Emran E

09 Maret 2022 07:43

Iklan

Emran E

09 Maret 2022 07:43

Pertanyaan

Bagaimana bentuk subjektivitas sejarawan saat merekonstruksi kisah Pangeran Diponegoro?

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

12

:

54

:

09

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

G. Fitri

Mahasiswa/Alumni Universitas Pendidikan Indonesia

15 Maret 2022 00:41

Jawaban terverifikasi

Hai Emran E, Kakak bantu jawab ya. Subjektifitas dilihat dari peristiwa Perang Diponegoro ialah ketika perang tersebut dilatarbelakangi oleh kekecewaan Diponegoro terhadap sikap Belanda yang tidak menghormati leluhurnya, namun berdasarkan Belanda, mereka mengganggap bahwa Diponegoro ialah seorang yang tidak ingin adanya modernisasi. Untuk lebih jelasnya, yuk pahami penjelasan dibawah. Sejarah ialah sebuah ilmu yang disusun dari hasil penyelidikan-penyelidikan mengenai peristiwa masa lalu yang benar-benar terjadi dan berisi segala kegiatan manusia. Sebuah kemampuan merekontruksi peristiwa yang telah berlalu dibutuhkan oleh para sejarawan atau peneliti, namun dalam proses tersebut tentunya terdapat subjektifitas. Subjektifitas merupakan suatu fakta yang berdasarkan kepada keyakinan, penafsiran, perasaan, dan pikirian dari sejarawan sendiri. Sehingga pada akhirnya sikap yang terjadi ialah memihak terhadap individu atau kelompok tertentu. Perang Diponegoro ialah salah satu bentuk perlawanan dari rakyat Indonesia saat itu. Peperangan dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang merupakan bangsawan dari Jawa. Terjadinya perang ini tidak terlepas dari kondisi sosial-politik saat itu terutama di sekitar Keraton Yogyakarta. Beberapa faktor yang mempengaruhi perlawanan ialah kuatnya campur tangan Belanda terhadap urusan internal kerajaan, raja-raja yang dipelakukan seperti bawahan, adanya pajak yang membebani rakyat, lalu kekecewaan Diponegoro terhadap Belanda karena telah membangun jalan baru di dekat Tegalrejo yang merupakan tempat leluhur dari Pangeran Diponegoro. Perang ini terjadi pada tahun 1825 hingga 1830. Subjektif yang muncul ialah dimana para sejarawan menggangap bahwa bangsa Belanda merupakan bangsa yang tidak memiliki rasa hormat terhadap leluhur Pangeran Diponegoro, karena pembangunan jalan yang melewati tanah leluhurnya. Namun pihak Belanda menganggap bahwa Diponegoro ialah seorang pemimpin yang sulit untuk diajak berpikir lebih modern. Semoga membantu ya ๐Ÿ˜Š


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

40

5.0

Jawaban terverifikasi