Rahmat S

09 November 2021 09:20

Iklan

Rahmat S

09 November 2021 09:20

Pertanyaan

Apa sejarah prabu kian Santang ?

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

00

:

11

:

22

Klaim

2

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Nur S

28 November 2021 00:09

Jawaban terverifikasi

Halo Rahmat Raden Kian Santang merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Jawa Barat. Raden Kian Santang adalah keturunan dari Prabu Siliwangi, seorang Raja di Kerajaan Sunda. Yuk simak pembahasannya. Gagak Lumayung atau yang lebih dikenal sebagai Kian Santang adalah salah satu sosok yang dipercaya lahir dan pernah hidup di Tanah Sunda. Dalam beberapa sumber mengatakan bahwa Kian Santang adalah anak dari Raja yang sangat terkenal di Kerajaan Sunda yaitu Prabu Siliwangi dan permaisurinya Subanglarang. Raden Kian Santang sejak kecil dilatih ilmu bela diri, maka dari itu pada saat remaja Raden Kian Santang terkenal sebagai seorang ksatria sakti Pajajaran. Raden Kian Santang memiliki ketertarikan terhadap ilmu bela diri semenjak kecil oleh karena itu Kian Santang mengikuti perguruan ilmu bela diri bersama Layung Kumendung yang pada saat itu adalah seorang hulubalang Pajajaran. Setelah tamat berguru Raden Kian Santang tak punya lagi kegiatan rutin. lalu mulai ikut-ikutan berburu dengan kerabat kerja istana. Ternyata kemampuannya memanah dapat dibanggakan. Rusa, kijang, dan berbagai jenis burung menjadi sasaran panahnya, kadang-kadang bingunglah mereka membawa hasil buruan itu karena terlalu banyak. Baginda Raja kagum terhadap prestasi yang didapat putranya. Dari para pegawainya ia sering mendapat laporan tentang keberhasilan dan kecerdikan putranya. Karena itu, Baginda mengangkatnya menjadi Senapati Pajajaran. Kisah yang cukup terkenal dari cerita Kian Santang adalah pada saat Kian Santang pergi ke Tanah Mekah dan bertemu dengan Ali, pada saat itu Kian Santang mencoba mengambil dan mencabut tongkat Ali yang tertinggal namun sesuatu yang tidak disangka terjadi yaitu keluarnya darah dari seluruh tubuh Kian Santang. Kejadian itulah yang membuat Kian Santang sadar bahwa orang yang sedang ia cari sedang bersamanya saat itu yaitu Ali. Setelah pertemuannya dengan Ali di Mekah Kian Santang tertarik dengan agama yang di anut Ali yaitu Islam, Kian Santang memutuskan untuk menjadi seorang Islam dan menjadi murid Ali. Setelah perjalanan hidup yang panjang di Mekah akhirnya Kian Santang kembali ke Pajajaran dan mencoba berbicara pada Prabu Siliwangi, ia mengajak ayahnya agar masuk Islam agar rakyatnya pun mengikuti ajaran yang dianut pemimpinnya. Namun permintaan Kian Santang di tolak oleh Prabu Siliwangi dengan amarah hingga Pajajaran hilang menjadi hutan belantara yang kini adalah Hutan Raya Bogor dan memiliki prasasti Batu Tulis. Walau Prabu Siliwangi belum diberi hidayah untuk memasuki dan mempercayai agama Islam sepenuhnya, tidak menghalangi Raden Kian Santang untuk melakukan penyebaran agama Islam. Raden Kian Santang memulai penyebaran di daerahdaerah kecil pedalaman tanah Pasundan. Limbangan ialah tempat penyebaran pertama di wilayah Priangan tatar Sunda. Pada waktu itu selain di daerah Godog Garut, penyebaran agama Islam juga sebagian kecil terjadi dengan proses perdagangan para pedagang Arab dan India di daerah pantai bagian utara. Semoga membantu ya :)


LAURA D

04 Agustus 2022 06:11

Raden kian santang i love you πŸ₯°πŸ˜πŸ€©πŸ’ŒπŸ’πŸ’–πŸ’—πŸ’“πŸ’žπŸ’•πŸ’Ÿβ£β€πŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ€ŽπŸ–€πŸ€

