Alanna A

19 September 2026 10:14

Iklan

Alanna A

19 September 2026 10:14

Pertanyaan

900:7= ??? Aku mau bantu deh buat yang masih bingung 1. Pecah Angka 900:900 = 700 + 140 + 60 2. Bagi masing-masing angka dengan 7: 700 : 7 = 100 140 : 7 = **20 sisa 60 : 7 = 8 (karena 7 × 8 = 56, lalu masih ada sisa 4) 3. Jumlahkan hasilnya: 100 + 20 + 8 = 128 (Sisa 4)

900:7= ???

Aku mau bantu deh buat yang masih bingung 

1. Pecah Angka 900:900 = 700 + 140 + 60

2. Bagi masing-masing angka dengan 7:

700 : 7 = 100

140 : 7 = **20

sisa 60 : 7 = 8 (karena 7 × 8 = 56, lalu masih ada sisa 4)

3. Jumlahkan hasilnya:

100 + 20 + 8 = 128 (Sisa 4)

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

16

:

00

:

08

Klaim

24

2


Iklan

Elisa P

19 September 2026 10:33

<p>Konsepnya cara cepatnya gitu yah??💗💗</p>

Konsepnya cara cepatnya gitu yah??💗💗


Iklan

SHEILA K

19 September 2026 10:54

<p>waww,makasiiee kak🌟</p>

waww,makasiiee kak🌟


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bacalah cerpen berikut dengan cermat! Si Kopi Jur Karya Ani Lestari Bel sekolah baru saja berbunyi. Seluruh siswa yang baru sampai sekolah bergegas menuju kelasnya masing-masing. Mereka berbaris di depan kelas dengan rapih yang dipimpin oleh ketua kelas masing-masing. Tampak beberapa guru pun, telah siap menunggu mereka di pintu kelas sembari memperhatikan kerapian seragam para siswa sebelum masuk ke dalam kelas. Tidak berbeda dengan kelas 9-A. Seluruh siswa di kelas itu tampak mematuhi aba-aba dari ketua kelas. Setelah barisan rapi, satu persatu siswa masuk ke dalam kelas yang dibimbing oleh Bu Lesta. Bu Lesta adalah guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas 9-A. Setelah semua siswa duduk di tempatnya masing-masing, ketua kelas lalu memimpin doa. “Selamat pagi, Anak-anak!” kata Bu Lesta “Selamat pagi, Bu” jawab mereka kompak. “Baik, sebelum kita mulai pelajaran hari ini. Ada hal yang akan Ibu sampaikan. Sekolah kita saat ini mengadakan koperasi mini di kelas masing-masing. Jadi, di pojok kelas nanti akan disediakan beberapa alat tulis yang dibeli pakai uang kas kelas. Jika dari kalian ada yang kehabisan pulpen, buku, atau pensil, kalian bisa beli di dalam kelas saja.” Jelas Bu Lesta. Sang ketua kelas lalu mengangkat tangannya dan berkata, “Terus kita bayarnya ke siapa, Bu?” tanyanya. “Nah, nanti ada daftar harga dan kotak pembayaran. Uangnya dimasukkan ke dalam kotak pembayaran itu.” “Wah, kalau ada yang gak bayar gimana, Bu? Bisa-bisa rugi dong!” sahut salah satu siswa. Bu Lesta tersenyum. “Gimana ya caranya biar gak rugi?” tanya Bu Lesta. “Harus bayar sesuai daftar harganya, Bu!” jawab salah satu siswa yang lain. “Betul! Nanti, kalau semua alat tulis yang