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Sementara karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol adalah: "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); "Cuatro Poemas Idonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969); The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970); The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H.B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974); Feuer und Asche: samtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978); The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993) Chairil Anwar *meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Walau telah tiada, puisi-puisi "Si *Binatang *Jalang" ini telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Ia seorang penyair legendaris Indonesia yang karya- karyanya hidup dalam batin (digemari) sepanjang zaman. Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar. (Dicuplik dengan penggubahan dari www.id.wikipedia.org) 2j. Apa bukti keabadian karya Chairil Anwar?

1

0.0

Jawaban terverifikasi

H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia H.B Jassin merupakan tokoh sastra Indonesia kelahiran Gorontalo, pada tanggal 31 juli 1917. Bernama lengkap Hans Bague Jassin, ia adalah tokoh yang banyak mempunyai andil dalam kemajuan sastra di tanah air kita ini. Pemerhati yang amat berjasa dalam mengembangkan sastra dan tata bahasa Indonesia. Masih segar dalam catatan sejarah sastra dan kebudayaan di Indonesia, tentang kurang lebih 30 ribuan koleksi H.B. Jassin baik berupa buku, majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi dari pengarang yang ada di Indonesia. Kini koleksi itu tersimpan di pusat dokumentasi sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Hal itu membuktikan bahwa H.B. Jassin sangat peduli dengan sastra dan menjalaninya dengan ketekunan, sebab butuh ketelitian yang lebih dalam menata koleksi-koleksi sastra yang berhasil dihimpun. Tidak dapat dipungkiri, fakta tentang besarnya pengaruh H.B. Jassin di kalangan sesama sastrawan, bahkan H.B. Jassin sampai dijuluki "Paus Sastra Indonesia" oleh Gajus Siagian. Hal ini terjadi karena pada waktu itu, setiap sastrawan akan benar-benar diterima di kalangan sastrawan Indonesia pada waktu itu apabila telah mendapat pengakuan dari H.B. Jassin. Agak berlebihan memang, tetapi itulah fakta yang terjadi pada waktu itu. Contoh yang paling dikenal adalah Chairil Anwar yang dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor angkatan 45. Sampai-sampai Prof. A.A. Teeuw yang juga seorang ahli sastra Indonesia pun menyempatkan diri untuk memberi sebuah julukan lain bagi H.B. Jassin, yaitu "Wali Penjaga Sastra Indonesia." Semasa hidupnya, H.B. Jassin adalah sosok yang sangat peduli dengan sastra dan perkembangannya di Indonesia. Ia memberikan perhatiannya dari waktu ke waktu dalam mendorong kemajuan sastra dan kebudayaan di Indonesia. H.B. Jassin juga dikenal oleh banyak kalangan sebagai kritisi sastra terkemuka Indonesia, dan kesemuanya itu bukanlah asal kritikan yang tanpa memiliki dasar. Hal itu disebabkan H.B. Jassin yang memiliki dokumntasi sastra pribadi yang paling lengkap, yang sudah pasti menjadi acuannya, sebagai bahan perbandingan yang yang relevan. H.B. Jassin merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani (pegawai) Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan ibunya bernama Habiba Jau. Kegemarannya dalam membaca telah terlihat ketika memulai pendidikannya di Hollansislanse School (HIS). Dari sini pulalah ia mulai mengenal hal-hal tentang sastra, terutama mengarang dan puisi. Bakatnya itu semakin jelas terlihat setelah tamat MULO, yaitu ketika dia di HBS yang dijalaninya di Medan, karena mengikuti ayahnya yang pada waktu itu harus pindah ke BPM di Pangkalan Brandan. Beberapa karyanya telah dimuat di majalah pada waktu itu. Setelah tamat dari HBS, H.B. Jassin bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo. Walaupun hal itu dilakoni dengan tanpa menerima gaji, namun memberinya banyak kesempatan