Toni K

13 April 2022 14:45

Iklan

Iklan

Toni K

13 April 2022 14:45

Pertanyaan

Bacalah pantun berikut! Bait Elok rupanya kumbang jati, dibawa itik pulang petang. Tidak terkata besar hati, melihat ibu sudah datang. Bait II Besar buahnya pisang batu, jatuh melayang selaranya. Saya ini anak piatu, sanak saudara tidak punya. Bait III Parang ditetak ke batang sena, belah buluh taruhlah semu. Barang dikerja takkan sempurna, bila tak penuh menaruh ilmu. Bait IV Kemumu di dalam semak, jatuh melayang selaranya. Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya. Dikutip dari: Eko Sugiarto Mongono Pantun dan Puisi Lama Yogyakarta Pustaka Widyatama, 2007 Tentukan larik isi dalam pantun Bait III dan IV!


7

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

N. Izzatun

Mahasiswa/Alumni Universitas Gadjah Mada

31 Juli 2022 04:00

Jawaban terverifikasi

Jawabannya : - Larik isi pada bait III yaitu : Barang dikerja takkan sempurna, bila tak penuh menaruh ilmu. - Larik isi pada bait IV yaitu : Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya. Pembahasan : Pantun adalah bentuk puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari empat baris serta memiliki sampiran dan isi. Sampiran pada pantun terdapat pada baris pertama dan kedua, sedangkan bagian isi terdapat pada baris ketiga dan keempat. Pada pantun di atas, Larik isi pada bait III yaitu "Barang dikerja takkan sempurna, bila tak penuh menaruh ilmu." Sedangkan larik isi pada bait IV yaitu "Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya." Jadi, larik isi pada bait III yaitu : Barang dikerja takkan sempurna, bila tak penuh menaruh ilmu. Larik isi pada bait IV yaitu : Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya.


Iklan

Iklan

lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis

Dapatkan akses pembahasan sepuasnya
tanpa batas dan bebas iklan!

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bacalah kutipan buku nonfiksi berikut! Puputan Upacara puputan atau dhautan bagi masyarakat Jawa merupakan upacara yang dilakukan dalam rangkaian upacara kelahiran seorang anak. Upacara ini dilaksanakan pada sore hari ketika tali pusar si bayi telah putus atau lepas (puput atau dhaut berarti lepas). Waktu yang diperlukan untuk penyelenggaraan puputan tidak dapat ditentukan secara pasti Hal ini bergantung kepada lama tidaknya tali pusar si bayi lepas dengan sendirinya. Tali pusar si bayi dapat putus sebelum seminggu bahkan lebih dari seminggu sejak kelahiran. Keluarga si bayi harus siap mengadakan upacara puputan jika sewaktu- waktu tali pusar tersebut putus. Upacara ini diselenggarakan dengan mengadakan kenduri atau selamatan yang dihadiri oleh kerabat dan tetangga terdekat. Sesajian (makanan) yang disediakan dalam upacara puputan, antara lain nasi gudangan yang terdiri atas nasi dengan lauk-pauk, sayur-mayur dan parutan kelapa, bubur merah, bubur putih, dan jajan pasar. Upacara puputan biasanya ditandai dengan dipasangnya sawuran (bawang merah, dlingo bengle yang dimasukkan ke ketupat), dan aneka macam duri kemarung di sudut- sudut kamar bayi. Selain sawuran dipasang juga daun nanas yang diberi warna hitam putih (bergaris-garis), daun apa-apa, awar-awar, girang, dan duri kemarung. Di halaman rumah dipasang tumbak sewu, yaitu sapu lidi yang didirikan dengan tegak. Di tempat tidur si bayi diletakkan benda-benda tajam seperti pisau dan gunting. Dalam upacara puputan dhautan terdapat makna atau lambang atau yang tersirat dalam makanan dan alat yang digunakan tersebut. Sumber: Maryani, Indonesia nan Indah: Upacara Adat, Semarang. Alprin, 2019 Buatlah rangkuman isi kutipan buku nonfiksi tersebut!

567

0.0

Jawaban terverifikasi