disediakan sudah habis. Kita akan hitung jumlahnya. Apakah sesuai atau kurang? Untuk langkah awal, kita beli satu kotak untuk masing-masing alat tulis. Kalau hasilnya baik, akan kita lanjutkan. Bagaimana? ” Terang Bu Lesta. “Baik, Bu!” jawab mereka. “Baiklah kalau gitu, nanti setelah pulang sekolah bendahara kelas bersama sekretaris beli barang-barangnya, ya.” tambahnya lalu melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. *** Keesokan harinya, koperasi mini kelas mereka sudah tertata rapih di pojok kelas dekat meja guru. Daftar harga setiap barang sudah dicetak dan ditempel di mading kelas yang terletak di atas meja koperasi mini mereka. Terlihat seluruh siswa tampat antusias dengan hasil akhir dari adanya koperasi ini. Bahkan, beberapa dari mereka banyak yang bercanda mengatakan bahwa mereka akan rugi. “Dikasih nama dong koperasinya!” sahut salah satu dari mereka. “Iya, kasih nama biar keren gitu!” sahut yang lain. “Namanya apa ya yang bagus?” kata ketua kelas. “Ehm.. Si Kopi Jur, gimana? Bagus kan?” sahut bendahara kelas. Seluruh siswa mengernyitkan keningnya. “Iya, kepanjangannya Si Koperasi Jujur” jelas si bendahara. “Wah iya! Bagus! Kedengarannya kereeeeen! Seperti kedai kopi gitu. Hahahha” sahut salah satu siswa yang disambung gelak tawa mereka. “Oke! Jadi kita kasih nama Si Kopi Jur.” Kata ketua kelas yang dibalas anggukan setuju siswa yang lain. Mereka lalu membuat papan nama untuk koperasi mini tersebut. Tak lama kemudian, Bu Lesta memasuki kelas. Ia ingin memastikan barang-barang yang akan di jual sudah tersedia dan bisa dijalankan hari ini. Ia berjalan mendekati meja kecil yang sudah ditata rapih itu. Kotak pembayaran yang terbuat dari kotak kecil yang dibungkus kertas kado dengan corak bunga itu berada di belakang barang-barang yang akan dijual. Ia tertegun dan tertawa kecil ketika melihat papan nama koperasi kelas itu. “Jadi, nama koperasi kelas kita Si Kopi Jur, ya.” Sahut Bu Lesta. “Iya, Bu! Kalau nanti kita rugi, namanya diganti Si Korup! Hahaha” sahut siswa laki-laki yang duduk paling belakang. Teman-temannya pun ikut tertawa. “Eiits! Makanya, kalian harus jujur bayarnya. Kalian gak malu kalau kelas kita ternyata rugi karena ada siswa yang gak jujur?” tanya Bu Lesta. “Malu lah, Bu!” jawab mereka. “Kalau gitu ayok kita buktikan kalau kelas kita tidak seperti itu” kata Bu Lesta. “Siap, Bu!” jawab mereka kompak. *** Hari-hari berlalu seperti biasa. Beberapa siswa sudah mulai menjalankan koperasi jujur di kelas mereka. Barang-barang yang tersedia pun mulai menipis. Tampaknya, seluruh siswa memang memilih membeli barang-barang di kelas mereka daripada harus keluar kelas dan membeli ke kantin sekolah yang jaraknya cukup jauh dari