untuk dapat mempelajari cara membuat dokumentasi secara baik. Kemudian H.B. Jassin menerima tawaran pekerjaan dari Sutan Takdir Alisjahbana, yang pada waktu itu adalah redaktur majalah Balai Poestaka tahun 1940. Selama bekerja di Balai Pustaka, H.B. Jassin menulis juga beberapa cerpen dan sajak. Kemudian H.B. Jassin pindah ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Semasa di Balai Pustaka ini jugalah, H.B. Jassin mulai mengenal banyak sastrawan yang telah lebih dahulu dikenal. Ketika pindah di bidang kritik serta dokumentasi sastra, H.B. Jassin banyak belajar tentang bagaimana cara membuat sebuah timbangan buku yang baik, dan hal ini dia perolehnya dari Armin Pane. H.B. Jassin juga pernah menjadi redaktur di beberapa majalah sastra dan budaya seperti Horison, Mimbar Indonesia, Pandji Poestaka, Pantja Raja, Zenith, Kisah, Sastra, Buku Kita dan Medan Ilmu Pengetahuan. Gelar kesarjananya dari jurusan sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia diperolehnya pada tahun 1957. Kemudian doktor sastra modern ini memperoleh doktor honoris causa-nya juga di Universitas Indonesia. H.B. Jassin juga sempat mendalami ilmu tentang perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat. H.B. Jassin adalah tipe sastrawan yang lebih banyak menulis dan sangat berhati-hati ketika berbicara. Kehati-hatiannya ini, membuat dia kadang menolak ketika didaulat untuk berbicara di depan publik pada kegiatan-kegiatan resmi, seperti seminar atau simposium. Tawaran untuk dia agar tampil sebagai pembicara, pasti akan ditampiknya, jika sadar bahwa ujung-ujungnya akan menghasilkan sebuah perdebatan. Dia pernah dikecam setelah menandatangani Manifestasi Kebudayaan (Manikebu). Oleh kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), H.B. Jassin dianggap sosok yang anti-Soekarno. Oleh karena itu, dia dipecat sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia dan dari lembaga bahasa. Cerpen karangan H.B. Jassin yang berjudul "Panji Kusmin, Langit Makin Mendung", yang dimuat pada majalah sastra, 1971 bahkan sempat dianggap menghina Tuhan, yang berujung sampai ke persidangan. Di pengadilan, H.B. Jassin diminta untuk mengungkapkan siapa tokoh yang bernama Ki Panji Kusmin dalam cerpen itu. Satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun adalah imbalan, karena H.B. Jassin menolak untuk mengungkapkan tentang siapa Ki Panji Kusmin. Perceraian H.B. Jassin dengan Tientje van Buren adalah riwayat dari 3 kali menikah yang dialaminya. Istri kedua dari tokoh yang memiliki 4 orang anak ini adalah Arsiti, yang kemudian meninggal pada tahun 1962 setelah memberinya 2 orang anak. Satu lagi wanita bernama Yuliko Willem adalah istri terakhir H.B. Jassin yang juga memberinya 2 orang anak. H.B. Jassin meninggal di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada tanggal 11 maret 2000, dalam usia 83 tahun. Sebagai penghormatan pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasa beliau, H.B. Jassin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta. Sastrawan besar itu telah pergi untuk selamanya, namun jasa dan pengabdiannya dalam membesarkan sastra dan kebudayaan di tanah air, akan selalu ada dalam kenangan sejarah bangsa ini. Sastrawan sekaligus pengkritik sastra indonesia ini meninggalkan banyak bukti otentik tentang lingkaran sejarah sastra dan kesusastraan di tanah air ini. Tak kurang, sebuah pernyataan almarhum mantan presiden Kyai Haji Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang menerangkan, "saya dibesarkan dalam tulisan beliau dalam mimbar Indonesia dan pada beberapa buku, saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tern pat kita berutang kepadanya". Gus Dur adalah pengagum salah satu tulisan H.B. Jassin yang berjudul "Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai," yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1954. (Dicuplik dengan penggubahan dari www.pendjarasoetji.blogspot.co.idjtakoh-sastra-indonesia. html) 8c. Kata sifat apa yang mungkin akan sering kamu gunakan untuk menggambarkan H.B. Jassin?