Iklan

Ruth A

09 November 2021 09:33

Hai Rahmat,aku bantu jawab ya.Prabu Kiansantang atau Raden Sangara atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Raja Pakuan Pajajaran dengan Nyi Subang Larang, Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang dinikahkan oleh Syekh Quro Karawang. Dari pernikahan Sri Baduga Maharaja dengan Nyi Subang Larang dikarunia 3 orang anak yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kiansantang.Konon katanya, sedari kecil Kian Santang adalah seorang anak yang tangguh sampai ada cerita bahwa ia belum pernah melihat darahnya sendiri dikarenakan belum pernah ada orang yang berhasil melukainya sama sekali. Takjub dengan kemampuannya sendiri, Kian Santang terus mencari siapakah gerangan yang memiliki ilmu jauh lebih kuat darinya.Ketika Kian Santang menginjak usianya yang ke-22 pada tahun 1337 masehi, ia diangkat menjadi dalem Bogor. Kejadian ini bertepatan dengan diangkatnya Prabu Munding Kawati sebagai panglima besar kerajaan Pajajaran. Kejadian tersebut menjadi sebuah kejadian paling istimewa dan paling historis dalam lingkungan Pajajaran karena kejadian ini meninggalkan sebuah prasasti yang dikenal banyak orang, yaitu Batu Tulis Bogor.Ia meminta ayahnya untuk mencarikan siapapun itu yang bisa mengalahkannya. Mendengar ini, sang ayah segera memanggil seorang ahli nujum demi memberikan tantangan kepada anaknya. Ketika hampir putus asa karena tidak ada ahli nujum yang mampu memberi tahu dimana ada orang yang mampu mengalahkannya, datanglah seorang kakek yang berkata bahwa jauh di tanah Mekkah sana, ada seseorang bernama Sayyidina Ali yang mampu mengalahkan Kian Santang. Sebelum Kian Santang mampu melawan Ali, kakek tersebut berkata bahwa Kian Santang harus melakukan mujasmedi di Ujung Kulon dan mengubah namanya menjadi Galantrang Setra yang jika diartikan secara harfiah menjadi β€œberani dan suci”.Ketika akhirnya tiba di tempat tujuan, ia tidak langsung bertemu dengan orang yang bernama Ali tapi harus tersesat di antara keringnya padang pasir sebelum akhirnya bertemu seorang kakek tua. Ali kemudian datang untuk mencabut tongkat tersebut setelah sebelumnya membaca bismillah. Terlepas mana yang terjadi, Kian Santang kemudian memeluk agama Islam dan kembali pulang ke Pajajaran dengan sesekali pergi ke Mekah untuk belajar lebih dalam tentang agama tersebut. Awal mula niatan penyebaran Islam oleh Kian Santang adalah ketika ia pertama kali kembali ke Pajajaran dan menceritakan tentang ke-Islamannya pada Prabu Siliwangi. Bukannya senang, Prabu Siliwangi malah kaget dan menolak ajakan anaknya untuk masuk Islam. Karena hal ini, Kian Santang kembali menekuni Islam di Mekah dan baru kembali setelah tujuh tahun. Begitu kembali, ia mencoba untuk pertama-tama menyebarkan ajaran agama yang baru ia pelajari kepada masyarakat sekitar. Mengingat ide agama Islam yang membawa keselamatan di dunia dan di Akhirat, masyarakat Pajajaran dengan senang hati menerima agama baru tersebut. Baru setelah banyak masyarakat yang menganut Islam ia berani memutuskan untuk kembali mengajak ayahnya menganut agama yang ia ajarkan.Mendengar berita bahwa Kian Santang telah kembali, Prabu Siliwangi yang harga dirinya terlalu tinggi memutuskan untuk pergi dari kerajaan daripada harus diajak untuk masuk Islam. Setelah kabur dengan sebelumnya menghancurkan kerajaan, Prabu Siliwangi sempat beberapa kali terkejar oleh Kian Santang, tapi ia tetap tidak tertarik untuk masuk ke dalam agama Islam. Akhirnya, Kian Santang dengan berat hati kembali ke Pajajaran untuk membangun ulang kerajaan tersebut sambil terus menyebarkan ajaran Islam ke daerah-daerah pelosok. Karena hal inilah, ketika kita membicarakan tentang berkembangnya Islam di daerah Jawa Barat, kita tidak bisa melupakan sejarah Prabu Kian Santang.


LAURA D

04 Agustus 2022 06:13

Raden kian santang I love you πŸ₯°πŸ˜πŸ€©πŸ’ŒπŸ’πŸ’–πŸ’—πŸ’“πŸ’žπŸ’•πŸ’Ÿβ£β€πŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ€ŽπŸ–€πŸ€

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

28

5.0

Jawaban terverifikasi