Baiq N

13 Oktober 2019 13:24

Iklan

Baiq N

13 Oktober 2019 13:24

Pertanyaan

Arti kata - makan tangan - gatal tangan - keras tangan - tangan dingin - sekapur sirih - kuda hitam - nafas kuda - kuda bebn - besar beban - mulut buaya

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

23

:

47

:

43

Klaim

2

1


Iklan

Jose H

13 Oktober 2019 14:22

Dasar: makan Bidang: - Jenis: kiasan Kelas: - Ragam: - Lain: - Arti istilah makan tangan adalah kena tinju (pukul)


Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

TARIAN PENA Virginia C.C. Pomantow Di bawah terik matahari aku menyusuri jalan kampung yang tampak tak berpenghuni. Samar-samar nyanyian tonggeret terdengar di sampingku. Bagai melodi yang tak tertata, sekali lagi aku mendengarnya. Sesampai dalam “istana tuaku”, terlihat seorang perempuan tua yang menyambutku dengan hangat. Nasi yang berselimut lauk-pauk tersedia dengan manis di meja makan. Setelah itu, aku masuk ke dalam ruang yang mengetahui setiap gerak-gerikku. Aku mulai memegang pena dan menggoreskannya di atas lembaran putih. Kutuang semua rasa yang bergejolak dalam hatiku. Tiba-tiba langit mulai gelap. Kuterlelap dalam buaian dingin yang kalap, bermimpi seorang pangeran gagah datang dengan kereta emas menjemputku dan merangkulku. Pagi cerah menanti sosok pelajar dari ibu pertiwi. Aku berdiri di lantai dua sekolah menanti kawan yang menyapa dengan senyuman. Kutatap pohon dan tanaman yang asri dan tersusun pula dengan rapi. Angin menyambar wajahku. “Fuuuuuuuuuu....” Seketika aku merasa tersengat dan memiliki semangat yang tak kunjung pudar. Di halaman sekolah para siswa bermain basket dengan lihai dan sebagian siswi berbincang-bincang dengan santai. Aku senang sekali menuangkan semua yang kulihat dalam sebuah tulisan, baik itu puisi maupun diary, hanya dengan kata yang mudah dipahami dan makna yang tersirat dengan sentuhan rasa kasih. Sungguh, aku tak ingin orang banyak mengetahui apa yang tersirat dalam catatanku. Waktu berjalan begitu cepat menyongsong matahari yang mengingini senja. Besi kuning mulai menjerit. “Teng, teng, teng.” Waktunya pulang ke “istanaku”. Seperti biasa, setibaku di istana tuaku, perempuan tua menyambutku dengan hangat. Terlihat nasi yang berselendangkan lauk-pauk, membekaskan lezat pada lidahku. Tak tahu mengapa, saat itu aku mengucapkan terima kasih pada perempuan tua itu. Aku pun masuk ke dalam ruang yang mengetahui gerak-gerikku dengan mengajak pena menari di atas lembaran putih. Kali ini, terpikirkan olehku sosok perempuan tua yang selalu terbayang di benakku. Susunan kalimat pun sudah selesai. “Aryo!” teriakku kepada lelaki yang belum pernah kudapati. Ketika aku membuka mata, Aryo sudah berada di depanku. Seketika pipiku mulai memerah dan bibirku menjadi sedikit kaku. “Apakah ini mimpi. Ini masih terlalu dini. Lagipula, aku masih terlalu muda!” teriakku dalam hati. Air dingin pun jatuh membasahi wajahku. Perlahan aku membuka mata dan mendapati ibuku memegang gayung air dari kamar mandi. “Ibu, mengapa Ibu menyiram air ke wajahku?” tanyaku. “Kamu tidur seperti kerbau,” canda ibu. Keesokan harinya, pagi-pagi buta, perempuan tua menyodorkan susu yang berbalut sediri kopi. Terasa lengkap akhir pekan