22

0.0

Jawaban terverifikasi

Pelajaran-Pelajaran Para Pelaku: 1. Sang Pemuda 2. Sepuluh orang pemuda berpakaian seragam Panggung menggambarkan sebuah ruang yang luas, tidak ada perlengkapan apa-apa. Kekosongan ruang itu menampilkan suatu situasi: nganga yang menentang, nganga yang mencemooh, bahkan nganga yang menuntut suatu nilai yang bakal diberikan oleh para pemain nantinya. Situasi demikian itu menjadi sumber inspirasi munculnya para pemain nantinya. (Sepuluh orang pemuda, yang berpakaian seragam, masuk berbaris seperti tentara. Sesudah mereka berjalan di tempat, barisan itu memecah menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas lima orang. Satu kelompok menuju ke kanan, satunya menuju samping kiri. Secara bersama-sama mereka membungkuk. Secara bersama-sama pula mereka mengucapkan salam, "Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sore semuanya." Kemudian mereka kembali menjadi statis, menampilkan kehadiran seperti patung-patung.) (Dua orang petugas perlengkapan masuk membawa sebuah knap, menempatkannya di tempat kedua kelompok manusia-manusia patung itu.) Pemuda : (Seorang pemuda dengan pakaian rapi, lengkap dengan sepatu yang rapi, dua bolpoin merah dan hitam di saku bajunya yang putih, masuk ke panggung dengan cara berjalan yang berlagak gagah. Ia menjinjing buku setumpuk, yaitu buku-buku pelajaran sekolah. Sesampainya di depan knap, ia menempatkan diri sejajar dengan kelompok itu, menghadang ke arah yang sama pula dengan mereka. Pemuda itu berdiri tegak dan tegap.) (Kedua kelompok manusia patung membungkuk bersama, sambil berkata secara bersama-sama pula, "Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sorelah semuanya.") Pemuda : "Selamat pagi. Terima kasih." (Pemuda itu lalu menempatkan buku-bukunya di knap.) "Nah, sekarang mulai dengan pelajaran-pelajaran." (Kedua kelompok manusia patung lalu berjalan urut ke depan pemuda, kemudian duduk mendengarkan kata-katanya.) Pemuda : "Bagus. Terpujilah engkau generasi baru, yang dapat mewarisi disiplin yang baik." (Menatap arloji, mengerutkan dahi.) "Tepat saatnya kita ucapkan Panca Prasetia Siswa." (Kelompok manusia patung lalu berdiri dengan tegap. Salah seorang di antara mereka menghadap si Pemuda, menjadi wakil kelompok.) Pemuda: (Memberikan secarik kertas.) Wakil : (Menerima kertas tersebut, kemudian membacanya dengan keras.) "Satu: Kami siswa-siswa SMTA bersemangat satu, berkesetiaan satu, bercita-cita satu." Kelompok : (Menirukan) Wakil : "Dua: Kami siswa-siswa SMTA ber-Tuhan satu." Kelompok : (Menirukan) Wakil : "Tiga: Kami siswa-siswa SMTA bejalan pada rel satu." Kelompok : (Menirukan) Wakil : "Empat: Kami siswa-siswa SMTA berkepribadian satu." Kelompok : (Menirukan) Wakil : "Lima: Kami siswa-siswa SMTA adalah satu, dan bakal tetap menjadi satu." Kelompok : (Menirukan) Wakil : (Kembali ke barisannya) Pemuda : "Pelajaran yang kedua, kita mengenangkan dan merenungkan serta mendoakan arwah nenek moyang kita. Mulai ... cukup." (Pemuda memberi istirahat agar kelompok manusia patung duduk dengan tenang.) Pemuda : "Pelajaran ketiga untuk pagi ini adalah mengingat peraturan-peraturan sekolah kita. Satu: pakaian seragam, tidak boleh merokok, tidak boleh memakai narkoba, tidak boleh pacaran, tidak boleh membaca buku-buku porno, tidak boleh pakai sandal. Kedua: harus ada izin setiap tidak masuk, harus menghormati guru, harus menurut kata-kata guru. Ya?!" Kelompok : (Memandang sang Pemuda.) Pemuda : (Memberi aba-aba