Lavenn L

26 Mei 2024 10:31

Iklan

Lavenn L

26 Mei 2024 10:31

Pertanyaan

"Setelah dewasa, barulah Ali berkesempatan mengikuti kursus" Jenis konjungsi pada kalimat tersebut adalah.... a. koordinatif b. subordinatif C. korelatif d. antarkalimat e. antarparagraf

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

23

:

47

:

23

Klaim

5

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Celine G

26 Mei 2024 11:00

Jawaban terverifikasi

<p>Konjungsi atau kata sambung adalah penghubung kata-kata, ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat dan sebagainya yang tidak memiliki tujuan atau maksud lain. Konjungsi juga merupakan kata penghubung yang digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kalimat.&nbsp;</p><p>Ciri - Ciri:</p><ul><li>Tidak dapat dihubungkan dengan objek</li><li>Tidak menerangkan kata</li><li>Hanya menghubungkan kata-kata atau kalimat-kalimat</li><li>Tidak bisa ditaruh di akhir kalimat.</li></ul><p>Macam - macam konjungsi:</p><p>Konjungsi terbagi dua, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.&nbsp;</p><ul><li>Konjungsi koordinatif menyambungkan kalimat setara, yang bisa berdiri sendiri apabila kata sambung dihilangkan.</li></ul><p><strong>Contoh Konjungsi Koordinatif dan Maknanya</strong></p><ol><li><strong>dan</strong>: sebagai penanda hubungan penambahan</li><li><strong>atau</strong>: sebagai penanda hubungan pemilihan</li><li><strong>melainkan</strong>: sebagai penanda hubungan perlawanan</li><li><strong>padahal</strong>: sebagai penanda hubungan pertentangan</li><li><strong>sedangkan</strong>: sebagai penanda hubungan pertentangan</li><li><strong>serta</strong>: sebagai penanda hubungan pendampingan</li><li><strong>tetapi</strong>: sebagai penanda hubungan perlawanan</li><li><strong>dan/atau</strong>: sebagai penanda hubungan jumlah atau pilihan</li></ol><p>&nbsp;</p><ul><li>Konjungsi subordinatif menyambungkan kalimat tidak setara, yang tidak bisa berdiri sendiri.</li></ul><p>a. Konjungsi Subordinatif Waktu atau Temporal</p><ul><li>menunjukkan awal peristiwa: sejak, sedari, semenjak</li><li>menunjukkan awal suatu peristiwa yang ditandai dengan peristiwa lain: begitu, demi, ketika, sambil, selagi, selama, sementara, seraya, tatkala, sewaktu</li><li>menunjukkan awal suatu peristiwa yang didahului dengan peristiwa lain: setelah, sebelum, sehabis, selesai, sesudah, seusai</li><li>menunjukkan lamanya suatu peristiwa yang ditandai dengan peristiwa tertentu: hingga, sampai</li></ul><p>&nbsp;</p><p>b. Konjungsi Subordinatif Syarat</p><p>Apabila, asalkan, jika, asalkan, jikalau, kalau, manakala.</p><p>&nbsp;</p><p>c. Konjungsi Subordinatif Pengandaian</p><p>Andaikan, seandainya, sekiranya, seumpamanya, andai kata.</p><p>&nbsp;</p><p>d. Konjungsi Subordinatif Tujuan</p><p>Untuk, supaya, agar, biar.</p><p>&nbsp;</p><p>e. Konjungsi Subordinatif Konsesif</p><p>Biarpun, kendatipun, meskipun, walaupun, sekalipun, sungguhpun.</p><p>&nbsp;</p><p>f. Konjungsi Subordinatif Pembandingan</p><p>Alih-alih, daripada, ibarat, laksana, seakan-akan, sebagai, sebagaimana, seolah-olah, seperti</p><p>&nbsp;</p><p>g. Konjungsi Subordinatif Sebab</p><p>Sebab, karena, oleh sebab, dan oleh karena.</p><p>&nbsp;</p><p>h. Konjungsi Subordinatif Hasil</p><p>Sehingga, sampai(-sampai), dan maka(nya).</p><p>&nbsp;</p><p>i. Konjungsi Subordinatif Alat</p><p>Kata-kata dari konjungsi ini adalah dengan (menggunakan) dan tanpa (menggunakan).</p><p>&nbsp;</p><p>j. Konjungsi Subordinatif Cara</p><p>Kata-kata yang termasuk konjungsi ini sama dengan yang ada di dalam konjungsi subordinatif alat, yaitu dengan dan tanpa.</p><p>&nbsp;</p><p>k. Konjungsi Subordinatif Komplementasi</p><p>Bahwa.</p><p>&nbsp;</p><p>i. Konjungsi Subordinatif Atributif</p><p>Yang.