ini. Kuintip dia dari balik lembaran kain yang tergantung di bawah ventilasi, dia di sana. Perempuan tua itu duduk di sebuah kayu berlapis kapuk yang membatu. Aku sedikit tersenyum manis. “Hemmm....” Wajahnya tampak di bawah naungan yang diharapkan selalu terjadi dan berharap waktu terus begini. “Ibu telah meninggal” kata seseorang yang menyapaku dengan tepukan di bahu kanan. Aku terdiam dan tak dapat berbuat apa pun, selain menangis bak orang gila. “Aaah.... Hee.... Tidak! Tidak! Ibuku tidak akan meninggalkan- ku,” jeritan keras yang tak pernah kuteriakkan sepanjang hidupku. Seketika aku tersadar dari lamunku. ‘Uhh, untung saja itu hanya sebuah khayalan baru yang terlintas di kepalaku,’ kesalku. Pada sore hari menjelang bulan naik perlahan menggantikan surya, perempuan itu pulang dengan letihnya. Wajah lesu, tangan yang lemas, dan kaki yang perlahan membeku. Kulihat dari seberang utara ruang tamu. Aku melangkahkan kaki dengan pasti dan memeluk tubuh perempuan tua itu, walau peluhnya pun menempel di bajuku. “Bu, maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu kesal dan capek,” tangisku yang tersedu dalam sesal. “Eh, ada apa, sih, kamu ini tiba-tiba memeluk Ibu. Minta maaf pula. Tumben-tumbenan,” kata ibu dengan bingung. Kemudian, aku pergi ke ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Kuhanyut dalam renungan pada malam sepi ini, merasakan dua hati yang saling melukai, antara sesal dan sedih. Dua rasa yang sejenis, tetapi memiliki arti masing-masing yang sangat mendalam. Sekali lagi aku menorehkan pena di hadapan lembaran kertas putih. Lilin kecil yang memercikkan api jingga menemaniku saat itu. Bersama itu, aku berdiam diri sambal menulis sebuah kisahku hari itu. Perlahan aku memejamkan mata dan bunyi rekaman lama terdengar. Aku terbangun dan keluar dari ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Aku terkejut melihat banyak orang mengerumuni kamar perempuan tua itu. Kupandangi arah kamar perempuan tua itu. Lututku terjatuh perlaham menghampiri lantai. Aku tak dapat berbicara, tanganku dingin bak es yang keluar dari freezer. “Ibu!” teriakku sekuat tenaga sambil meratapi malangnya nasibku. Perempuan tua tak dapat mengatakan apa pun, hanya terdiam, membeku, dan tergeletak, tinggal menunggu untuk dikebumikan. Aku hanya menangis, menangis tak karuan. Sekarang hari-hariku dipenuhi sesal yang tak berarti. Berangkat ke sekolah dengan seragam kumuh, tidak pula membuat sarapan karena malas dan resah, serta serintih harapan tak dapat kuadu. Masa tersulit pun kualami. Merajut asa tanpa sosok ibu di sisiku. Rindu tak terbalaskan. Bak pungguk merindukan bulan. “Ibu, aku rindu. Aku ingin Ibu masih bersamaku. Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku lelah dengan semua kejadian ini!” jeritku kepada perempuan tua itu. “Tamat. Sekarang sudah larut malam. Sebaiknya cepat tidur. Selamat malam, Putriku,” kata ibuku sambil mencium keningku. “Selamat malam juga, Ibu,” jawabku sambil menarik selimut mungil dan terlelap pada malam itu dengan embusan angin yang menyapa dengan dingin. (Sumber: Di Sini Rinduku Tuntas; Antologi Cerita Pendek Bengkel Sastra 2019Balai Bahasa Sulawesi Utara, 2019) 2. Bagaimana alur dibangun dalam cerita tersebut?