kelas mereka itu. Buku dan pulpen adalah barang yang paling banyak diburu. Sedangkan, pensil dan beberapa alat tulis yang lain masih terlihat banyak. Sesekali Bu Lesta melihat kondisi koperasi di kelas 9-A. Melihat antusias para siswa yang lebih suka membeli di koperasi mini kelas, membuatnya bangga. Jika, hasil akhirnya nanti baik, koperasi mini kejujuran ini akan dilanjutkan. Tiga minggu berlalu. Semua barang yang diperjualbelikan di koperasi mini kelas sudah habis. Seluruh siswa antusias dan penasaran dengan jumlah pemasukan yang berada di dalam kotak pembayaran itu. Beberapa siswa tampak berkumpul di sekitar meja koperasi mini kelas mereka. “Hari ini dibuka kan?” tanya sekretaris kelas pada ketua kelas. “Iya, hari ini dibuka sama Bu Lesta.” Jawabnya. Bel berbunyi, tanda masuk kelas. Seluruh siswa yang masih istirahat di luar kelas bergegas masuk ke kelas mereka masing-masing. Bu Lesta memasuki kelas 9-A yang disambut wajah-wajah antusias siswanya. Ia tersenyum lalu mengambil kotak pembayaran dan meletakkannya di atas meja guru depannya. “Gimana? Pensaran?” tanya Bu Lesta sembari membuka kota pembayaran yang berisi uang hasil penjualan koperasi kejujuran kelas. “Deg-degan , Bu!” sahut beberapa siswa. “Baik, sekarang kita jumlahkan dulu berapa harusnya hasil penjualannya.” Kata Bu Lesta. Setelah menjumlahkan total penjualan yang seharusnya didapatkan, Bu Lesta mengeluarkan uang dari kotak pembayaran. “Jadi, total penjualan kita seharusnya berjumlah tujuh puluh dua ribu rupiah. Sekarang kita hitung jumlah uangnya.” Kata Bu Lesta lalu menghitung uang pecahan dua ribuan itu. Seluruh siswa tampak sangat penasaran melihat Bu Lesta menghitung. Setelah selesai menghitung, Bu Lesta lalu berdiri di depan kelas. Ia diam beberapa saat. Melihat ekspresi Bu Lesta yang diam, seluruh siswa di kelas itu pun ikut diam. Beberapa siswa tampak berbisik-bisik. “Tuh kan, uangnya pasti kurang. Pasti ada yang gak bayar itu.” “Iya, Bu Lesta sepertinya kecewa.” Setelah menghela napas panjang, Bu Lesta lalu menyampaikan hasilnya. “Total uang yang di tangan ibu sekarang berjumlah tujuh puluh dua ribu rupiah!” kata Bu Lesta diikuti senyum. “Yeeeeeeeeaaayyy!” sorak seluruh siswa kelas 9-A. “Ibu bangga sama kejujuran kalian. Tetap dipertahankan sikap seperti ini, ya. Walaupun dimulai dari hal kecil seperti ini, kalau dilakukan terus menerus kalian akan terbiasa untuk melakukan tindakan jujur ini sampai dewasa nanti.” Kata Bu Lesta. “Baik, Bu!” jawab mereka kompak. Simpulkan unsur-unsur yang membangun karya sastra dalam cerpen Kopi Jur! No Unsur-unsur Simpulan dan Bukti Kutipan Cerpen 1 Tema 2 Alur 3 Penokohan 4 Latar 5 Sudut Pandang 6 Gaya Bahasa 7 Amanat 8 Sosial 9 Moral 10 budaya