</p><p>&nbsp;</p><p>m. Konjungsi Subordinatif Perbandingan</p><p>Kata-kata yang termasuk konjungsi ini adalah&nbsp; … sama … dengan; … lebih … dari ….</p><p>&nbsp;</p><p>Berdasarkan sintaksis dalam kalimat, konjungsi dibagi ke dalam empat macam yaitu konjungsi koordinatif, konjungsi korelatif, konjungsi subordinatif, dan konjungsi antarkalimat.</p><p>&nbsp;</p><p>Contoh Konjungsi Antar Kalimat:</p><ul><li>Biarpun demikian,</li><li>Biarpun begitu,</li><li>Sekalipun demikian,</li><li>Sekalipun begitu,</li><li>Walaupun demikian,</li><li>Walaupun begitu,</li><li>Meskipun demikian,</li><li>Meskipun begitu,</li><li>Sungguhpun demikian,</li><li>Sungguhpun begitu,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>b. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya</p><ul><li>Kemudian,</li><li>Sesudah itu,</li><li>Setelah itu,</li><li>Selanjutnya,</li><li>Berikutnya,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>c. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar yang telah dinyatakan sebelumnya</p><ul><li>Tambahan pula,</li><li>Lagi pula,</li><li>Selain itu,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>d. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya</p><ul><li>Sebaliknya,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>e. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan keadaan sebenarnya</p><ul><li>Sesungguhnya,</li><li>Bahwasanya,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>f. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya</p><ul><li>Malah,</li><li>Bahkan,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>g. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya</p><ul><li>Akan tetapi,</li><li>Namun,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>h. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan</p><ul><li>Kecuali itu,</li><li>Di samping itu,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>i. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan konsekuensi</p><ul><li>Dengan demikian,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>h. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan akibat</p><ul><li>Oleh karena itu,</li><li>Oleh sebab itu,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>i. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya.</p><ul><li>Sebelum itu,</li></ul><p>&nbsp;</p><p>5. Konjungsi Antarparagraf</p><p>Konjungsi antarparagraf bisa dibedakan berdasarkan fungsinya. Kata hubung antarparagraf yang termasuk kelompok ini antara lain:</p><ol><li>Kata penghubung yang menyatakan tambahan pada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya (di samping itu, demikian juga, tambahan lagi).&nbsp;</li><li>Kata penghubung menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya (bagaimanapun juga, sebaliknya, namun).&nbsp;</li><li>Kata penghubung yang menyatakan perbandingan (sebagaimana, sama halnya).</li><li>Kata penghubung yang menyatakan akibat atau hasil (oleh karena itu, jadi akibatnya).&nbsp;</li><li>Kata penghubung yang menyatakan tujuan (untuk itulah, untuk maksud itu).&nbsp;</li><li>Kata penghubung yang menyatakan intensifikasi (ringkasnya, pada intinya).&nbsp;</li><li>Kata penghubung yang menyatakan waktu (kemudian, sementara itu).&nbsp;</li><li>Kata penghubung yang menyatakan tempat (di sinilah, berdampingan dengan).</li></ol><p>&nbsp;</p><p><strong>Berdasarkan penjelasan di atas, jawaban yang paling tepat adalah b. subordinatif</strong></p>

Konjungsi atau kata sambung adalah penghubung kata-kata, ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat dan sebagainya yang tidak memiliki tujuan atau maksud lain. Konjungsi juga merupakan kata penghubung yang digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kalimat. 