21

5.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah cerpen berikut dengan saksama ! Bisnis Kambing Pagi itu matahari mulai mengintip di ufuk. Desa Karang Kabulutan masih berbalut kabut tipis. Sebagian besar penduduk desa itu belum berani keluar rumah karena udara yang sangat dingin. Baru satu dua warga desa ya ng keluar rumah untuk sekadar menghirup segarnya udara pagi. Itu pun sambil berselimut sarung lebar. Padi di sawah-sawah desa baru dipanen beberapa hari yang lalu sehingga tak ada yang perlu berang kat ke sawah pagi-pagi buta. Jalanan desa masih lengang, tenang, dan damai. Tapi, ketenangan itu terusik oleh kejadian yang tak terduga. "Aaaaaaaaaaaaa ... , " Gareng terlihat berteriak ketakutan sambil berlari terbirit-birit. Di belakangnya, Petruk mengejar sambil mengacungkan golok pendeknya. Gareng yang kurus kecil lincah berlari menerobos pagar hidup untuk menghindar dari pengejarnya. Petruk makin dibakar amarah. Ia memang tak mungkin menerobos pagar hidup berupa deretan tanaman teh-tehan seperti yang dilakukan Gareng karena tubuhnya sangat tinggi, tetapi ia dapat melompatinya. Gareng makin panik karena setiap kali ia menerobos deretan teh-tehan, tahu-tahu Petruk sudah di depannya. Akhirnya, ia nekat menerobos semak-semak berduri lalu berlari sekuat tenaga menuju rumah Semar, sesepuh desa. Semarlah satu satu nya harapan baginya. "Ramaaaaaa," Gareng menjerit sekuat tenaga. Harapannya tak sia-sia. Entah kapan tahu-tahu Semar telah berdiri di situ, menyambar tubuh mungil Gareng dan menyembunyikannya di balik punggung gempalnya. Petruk yang sampai di tempat itu pura-pura tak melihat Semar. Ia langsung memutari punggung Semar lalu menerjang Gareng yang meringkuk ketakutan. Semar tak tinggal diam. Kaki kanannya terayun cepat ke dada Petruk. Petruk jatuh terkapar. Geleknya jatuh. Petruk mendongakkan kepala ke arah Semar dan terkejut bukan buatan. Tubuh Semar terlihat menggigil dan matanya memera h saga. Sontak Petruk menubruk kaki Semar seraya meminta ampun. Hanya itu satu-satunya cara membujuk Semar agar mengurungkan ajian legendari snya, ajian yang efeknya jauh lebih hebat dari pada senjata seekor sigung. Petruk pernah terkena ajian yang membuatnya trauma. Berhari-hari ia tak mampu makan dan hanya muntah angin akibat bau superbusuk ya ng tak mau pergi dari hidungnya. Tak mau ia mengalaminya lagi. Melihat Petruk yang keta kutan dan terus meminta ampun itu, Semar pun mem batalkan ajiannya. Sikapnya kembali lembut seperti biasa. Petruk dan Gareng duduk bersimpuh di rerumputan basah. "Ada apa sebenarnya? Mengapa kalian sesama saudara saling bertengkar? Apa masalahnya?" tanya Semar. Tak ada yang berani menjawab. "Jawab, Reng! " Semar sedikit membentak. "Eh . . anu ... Dulu aku sama Petruk pernah berkongsi beternak kambing. Kami patungan mem beli seekor kambing beti na. Untuk perawatannya, Petruk menawari aku apakah memilih bagian depan atau bagian belakang," jawab Gareng. "Maksudnya depan-belakang itu apa?" tanya Semar lagi. "Kalau memilih depan berarti bertugas mencarikan makan. Kalau memilih bagian belakang berarti tugasnya membersihkan kandang." "Lha, terus?" "Kakiku masih kerengan, alergi kalau kena kotoran kambing. Makanya aku memilih bagian depan. Jadi, tugasku mencarikan rumput untuk kambing itu dan Petruk bertugas membersi hkan kandangnya ." "Lha itu cukup adil. Lalu?" "Setelah dikawinkan, kambing itu bunting lalu melahirkan dua ekor anak kambing." "Nah, itu sudah pas sekali. Kalau beranak dua, berarti masing - masing dapat seekor." "Tapi, aku tidak diberi seekor pun, Rama! " Gareng menjawab dengan emosi . "Lho, kok bisa?" "Kata Petruk, sesuai perjanjian semula, yang berhak atas anak-anak kambing itu adalah yang memilih bagian belakang karena anak kambing lahirnya lewat belakang. Tapi, kan tidak mungkin ada kambing yang beranak lewat mulut?" "Ooo .. lalu anak kambing itu diambil Petruk semua?" "lya .. " "Lalu mengapa Petruk mengejar kamu tadi?" "Tadi pagi kambing-kambi ngnya kulepas lalu kuhalau ke hutan sana." Semar terdiam. Matanya memandang Petruk dan Gareng bergantian. Yang dipandang hanya tertunduk. "Jangan curang dalam bekerja sama, apalagi curang dengan mengandalkan debat kusir. Petruk, minta maaf pada kakakmu! Gareng, minta maaf pada adikmu!" Petruk dan Gareng bersalaman. "Maafkan aku, Kang Gareng. Sebenarnya aku tak bermaksud mengakalimu. Aku cuma ingin mem berimu pelajaran agar jangan terlalu naif." "Aku memang bodoh , Truk. Tapi aku sekarang tak akan terlalu bodoh lagi untuk percaya pada saudara yang licik . . . " "Siapa yang licik?" "Kamu!" "Kamu itu yang bodoh!" "Kamu licik!" "Kamu bod . ." "Diam!" Semar berteriak m arah. Badannya menggigil, perutnya mulai digembungkan. Melihat tanda-tanda membahayakan itu Petruk dan Gareng serentak berlari lintang-pukang menjauh sejauh -jauhnya . Gas beracun ajian Rama Semar tak bisa dianggap enteng. Tentukan nilai moral pada cerpen di atas!