seperti seorang dirigen.) Kelompok : (Serentak) "Yaaaaaa." Pemuda : "Nah, ini namanya satu bahasa. Jadi, tidak dua bahasa." Kelompok : (Memandang Lagi kepada sang Pemuda.) Pemuda : (Memberi aba-aba) Kelompok : (Berkata bersama) "Bukaaaaan." Pemuda : "Hebat. Pelajaran Budi Pekerti dimulai. Semua telinga dipersiapkan." Kelompok : (Meraba-raba telinganya sendiri secara bersama-sama.) Pemuda : "Generasi kalian tengah mengalami dekadensi moral. Banyak yang ngebut, banyak yang merokok, banyak yang tidak disiplin. Oleh karena itu, kalian harus menjauhi mereka yang suka ngebut, agar kalian tidak kena pengaruh. Kalian harus berjalan di atas satu rel, agar sampai pada kebahagiaan, tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti. Mengapa begitu?" Kelompok : (Diam) Pemuda : "Mengapa?" Kelompok : (Berkata bersama) "Mengapa?" Pemuda : "Jadi kalian juga tidak mengerti bahwa begitu itu adalah, apa ... sebabnya ... a ... aa ... dekadensi moral, apa itu subversi kebudayaan ... ? Tidak ?" Kelompok : "Tidaaaak." Pemuda : "Bagus. Saya juga tidak mengerti itu. Kita punya buku-buku peraturan." (Mengambil buku yang teratas) "Di sini dikatakan bahwa di negara-negara Barat telah timbul dekadensi moral. Dan kita kena pengaruhnya." (Mengambil buku kedua) "Di sini dikatakan yang dimaksudkan orang-orang Hippies itu, bahwa mereka menunggu maut sambil menghabiskan waktunya." (Mengambil buku ketiga) "Di sini dikatakan, kita harus membangun. Dengar?" Kelompok : "Dengaaaar." Pemuda : "Ya, membangun." Kelompok : "Membanguuuun." Pemuda : "Membangun itu tidak hanya membangun gedung saja, tetapi juga membangun mental." Kelompok : "Mental." Pemuda : "Di samping bahaya dekadensi moral, ada lagi bahaya lain, ialah bahaya teroris." Kelompok : "Bahaya teroris." Pemuda : (Mengambil buku keempat) "Di sini dikatakan membendung bahaya itu. Dengan apa?" Kelompok : "Dengan apaaaa?" Pemuda : "Dengan apa?" Kelompok : "Dengan apaaaa?" Pemuda : "Saya bertanya." Kelompok : "Saya bertanya." Pemuda : "Dengan bertoleransi." Kelompok : "Dengan bertoleransi." Pemuda : "Hebat." Kelompok : "Hebaaaat." Pemuda : "Di samping itu, kita harus ingat sejarah Majapahit." Kelompok : "Majapahit." Pemuda : "Gajah Mada ." Kelompok : "Gajah Mada ." Pemuda : "Baik." Kelompok : "Baik." Pemuda : "Cukup." Kelompok : "Cukup." Pemuda : (Mengambil buku kelima) "Pelajaran lanjutannya. A, i, u, e, o." Kelompok : "A, i, u, e, o." Pemuda : "En , i, en , i, ... ni-ni." Kelompok : "En, i, en , i, ... ni-ni." Pemuda : "Bagus." Kelompok : "Bagus." Pemuda : (Menata buku) Kelompok : (Berdiri, berjalan ke samping kanan dan kiri, lalu berkata) "Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sorelah semuanya." Pemuda : (Pergi membawa buku-buku.) (Dua orang petugas perlengkapan masuk, mengambil knap, membawanya pergi.) Kelompok berbaris berkeliling dua kali sambil berkata, "A, i, e, u, e, i, ni-ni. A, i, u, e, o, ni-ni." Mereka menuju ke luar panggung. Tinggal seorang yang masih berkeliling sendirian. Semakin lama dia berjalan semakin cepat, sambil terus berkata, "i, u, e, o, ni-ni." Ia berputar, berpusingan, lalu rebah. Sesaat kemudian ia bangkit, memandang berkeliling. Ruangan kosong menganga, menantang arti. Lalu ia berteriak lantang: "Siapa aku?" (Diadaptasi dari naskah drama "Pelajaran-Pelajaran " karya Bakdi Soemanto) 2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar! a. Adakah unsur satiris atau humor dalam drama tersebut? Jelaskan!

5

5.0

Jawaban terverifikasi