Ciri - Ciri:

  • Tidak dapat dihubungkan dengan objek
  • Tidak menerangkan kata
  • Hanya menghubungkan kata-kata atau kalimat-kalimat
  • Tidak bisa ditaruh di akhir kalimat.

Macam - macam konjungsi:

Konjungsi terbagi dua, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. 

  • Konjungsi koordinatif menyambungkan kalimat setara, yang bisa berdiri sendiri apabila kata sambung dihilangkan.

Contoh Konjungsi Koordinatif dan Maknanya

  1. dan: sebagai penanda hubungan penambahan
  2. atau: sebagai penanda hubungan pemilihan
  3. melainkan: sebagai penanda hubungan perlawanan
  4. padahal: sebagai penanda hubungan pertentangan
  5. sedangkan: sebagai penanda hubungan pertentangan
  6. serta: sebagai penanda hubungan pendampingan
  7. tetapi: sebagai penanda hubungan perlawanan
  8. dan/atau: sebagai penanda hubungan jumlah atau pilihan

 

  • Konjungsi subordinatif menyambungkan kalimat tidak setara, yang tidak bisa berdiri sendiri.

a. Konjungsi Subordinatif Waktu atau Temporal

  • menunjukkan awal peristiwa: sejak, sedari, semenjak
  • menunjukkan awal suatu peristiwa yang ditandai dengan peristiwa lain: begitu, demi, ketika, sambil, selagi, selama, sementara, seraya, tatkala, sewaktu
  • menunjukkan awal suatu peristiwa yang didahului dengan peristiwa lain: setelah, sebelum, sehabis, selesai, sesudah, seusai
  • menunjukkan lamanya suatu peristiwa yang ditandai dengan peristiwa tertentu: hingga, sampai

 

b. Konjungsi Subordinatif Syarat

Apabila, asalkan, jika, asalkan, jikalau, kalau, manakala.

 

c. Konjungsi Subordinatif Pengandaian

Andaikan, seandainya, sekiranya, seumpamanya, andai kata.

 

d. Konjungsi Subordinatif Tujuan

Untuk, supaya, agar, biar.

 

e. Konjungsi Subordinatif Konsesif

Biarpun, kendatipun, meskipun, walaupun, sekalipun, sungguhpun.

 

f. Konjungsi Subordinatif Pembandingan

Alih-alih, daripada, ibarat, laksana, seakan-akan, sebagai, sebagaimana, seolah-olah, seperti

 

g. Konjungsi Subordinatif Sebab

Sebab, karena, oleh sebab, dan oleh karena.

 

h. Konjungsi Subordinatif Hasil

Sehingga, sampai(-sampai), dan maka(nya).

 

i. Konjungsi Subordinatif Alat

Kata-kata dari konjungsi ini adalah dengan (menggunakan) dan tanpa (menggunakan).

 

j. Konjungsi Subordinatif Cara

Kata-kata yang termasuk konjungsi ini sama dengan yang ada di dalam konjungsi subordinatif alat, yaitu dengan dan tanpa.

 

k. Konjungsi Subordinatif Komplementasi

Bahwa.

 

i. Konjungsi Subordinatif Atributif

Yang.

 

m. Konjungsi Subordinatif Perbandingan

Kata-kata yang termasuk konjungsi ini adalah  … sama … dengan; … lebih … dari ….

 

Berdasarkan sintaksis dalam kalimat, konjungsi dibagi ke dalam empat macam yaitu konjungsi koordinatif, konjungsi korelatif, konjungsi subordinatif, dan konjungsi antarkalimat.