1

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Bacalah kutipan cerita berikut! Saya adalah seorang kutu buku, saya memiliki sahabat pena yang bernama tika. la menjadi bunga desa di desanya, namun sayangnya karena julukan tersebut ia menjadi seorang yang besar kepala. banyak laki-laki buaya darat dan bermata keranjang yang mendekatinya. tika memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai lintah darat, dalam menjalani profesinya, ayah tika tebal muka tidak peduli terhadap keadaan orang lain. akibatnya ia menjadi buah bibir di desanya.padahal buah hatinya sudah mengingatkan bahwa tindakannya itu tidak benar, tika juga menyarankan agar mencari pekerjaan lain yang halal, tetapi ia tidak menghiraukan dan justru bersikap ringan tangan terhadap putrinya. meskipun sering dikasari oleh ayahnya, tika tetap menyikapinya dengan kepala dingin. ayah tika juga mempunyai hobi bermain judii, ia sering menjadi kuda hitam dalam permainan tersebut. dan pada suatu hari ia dirazia oleh kepolisian, akibatnya ia diadili di meja hijau. sementara itu, ketika ayah tika dipenjara, tak ada lagi yang mencari nafkah. terpaksa ibu tika harus banting tulang. ibu tika membuka usaha warung makan, namun tak lama kemudian usahanya itu gulung tikar disebabkan karena modal yang terbatas dan sepinya pelanggan. akhirnya tika harus bekerja keras agar bisa mencukupi kebutuhannya, beruntung ia memiliki bakat sebagai penulis, la mengandalkan bakatnya untuk mendapatkan uang, la juga sering mengikuti kompetisi menulis, berkat tulisannya yang memukau banyak orang, ia mendadak menjadi seorang yang naik daun. meski terkenal ia tetap rendah hati. bahkan ia tidak malu mengakui ayahnya yang memiliki catatan hitam. dan sayangnya, walaupun ayah tika pernah mendekam di penjara, ia tidak kapok dan sering menggulangi kesalahannya. dan meskipun sering dingatkan oleh tika, ayahnya masih saja kepala batu. walau begitu, tika sangat menyayangi ayahnya. Sebutkan latar dalam cerita tersebut!

