Anonim N

04 April 2022 08:00

Iklan

Anonim N

04 April 2022 08:00

Pertanyaan

Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam yang terjadi selama ini juga mencakup unsur kebudayaan Hindu-Buddha. Contohnya yaitu masjid Demak yang memiliki memiliki bentuk atap yang tumpang tindih seperti punden berundak, dan pada atap yang tumpang tindih itu ganjil sama seperti budaya Hindu pada pembuatan pura atau candi yang berjumlah 3-11. Mengapa hal tersebut masih bisa terjadi? Padahal seharusnya ketika kerajaan-kerajaan hindu-buddha sudah runtuh, kebudayaannya pun juga ikut musnah. Terlebih kepercayaannya yang bertolak belakang antara Islam, hindu dan buddha. Jelaskan alasanmu beserta satu contoh akulturasi yang serupa contoh diatas!

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

06

:

00

:

08

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

B. Hindarto

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Jakarta

06 April 2022 16:15

Jawaban terverifikasi

Hai Nia N Kakak bantu jawab ya. Proses Islamisasi di Nusantara menggabungkan kebudayaan lokal dengan kebudayaan Islam menghasilkan akulturasi budaya yang biasanya nampak pada tradisi-tradisi yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Bentuk-bentuk akulturasi tersebut, seperti tradisi kenduri, beduk, wayang, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, yuk simak penjelasan berikut. Sejarah perkembangan masuknya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari akulturasi dengan budaya lokal. Ajaran Islam disambut dengan ragam budaya di Nusantara atau Jawa yang sudah berakulturasi dengan budaya Hindu, Buddha, dan tradisi nenek moyang. Hasil akulturasi Islam dengan budaya lokal di Nusantara yang telah ada sebelumnya kemudian menghasilkan sesuatu yang baru dan merupakan perpaduan dari ragam budaya yang berbeda tersebut. Beberapa contoh tradisi yang merupakan bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal di Nusantara antara lain adalah sebagai berikut. 1. Tradisi kenduri atau kenduren untuk mendoakan arwah orang yang sudah meninggal dunia. Kenduri ini sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha di Jawa. Sunan Ampel menyesuaikan tradisi ini agar tidak menyimpang dari ajaran Islam. 2. Beduk, peralatan untuk memberikan penanda waktu salat bagi umat Islam. Sebelumnya, beduk dipakai sebagai penanda waktu dalam peribadatan umat Buddha. 3. Wayang juga merupakan salah satu bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal di Jawa. Wayang yang sudah dikenal sejak zaman pra-Islam di Jawa digunakan oleh para Walisongo untuk berdakwah agar mudah diterima oleh masyarakat. 4. Wali songo juga memanfaatkan gamelan untuk menarik minat warga agar menghadiri pengajian sebagai salah satu bentuk syiar Islam. 5. Tradisi Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta. 6. Arsitektur sejumlah masjid di Jawa yang merupakan perpaduan corak Hindu/Buddha dan Islam. 7. Tembang-tembang Jawa yang sedikit diubah untuk dakwah. Semoga Membantu Ya : - )


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

36

5.0

Jawaban terverifikasi