Moh R

03 Maret 2024 14:19

Iklan

Iklan

Moh R

03 Maret 2024 14:19

Pertanyaan

Seorang wanita bergolongan darah A thesus positif memiliki seorang anak perempuan bergolongan darah O rhesus positif dan anak laki-laki bergolongan darah B rhesus negatif. Rhesus positif adalah sifat yang menunjukkan dominansi dari thesus negatif yang masing- masing diwakilkan oleh alel R dan r. Apakah kemungkinan genotipe dari anak laki-laki? A. IBIO rr B. IBIB rr C. IBIO Rr D. IBIB RR E. IBI RR


4

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Salsabila M

Community

07 Maret 2024 12:29

Jawaban terverifikasi

<p>jawabannya adalah C.</p><p>&nbsp;</p><p>Pertama-tama, kita dapat menentukan golongan darah dan rhesus orang tua dan anak-anak:</p><ul><li>Wanita (ibu): A thesus positif (IAIA atau IAi, tetapi karena anak laki-laki memiliki golongan darah B, maka ia harus memiliki alel IB).</li><li>Anak perempuan: O rhesus positif (iiRR).</li><li>Anak laki-laki: B rhesus negatif (IBIB rr).</li></ul><p>Kemudian kita bisa menyusun kemungkinan genotipe orang tua berdasarkan hasil keturunan:</p><ul><li>Genotipe wanita (ibu): IAi (A thesus positif)</li><li>Genotipe anak perempuan: ii (O thesus positif)</li><li>Genotipe anak laki-laki: IBrr (B rhesus negatif)</li></ul><p>Jadi, genotipe anak laki-laki (berdasarkan genotipe anak laki-laki yang dihasilkan) adalah <strong>IBrr</strong>.</p>

jawabannya adalah C.

 

Pertama-tama, kita dapat menentukan golongan darah dan rhesus orang tua dan anak-anak:

  • Wanita (ibu): A thesus positif (IAIA atau IAi, tetapi karena anak laki-laki memiliki golongan darah B, maka ia harus memiliki alel IB).
  • Anak perempuan: O rhesus positif (iiRR).
  • Anak laki-laki: B rhesus negatif (IBIB rr).

Kemudian kita bisa menyusun kemungkinan genotipe orang tua berdasarkan hasil keturunan:

  • Genotipe wanita (ibu): IAi (A thesus positif)
  • Genotipe anak perempuan: ii (O thesus positif)
  • Genotipe anak laki-laki: IBrr (B rhesus negatif)

Jadi, genotipe anak laki-laki (berdasarkan genotipe anak laki-laki yang dihasilkan) adalah IBrr.


Iklan

Iklan

lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

seorang laki-laki bergolongan darah O homozigot ( Io.Io) menikah dengan kekasihnya yang bergolongan darah A heterozigot ( Io.IA ). Tentukan kemungkinan golongan darah anak-anaknya !

4

0.0

Jawaban terverifikasi

Biografi R.A. Kartini R.A. Kartini mempunyai nama lengkap Raden Ajeng Kartini DjojoAdhiningrat, ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan seorang bupati Jepara kala itu. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Lahir dari keluarga yang berpengaruh membuat R.A. Kartini memperoleh pendidikan yang baik. Kartini pun diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda. Akan tetapi, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit. Kebiasaan dan adat kala itu, wanita yang mempunyai umur yang cukup harus tinggal di rumah dan dipingit, R.A. Kartini lalu terpaksa memendam keinginan untuk sekolah tinggi. Untuk mengisi waktu luangnya karena dipingit, R.A. Kartini lantas gemar untuk membaca. Ia banyak membaca buku dan surat kabar berbahasa Belanda. R.A. Kartini pernah tercatat membaca buku karya Louis Couperus yang berjudul De Stille Kraacht karya Van Eeden, Augusta de Witt roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan sebuah roman anti-perang karangan Bertha Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Dengan banyak membaca, pemikiran Kartini pun semakin luas. Kartini mulai membandingkan keadaan wanita barat dan wanita Indonesia. Selain membaca, R.A. Kartini juga gemar menulis. Tulisan R.A. Kartini pernah dimuat di De Hollandsche Lelie, sebuah majalah terbitan Belanda. Bahkan, beliau sempat akan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya. Sejak itulah R.A. Kartini mulai tertarik untuk memajukan perempuan pribumi. Dalam pikirannya, kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu. Beliau ingin memajukan wanita Indonesia. Hal ini dapat dimulai dari faktor pendidikan. Untuk itu, beliau mendirikan sekolah bagi gadis–gadis di Jepara. Muridnya hanya berjumlah sembilan orang yang terdiri dari kerabat atau keluarga. Selain pendidikan, Kartini juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi. Menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Tidak ada sebuah diskriminasi jenis kelamin. Cita-cita mulia R.A. Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti halnya sekarang ini. Selain itu, ia juga mengharapkan persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Hal ini disampaikannya melalui surat untuk teman-temannya di Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon, sahabat yang banyak mendukungnya. Untuk kehidupan rumah tangganya, R.A. Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang, atas keputusan dan pilihan ayahnya pada saat itu. Untunglah, setelah menikah suaminya mengerti keinginan dan cita-cita Kartini hingga diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Pramuka. Dari pernikahannya, Kartini dianugerahi satu orang anak laki- laki yang lahir pada tanggal 13 September 1904 dan diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Namun yang menyedihkan, selang beberapa hari pasca melahirkan, Kartini tutup usia pada tanggal 17 September 1904. Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Sepeninggal R.A. Kartini, J.H. Abendanon sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A. Kartini. Dari sana, disusunlah buku yang berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ dan diterjemahkan dengan judul “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang terbit pada tahun 1911. Buku tersebut dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan kelima disertakan semua surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Melalui publikasi pemikirannya tersebut, R.A. Kartini mulai banyak dikenal. Pemikiran-pemikiran Kartini pun mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat- suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini. (Sumber: http://lppks.kemdikbud.go.id/id/kabar/r-a-kartini-sang-pelopor-kebangkitan-perempuan-pribumi dengan pengubahan) 2. Tentukan struktur permasalahan atau peristiwa penting pada teks biografi tersebut.

454

5.0

Jawaban terverifikasi