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah cerpen berikut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tepat. SECARIK SURAT Dalam sebuah perang besar-besaran yang tidak sempat dicatat oleh sejarah, seorang prajurit berpangkat paling rendah dengan tidak diduga tiba-tiba mendapat panggilan dari jenderal peperangan yang tertinggi. Tergopoh-gopoh prajurit itu menemui jenderal yang selama hidupnya belum pernah dilihat, tetapi sudah sering didengar nama dan keistimewaannya melalui cerita dari mulut ke mulut dan kuping ke kuping. Sebagaimana layaknya seorang bawahan yang paling rendah bertemu dengan seorang atasan yang paling tinggi dan sangat dihormati dan dikagumi, maka prajurit itu pun memberi hormat yang berlebih-lebihan sehingga untuk sekilas, jenderal tertinggi yang terlalu sering menerima sanjungan itu merasa kurang senang. Namun, seperti telah dinasihatkan oleh stafnya, maka jenderal itu pun segera terkesan oleh daya tarik prajurit yang kabarnya setia, terpercaya, dan cakap itu. Ketika prajurit itu melepas topinya yang tentu saja dilakukan atas perintah jenderal tertinggi itu, tampaklah rambutnya yang berombak mengilat, matanya yang hitam menyalakan sinar syahdu, hidungnya yang mancung seperti hidung jenderal itu sendiri, bibirnya yang indah, dan sorot wajahnya yang mengagumkan. Apalagi ketika prajurit terendah itu tersenyum yang tentu saja dilakukannya atas perintah jenderal tertinggi itu, amat memesona senyumnya. "Hai, Prajurit, untuk apakah kau ikut perang?" kata jenderal. "Tidak tahu, Jenderal," kata prajurit. "Saya kira karena dalam keadaan seperti ini mencari pekerjaan yang paling mudah adalah mencari pekerjaan sebagai prajurit. Lagi pula, saya masih muda dan merasa senang mendapat kesempatan untuk memanggul senapan dan sekali tempo menembakkan senapan untuk menunjukkan bahwa saya betul-betul jantan." "Tidakkah kau tahu bahwa perang ini dapatmenghancurkan seluruh umat manusia, Prajurit?" kata jenderal tertinggi. "Begitulah kata orang, Jenderal," kata prajurit terendah, "Tapi apakah itu urusan saya? Urusan saya adalah senang-senang dalam berperang, menembak musuh, memukuli musuh." "Tidakkah kau takut tertembak, cacat, mati, atau tersiksa bila engkau tertangkap musuh?" "Saya kira, saya masih muda, Jenderal," kata prajurit terendah. "Kesempatan untuk celaka semacam itu selalu dapat saya hindari. " "Dan, kalau kau menjadi tua dan perang belum juga selesai, bagaimana, Prajurit?" kata jenderal tertinggi. "Saya akan keluar menjadi prajurit, Jenderal," kata prajurit terendah. " Tidakkah kau tahu bahwa orang-orang yang tidak menjadi prajurit pun banyak yang hidup konyol dan mati konyol?" "Itu belum pernah saya pikirkan, Jenderal," kata prajurit terendah. Seseorang yang tidak dikenal oleh prajurit terendah itu masuk tergopohgopoh, lalu memberi hormat kepadajenderal tertinggi itu tergopoh-gopoh. Orang-orang lain berdiri, memagari jenderal tertinggi, lalu beberapa orang membisikkan kata-kata yang tidak dapat ditangkap oleh prajurit terendah. Jenderal yang paling tinggi itu berdiri, diikuti oleh yang lain-lain, lalu bergegas meninggalkan ruangan. Tinggallah prajurit yang paling rendah itu sendirian di dalam ruangan yang besar dan mewah itu. Perasaan kagum akan ruangan itu timbul pada diri prajurit terendah itu yang tidak pernah membayangkan bahwa di dunia ada ruangan sehebat ruangan itu. Begitu