2

0.0

Jawaban terverifikasi

1. Nilai n yang memenuhi (12+8) + (-3n) = -22 adalah... A. 14 B. 13 C. -13 D. -14 2. n - 11.507 = 41.009 Bilangan pengganti n adalah... A. 25.615 B. 29.505 C. 52.516 D. 52.614 3. 50 : (-5) x 8 = ... A. 90 B. -80 C. 80 D. -90 4. Lambang bilangan 4.207.502 dibaca... A. Empat juta dua ratus tujuh ribu lima ratus dua B. Empat juta dua ratus tujuh lima puluh ratus dua puluh C. Empat juta dua puluh tujuh lima ribu ratus dua puluh D. Empat juta dua puluh tujuh ribu lima ratus dua 5. -280 + (-245) = A. -450 B. -535 C. -525 D. -18 6. 400 - 218 + 354 = A. 354 B. -172 C. 182 D. 536 7. Bilangan pangkat dua disebut juga bilangan kuadrat. Berapakah hasil dari 37 pangkat 2? A. 2219 B. 1369 C. 1399 D. 2209 8. Aku adalah sebuah bilangan. Jika aku dikuadratkan aku menjadi 625. Bilangan berapakah aku? A. 28 B. 20 C. 25 D. 80 9. Lambang bilangan negatif seribu lima ratus lima puluh delapan adalah.. A. 1558 B. -1588 C. -1.558 D. 1588 10. 45 x 125 = n x 45 ; n = ... A. 125 B. 135 C. 145 D. 155 11. Nilai dari (121 + 23) : 24 - 6 = A. 0 B. 2 C. 6 D. 8 12. Di dalam kardus terdapat 480 butir telur, kemudian telur ini dimasukkan ke dalam kantong plastik. Setiap kantong plastik berisi 8 butir telur. Berapa kantong plastik yang diperlukan? A. 51 B. 60 C. 72 D. 80 13. Jika 2n = 7.924, maka nilai n adalah... A. 6.952 B. 5.962 C. 4.962 D. 3.962 14. 4 hari + 240 menit= ....jam A. 16 jam B. 24 jam C. 48 jam D. 100 jam 15. Besar sudut siku-siku adalah... A. 90 derajat B. 69 derajat C. 30 derajat D. 40 derajat 16. 90 menit setelah pukul 07.45 adalah pukul... A. 08.15 B. 08.35 C. 09.00 D. 09.15 17. 30 cm + 700 mm = ... dm A. 1 dm B. 10 dm C. 100 dm D. 1.000 dm 18. Bentuk desimal dari 4/10 adalah... A. 4,1 B. 0,4 D. 10.4 E. 0,04 19. Dua lingkaran apabila titik pusatnya berimpit disebut... A. Lingkaran sepusat B. Lingkaran bersinggungan dalam C. Lingkaran bersinggungan luar D. Lingkaran berpotongan 20. Sebuah lingkaran memiliki jari-jari 7 cm. Luas dari lingkaran tersebut adalah... A. 76 cm2 B. 80 cm2 C. 112 cm2 D. 154 cm2