 

Contoh Konjungsi Antar Kalimat:

  • Biarpun demikian,
  • Biarpun begitu,
  • Sekalipun demikian,
  • Sekalipun begitu,
  • Walaupun demikian,
  • Walaupun begitu,
  • Meskipun demikian,
  • Meskipun begitu,
  • Sungguhpun demikian,
  • Sungguhpun begitu,

 

b. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya

  • Kemudian,
  • Sesudah itu,
  • Setelah itu,
  • Selanjutnya,
  • Berikutnya,

 

c. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar yang telah dinyatakan sebelumnya

  • Tambahan pula,
  • Lagi pula,
  • Selain itu,

 

d. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya

  • Sebaliknya,

 

e. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan keadaan sebenarnya

  • Sesungguhnya,
  • Bahwasanya,

 

f. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya

  • Malah,
  • Bahkan,

 

g. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya

  • Akan tetapi,
  • Namun,

 

h. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan

  • Kecuali itu,
  • Di samping itu,

 

i. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan konsekuensi

  • Dengan demikian,

 

h. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan akibat

  • Oleh karena itu,
  • Oleh sebab itu,

 

i. Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya.

  • Sebelum itu,

 

5. Konjungsi Antarparagraf

Konjungsi antarparagraf bisa dibedakan berdasarkan fungsinya. Kata hubung antarparagraf yang termasuk kelompok ini antara lain:

  1. Kata penghubung yang menyatakan tambahan pada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya (di samping itu, demikian juga, tambahan lagi). 
  2. Kata penghubung menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya (bagaimanapun juga, sebaliknya, namun). 
  3. Kata penghubung yang menyatakan perbandingan (sebagaimana, sama halnya).
  4. Kata penghubung yang menyatakan akibat atau hasil (oleh karena itu, jadi akibatnya). 
  5. Kata penghubung yang menyatakan tujuan (untuk itulah, untuk maksud itu). 
  6. Kata penghubung yang menyatakan intensifikasi (ringkasnya, pada intinya). 
  7. Kata penghubung yang menyatakan waktu (kemudian, sementara itu). 
  8. Kata penghubung yang menyatakan tempat (di sinilah, berdampingan dengan).

 

Berdasarkan penjelasan di atas, jawaban yang paling tepat adalah b. subordinatif


Iklan

Kevin L

Gold

26 Mei 2024 10:47

Jawaban terverifikasi

【Penjelasan】: Konjungsi adalah kata atau gabungan kata yang digunakan untuk menghubungkan kata, frasa, atau klausa / kalimat yang memiliki kedudukan sejajar atau merentasi, sehingga menghasilkan kalimat yang lebih bermakna dan informatif. Di Indonesia, konjungsi di klasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu konjungsi koordinatif, subordinatif (jika salah satu klausa bergantung kepada klausa lainnya) korelatif dan disjunktif (Penghubung yang menghubungkan kalimat, klausa atau frasa lain yang terdepak dan tidak sejajalan). Kata 'setelah' dalam context soal di atas merupakan konjungsi yang digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi setelah peristiwa lain selesai terlebih dahulu. Dalam bahasa Indonesia, "setelah" adalah salah satu dari sekian banyak konjungsi waktu dan termasuk ke dalam jenis konjungsi subordinatif. 【Jawaban】:b. subordinatif


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Cermatilah puisi " Aku " Karya CHAIRIL ANWAR benkut ini! Aku Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak pertu sedu sedan itu Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Tema puisi di atas adalah.... A. ketekunan dan kemauan seseorang dalam memperjuangan hak dirinya B. kemauan untuk hidup tenang tanpa beban C. kegigihan sesorang dalam mendapatkan cinta sejati D. seseorang yang tidak mau diganggu oleh siapapun E. kepasrahan kepada keadaan yang sedang terjadi