terkesiapnya prajurit itu sehingga jenderal tertinggi dan stafnya masuk, prajurit itu masih memandangi lukisan indah mengenai pertempuran sangkur yang terpacak di tembok. "Hai, Prajurit," kata jenderal tertinggi. Prajurit terendah itu terperanjat, lalu memberi hormat dengan cara yang berlebih-lebihan pula. "Perang dapat memusnahkan seluruh kita, Prajurit," kata jenderal tertinggi, "Dan sekarang, perhubungan putus. Sampaikanlah surat ini kepada perwira di ajang pertempuran di sebelah sana." Prajurit terendah menerima surat ini dengan hormat yang berlebih-lebihan. "Kalau kau berhasil menyampaikan surat ini, akan berhentilah perang ini dan akan hiduplah semua kita," kata jenderal tertinggi. "Kalau tidak, sebaliknyalah yang terjadi." Dengan dikawal oleh beberapa orang, prajurit itu meninggalkan markas jenderal tertinggi itu menuju ujung pertempuran. Para pengantar merasa kagum akan kecekatan dan keberanian prajurit yang masih muda itu. Barulah prajurit itu dilepas sendirian ketika memasuki mulut daerah musuh. Tugas prajurit itu adalah menyelundup di daerah musuh untuk mencapai perwira teman yang berada di ajang sana untuk menyampaikan surat yang katanya sangat penting. Maka, berjalanlah serdadu itu hatihati. Sementara itu, tembakan-tembakan pun menggencar di sana sini. Matahari mulai tenggelam dan langit mulai kemerah-merahan. Prajurit yang sehat itu berjalan terus dengan hati-hati. Ketika langit telah menjadi gelap karena matahari telah tenggelam, mata prajurit itu tertarik pada cahaya di langit. Peluru-peluru besar yang melesat-lesat di langit sana sangat indah dan memesonakan hati prajurit yang senang keindahan itu. prajurit itu menelentangkan tubuh di atas sana. Dan, ketika dengan sengaja prajurit itu menggaruk-garuk tubuhnya yang terasa gatal, tersentuhlah surat dari jenderal tertinggi yang disimpan di lipatan celananya. Dan, ketika prajurit itu melihat tubuhnya, sadarlah prajurit itu bahwa tubuhnya menjadi terang pada malam hari itu karena kilatan-kilatan yang berseliweran di langit sana. Alangkah indah warna bajunya. Baju hijau yang sudah diganti dengan hitam itu tampak indah tertimpa cahaya yang berwarna-warna yang datang dari atas sana. Dan, prajurit yang sekarang hanya bersenjata pisau lipat kecil itu merogoh saku celananya untuk mengambil pisau itu. Pisau yang sebetulnya tidak indah itu pun tampak indah tertimpa cahaya berwarna-warna dari atas sana. Maka, tiba-tiba timbullah keinginan prajurit itu untuk membedah lipatan celana, dan melihat surat yang ditulis oleh jenderal yang selama ini dikagumi. Dengan cekatan, prajurit terendah itu dapat membedah lipatan celana, lalu mengambil surat berwarna biru yang dilipat kecil. Dengan hati-hati, prajurit itu membuka surat itu, tetapi yang didapati hanyalah kertas kosong berwarna biru. Indah benar warna biru yang tertimpa oleh sinar berwarna-warna dari atas. Untuk beberapa saat, prajurit itu bergantian memandang kertas di tangan dan peluru-peluru di atas sana. Pergantian-pergantian warna makin memesonakan hatinya. Prajurit itu membaringkan tubuh lagi, menghirup udara dalam-dalam, lalu menutup kelopak matanya. Tercium bau peluru yang baginya terasa sedap. Surat dari jenderal tertinggi tetap dipegang di tangannya. Tiba-tiba, tubuh prajurit itu terguncang hebat karena ledakan besar yang tidak pernah diduga akan terjadi begitu dekat dengan dirinya. Prajurit