4

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Cat Hitam Mendakwa Pentas menggambarkan halaman belakang Sekolah Menengah Pertama. Ada tembok bagian belakang sekolah itu. Di dekat tembok ada semacam bangku panjang yang sudah luntur warna catnya terletak di sebelah kiri. Tampak pada tembok coretan-coretan yang dibuat dengan cat: PROTHOLS, XELEX, THORAX, dan lain-lainnya. Tampaknya, coretan itu belum lama dibuat. Catnya belum kering benar. Tatkala lakon ini berlangsung, waktu menunjuk saat istirahat. Dari sebelah kiri muncul dua orang anak, siswa dan siswi. Tuti menarik tangan Bakri. (Musik) 01. Tuti : (Nada mengajak) Lihat itu! Ayo, cepat. (Menarik tangan Bakri) Lihat itu. (Mereka tiba di depan tembok yang bercorat-coret dan memandangi tulisan itu-Tentu saja, mereka membelakangi penonton, tetapi tidak perlu dipersoalkan karena ada alasannya) Nah, percaya tidak, kamu? 02. Bakri : Gi-la! (Menyentuh coretan) Catnya belum kering benar, Tut. Padahal tembok ini baru dikapur oleh Pak Dullah seminggu yang lalu, ya, kan? 03. Tuti : (Berjalan menuju bangku dan duduk) Ya, aku juga tahu itu. Terlalu! 04. Bakri : (Membalik ke arah Tuti) Siapa yang terlalu? 05. Tuti : Yaaa ...., siapa lagi? 06. Bakri : Jadi, kamu sependapat dengan Pak Guru bahwa si Muhdom yang membuat corat-coret ini? 07. Tuti : Aku tidak bilang sependapat, aku hanya mengatakan siapa lagi, kan? 08. Bakri : (Mendekati Tuti) Maksudmu siapa? (Duduk) Siapa? 09. Tuti : Aku tidak tahu. (Berdiri, berjalan ke arah tembok, lalu membalik ke arah Bakri) Tapi, kalau aku pikir bahwa di sekolah kita hanya Muhdom yang sering membantu Pak Guru membuat dekorasi panggung, hiasan kelas, dan sebangsanya itu. Mungkin dugaan Pak Guru tidak terlalu salah. 10. Bakri : Ah, kamu ini, Tut. (Berdiri) Masak Muhdom? Dia sahabatku. Dan itu tidak mungkin. 11. Tuti : Selama sahabatmu bukan malaikat, kemungkinan selalu ada. Lagi pula, siapa yang pintar main-main cat seperti ini kecuali Muhdom? 12. Bakri : Jika kemungkinan selalu ada, aku menduga ini perbuatan Nyoman. 13. Tuti : Maksudmu Nyoman sahabatku? ltu tuduhan tidak mendasar. 14. Bakri : (Tersenyum) Nah, kalau menurut kamu bukan Nyoman, menurut aku bukan Muhdom yang membuat coretan-coretan ini. (Berjalan ke bangku dan duduk) Kita memang tidak tahu. Lu enggak ngerti, gue pun demikian pula. Huh! (Memandangi tulisan itu) (Terdengar beberapa anak memanggil-manggil, "Tut, Tuti.") 15. Tuti : (Berteriak). Aku di sini....! (Ita, Tarso, dan Bardas muncul ... ) 16. Bardas : Tut, Muhdom akan disidang nanti selepas jam terakhir! (Menatap coretan dan mendekatinya, lalu geleng-geleng kepala 7 (tujuh) kali) 17. Tuti : Oh, ya? (Memandang Bakri) 18. Bakri : (Kaget, lalu berdiri) Apa? 19. Ita : Ya, si Muhdom! Kasihan, dia. (Melihat coretan, lalu geleng-geleng kepala 8 (delapan) kali) 20. Tarso : Bagaimana, Ta. Dia kan sahabatmu .... ? 21. Bakri : (Menahan marah) Gi-la! Pak Guru bilang begitu? 22. Ita : Bukan, bukan Pak Guru. 23. Bakri : Lalu si .... 24. Tarso : (Memotong) Tanjir yang ngomong. 25. Bakri : Tanjir yang berbicara dan kalian percaya? 26. Bardas : Habis, dia keluar dari ruangan guru terus bilang begitu. Siapa tidak percaya? (Semua terdiam, saling memandang. Sepi berlangsung tujuh detik. Ita berjalan pelan-pelan menuju bangku lalu duduk. Berpikir. Bakri mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Musik terdengar keras, gemuruh, lalu perlahan-lahan leyap). 27. Ita : (Berbicara lirih, tetapi terdengar jelas) lni gawat. 