22

5.0

Jawaban terverifikasi

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan moneter .... a. Ekspansif dengan menaikkan reserve requirement ratio b. Ekspansif dengan menurunkan reserve requirement ratio c. Kontraktif dengan menaikkan reserve requirement ratio d. Kontraktif dengan menurunkan reserve requirement ratio e. Ekspansif dengan menaikkan tingkat diskonto Bila Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif, ceteris paribus maka .... a. Menimbulkan inflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas b. Menimbulkan deflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas c. Tingkat bunga meningkat di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas d. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas e. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) vertikal Kebijakan fiskal kontraktif dilakukan dengan cara .... a. Menurunkan pengeluaran pemerintah (G), menambah pembayaran transfer (Tr) dan meningkatkan pemungutan pajak (Tx) b. Menurunkan G, mengurangi Tr, dan meningkatkan Tx c. Menurunkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx d. Meningkatkan G, mengurangi Tr, dan menurunkan Tx e. Meningkatkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx Cara yang dilakukan kebijakan tingkat diskonto oleh Bank Sentral dalam melakukan kebijakan moneter adalah .... a. Mengatur jumlah pemberian kredit b. Menetapkan harga surat-surat berharga di pasar uang c. Menetapkan giro wajib minimum (reserved requirement ratio) d. Mengatur tingkat bunga tabungan e. Mengatur tingkat bunga pinjaman bank sentral kepada bank umum Perhatikan beberapa pernyataan berikut. 1). Menaikkan tarif pajak. 2). Diversifikasi pajak. 3). Menaikkan suku bunga. 4). Politik pasar terbuka. 5). Mengadakan diskriminasi harga. Yang termasuk kebijakan fiskal adalah .... a. 1) dan 2) b. 2) dan 3) c. 3) dan 4) d. 3) dan 5) e. 4) dan 5) Investasi bank lesu, daya beli melemah akan berdampak kepada apresiasi rupiah terhadap mata uang asing memburuk. Kebijakan moneter yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah .... a. Menaikkan suku bunga bank b. Membeli surat berharga c. Memberikan subsidi kepada masyarakat d. Membatasi pengeluaran negara e. Menaikkan pajak penghasilan Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan fiskal ekspansif bila tidak diikuti dengan kebijakan moneter yang ekspansif adalah .... a. Output bertambah, suku bunga tetap b. Output bertambah, suku bunga turun c. Output bertambah, suku bunga naik d. Output turun, suku bunga naik e. Output turun, suku bunga turun Di bawah ini yang tidak termasuk jenis kebijakan moneter berhubungan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar di masyarakat, adalah .... a. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary Expansive Policy) b. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation) c. Kebijakan moneter kontraktif (Monetary Contractive Policy)/ Tight Money Policy d. Fasilitas diskonto (Discount Rate) e. Meningkatkan jumlah barang di pasar output Pada saat nilai rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan dari Rp10.500,00 menjadi Rp11.760,00 harga barang impor mengalami kenaikan. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah .... a. Memborong dolar Amerika di pasar uang untuk membayar utang b. Meningkatkan produksi barang dan jasa bagi masyarakat c. Membeli surat berharga jangka panjang di pasar modal d. Menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan e. Menurunkan suku bunga tabungan dan pinjaman Ketika kebutuhan kedelai meningkat dan petani gagal panen karena terserang hama maka pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri yang harganya lebih mahal. Kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah .... a. Menentukan tarif pajak kedelai lebih rendah dari sebelumnya b. Menentukan standar harga kedelai dari yang rendah sampai mahal c. Memberikan subsidi kepada petani yang menghasilkan kedelai d. Meningkatkan produktivitas kedelai dengan mengganti tanaman padi e. Membatasi impor kedelai dan meningkatkan ekspor ke luar negeri Operasi pasar terbuka dalam pengendalian uang yang beredar dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara .... a. Membeli surat berharga pemerintah dan Menjual surat-surat berharga pemerintah b. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menjual surat-surat berharga pemerintah c. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah d. Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah e. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum Perhatikan pernyataan berikut. 1). Politik diskonto 2). Menaikkan pajak 3). Politik pasar terbuka 4). Menaikkan cash ratio 5). Meningkatkan impor 6). Meningkatkan pinjaman Dari cara yang diterapkan pemerintah tersebut, yang merupakan kebijakan moneter adalah .... a. 1), 2), dan 3) b. 1), 3), dan 4) c. 2), 4), dan 5) d. 3), 4), dan 5) e. 4), 5), dan 6) Kondisi saat pemerintah sebaiknya tidak memberlakukan kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter adalah .... a. Ekonomi mengalami deflasi b. Perekonomian berada dibawah output potensialnya c. Tidak terjadi inflasi dan tingkat pengangguran berada dibawah target tingkat pengangguran d. Tingkat pengangguran berada diatas target tingkat pengangguran e. Ekonomi mengalami inflasi Bank sentral memasok dana ke dalam cadangan perbankan sebesar Rp10 triliun, pada saat yang sama bank sentral menetapkan rasio kebutuhan cadangan sebesar 2%. Dari proses penciptaan uang, jumlah uang yang beredar dapat bertambah sebesar .... a. Rp10,2 triliun b. Rp12 triliun c. Rp50 triliun d. Rp102 triliun e. Rp500 triliun Bank X menerima tambahan deposit Rp500 juta dan menyalurkannya sebagai kredit pada nasabah A setelah dikurangi cadangan wajib perbankan 10%. Bila A menyimpan pinjamannya pada Bank Y dan bank ini menyisihkan cadangan dengan rasio yang sama, dan menyalurkan sebagai kredit, begitu seterusnya. Jumlah uang yang beredar adalah .... a. 50 juta b. 500 juta c. 1.000 juta d. 5.000 juta e. 50.000 juta Apabila GWM atau reserve requirement bank-bank umum sebesar 5%, maka multiplier deposit adalah sebesar .... a. 5 b. 10 c. 15 d. 20 e. 25 Jika GWM dinaikkan dari 5% menjadi 10 %, maka .... a. Multiplier naik menjadi 10 kali b. Multiplier turun menjadi 10 kali c. Multiplier tetap d. Multiplier naik menjadi 50 kali e. Multiplier turun menjadi 5 kali Jika defisit riil senilai Rp100 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 7.5% dan defisit nominal senilai Rp400 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp1 Triliun b. Rp2 Triliun c. Rp3 Triliun d. Rp4 Triliun e. Rp5 Triliun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,- Untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai macam kebijakan moneter. Ketika terjadi inflasi salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan/persediaan kas (cash ratio policy). Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah .... a. Jumlah uang yang beredar akan bertambah sehingga harga barang akan mengalami penurunan b. Harga barang akan mengalami penurunan sebagai akibat jumlah uang yang beredar berkurang c. Penambah cadangan pada bank umum menimbulkan jumlah uang semakin banyak beredar d. Jumlah barang akan semakin banyak beredar sebagai akibat dari kelangkaan jumlah uang e. Penambahan jumlah barang tidak dapat dihindari karena modal perusahaan semakin bertambah Apabila diketahui bahwa Indonesia mengalami defisit anggaran nominal (nominal deficit) sebesar Rp400 Triliun, defisit anggaran riil (real deficit) sebesar Rp360 Triliun, dan total utang Indonesia mencapai Rp2.000 Triliun, maka tingkat inflasi Indonesia mencapai .... a. 0,5% b. 1,0% c. 1,5% d. 2,0% e. 2,5% Jika defisit riil senilai Rp200 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 10% dan defisit nominal senilai Rp800 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp3 Triliun b. Rp4 Triliun c. Rp5 Triliun d. Rp6 Triliun e. Rp8 Triliun Berikut ini adalah berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral, kecuali .... a. Operasi pasar terbuka b. Menetapkan giro wajib minimum c. Menjual saham d. Kebijakan tingkat diskonto e. Pengawasan kredit secara selektif Apabila tingkat inflasi pada 2020 adalah 10 % dan kemudian pada 2021 menjadi 7 %, manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat? a. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga turun b. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga naik c. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga tetap d. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga naik e. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga turun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,-

13

0.0

Jawaban terverifikasi