itu terbangun, lalu lari merunduk-runduk. Ledakan-ledakan itu di sekitar dirinya makin memadat. Dan, prajurit yang hanya bersenjata pisau itu merasa menyesal mengapa orang-orang yang mengantarkannya tadi melarangnya untuk membawa senapan setelah mengganti pakaian yang disenanginya dengan pakaian tua berwarna buruk. Prajurit itu pun terus berlari-lari di tanah berdebu sampai akhirnya mencapai tembok yang tidak jelas warnanya. Setelah prajurit itu membaringkan tubuh dekat tembok dan setelah ledakan lain yang membawa sinar terang terjadi, tahulah serdadu itu bahwa tembok di dekatnya berwarna ungu. Dan, ketika sebuah ledakan lain yang juga membawakan sinar terang menyusul, tahulah prajurit itu bahwa tembok itu terletak di pojok jalan. Dan, ketika sebuah ledakan dengan sinar terang meradang lagi, tahulah prajurit itu bahwa di tembok ungu itu tertempel cipratan-cipratan darah. Tepat pada waktu prajurit itu berusaha akan berdiri, sebuah ledakan yang juga mengirimkan sinar terang menyalak. Di luar dugaan, prajurit itu melihat jenderal yang sangat dikaguminya lari di sebelah sana dan dikejar oleh peluru-peluru yang mengirimkan sinar-sinar terang dan ledakan-ledakan yang memekakkan telinga. Prajurit itu pun terjerembap ke atas tanah berdebu yang segera mengirimkan debu ke atas. Sementara itu, pasukan jenderal yang sangat dikagumi oleh prajurit muda itu dapat memasuki daerah musuh dalam waktu yang tidak begitu lama. Esok paginya, tubuh prajurit terendah itu ditemukan oleh orang-orang yang kemarin mengantarkannya sampai ke mulut daerah musuh. Tanpa bercakap banyak, mereka pun mengemasi mayat prajurit itu, lalu mengirimkannya kepada jenderal mereka. Jenderal itu membuka kain yang menutupi wajah mayat prajurit itu, lalu mengagumi wajah yang sudah menjadi mayat itu sebentar. Jenderal itu pun membuka kain yang menutup bagian dada mayat prajurit itu. Mata jenderal tertinggi melihat kertas biru tersembul dari saku mayat prajurit terendah. Dengan sabar, jenderal itu menarik kertas biru -dari saku mayat, lalu membaca tulisan tangan yang tertera di atasnya. Dan, setelah menyobek surat itu hati-hati, jenderal itu pun melihat tulisan lain yang tertera di bagian dalam kertas berwarna biru itu. Jenderal itu membaca lagi tulisan tangan serdadu itu, lalu dengan hati-hati memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. "Dia menganggap saya kebal peluru," kata jenderal itu perlahan-lahan. Tidak ada orang satu pun yang mendengar apa yang dikatakan oleh jenderal tertinggi itu. "Makamkanlah penyair yang melibatkan diri ke dalam perang ini dengan upacara yang layak," kata jenderal itu dengan suara jelas. Jenderal itu pun pergi meninggalkan mayat itu, lalu pergi ke gedung besar diiringi oleh sekian belas orang pengawalnya. Pada waktu pemakaman mayat prajurit itu dilakukan, jenderal itu sedang sibuk mengadakan perundingan dengan bawahan-bawahannya. Dan, ketika jenderal itu merasa capai dan bosan akan pekerjaannya, berkatalah jenderal itu, "Penyair itu menganggap saya kebal peluru." Beberapa orang yang mengelilingi jenderal itu mengerti maksud jenderal itu, tetapi beberapa orang lainnya tidak mengerti. Mereka semua mengangguk-angguk dan ketika jenderal itu minum kopi, yang lain pun ikut-ikut minum kopi. Kumpulan Cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma Apa kemenarikan yang Anda temukan dalam cerpen tersebut?