28. Tuti : Huh, kamu itu ...., sedikit-sedikit 'gawat'. Ulangan 'gawat', mau drama 'gawat'. (Mendekatinya dan berdiri di sampingnya) Apa yang tidak gawat bagi kamu? 29. Tarso : Aku pikir Ita benar. Pak kepala sekolah bisa marah sekali kalau melihat coretan-coretan ini. 30. Ita : Ya. Dengan susah payah Pak Dullah mengapurinya. Enak saja dicoret-coret begitu. Lagi pula, Prothols itu kan nama geng. Kita semua bisa dituduh anggota geng itu. 31. Tuti : Ah, kalian ini! Coba kalian pikir, coretan ini kan bukan kita yang bikin? Kenapa kita cemas? Tenang saja. Aku bawa Bakri kemari karena dia tidak percaya ada coretan ini. ltu saja. Celakanya, Bakri malah menuduh Nyoman yang membuatnya. Sialan! Lalu kalian mau ikut-ikut kemari . Ngapain? Aku mau ke depan. (Berjalan) 32. Bakri : Tuti, ke mana kamu? Tunggu dulu! lni gawat. Kita semua bisa ditahan di sekolah sampai biang keladinya ditangkap. 33. Tuti : Terus, kita semua mau kamu suruh apa? Sebentar lagi kita masuk. 34. Bakri : Aku mau bertanya, siapa yang kemarin sore datang ke sekolah menyelesaikan tugas membuat kliping? 35. Tarso : Kita semua, kan? 36. Bakri : Betul. Tapi siapa lagi? Kamu ingat, Ita? 37. Ita : Muhdom, Yuspar ..... 38. Bardas : (Menukas) Kamu sendiri, Tanjir, Nyo .... 39. Bakri : (Menukas) Nah, Tanjir juga ikut datang. Biasanya dia malas datang, kan? 40. Tuti : Benar. Tapi ..... 41. Tarso : Bukannya malas kalau dia sering tidak datang. Rumahnya jauh dan tidak ada yang mengantarkannya. 42. Bakri : Baik. Kalian tunggu di sini. Kalau ada bel masuk, jangan masuk dulu. Biar aku yang menanggung kalau Pak Guru marah. (Lari ke luar panggung) 43. Tuti : Bakri ke mana? 44. Tarso : Sudah Tut, di sini saja kamu. Taati saja perintah kapten kita. 45. Ita : Mau apa si Bakri? 46. Bardas : Aku benci cara-cara begini. Apa sih susahnya bilang nggak tahu kalau nanti Pak Guru bertanya soal coretan ini? Lagaknya kayak pahlawan. (Menirukan Bakri) "Aku yang menanggungnya." Enak saja. (Terdengar bel masuk). 47. Bardas : Dengar itu, aku mau masuk kelas. 48. Tuti : Jangan, Bardas! 49. Tarso : Bardas di sini saja. 50. Bardas : Nggak. Peduli amat. (Mau berjalan) 51. Ita : Bardas, jangan! 52. Tarso : Aku cubit kalau kamu nekat pergi. (Bakri masuk ke panggung dengan menyeret Tanjir dengan tangan kirinya. Tangan kanannya membawa tas milik Tanjir). 53. Bakri : (Memerintahkan Tanjir, napasnya terengah-engah) Duduk! 54. Tanjir : (Duduk) Apa maksud kalian? 55. Bakri : Dengar. Kamu kemarin pulang lebih dahulu sebelum kami pulang, bukan? 56. Tanjir : Ya. Lalu? Apa salahku? 57. Bakri : Tapi, sebenarnya kamu tidak terus pulang ke rumah. Sebab, ketika kami semua sampai di pintu gerbang halaman sekolah, kakakmu yang menjemputmu masih menunggu kamu di sana. Artinya, kamu masih berada di dalam lingkungan sekolah. Dan ini ... '(Bakri membuka tas Tanjir). Ada noda cat hitam pada tasmu. Cat ini sama dengan yang ada di tembok itu. lni artinya, waktu kamu pamit minta pulang lebih dulu, kamu datang kemari dan membuat coretan ini. Kamu naik di atas bangku ini. Lihat, (Menunjuk bangku) ada noda-noda hitam. lni cat yang sama. Tegakah kamu Tanjir, melihat Muhdom dihukum karena tuduhan membuat coretan yang sebenarnya kamu lakukan? Tegakah kamu mencoratcoret tembok yang putih bersih ini? Tegakah kamu melihat kita semua dimarahi Pak Guru? (Tanjir menunduk lalu menutup mukanya. Ia tampak tersedu-sedu. Yang lainnya memandangnya, lalu satu demi satu meninggalkannya. Tinggal Bakri memperhatikan Tanjir tersedu-sedu). 58. Bakri : (Menarik tangan Tanjir. Tanjir berdiri masih menutup mukanya). Sudahlah, jangan kamu lakukan lagi. Aku akan menemani kamu menghadap Bapak Kepala Sekolah. (Bakri merangkul Tanjir yang tetap menunduk. Berdua keluar dari panggung. Musik terdengar keras) Sumber: Bakdi Soemanto, "Cat Hitam Mendakwa" dalam Majalah Dinding Kumpulan Drama, Yogyakarta, Gama Media, 2006 4. Analisislah watak tokoh Tanjir dalam naskah drama tersebut.

2

4.0

Jawaban terverifikasi