1

5.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah cerpen berikut dengan saksama ! Bisnis Kambing Pagi itu matahari mulai mengintip di ufuk. Desa Karang Kabulutan masih berbalut kabut tipis. Sebagian besar penduduk desa itu belum berani keluar rumah karena udara yang sangat dingin. Baru satu dua warga desa ya ng keluar rumah untuk sekadar menghirup segarnya udara pagi. Itu pun sambil berselimut sarung lebar. Padi di sawah-sawah desa baru dipanen beberapa hari yang lalu sehingga tak ada yang perlu berang kat ke sawah pagi-pagi buta. Jalanan desa masih lengang, tenang, dan damai. Tapi, ketenangan itu terusik oleh kejadian yang tak terduga. "Aaaaaaaaaaaaa ... , " Gareng terlihat berteriak ketakutan sambil berlari terbirit-birit. Di belakangnya, Petruk mengejar sambil mengacungkan golok pendeknya. Gareng yang kurus kecil lincah berlari menerobos pagar hidup untuk menghindar dari pengejarnya. Petruk makin dibakar amarah. Ia memang tak mungkin menerobos pagar hidup berupa deretan tanaman teh-tehan seperti yang dilakukan Gareng karena tubuhnya sangat tinggi, tetapi ia dapat melompatinya. Gareng makin panik karena setiap kali ia menerobos deretan teh-tehan, tahu-tahu Petruk sudah di depannya. Akhirnya, ia nekat menerobos semak-semak berduri lalu berlari sekuat tenaga menuju rumah Semar, sesepuh desa. Semarlah satu satu nya harapan baginya. "Ramaaaaaa," Gareng menjerit sekuat tenaga. Harapannya tak sia-sia. Entah kapan tahu-tahu Semar telah berdiri di situ, menyambar tubuh mungil Gareng dan menyembunyikannya di balik punggung gempalnya. Petruk yang sampai di tempat itu pura-pura tak melihat Semar. Ia langsung memutari punggung Semar lalu menerjang Gareng yang meringkuk ketakutan. Semar tak tinggal diam. Kaki kanannya terayun cepat ke dada Petruk. Petruk jatuh terkapar. Geleknya jatuh. Petruk mendongakkan kepala ke arah Semar dan terkejut bukan buatan. Tubuh Semar terlihat menggigil dan matanya memera h saga. Sontak Petruk menubruk kaki Semar seraya meminta ampun. Hanya itu satu-satunya cara membujuk Semar agar mengurungkan ajian legendari snya, ajian yang efeknya jauh lebih hebat dari pada senjata seekor sigung. Petruk pernah terkena ajian yang membuatnya trauma. Berhari-hari ia tak mampu makan dan hanya muntah angin akibat bau superbusuk ya ng tak mau pergi dari hidungnya. Tak mau ia mengalaminya lagi. Melihat Petruk yang keta kutan dan terus meminta ampun itu, Semar pun mem batalkan ajiannya. Sikapnya kembali lembut seperti biasa. Petruk dan Gareng duduk bersimpuh di rerumputan basah. "Ada apa sebenarnya? Mengapa kalian sesama saudara saling bertengkar? Apa masalahnya?" tanya Semar. Tak ada yang berani menjawab. "Jawab, Reng! " Semar sedikit membentak. "Eh . . anu ... Dulu aku sama Petruk pernah berkongsi beternak kambing. Kami patungan mem beli seekor kambing beti na. Untuk perawatannya, Petruk menawari aku apakah memilih bagian depan atau bagian belakang," jawab Gareng. "Maksudnya depan-belakang itu apa?" tanya Semar lagi. "Kalau memilih depan berarti bertugas mencarikan makan. Kalau memilih bagian belakang berarti tugasnya membersihkan kandang." "Lha, terus?" "Kakiku masih kerengan, alergi kalau kena kotoran kambing. Makanya aku memilih bagian depan. Jadi, tugasku mencarikan rumput untuk kambing itu dan Petruk bertugas membersi hkan kandangnya ." "Lha itu cukup adil. Lalu?" "Setelah dikawinkan, kambing itu bunting lalu melahirkan dua ekor anak kambing." "Nah, itu sudah pas sekali. Kalau beranak dua, berarti masing - masing dapat seekor." "Tapi, aku tidak diberi seekor pun, Rama! " Gareng menjawab dengan emosi . "Lho, kok bisa?" "Kata Petruk, sesuai perjanjian semula, yang berhak atas anak-anak kambing itu adalah yang memilih bagian belakang karena anak kambing lahirnya lewat belakang. Tapi, kan tidak mungkin ada kambing yang beranak lewat mulut?" "Ooo .. lalu anak kambing itu diambil Petruk semua?" "lya .. " "Lalu mengapa Petruk mengejar kamu tadi?" "Tadi pagi kambing-kambi ngnya kulepas lalu kuhalau ke hutan sana." Semar terdiam. Matanya memandang Petruk dan Gareng bergantian. Yang dipandang hanya tertunduk. "Jangan curang dalam bekerja sama, apalagi curang dengan mengandalkan debat kusir. Petruk, minta maaf pada kakakmu! Gareng, minta maaf pada adikmu!" Petruk dan Gareng bersalaman. "Maafkan aku, Kang Gareng. Sebenarnya aku tak bermaksud mengakalimu. Aku cuma ingin mem berimu pelajaran agar jangan terlalu naif." "Aku memang bodoh , Truk. Tapi aku sekarang tak akan terlalu bodoh lagi untuk percaya pada saudara yang licik . . . " "Siapa yang licik?" "Kamu!" "Kamu itu yang bodoh!" "Kamu licik!" "Kamu bod . ." "Diam!" Semar berteriak m arah. Badannya menggigil, perutnya mulai digembungkan. Melihat tanda-tanda membahayakan itu Petruk dan Gareng serentak berlari lintang-pukang menjauh sejauh -jauhnya . Gas beracun ajian Rama Semar tak bisa dianggap enteng. Lukiskan latar cerita pada teks di atas!

1

1.0

Jawaban terverifikasi